Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Melepaskanmu, Aku Tidak Bisa
Hari ini Kamila pergi ke Rumah Singgah, menemui Dena. Wajah pucat dengan tubuh semakin kurus, selalu tersenyum padanya saat dia datang. Kamila tidak tahu apa perjuangannya akan sia-sia atau tidak. Karena melihat kondisi Dena yang belum menunjukan pemulihan yang baik. Membuatnya sedikit ragu, apa dia akan berhasil membuat Dena kembali pulih?
"Sudah lama Kakak tidak datang, sibuk ya?"
Kamila tersenyum, dia mengelus kepala adiknya yang memakai penutup kepala. Bahkan rambutnya sudah habis rontok karena kemoterapi. Kamila menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca, berpikir apa semua yang dia lakukan tidak akan sia-sia?
"Mau pergi jalan-jalan sama Kakak? Hari ini Kakak sengaja datang untuk bawa kamu pergi jalan"
Dena langsung tersenyum, wajahnya antusias. Di tengah penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya, tapi Dena selalu ceria ketika dirinya datang. Gadis yang benar-benar menghabiskan hidupnya dengan obat-obatan dan tinggal di rumah singgah bersama penderita yang lain. Setiap minggu harus menjalani pengobatan yang menyiksa, namun dia tetap ceria.
"Ayo Kak, aku mau nonton ya. Ada film baru"
Kamila mengangguk dan tersenyum, saat ini dia hanya perlu mewujudkan apa yang adiknya inginkan. Entah kenapa Kamila berpikir jika Dena tidak akan bertahan selama itu. Meski hati kecilnya terus membantah pikiran itu. Tetap berharap Dena bisa sembuh total dan tetap menemaninya sampai akhir.
"Siap-siap ya, Kakak tunggu di sini"
"Iya Kak"
Kamila mengirim pesan pada Razka, karena akhir pekan ini Razka tetap melakukan syuting, membuat Kamila bisa pergi menemui Dena. Kamila belum berani bercerita tentang Dena padanya, masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakan tentang keberadaan Dena.
"Ayo Kak, aku sudah siap"
Kamila mengangguk, dia membawa adiknya ke sebuah Mal, memesan tiket menonton seperti yang di inginkan Dena. Ternyata film yang di pilih oleh Dena adalah film Razka yang baru tayang. Kamila juga belum menonton filmnya secara keseluruhan, meski saat film ini Kamila masih menjadi penata rias untuk para aktor di sana. Terutama Razka, jadi sedikitnya dia melihat proses syuting. Namun, tidak menonton setelah jadi sebuah filmnya.
Hiks... Suara isakan pelan itu membuat Kamila menoleh, melihat Dena yang mengusap air matanya. Kamila tersenyum dan merangkul adiknya. Dena terbawa suasana dengan film yang sedang mereka tonton.
"Ini hanya film Den, kamu beneran sampai menangis ya"
"Sedih Kak, pemeran prianya meninggal dan meninggalkan wanita yang sangat mencintainya. Hiks.. Kenapa akhirnya seperti ini"
Kamila mengelus lembut kepada adiknya yang memakai penutup itu. "Semua film seperti kisah hidup orang yang berbeda. Ada yang berakhir bahagia, ada juga yang berakhir terluka. Tidak semuanya sama"
Dena menoleh, menatap Kakaknya dengan lekat saat film sudah selesai dan lampu ruangan bioskop ini sudah kembali menyala. Tatapan mata Dena dengan kelopak yang menghitam, membuat Kamila berkaca-kaca. Keadaan adiknya jelas tidak baik-baik saja, namun dia selalu mencoba menyangkal kemungkinan terburuk itu.
"Kak, kalau misalkan akhir hidup aku tidak sesuai dengan harapan kita. Kakak jangan sedih ya, jangan berpikir kalau Kakak tidak begitu berusaha untukku. Karena sebenarnya Kakak yang paling berusaha untuk semuanya, aku selalu sayang sama Kakak. Maaf karena aku hanya menyusahkan Kakak sebagai adik"
Kamila menggeleng dengan air mata yang ikut menetes di pipinya. "Kamu tidak pernah menyusahkan siapa pun. Kakak memang harus berusaha untuk kamu. Apapun harus Kakak lakukan untuk kamu tetap bertahan. Kamu hanya perlu yakin jika suatu hari kamu akan sembuh, Den"
Dena tersenyum, mengusap lembut pipi Kakaknya. Menghapus air mata yang mengalir di sana. "Tidak papa kalau Kakak bersedih, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Aku menerima apapun takdirku nanti. Tentang akhir cerita hidupku nanti akan seperti apa"
Kamila memegang tangan Dena yang berada di pipinya, mengenggamnya erat. "Semuanya akan berakhir bahagia, percayalah pada Kakak"
"Semoga ya Kak"
*
Setelah seharian pergi dengan adiknya, Kamila kembali ke Apartemen. Hari ini menghabsikan waktu dengan Dena, namun membuatnya semakin kepikiran tentang adiknya itu. Kamila sudah pergi membicarakan dengan Dokter, dan jawaban Dokter masih sama seperti sebelumnya.
"Kita hanya bisa berusaha, semoga ada keajaiban"
Kalimat itu sudah menjadi jawaban yang terus di ucapkan Dokter tentang kondisi adiknya. Dan Kamila tidak bisa berharap lebih karena memang melihat keadaan Dena yang semakin hari tidak menunjukan pemulihan.
"Sayang, aku pulang"
Kamila mengerjap pelan saat suara pintu terbuka di iringi suara teriakan Razka. Kamila yang sedang duduk di sofa, langsung menghampirinya.
"Pulang cepat ya?"
"Hmm"
Razka menghampiri wanitanya, mengecup keningnya dengan lembut. "Ada apa denganmu? Sepertinya kau sedang banyak pikiran"
Razka menarik Kamila untuk duduk di sofa. "Cerita padaku, ada apa?"
Kamila tersenyum dan menggeleng pelan, dia tidak bisa bercerita pada Razka sekarang. Rasanya masih sulit untuk berkata jujur.
"Tidak ada apa-apa, hanya urusan pekerjaan saja. Ada berkas yang belum aku selesaikan"
Razka mengelus kepala Kamila dengan lembut. "Tidak perlu terlalu terbebani, jangan sampai kau sakit karena ini"
Kamila mengangguk sambil tersenyum, untuk saat ini biarkan saja dulu semuanya seperti ini. "Mau makan apa? Aku belum masak untuk makan malam hari ini"
"Apa saja yang kamu masak, aku pasti makan. Oh ya Sayang, besok ada acara di Restoran Georga, kita di undang. Kita datang saja ya"
"Kamu yakin? Kalau misalkan ada yang lihat kamu dan aku bagaimana?"
"Georga sangat berharap kita datang, dia berjanji akan menyiapkan ruangan khusus agar kita tidak terlalu kentara"
"Ah, baiklah. Memangnya acara apa?"
"Entah, sepertinya hari berdirinya Restoran"
Kamila mengangguk mengerti, dia segera pergi ke dapur. "Kamu mandi dulu saja, aku akan masak untuk makan malam"
"Baiklah"
Razka masuk ke dalam kamar, membuka ponselnya dan ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Ayah dan pamannya. Sebenarnya bukan karena tidak terjawab, tapi memang Razka sengaja tidak menjawabnya.
"Tolong biarkan hari ini baik saja dulu. Aku belum siap untuk meninggalkannya. Tidak akan pernah siap"
Ternyata keputusan 3 tahun lalu ketika Razka meminta Kamila untuk menjadi seorang simpanan yang menemaninya sepulang dari syuting yang melelahkan, adalah awal dari hatinya yang terikat dengan Kamila. Hingga sekarang dia tidak mau meninggalkan wanitanya, apalagi sampai harus berpisah dengannya.
"Aku akan tetap mencari cara untuk kita, bukan karena aku egois memaksamu masuk dalam permasalahan keluargaku, tapi untuk melepaskanmu, aku tidak akan bisa"
Razka menghembuskan napas berat, dia berjalan ke arah kamar mandi dengan pikiran yang kacau. Mencoba menenangkan semua pikirannya dengan berendam di bak mandi.
Bersambung