NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Anomali Dermaga No. 9

Pukul 02.00 dini hari. Kabut tebal Sungai Thames yang berhembus dari arah timur menyelimuti kawasan pelabuhan Wapping bagaikan tirai kain kasa yang basah, pekat, dan menusuk tulang. Udara dingin malam itu membawa serta aroma jelaga batu bara dari cerobong kapal uap yang berlabuh, bau minyak tanah yang terbakar, dan kebasahan amis yang dihembuskan oleh pasang surut air sungai. Cahaya lentera jalanan berbingkai besi yang tergantung di tiang-tiang kayu dermaga hanya mampu menembus kegelapan sejauh 2 meter, memancarkan pendaran kuning redup yang terurai samar di tengah pusaran kabut.

Hans Lorte melangkah menyusuri papan-papan kayu Dermaga No. 9 yang berderit teratur di bawah bobot tubuhnya. Setiap pijakannya diiringi ketukan ritmis dari ujung besi tongkat jalannya—*tuk... tuk... tuk...*—sebuah suara tunggal yang memantul kaku di antara dinding-dinding gudang kargo yang sepi. Di samping kirinya, Pip berjalan tanpa suara. Anak jalanan itu melangkah dengan kelincahan alami khas bocah yang terbiasa menyusuri lorong gelap pelabuhan, kedua matanya yang liar dan cemas terus berpindah, menyapu celah-celah pilar kayu dan bayangan peti kargo di sekitar mereka.

Sementara itu, Arthur Pendelton berjalan setengah berlari di belakang mereka. Pria juru tulis itu terpincang-pincang menyeimbangi langkah Hans, memeluk erat sebuah cangkir lentera minyak tanah berjelaga ke dadanya. Napasnya memburu dan membentuk hembusan uap putih di udara dingin malam.

"Gudang kargo itu... ada di ujung dermaga ini, Tuan Lorte," bisik Pendelton, suaranya gemetar parau bercampur ketakutan murni. "Dua pengawal bersenjata yang bertugas malam ini sudah saya perintahkan untuk menunggunya di pos penjagaan luar. Saya tidak ingin ada desas-desus yang menyebar di antara para kuli pabean."

"Langkah yang cukup bijaksana," sahut Hans datar tanpa berpaling. Asap rokok gulung murah yang diapit di bibirnya membumbung pendek sebelum lenyap tersapu angin malam. "Namun, jika peti itu memang hilang tanpa jejak mekanis, menyembunyikan dua pengawal tersebut tidak akan mengubah fakta bahwa ada hal ganjil yang sedang terjadi di tempat ini."

Mereka tiba di depan pintu ganda berbingkai besi milik Gudang Penyimpanan No. 9. Bangunan kayu tua beratap seng itu berdiri menjorok ke atas tiang-tiang fondasi yang tertanam langsung di dasar Sungai Thames. Dari bawah celah papan lantai, terdengar hempasan air sungai yang gemericik menghantam pilar batu berlumut.

Pendelton melangkah maju, merogoh saku dalam jubah basahnya dengan jari-jari yang gemetar hebat. Ia mengeluarkan seikat kunci kuningan tebal yang berdentang nyaring.

"Lihat sendiri gemboknya, Tuan," kata Pendelton seraya mengarahkan cahaya lenteranya ke arah pintu. "Tiga gembok besi buatan *Yale* ini terpasang rapi di rantai pengikat utama. Kunci serapnya hanya ada dua di dunia: satu di brankas kantor direksi perusahaan, dan satu lagi di saku mantel saya."

Hans merendahkan tubuhnya sebentar, meneliti rincian tiga gembok besi yang mengunci pintu gudang. Mata kelabunya dengan teliti memindai celah lubang kunci dan rantai besi penahannya. Tidak ada bekas goresan asam kimia, tidak ada bekas kikir logam, dan engsel pintunya bebas dari tanda-tanda pembobolan paksa.

*Klek. Klek. Klek.*

Pendelton memutar kunci kuningan tersebut satu per satu. Suara pegas besi yang terbuka terdengar tegas di tengah keheningan malam. Pintu besi tebal itu berderit nyaring saat Hans mendorongnya perlahan, mengembuskan seketika gelombang udara lembap dari dalam ruangan. Udara itu membawa aroma garam laut basah, jelaga kental, dan bau amis yang ganjil—bukan aroma ikan busuk atau lumpur pelabuhan biasa, melainkan bau yang tajam menyerupai ozon terbakar setelah disambar petir di tengah badai.

"Tetap di belakangku, Pip," instruksi Hans tegas seraya melangkah melewati ambang pintu kayu.

Gudang penyimpanan itu berukuran luas 20 meter persegi, beratap tinggi dengan kasau-kasau kayu yang dipenuhi sarang laba-laba basah. Dinding batu bata merahnya dilapisi embun dingin yang menetes pelan ke lantai. Di sepanjang ruangan, tumpukan peti kargo kayu berlabel impor tersusun rapi di atas papan gelondongan.

Namun, di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah area kosong berbentuk persegi berukuran 2 x 2 meter. Tempat itu tampak mencolok di antara tumpukan barang lainnya—sebuah ruang hampa yang meninggalkan pola bersih dari debu kusam yang menyelimuti seluruh lantai gudang.

"Di sinilah peti besi itu diletakkan sore tadi pukul 15.00," ujar Pendelton seraya berdiri di dekat pintu, enggan melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. "Peti itu dikawal langsung dari geladak kapal uap *HMS Triton* oleh empat kuli angkut. Saya sendiri yang mengunci pintu ini pada pukul 17.00 tepat setelah pemeriksaan manifes luar."

Hans tidak langsung menjawab. Ia melangkah menuju tepi area kosong tersebut, lalu merendahkan tubuhnya hingga berlutut di atas lantai kayu yang melengkung. Dari saku mantel kusamnya, ia mengeluarkan kaca pembesar berbingkai kuningan. Dengan ketelitian rasional yang dingin, matanya mulai merekam setiap milimeter tekstur permukaan lantai.

*Sebuah peti besi berisi peralatan selam tebal dan wadah spesimen organik bermassa besar pasti memiliki bobot minimal 300 kg,* analisis Hans di dalam kepalanya. *Jika peti berskala berat itu dipindahkan secara terburu-buru oleh sekelompok pencuri, papan kayu kusam ini seharusnya menunjukkan bekas goresan sudut besi, tekanan roda gerobak penarik, atau setidaknya pecahan serat kayu akibat gesekan paksa.*

Namun, lensa kaca pembesar Hans tidak menemukan satu pun tanda mekanis tersebut. Lapisan debu tipis di sekeliling area persegi itu benar-benar utuh, seolah-olah beban seberat 300 kg tersebut diangkat lurus ke atas tanpa pernah menyentuh permukaan lantai kayu lagi saat dipindahkan.

"Apakah ada saluran ventilasi atau atap kaca yang bisa diakses dari luar?" tanya Hans seraya mengarahkan pandangannya ke langit-langit gudang.

"Tidak ada, Tuan Lorte," jawab Pendelton cepat. "Atap gudang ini terbuat dari lembaran seng gelombang tebal yang dipaku mati ke kasau kayu. Satu-satunya jalan keluar masuk hanya pintu depan yang kita lewati tadi."

Hans memiringkan kepalanya, lalu mengalihkan perhatiannya ke empat pilar kayu pengikat jangkar yang mengelilingi sudut-sudut ruangan. Di pilar sebelah kanan, terdapat rantai besi tebal berdiameter 5 cm yang terikat pada gelang fondasi.

Ketika lensa kaca pembesar Hans tertuju pada mata rantai besi tersebut, jemarinya seketika berhenti bergerak.

Besi tebal berdiameter 5 cm itu tampak keropos secara tidak alami. Karat pada permukaannya bukan berwarna cokelat kemerahan khas korosi air garam, melainkan terlapisi kristal-kristal putih halus berbentuk serat melingkar yang menyerupai pola salju beku.

Hans melepas sarung tangan kain kusam di tangan kirinya, lalu menyapu kristal putih tersebut dengan ujung jari telunjuknya.

Begitu kulit jarinya menyentuh kristal itu, rasa dingin murni yang luar biasa seketika menjalar hebat menembus pembuluh darahnya. Sensasi dingin itu bukan sekadar dinginnya udara malam London, melainkan rasa beku ekstrem yang membuat saraf jemarinya seketika baal hingga ke persendian tulang.

Hans menarik tangannya kembali dengan dahi berkerut tajam. *Suhu pada permukaan rantai besi ini berada jauh di bawah titik beku alami udara malam ini,* kalkulasi Hans dalam hati. *Erosi kristal ini bukan disebabkan oleh kelembapan udara biasa, melainkan reaksi fisik akibat pembekuan energi secara mendadak yang menyerap kalor dari logam hingga struktur molekul besinya rapuh.*

"Tuan Detektif..."

Suara bisikan Pip mendadak memecah keheningan gudang. Anak jalanan itu berdiri tiga langkah di samping Hans, menunjuk ke arah kompas saku kuningan peninggalan Angkatan Laut yang tergantung di rantai rompi Hans.

"Lihat jarum jam mu itu... kenapa dia berputar?" bisik Pip dengan mata membelalak heran.

Hans menurunkan pandangannya. Jarum tembaga kompas pelayaran buatan *Royal Navy* yang biasanya menunjuk stabil ke arah Utara kini bergerak bergetar liar. Jarum itu berputar 360 derajat secara acak tanpa henti, berosilasi kencang tiap kali Hans mendekatkan tubuhnya ke celah papan lantai kayu yang basah oleh rembesan air sungai.

Hans berdiri tegak, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya seraya memperhatikan putaran liar jarum kompas tersebut.

*Tidak ada mesin generator listrik atau magnet industri berdaya tinggi di sekitar pelabuhan Wapping yang sanggup mengacaukan medan magnetik kompas pelayaran sebesar ini,* batin Hans. *Ada pendaran anomali fisik yang merubuhkan hukum-hukum mekanika sederhana di tempat ini.*

Hans melangkah mengitari ruangan, menggunakan ujung tongkat jalan berkepala besinya untuk mengetuk bilah-bilah papan lantai. *Tuk... tuk... tuk...*

Suara ketukan itu terdengar padat di hampir seluruh bagian gudang, sampai akhirnya ujung tongkatnya menghantam bilah kayu di bawah rak penyimpanan barang di sudut tergelap ruangan.

*Thuk.*

Suara gaung berongga terdengar dari balik rak kayu tersebut.

Hans berjongkok di dekat sudut rak. Di antara tumpukan jerami basah dan debu kusam, mata analitisnya menangkap sudut selembar kertas tebal yang terlipat dua. Kertas itu tampak sedikit basah oleh pendaran cairan pelicin bening yang licin dan beraroma ganjil.

Dengan menggunakan ujung besi tongkatnya, Hans menggeser kertas tersebut keluar dari celah rak, lalu memungutnya dengan hati-hati menggunakan saputangan.

Kertas tebal itu adalah selembar kertas manifes pelayaran resmi (*shipping manifest *) bertinta hitam dengan stempel lilin merah Kerajaan yang telah retak di bagian bawahnya. Di bagian atas lembaran tebal tersebut, tertera tulisan tangan anggun yang rapi: *Penerima Resmi: Dr. Alistair Finch - Royal Society London.*

Namun, hal yang membuat pupil mata Hans memicing sharp dan rahangnya mengeras adalah keberadaan stempel rahasia berwarna biru gelap yang tertindih di atas stempel lilin merah tersebut. Stempel itu berbentuk lingkaran dengan ukiran jangkar patah yang dikelilingi rantai, memuat tulisan tegas yang dicetak tebal:

*Spesimen Ekspedisi Palung Atlantik - Kategori: Terlarang untuk Pemeriksaan Pabean Publik.*

Hans menatap lembaran kertas manifes di tangannya seraya menghembuskan napas panjang. Udara malam yang basah berhembus masuk melewati pintu gudang yang terbuka, membuat nyala lampu minyak tanah di tangan Pendelton menari-nari liar.

Anomali fisik di lokasi kejadian, hilangnya beban seberat 300 kg tanpa bekas gesekan mekanis, erosi kristal beku pada rantai besi, dan keterlibatan stempel rahasia *Royal Society* adalah potongan-potongan puzzle yang saling terhubung. Ini bukan lagi sekadar kasus pencurian kargo biasa oleh pemuda lokal atau pencopet dermaga. Ada bayangan konspirasi besar yang jauh lebih gelap dan berbahaya sedang merayap di sepanjang aliran air Sungai Thames.

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!