**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Setelah Pemakaman
Hujan turun sejak subuh, seolah langit pun enggan membiarkan rumah itu kembali sepi.
Laras berdiri di teras dengan secangkir teh yang sudah lama dingin. Tiga hari sejak peti kayu jati itu diturunkan ke liang lahat, tenda biru di halaman belum juga dibongkar. Kursi-kursi plastik masih berjajar, basah dan miring, seperti tamu yang lupa cara pulang.
Dua belas tahun ia tak pernah tinggal di rumah ini lebih dari tiga hari. Dua belas tahun Jakarta, kantor, apartemen sewaan, dan alasan-alasan yang rapi: macet, lembur, tenggat. Alasan yang sebenarnya tak pernah ia ucapkan, dan Bapak pun tak pernah bertanya. Itulah yang paling menyakitkan.
Terakhir Bapak menelepon, tiga minggu sebelum meninggal, beliau hanya bertanya apakah Laras sudah makan. Laras menjawab sudah, padahal belum, lalu menutup telepon karena rapat. Hanya itu. Percakapan terakhir mereka seluruhnya tentang makan.
"Mbak."
Bima berdiri di ambang pintu, kaus hitamnya kusut, matanya merah. Adik tengahnya itulah yang mengurus segalanya selama tiga hari ini: tahlilan, tenda, nasi kotak, utang-piutang kecil yang tiba-tiba bermunculan. Sementara Laras hanya datang, menangis sebentar di pelukan Ibu, lalu sibuk membalas pesan kantor.
"Notarisnya sudah datang. Ibu minta kita semua kumpul."
"Sekarang? Kata Pak Surya nunggu seminggu."
"Pesan Bapak begitu. Dibuka tiga hari setelah dimakamkan." Bima mengusap tengkuknya. "Aku juga baru tahu tadi pagi."
Ia ragu sejenak, lalu menambahkan pelan, "Mbak, apa pun yang nanti dibacakan, jangan langsung pergi ya."
Laras ingin bertanya apa maksudnya, tetapi Bima sudah berbalik masuk. Ada sesuatu pada cara adiknya menghindari tatapannya yang membuat dadanya mengencang.
Ruang tamu berbau minyak kayu putih dan sisa kembang melati. Foto Bapak sudah dipajang di atas bufet, berbingkai hitam, tersenyum dengan kumis tipis yang selalu ia rapikan tiap pagi.
Hartono, pemilik Mebel Jati Hartono di Jalan Pasar Lama, lelaki yang bicaranya hemat tetapi tangannya tak pernah berhenti bekerja.
Ibu duduk di kursi rotan dekat jendela, punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan. Wulan, lima puluh delapan tahun, yang selama tiga hari ini tak menangis di depan siapa pun. Di sebelahnya, Sekar, si bungsu, mencengkeram ujung kerudung hitam yang kebesaran sampai buku jarinya memutih.
Pak Surya, notaris keluarga berambut putih seluruhnya, membuka map cokelat. "Almarhum menitipkan dokumen ini sebelas bulan lalu. Pesannya jelas: dibacakan di hadapan seluruh keluarga, tiga hari setelah beliau dimakamkan."
"Sebelas bulan," ulang Laras pelan. "Berarti Bapak tahu."
Tak ada yang menjawab. Hujan menderu di atap seng teras.
Pak Surya mulai membaca. Rumah atas nama Ibu. Toko mebel dibagi dua: Bima mengelola, Laras memegang separuh hak. Tabungan pendidikan untuk Sekar.
Semuanya rapi dan sangat Bapak, dan Laras merasa matanya memanas membayangkan lelaki itu menulis angka demi angka dengan pensil tukang.
Di pinggir kertas ada satu catatan tambahan: Jangan jual meja kerja saya, Bim, meski ada yang menawar mahal. Bima tertawa pendek di antara air matanya, satu-satunya tawa yang terdengar di rumah itu selama tiga hari.
Lalu notaris mengeluarkan sebuah amplop putih berlak merah yang sudah mengeras. Di depannya, tulisan tangan yang Laras kenali sejak kecil, tegak dan miring ke kanan: Untuk dibaca keras-keras. Jangan ada yang keluar ruangan.
"Bu Wulan, apakah Ibu mengizinkan?"
Ibu mengangguk sekali. Tidak ragu. Tidak terkejut. Laras menangkapnya, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk memprosesnya. Belum.
Pak Surya mematahkan segel dan mulai membaca.
"Anak-anakku. Kalau surat ini sampai di tangan kalian, berarti Bapak sudah tidak bisa lagi menghindar.
Bapak minta maaf, bukan hanya karena apa yang Bapak lakukan dulu, tetapi karena Bapak terlalu pengecut untuk mengatakannya ketika masih bisa melihat wajah kalian."
Sekar menutup mulut dengan telapak tangan.
"Laras, Bapak tahu kamu menjauh dari rumah bukan karena pekerjaan. Kamu merasa ada yang disembunyikan di sini. Kamu benar."
Lantai di bawah kaki Laras seakan bergeser. Dua belas tahun ia mengira kecurigaan itu cuma luka remaja yang tak pernah sembuh.
"Dua puluh tiga tahun lalu, sebelum Sekar lahir, Bapak mengambil keputusan yang salah. Dari keputusan itu lahir seorang anak bernama Dimas Prasetyo. Dia putra Bapak. Darah yang sama dengan kalian."
Sunyi. Sunyi yang berat, yang membuat suara hujan terdengar datang dari ruangan lain. Laras mendengar napasnya sendiri, detik jam dinding, isak Sekar yang tertahan.
"Bapak nggak mungkin ..." Sekar menggeleng, seperti menolak kalimat yang baru ia dengar. "Bapak yang antar aku les tiap Sabtu. Bu, itu maksudnya apa? Kita punya ... adik?"
Ibu tidak menjawab. Matanya lurus pada foto di atas bufet.
"Teruskan," kata Bima, datar dan dingin.
"Bapak tidak meminta kalian memaafkan. Bapak hanya minta: temui dia. Dimas sudah tahu siapa Bapak sejak setahun lalu, dan dia tidak meminta apa-apa. Itu yang paling membuat Bapak malu. Hari ini, dia akan datang."
"Hari ini?" Laras berdiri, kursinya berderit keras di lantai. "Pak Surya, maksudnya apa?"
"Saya sudah menghubungi beliau pagi tadi," kata Pak Surya, jelas menyesal berada di ruangan itu. "Sesuai amanat."
Laras menoleh pada Ibu. "Bu. Ibu tahu?"
Ibu tidak menjawab. Kedua tangannya tetap rapi di pangkuan, tak gemetar sedikit pun. Dan di situlah Laras melihat hal kecil yang sejak tadi ia lewatkan: Ibu tidak menatap notaris, tidak menatap kertas itu. Ibu menatap pintu depan, seakan sudah menghitung menit.
Terdengar bunyi dari luar. Bukan bel, bukan ketukan, hanya engsel pagar besi berkarat yang berderit panjang, seperti seseorang berhenti sebentar sebelum memutuskan masuk.
Bima bergerak ke jendela, menyibak tirai putih yang berbau debu, lalu membeku.
Laras menyusul ke sisinya. Di halaman, di antara kursi plastik basah dan tenda biru yang menetes, berdiri seorang pemuda berjaket abu-abu tanpa payung, ransel lusuh tersampir di satu bahu. Ia tidak berlari menghindari hujan.
Ia hanya berdiri di sana dan menatap rumah itu seperti menatap sesuatu yang sudah lama ia hafal dari jauh.
Ketika ia mengangkat wajah, Laras berhenti bernapas.
Alis tebal yang sama. Garis rahang yang sama. Cara miring kepala ketika ragu, persis lelaki di foto berbingkai hitam di atas bufet.
Di belakang mereka, Ibu berdiri pelan dari kursi rotan. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, suaranya bergetar.
"Dia datang lebih cepat dari yang Ibu kira."
Laras menoleh perlahan. Ibu tidak menatap pemuda itu dengan keterkejutan, bukan pula dengan kemarahan.
Ibu menatapnya seperti seseorang yang sudah mengenalnya seumur hidup.