Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16. Melunjak
Mata Gia berkilat tajam seketika. Amarah yang sempat mereda setelah drama Pesta Dansa kini membakar kembali dadanya. Ia mematikan panggilan telepon itu kasar, lalu meremas ponselnya erat-erat sampai jemarinya memutih.
"Wanita tua itu benar-benar makin melunjak," desis Gia dengan nada dingin yang mengiris.
Elkan yang berdiri sangat dekat langsung menangkap perubahan aura pada wajah Gia. Alis tebalnya bertaut kaku, tangannya terulur mengusap lembut jemari Gia yang memegang ponsel.
"Ada apa, Gia? Ibu Titik bikin masalah lagi?" tanya Elkan, suaranya sarat perhatian dan proteksi.
Gia menoleh, menatap mata cokelat gelap Elkan dengan napas yang berembus cepat. "Ibu mertua halu itu kabur dari rumah sakit. Sekarang dia nekat bawa puluhan awak media ke kediaman utama Ibuku."
Elkan terkekeh dingin, sebuah senyum tipis sarat ancaman terukir di bibirnya. "Rupanya dia belum puas rasain dinginnya lantai penjara. Dia pikir dengan bawa media, dia bisa meras keluarga Kirana?"
"Dia memanfaatkan kepolosan publik yang cuma tahu potongan cerita," sahut Gia mantap, matanya menyipit penuh perhitungan. "Dia mau maenin narasi kalau aku ini menantu durhaka yang mentang-mentang kaya terus nelantarin keluarga mantan suaminya."
"Kalau begitu, ayo kita kasih dia panggung yang lebih besar," potong Elkan cepat. Pria itu menyambar jas hitamnya dari sandaran kursi balkon, lalu menggandeng tangan Gia tanpa ragu. "Kita datang ke sana sekarang juga."
"Elkan, tapi acara di bawah belum selesai"
"Biar tim eksekutif yang urus sisa acara," potong Elkan tegas namun lembut. "Urusan wanita tua itu jauh lebih mendesak. Aku nggak bakal biarkan dia bikin nama ibumu tercemar di depan rumahnya sendiri."
Gia menatap Elkan sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat keberanian. "Oke. Mari kita selesaikan drama keluarga ini sampai ke akar-akarnya."
Tiga puluh menit kemudian.
Dua mobil sedan hitam mewah membelah gerimis malam dengan kecepatan tinggi, memotong jalanan kota menuju kawasan elit tempat kediaman utama Nyonya Laras Kirana berada.
Di luar gerbang besi yang menjulang tinggi, suasana sudah ricuh luar biasa. Puluhan kilatan lampu kamera wartawan menyala tak berhenti, menembak sosok Ibu Titik yang sedang bersimpuh di atas aspal basah, meraung-raung hysteris dengan pakaian rumah sakit yang agak kotor.
"Tolong saya, Bapak-Bapak Media!" jerit Ibu Titik dengan suara serak yang dibuat-buat penderitaannya. "Lihatlah nasib saya! Mantan menantu saya, Gia, dia menyembunyikan kekayaannya selama menikah dengan anak saya! Sekarang setelah kaya raya, dia jebloskan anak saya ke penjara dan biarkan saya terlunta-lunta!"
Para wartawan sibuk mencatat dan merekam, saling bisik gembira karena mendapat bahan berita skandal terpanas malam ini.
Ckiittt!
Deru mesin mobil Elkan yang nyaring mendadak memotong tangisan palsu Ibu Titik. Dua mobil sedan itu berhenti tepat di depan kerumunan media.
Pengawal berbadan tegap langsung turun membuka pintu. Gia melangkah keluar lebih dulu dengan gaun malam marun berlapis benang emas murni yang sangat berkilau di bawah lampu gerbang. Di belakangnya, Elkan melangkah anggun, berdiri sejajar dengan aura pimpinan yang tak tersentuh.
Kehadiran Gia dan Elkan seketika membuat para wartawan geger gempar!
"Itu Nona Gia! Komisaris Utama VK Group!"
"Nona Gia, apa benar Anda menelantarkan mantan ibu mertua Anda?!"
"Apakah pengakuan Ibu Titik ini benar?!"
Gia berjalan santai memotong kerumunan wartawan yang langsung memberi jalan secara refleks. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Ibu Titik yang masih bersimpuh di tanah.
Ibu Titik mendongak, matanya yang memerah menatap Gia dengan pandangan penuh dendam yang terselubung kepura-puraan.
"Gia... kasihanilah ibu, Nak..." tangis Ibu Titik makin keras, mencoba menggapai ujung gaun Gia. "Ibu tahu Aldo salah, tapi jangan siksa ibu seperti ini! Kembalikan harta yang harusnya jadi hak Aldo!"
Gia tidak bergerak mundur sedikit pun. Ia menatap mantan ibu mertuanya dengan pandangan paling merendahkan dari atas ke bawah.
"Hak Aldo?" Gia terkekeh pelan, kekehannya terdengar begitu nyaring di tengah sorotan kamera. "Ibu Titik... sepertinya otak Ibu makin miring setelah kabur dari rumah sakit."
"Kamu... kamu tega ngomong gitu di depan media?!" tuduh Ibu Titik dengan nada melengking.
"Bapak dan Ibu wartawan sekalian," panggil Elkan dengan suara bass-nya yang berat dan mantap. Ia mengangkat sebuah tablet pintar yang sudah terhubung dengan server pengacara resmi Kirana Group. "Sebelum kalian menulis berita fitnah ini, silakan lihat dokumen hukum yang resmi."
Elkan menekan layar tabletnya, menampilkannya langsung ke arah puluhan kamera wartawan.
"Ini adalah bukti rekening koran selama tiga tahun Gia menikah dengan Aldo," tegas Elkan dingin. "Satu sen pun uang dari keluarga Aldo tidak pernah dipakai oleh Gia. Malah sebaliknya! Lebih dari dua miliar uang pribadi Gia diperas oleh Ibu Titik dan Aldo untuk gaya hidup mewah mereka!"
Para wartawan langsung terperanjat, menzoom kamera mereka ke layar tablet Elkan.
"Gak cuma itu," Gia menimpali dengan suara sangat tenang namun tajam menusuk. "Ibu Titik ke sini bukan karena telantar, tapi karena ketakutan. Surat sita rumah dari bank atas nama utang pribadi Aldo baru saja terbit sore tadi, kan, Bu?"
Wajah Ibu Titik seketika berubah pucat pasi. Tangisannya mendadak terhenti kaku. "K-kamu... dari mana kamu tahu?!"
"Aku pemilik konsorsium yang membeli surat utang rumah itu," bisik Gia sambil membungkuk sedikit mendekati telinga Ibu Titik. "Dan besok pagi... rumah tua tempat kamu berteduh bakal diratakan dengan tanah."
Ibu Titik melotot horor, matanya membelalak hampir keluar. "Gia! Kamu iblis! Kamu jahat!"
"Yang jahat itu kamu dan anakmu," potong Elkan tajam. Ia memberi isyarat pada petugas keamanan gerbang dan kepolisian yang baru saja tiba di lokasi. "Petugas, silakan amankan wanita ini. Dia kabur dari perawatan rumah sakit jiwa dan melakukan ujaran kebencian di area pribadi."
Dua polisi langsung maju dan memegang kedua lengan Ibu Titik. Wanita tua itu meronta-ronta gila, berteriak-teriak memaki Gia sampai suaranya serak habis saat diseret masuk ke dalam mobil polisi.
Wajah Ibu Titik yang tadinya memerah panik, kini benar-benar kehilangan warna darahnya saat dua mobil patroli polisi berhenti tepat di belakang kerumunan wartawan. Lampu rotator merah-biru memantul liar di dinding granit kediaman Kirana, membiaskan bayangan keputusasaan yang makin pekat di mata wanita tua itu.
"Enggak... Nggak mau! Jangan tangkap saya!" jerit Ibu Titik histeris, menyapu aspal dengan kedua tangannya saat dua petugas wanita berseragam polisi melangkah maju. "Bapak Polisi, salah paham ini! Gia yang jebak saya! Gia yang jahat!"
Para wartawan yang tadinya sibuk mewawancarai Ibu Titik, kini berebut mengarahkan kamera mereka ke proses penangkapan. Kilatan lampu kilat menyambar-nyambar tanpa ampun, mengabadikan momen saat kedua tangan Ibu Titik Borgol besi mengunci pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin.
"Ibu Titik, Anda kami amankan atas dugaan tindakan pemerasan, pencemaran nama baik, serta pelanggaran ketertiban umum," ujar salah satu petugas wanita dengan nada tegas.
"Giaaaa! Kamu menantu durhaka! Kamu iblis! Kualat kamu sama orang tua!" raung Ibu Titik penuh dendam. Matanya membelalak lebar menatap Gia, memuntahkan makian kasar sebelum petugas memaksanya masuk ke dalam kursi belakang mobil patroli.
Brak!
Pintu mobil polisi tertutup rapat, membungkam teriakan histeris mantan ibu mertua Gia yang kini harus menyusul anak kesayangannya di balik jeruji besi.
Gia berdiri kaku di tempatnya, menatap mobil polisi yang perlahan sirene nya menjauh. Ada helaan napas panjang yang akhirnya lolos dari bibir ayunya. Bayang-bayang penderitaan selama tiga tahun menikah dengan Aldo. Dihina, dianggap rendah, dan diperlakukan seperti pelayan seolah ikut menguap bersama debu jalanan malam itu.
Elkan yang berdiri rapat di sampingnya, perlahan melepaskan jas tuksedo hitamnya lalu menyampirkannya secara lembut ke bahu Gia, menghalau embusan angin malam yang mulai menusuk tulang.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Elkan dengan suara rendah yang begitu hangat, menyentuh lembut lengan Gia.
Gia menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang memikat. "Aku lebih dari baik-baik saja, Elkan. Hati aku merasa... lega luar biasa."