NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJUAL HASIL SULAMAN DAN GINGSENG

​Sepulang kerja, Xiao Luo mengajak Su Wanwan singgah ke rumahnya. Su Wanwan cukup terkejut melihat halaman yang tadinya dipenuhi rumput liar kini sudah rapi dan bersih. Ia tak menyangka Xiao Luo benar-benar memangkas dan membersihkannya seorang diri. Tanpa ragu, ia melayangkan pujian.

​"Kukira ucapanmu kemarin cuma main-main, ternyata kemampuanmu boleh juga."

​"Sekarang sudah percaya, kan? Tidak sia-sia aku bekerja tanpa dibayar selama tiga tahun, ditambah empat tahun menjadi office girl," sahut Xiao Luo sambil terkekeh pelan.

​"Bagaimana kalau pindah ke rumahku saja? Tenang saja, gajimu tidak akan lebih kecil dari gaji OG," gurau Su Wanwan dengan sunggingan senyum di bibirnya.

​"Tidak usah, terima kasih. Ayo masuk dulu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."

​"Mau bicara apa sih? Kok sepertinya rahasia sekali."

​Xiao Luo tidak langsung menjawab. Ia bergegas masuk dan mengambil bungkusan kain yang diterimanya dari Shen Tingting, lalu menunjukkannya kepada Su Wanwan.

​"Menurutmu, bagaimana hasil sulaman kain ini? Bagus tidak?"

​"Bagus sekali!" Su Wanwan mengamati kain itu dengan antusias. "Kamu dapat kain sulaman cantik ini dari mana?"

​"Kemarin ada seorang wanita tua yang menjualnya padaku. Karena kusuka sulamannya, aku membelinya. Aku juga sudah meminta wanita tua itu untuk membuat lebih banyak lagi agar bisa kujual kembali. Bagaimana menurutmu?"

​"Ini peluang bagus! Kamu bisa menjualnya padaku. Kamu tahu sendiri, kan, keluargaku punya bisnis pakaian. Ibu pasti sangat menyukainya."

​Dada Xiao Luo berdesir gembira mendengar penuturan itu. Jalan menuju kemakmuran rasanya sudah terbentang jelas di depan mata.

​Mengenai ginseng yang ada padanya, Xiao Luo sengaja memendam rapat-rapat cerita itu dari Su Wanwan. Ia khawatir Su Wanwan justru akan menaruh curiga padanya. Lebih baik ia langsung membawanya ke Apotek Tradisional Jiang yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah.

​"Kamu mau menjual hasil sulaman ini berapa?" tanya Su Wanwan memecah lamunannya.

​"Aku tidak begitu paham soal penetapan harga. Kamu dan Bibi Su jauh lebih berpengalaman. Kalian bisa membicarakannya terlebih dahulu, baru setelah itu tentukan harga yang pantas."

​"Baiklah. Kain sulaman ini akan kubawa pulang semua untuk kutunjukkan pada Ibu."

​"Bagus. Nanti urusan kelanjutannya bisa kita bicarakan lagi."

​"Beres!" Su Wanwan mengangguk mantap, lalu menatap Xiao Luo dengan pandangan ingin tahu.

"Sekarang, ceritakan soal Su Jin. Aku dengar pemecatannya ada hubungannya denganmu?"

​Xiao Luo menghela napas seraya menjawab jujur, "Dia sendiri yang berbuat salah dan menanggung akibatnya. Apa hubungannya denganku? Dia..." Xiao Luo pun menceritakan seluruh kronologinya tanpa ada yang ditutup-tutupi.

​Mendengar cerita itu, raut wajah Su Wanwan berubah kesal. "Dia memang pantas mendapatkannya! Menurutku, hukuman pemecatan itu terlalu ringan. Seharusnya Kakak Huang memasukkannya ke dalam penjara agar ia menginap semalam dan otak kekanak-kanakannya itu bisa berpikir. Sudah dewasa, tapi kelakuannya masih saja suka bikin onar. Meskipun dia cuma saudara jauh, aku ikut malu mengakuinya."

​"Sudahlah... kenapa kamu yang jadi emosi begitu?" goda Xiao Luo.

​"Aku tidak marah, cuma gemas dan kesal saja," sungut Su Wanwan.

​"Terserah deh. Sekarang kita tidak usah membahas dia lagi. Aku mau menyiapkan makan malam dulu. Kamu makan di sini, kan?"

​Su Wanwan menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kamu sudah beli peralatan rumah tangga?"

​Langkah Xiao Luo terhenti. "Betul juga... kok aku bisa lupa, ya? Terpaksa harus keluar lagi kalau begitu."

​"Ayo makan di luar saja!" ajak Su Wanwan.

​Namun, ia teringat sesuatu dan menggeleng pelan. "Ah, tidak bisa. Aku harus segera pulang. Ayah dan Ibu mau ke luar negeri malam ini. Sebelum berangkat, aku harus sudah menunjukkan kain sulaman ini pada Ibu. Kalau menunggu mereka pulang, bisa lama sekali. Kamu tahu sendiri, kan, kalau orang tuaku ke luar negeri suka makan waktu berbulan-bulan."

​"Kalau begitu, kamu harus bergegas pulang sekarang."

​Setelah mengantar Su Wanwan sampai depan pintu, Xiao Luo bergegas mandi dan berganti pakaian. Dengan hati-hati, ia membungkus ginsengnya dan melangkah menuju Apotek Tradisional Jiang.

​"Nona mau membeli ramuan apa?" sapa seorang penjaga toko begitu Xiao Luo melangkah masuk.

​"Apakah Tabib Jiang ada?"

​"Ada apa mencariku, Nona Muda?" tanya sebuah suara berwibawa dari arah tangga. Seorang pria tua—Tabib Jiang—tampak baru saja turun dari lantai atas.

​"Saya memiliki obat herbal. Apakah Tabib Jiang berkenan membelinya?"

​"Jika kualitas barangnya bagus, tentu kami akan membelinya. Boleh saya tahu obat herbal apa yang hendak Nona jual?" tanya Tabib Jiang mendekat.

​Tanpa banyak bicara, Xiao Luo membuka bungkusan kain yang membungkus ginseng dan akar bintang mas, lalu memperlihatkannya.

​Mata Tabib Jiang seketika membelalak. "Ini... ginseng kan? Dilihat dari bentuk dan aromanya, usianya pasti tidak kurang dari seratus tahun! Hebat sekali! Saya pasti membelinya. Boleh saya periksa lebih dekat?"

​"Silakan, Tuan..."

​Dengan tangan yang sedikit gemetar karena takjub, Tabib Jiang mengamati ginseng itu dengan sangat teliti.

​"Ginseng ini sanggup kubeli seharga 1,2 miliar rupiah. Bagaimana menurut Nona?"

​Xiao Luo membeku. Tenggorokannya terasa kering dan kata-katanya tertahan di udara. Uang sebanyak itu belum pernah terbayangkan olehnya sepanjang hidup.

​Melihat Xiao Luo terdiam lama, Tabib Jiang menjadi agak cemas. "Apakah Nona kurang puas dengan harganya? Tapi, sungguh, itu sudah harga tertinggi yang sanggup kuberikan. Bahkan jika Nona membawanya ke tempat lain, mereka tidak akan sanggup membayar lebih dari angka itu."

​Xiao Luo buru-buru menguasai diri. "S-saya menerima harga yang Anda tawarkan, Tuan. Lalu, bagaimana dengan yang satunya lagi?"

​"Kalau yang ini sih harganya cuma seratus ribu rupiah."

​"Baiklah, tidak masalah. Apakah pembayarannya bisa langsung diproses?"

​"Tentu saja!"

​Xiao Luo keluar dari apotek dengan langkah seringan kapas. Rasa bahagia membuncah di dadanya. Ia tidak langsung pulang, melainkan mampir ke supermarket terdekat untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga—termasuk kompor dan peralatan memasak. Tak lupa, ia juga membelikan bermacam-macam barang kebutuhan untuk keluarga Shen.

​Karena semua barang belanjaannya dibantu pengirimannya oleh pihak supermarket, Xiao Luo bisa berjalan santai tanpa repot membopong beban. Sebelum tiba di rumah, ia menyempatkan diri membeli makanan siap saji untuk makan malam. Ia memang kurang menyukai suasana makan di luar, apalagi jika harus makan sendirian.

​Barang-barang pesanannya tiba tepat saat Xiao Luo selesai makan malam. Begitu kurir pergi, ia mulai memilah barang-barang yang dibelinya untuk keluarga Shen.

​Xiao Luo membawa separuh dari barang-barang tersebut, lalu berjalan melintasi sumur rahasia dan seketika tiba di pulau pengasingan.

​Namun, tepat saat ia hendak memanjat naik ke atas, samar-samar telinganya menangkap suara keributan. Xiao Luo menahan langkahnya, memilih bersembunyi sejenak sampai situasi kembali kondusif. Dari percakapan bersahut-sahutan yang terdengar, ia dapat menyimpulkan bahwa orang-orang yang sedang membuat keributan di atas adalah anggota dari keluarga cabang kedua keluarga Shen.

1
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
lanjut thor
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
kamu di cari tuan muda xiao Lou🤭🤭🤭
kaylla salsabella
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
sabar nyonya tua
kaylla salsabella
hayo jodoh xiao Lou tuan muda atau jendral muchen
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!