"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
"Bahkan sama anak-anakku saja, aku jarang tidur satu kasur. Apa malah nggak pernah ya?" gumam Bian sambil meringis pelan saat melihat pemandangan di depannya.
"Mas Bian, kamu ada di sini?" tanya Aluna tiba-tiba dengan suara pelannnya sambil meraba bagian kasurnya yang kosong.
"Iya, Aluna."
Bian sampai terkejut melihat Aluna bisa mengetahui tentang keberadaannya. Bian pun duduk di samping Aluna yang langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Sedangkan Elova, sudah tertidur pulas dengan posisi absurdnya. Entah mengapa, Aluna bisa mengetahui ada orang di sekitarnya padahal dia tak melihat. Kepekaannya akan sesuatu atau bahaya ini sangat diacungi jempol oleh Bian.
"Kenapa Lova tidur di sini, Aluna? Dia kan kalau tidur kaya gangsingan," ucap Bian sambil meringis pelan.
"Nggak tahu, Mas. Katanya dia ingin tidur di sini aja. Mungkin dia takut sendirian di kamar, Mas." ucap Aluna sambil mengelus rambut Elova.
"Takut apa? Dia udah dari usia satu tahun juga tidur sendiri, walaupun terkadang masih ada Omanya yang temani." ucap Bian sambil terkekeh pelan.
"Alasan aja ini nanti pasti bocah," lanjutnya sambil pura-pura mencubit lengan Elova.
"Anak segini mah masih inginnya tidur sama orangtuanya, Mas. Jadi sesekali lobak tidur sama kita juga nggak masalah. Hal ini juga berlaku sama Reyhan," ucap Aluna sambil tersenyum.
"Tolong benarkan posisi lobak biar di tengah kita, Mas." lanjutnya memberi perintah.
"Kok jadi di tengah kita sih? Nanti aku nggak bisa peluk kamu dong," ucap Bian tiba-tiba.
Eh...
Apa?
Bian langsung menutup bibirnya dengan tangan saat keceplosan tentang ingin memeluk Aluna. Padahal tadi niatnya hanya ingin mengusir Elova agar tidur di kamarnya sendiri. Namun saat diucapkan olehnya, Bian merasa sangat aneh. Malah terkesan dia nanti ingin memeluk Aluna saat tidur. Bian pun segera memindahkan Elova agar berada di tengah antara keduanya. Bahkan Bian sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Aluna. Dia malah canggung sendiri karena ucapannya terlalu aneh untuk seseorang yang baru kenal.
"Kamu geser ke sana sebentar terus ambil guling kasih sampingmu. Biar ini kaki dan tangannya Lova nggak kena badanmu," ucap Bian meminta Aluna segera bergeser.
"Kok berat banget ya ini bocah satu? Makan batu sama pasir kali ya," gumamnya membuat Aluna terkekeh pelan.
"Nggak papa. Besok kalau sudah besar, juga pasti akan berpikir dengan badannya." ucap Aluna yang kemudian meletakkan guling di sampingnya sesuai dengan perintah Bian.
Bugh...
"Tuh kan... Belum apa-apa tangannya udah nemplok ke yang lain," Bian sampai menghela nafasnya pelan melihat tangan Elova sudah berada di atas guling.
Aluna...
Iya, Mas.
Bian pun berbaring di sisi lain dari Elova. Walaupun sama harus membatasi dirinya dan Elova dengan guling. Aluna memposisikan badannya menyamping saat Bian memanggilnya. Dengan adanya Elova di tengah-tengah mereka begini, Aluna merasa ingin tertawa sendiri. Sangat lucu, apalagi Elova sudah seperti satpam cilik walaupun posisi bocah cilik itu sudah tidur.
"Jangan masukkan ke hati ya kalau Reyhan dan Lova sering berbicara pedas atau menyakitkan," ucap Bian sambil menghela nafasnya pelan.
"Bilang sama aku saja kalau Reyhan dan Lova tidak sopan sama kamu. Apalagi kalau sampai menyakiti fisikmu. Nanti biar aku yang tegur dan kasih hukuman sama mereka," lanjutnya.
"Hati anak kecil itu masih suci. Kalau ada ucapan atau perbuatan yang salah, kemungkinan itu belajar dan meniru dari sesuatu. Jadi cukup kasih nasihat dan diarahkan pelan-pelan saja, Mas." ucap Aluna sambil tersenyum tipis. Walaupun lampu kamar remang-remang, tapi Bian bisa melihat senyuman itu.
"Kalau dihukum apalagi dengan kekerasan, nanti malah mereka trauma dan menjauh dari orangtuanya. Kecuali jika memang perbuatannya itu menjurus pada kriminal. Itu memang sepertinya harus dikasih sentilan sedikit," lanjutnya.
"Sepertinya aku memang harus banyak belajar. Apalagi emosiku sering tak bisa terkontrol. Tolong ingatkan aku jika terlalu keras sama anak-anak dan kamu," ucapnya lagi.
Kita sama-sama belajar, Mas. Apalagi aku yang belum pernah punya anak,
Ayo kita tidur. Besok pagi pasti ada drama aneh lagi dari bocah ini,
Hahaha...
Plakk...
Ketawanya kaya kutilnanak,
Pfft...
***
Reyhan sudah siap dengan seragam sekolahnya. Namun saat keluar kamar, dia merasa aneh karena rumah sangat sepi. Biasanya jam segini Elova sudah keluar dari kamar dan membuat keriuhan. Aluna yang kemarin sudah siap pagi hari pun tidak terlihat. Jika Bian, Reyhan tahu kalau Papanya itu kadang bangun siang atau malah lebih pagi dan sudah pergi dari rumah. Sehingga Reyhan sama sekali tak mencari keberadaan Bian.
"Bibi Tari, Lova kemana? Kok tumben belum keluar kamar?" tanya Reyhan pada Bibi Tari yang baru keluar dari ruang makan.
"Tidak tahu, Nak Reyhan. Tadi Bibi bersihkan kamar Nak Lova, tapi sudah tidak ada di kamarnya." jawab Bibi Tari juga bingung karena Aluna pun belum keluar dari kamar.
"Apa tidur sama Papanya, Nak Reyhan? Coba cek kamar Pak Bian," lanjutnya.
"Baik, Bi. Terimakasih," Bibi Tari menganggukkan kepalanya kemudian pergi dari hadapan Reyhan.
"Masa Lova tidur sama Papa dan Tante Aluna? Ngapain juga itu bocah?" gumam Reyhan yang memilih memeriksa kebenarannya.
Tok... Tok... Tok...
Reyhan pun segera pergi ke kamar orangtuanya untuk mencari keberadaan Elova. Biasanya Elova akan mencari dia saat bangun tidur. Namun sudah dua hari ini, Elova tak pernah mencarinya. Dia seperti sudah menemukan sesuatu yang lebih asyik daripada mencari keberadaan Reyhan. Bocah laki-laki itu mendekatkan telinganya pada pintu kamar orangtuanya. Namun tidak ada suara apapun sehingga Reyhan langsung mengetuk pintunya.
"Papa... Lova ada di dalam kamar ini nggak? Orangnya ilang," seru Reyhan karena sedikit khawatir kalau Elova benar-benar hilang.
"Iya, Abang Reyhan. Lova masih tidur," teriak Aluna dari dalam kamar.
Ceklek...
"Kamu udah siap berangkat sekolah ya? Ayo Tante temani sarapan dulu," ucapnya setelah membuka pintu dan tersenyum pada Reyhan. Terlihat sekali jika Aluna habis mandi sebelum membuka pintu.
"Nggak perlu, Tante. Reyhan cuma mau tahu dimana Lova saja," Aluna pun menyingkirkan badannya dari pintu dan membiarkan Reyhan masuk.
"Semalam dia ingin tidur sama Papanya. Nanti Abang Reyhan juga bisa tidur di sini sama Papa dan Tante," ucap Aluna membuat Reyhan mengalihkan pandangannya.
Aluna masih menyunggingkan senyumnya ke arah yang berbeda. Namun Reyhan tahu kalau senyuman dari Aluna itu sangat tulus. Reyhan pun kembali melihat ke arah Elova yang dipeluk oleh Bian tanpa menjawab peryataan dari Aluna. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca karena melihat Bian sedekat ini dengan Elova. Bahkan mungkin ini pertama kalinya Reyhan melihat Elova bisa tidur bersama Bian.
"Ayo temani Reyhan sarapan, Tante." ajak Reyhan sambil mencoba menghilangkan suara serak pada tenggorokannya karena menahan tangis.
Ayo. Biarkan mereka lanjut tidur,