NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HUJAN YANG TIDAK MAU BERHENTI

#

Tanah di bukit kecil di belakang Kota Tua itu keras dan berbatu, dan Kenzo menggalinya dengan sekop berkarat yang ia curi dari gudang kebun sebuah rumah kosong. Hujan belum berhenti sejak malam di rumah Budiawan. Ia tidak memakai topeng. Tidak ada yang melihat, dan ia tidak peduli kalau ada.

Satu jam, dua jam. Telapak tangannya melepuh, lalu pecah, lalu berdarah, dan ia menggali terus dengan cara orang yang tahu bahwa kalau berhenti, ia akan mulai berpikir. Di sebelahnya, terbungkus terpal biru yang ia ikat dengan tali jemuran, Victor terbaring dengan kaki yang tidak muat sepenuhnya di bawah kain. Kenzo sempat berhenti sebentar tadi untuk menarik terpal itu agak ke bawah, lalu menutupinya lagi, lalu berdiri diam dengan sekop di tangan.

Tidak ada pendeta. Tidak ada pelayat. Tidak ada karangan bunga paling besar. Hanya satu orang yang pernah digendong lelaki ini lewat kali, dan sebatang pohon jambu liar yang entah kenapa tumbuh sendirian di punggung bukit itu, miring ditiup angin.

Ia menurunkannya sendiri. Berat sekali. Berat yang tidak ada hubungannya dengan tubuh, dan lututnya hampir menyerah dua kali. Ketika akhirnya ia berdiri di tepi liang itu, napasnya putus-putus, tidak ada satu kata pun yang ia punya untuk diucapkan.

"Pa..." Ia berjongkok, tangan menyentuh terpal yang basah. "Aku nggak tahu doa yang bener. Papa nggak pernah ngajarin."

Jeda panjang. Air hujan mengalir dari ujung hidungnya.

"Papa bilang jelek-jelek ya jadi guru. Hitungannya salah terus." Tawanya keluar patah dan jelek, lalu berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan. "Tapi Papa selalu cari jawabannya besok. Selalu..."

Ia tidak sanggup menyelesaikannya.

---

Ingatan datang tanpa diundang, dan ia tidak punya tenaga untuk menolaknya.

Tangan besar yang meniup luka lututnya dan bilang "nah, itu cuma goresan, jagoan", padahal darahnya mengalir sampai ke mata kaki. Nasi bakar pertama yang hitam sampai ke tengah, dengan telur yang lebih mirip arang, dan Victor yang bersikeras itu *teknik*. Malam ketika Kenzo sakit demam sebelas tahun dan Victor duduk di lantai di samping kasur sampai pagi, mengganti kompres tiap dua puluh menit sambil bernyanyi lagu dangdut yang liriknya salah semua. Hari pertama ia berhasil menjatuhkan lelaki itu di matras, dan Victor berbaring telentang sambil tertawa terengah-engah, bilang *sialan, anak ini*, dengan mata yang berkilat bangga yang mati-matian ia sembunyikan.

Sebuah sore ketika Axel menulis di tanah *Victor guru jelek* dan Victor menendang debu ke arahnya, lalu mereka bertiga berlarian di halaman sempit itu seperti anak-anak yang tidak punya masa lalu. Kenzo ingat tawa itu. Bukan tawa yang dipaksakan atau dibuat-buat, tapi tawa kotor, lepas, sampai perutnya sakit. Ia lupa kapan terakhir mendengarnya dari mulutnya sendiri.

Suara serak dari telepon: *Kamu makan teratur?*

Dan ia menjawab bohong.

Ia merosot di lumpur, bahunya terguncang tanpa bunyi, wajahnya terbenam di terpal yang basah. Hujan jatuh di punggungnya seperti pukulan-pukulan kecil, dan untuk pertama kali sejak malam itu ia menangis sampai tidak ada udara lagi, sampai paru-parunya seperti diremas dari dalam, sampai bunyi yang keluar dari tenggorokannya tidak mirip tangisan lagi.

Ia menimbun tanah dengan tangan telanjang karena sekopnya tidak lagi bisa ia pegang.

---

"Kamu tidak meninggalkan satu pun jejak," kata suara datar dari belakangnya.

Kenzo tidak menoleh. Ia tahu langkah itu dari ringannya, dan dari cara hujan seakan melewati pemiliknya tanpa sungguh menyentuh.

Axel berdiri di kaki bukit dengan hoodie hitam yang basah kuyup dan tablet terjepit di bawah ketiak. Tidak ada payung. Rambutnya menempel di dahi, dan matanya, yang selama dua puluh tahun hanya pernah Kenzo lihat penuh perhitungan, sekarang kosong dan merah, seperti dua lubang yang digali terlalu dalam.

"Aku tahu dari penjaga Budiawan," suara mesin itu berkata, pelan. "Mereka bilang ada pemuda tanpa topeng yang membawa mayat Pradana. Aku nggak percaya. Aku lacak sinyal ponselmu, aku datang sendiri, aku..." Jeda. Jari-jarinya berhenti di atas layar. Ia tidak mengetik apa-apa untuk waktu yang lama.

Kenzo akhirnya menoleh. Wajahnya penuh lumpur dan hujan, dan ia tidak tahu apa yang Axel lihat di sana, tapi lelaki kurus itu mundur setengah langkah.

"Xel."

Axel mengangkat tangan. Gerakannya cepat, patah-patah, tidak lagi rapi seperti biasanya. *Kamu yang tembak.*

"Aku nggak tahu itu Papa."

*Kamu yang tembak.*

"Dia pakai topeng! Dia nggak..." Suara Kenzo pecah, dan ia berdiri, dan baru sekarang sadar lututnya gemetar. "Aku nggak tahu. Aku bersumpah demi apa pun. Kalau aku tahu aku nggak akan..."

*Kamu bohong ke dia. Kamu bilang kuli bangunan. Kamu bohong waktu aku udah bilang jangan.* Jari Axel bergetar hebat sampai gerakannya hampir tidak terbaca. *Aku bilang jangan ke Algozo. Aku bilang itu jebakan. Aku ikut diam karena kamu minta. Dan sekarang dia...*

Kalimat itu tidak selesai. Axel menggenggam kedua tangannya sendiri seperti menahan sesuatu yang mau pecah, dan Kenzo melihat bahunya terguncang, sekali, dua kali.

"Aku mau dendam, Xel." Kenzo melangkah mendekat, suaranya rendah dan serak. "Anderson yang kirim aku. Dia yang tahu, atau dia nggak tahu, tapi dia yang pasang aku di situ. Aku butuh alamatnya, penjaganya..."

Tinju Axel menghantam wajahnya.

Kenzo terpelanting ke lumpur. Bunyinya basah dan keras, dan mulutnya penuh rasa besi sebelum ia sempat berpikir apa yang terjadi. Ia bisa saja menahannya. Ia bisa menangkis, ia sudah melihat bahu Axel bergeser sepersekian detik sebelum pukulan datang. Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Pukulan kedua mengenai rusuk. Ketiga, rahang. Axel yang tidak pernah berkelahi sepanjang hidupnya memukul dengan teknik yang buruk, dengan seluruh tubuh, dengan mulut terbuka lebar dan tenggorokan yang menghasilkan bunyi serak yang tidak berbentuk kata, bunyi pintu berkarat yang dipaksa terbuka, bunyi yang dulu keluar saat ia berumur delapan tahun di balik tumpukan karung beras dan ingin mengatakan *jangan pergi*.

"A... aaa... *Aaaaaah!*"

Kenzo membiarkannya. Satu pukulan lagi, dua. Ketika ia akhirnya mengangkat tangan, bukan untuk membalas tapi menangkap pergelangan kurus itu, Axel mengayunkan sikunya, dan mereka berguling di lumpur, saling mencengkeram kerah. Kenzo membalik posisi dan menahan bahu Axel ke tanah. Tangannya yang kiri terangkat, mengepal, dan berhenti di udara, seperti di atas matras pabrik es sepuluh tahun lalu.

Ia tidak sanggup.

Axel menatapnya dari bawah, napas tersengal, darah dari hidung mengalir ke pipi, dan matanya menatap tinju yang tertahan itu dengan sesuatu yang membuat Kenzo ingin muntah.

*Pukul aku,* tangan Axel bergerak lemah di lumpur. *Kayak kamu pukul dia.*

"Xel... jangan..."

*Pukul.*

Kenzo menjatuhkan tangannya. Bukan ke wajah itu, tapi ke tanah di sebelahnya, dan dahinya menyentuh dada Axel, dan ia menangis di sana tanpa suara. Axel membeku di bawahnya selama beberapa detik. Lalu jarinya yang gemetar menyentuh belakang kepala Kenzo, hanya menyentuh, seperti dulu di malam-malam ketika ia menggenggam tangan seorang anak yang bermimpi buruk.

Untuk waktu yang lama mereka hanya berbaring begitu di bawah hujan, dua lelaki dewasa yang basah dan babak belur, tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah, tidak ada yang bisa mengangkat satu sama lain.

---

Axel yang berdiri duluan.

Ia mengusap darah di hidungnya dengan lengan hoodie, lalu berjalan ke tepi pusara yang masih basah, dan berdiri di sana lama. Tangannya tidak bergerak. Kemudian, dengan sangat pelan, ia berlutut dan menyentuhkan telapak ke tanah, seperti menyentuh pipi seseorang.

Ia mengetik di tablet. Mesin itu bicara dengan nada yang lebih datar dari biasanya, begitu datar sampai terdengar seperti sesuatu yang sengaja dibekukan.

"Aku akan kasih alamat Anderson. Semua jadwalnya. Aku akan kasih kamu semua yang kamu minta."

"Xel..."

"Tapi aku nggak akan di sampingmu."

Kenzo menatapnya.

"Kamu bunuh Victor karena kamu nggak tahu." Mesin itu berhenti sejenak. Jari-jari Axel mengetik lagi, lambat. "Aku percaya. Aku benar-benar percaya. Tapi yang tadi kamu bilang, 'aku mau dendam', itu yang bikin dia mati. Setiap kali kamu bilang itu. Setiap kali kamu pakai topeng itu karena dendam. Dia takut kamu jadi begitu, dan akhirnya kamu jadi begitu, di depan matanya sendiri."

"Aku..."

"Aku nggak mau lihat kamu begitu lagi. Aku nggak mau jadi orang yang memberi kamu peluru berikutnya."

Ia berdiri. Menatap pusara itu sekali lagi, lalu menatap Kenzo, dan di balik rambut yang basah itu Kenzo melihat sesuatu yang tidak ia kenal. Bukan lagi sahabat yang menggenggam tangannya di malam hari. Dingin, jauh, nyala kecil yang disimpan dalam sangat rapat.

*Aku akan cari sendiri jawabannya,* tangan Axel bergerak. *Tentang Tuan itu. Tentang malam itu. Dan kalau aku ketemu dia lebih dulu, jangan salahkan aku.*

"Axel, tunggu..."

Tapi ia sudah berbalik. Langkahnya ringan, hampir tanpa bunyi, menuruni bukit di bawah hujan, dan tidak sekali pun menoleh. Kenzo berdiri di sana, mulutnya terbuka, tangan terulur setengah ke arah punggung yang menjauh itu, dan tidak ada yang keluar dari tenggorokannya. Dua puluh dua tahun. Dua puluh dua tahun, dan ia baru sadar bahwa Axel adalah satu-satunya orang yang pernah menunggunya pulang, dan baru malam ini ia membuatnya berhenti.

Tidak lama setelah itu, sebuah pesan masuk di telepon kecilnya. Hanya data. Alamat, denah, daftar penjaga, jadwal. Dan di akhirnya, satu baris yang tidak ada hubungannya dengan Anderson:

*Aku taruh kaleng film Ayahmu di brankas lama kita. Kodenya tanggal kamu pertama kali tertawa lagi di rumah itu. Kamu tahu tanggalnya.*

Ia menatap pesan itu sampai layar padam. Ia tahu tanggalnya.

---

Ia tinggal sampai hujan reda menjadi gerimis. Tanah di atas pusara sudah rata, dan di atasnya, di tempat nisan seharusnya berdiri, ia menancapkan sebatang ranting jambu yang patah dari pohon di dekatnya. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Victor akan menertawakannya.

"Papa."

Hanya satu kata. Ia menunggu, seperti dulu di telepon, seperti sepuluh tahun belajar menunggu jeda orang lain, tapi tidak ada yang mengisi sunyi itu.

"Aku bakal pulang," katanya akhirnya. "Tapi bukan sekarang. Ada satu orang yang harus ngerti dulu kenapa Papa tidak ada di meja makan."

Ia memungut topeng porselen dari tanah basah di samping pusara, menggenggamnya di dua tangan, memandangi garis retak emas di pelipisnya, dan untuk pertama kalinya melihat apa yang sebenarnya diinginkan topeng itu darinya: wajah yang berhenti bisa menangis.

Ia mengenakannya.

---

Menjelang subuh, di lantai teratas kasino Anderson di Marenta, sebuah telepon berdering di meja kristal. Lelaki berjas krem itu mengangkatnya dengan senyum puas. Ia sudah menunggu kabar sejak semalam.

"Bagaimana? Sudah beres?"

Tidak ada jawaban. Hanya desis napas yang dalam, lambat, dan suara hujan tipis di belakangnya, seperti seseorang yang berdiri di atas bukit jauh sekali dari mana pun.

"...Halo? Bayangan?"

"Tuan Anderson."

Suara itu bukan lagi suara yang dulu dalam dan sengaja diasingkan. Rendah, sangat tenang, dan di bawah ketenangan itu ada sesuatu yang membuat senyum Anderson mengendur, perlahan, seperti es mencair di atas api kecil.

"Budiawan sudah mati," kata suara itu. "Seperti yang kamu bayar. Tapi kamu tidak bilang, di rumah itu, ada seorang lelaki tua yang sedang menjaganya."

"Lelaki tua? Aku tidak..." Anderson tertawa gugup. "Aku tidak tahu soal itu. Itu bukan urusanku. Kamu sudah dibayar, dua kali lipat, dan aku akan..."

"Aku sudah mengembalikan uangmu."

Hening. Lalu bunyi sesuatu di luar jendela kaca besar di belakang Anderson: pelan, logam, seperti sebuah benda kecil yang jatuh di balkon. Ia berbalik. Di lantai balkon, tergeletak di bawah cahaya lampu kristal yang menembus kaca, sebuah topeng porselen putih tanpa mulut, dengan retak emas di pelipis kirinya. Dan di dalam mulut topeng itu, terjepit dengan rapi, selembar uang seratus ribu yang tidak berlumur darah.

"Besok malam," kata suara di telepon, "kamu akan mengirim semua penjagamu pulang. Kamu akan duduk sendirian di ruang kerjamu, dengan lampu menyala, dan menunggu. Kalau kamu lari, aku akan menemukan kamu di mana pun. Kalau kamu membawa orang, aku akan membunuh mereka dulu supaya kamu bisa melihatnya."

"Kau... kau gila! Aku punya empat puluh orang! Aku punya Don Raden, aku punya..."

"Kamu punya satu malam." Jeda. "Aku tidak akan datang sebagai bayangan lagi, Anderson. Kamu pernah bertanya siapa yang mengajariku cara menjatuhkan orang tanpa membuangnya."

Telepon itu mati.

Michael Anderson berdiri di tengah ruang kerja yang terlalu luas, gelas kristal di tangannya jatuh tanpa ia sadari dan pecah di atas marmer. Di luar kaca, topeng itu menatapnya dengan dua lubang mata yang sempit dan kosong, dan di bawahnya, di atas kota yang masih tidur, fajar pertama menyentuh langit dengan warna yang sama seperti api di sebuah rumah di Jalan Melati Dua.

---

*Bersambung ke Bab 17*

1
tania Weh
makin seru aa kuh 😍😍
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
🙈🙈🙈🤭🤭🤭🤭
EVandri Beloved❤❤: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh jadi inget seseorang deh kak... 🙈🙈🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: inget sesuatu sama si dia.. 🙈🙈🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tetap semangat kak lanjutin ceritanya... readers setia selalu menanti lanjutan cerita² nya... ☺️☺️☺️
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
beneran rumit nih kisah.... bener aja kata kak authornya, Kenzo juga rumit.. lah kenapa dibikin rumit atuh kak... nanti pusing sendiri.... 🤭🤭 tapi memang seru banget ceritanya.. teka teki nya dapet.. bikin agak pusing juga sih harus benar² fokus.. sedangkan aku fokus nya ke kamu.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: sama² kak. ☺️☺️
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!