NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: RAPAT MENDADAK

Pagi itu, ruang rapat jurusan terasa lebih penuh dari biasanya. Bukan cuma dosen tetap yang biasa hadir di rapat rutin bulanan, tapi juga beberapa dosen yang jarang sekali Bang Tua lihat muncul, termasuk dua orang dari bagian akademik fakultas yang duduk kaku di ujung meja dengan map tebal di tangan mereka, semacam pertanda bahwa ini bukan rapat basa basi biasa.

Bang Tua datang lebih awal dari jadwal seperti kebiasaannya, duduk di kursi favoritnya di ujung meja, cukup jauh dari pusat perhatian tapi cukup dekat untuk mendengar semuanya dengan jelas, posisi strategis yang sudah dia kuasai bertahun tahun sebagai dosen yang lebih suka mengamati daripada jadi pusat pembicaraan. Sambil menunggu rapat dimulai, dia sempat berkomentar dalam hati melihat salah satu dosen senior yang sibuk memperbaiki dasi meski rapat internal begini sebenarnya tidak butuh formalitas seketat itu, "itu Pak Haryanto kalau ke rapat dosen aja dandan serapi itu, jangan jangan kalau ke pasar beli cabai juga pakai dasi".

Ketua jurusan membuka rapat dengan nada yang terdengar berat sejak kalimat pertama, jauh berbeda dari gaya santainya yang biasa. "Bapak Ibu sekalian, hari ini kita perlu membahas hal yang cukup serius, menyangkut beberapa mahasiswa tingkat akhir kita, dan ini menyangkut nama baik program studi juga ke depannya."

Ruangan langsung hening, beberapa dosen saling melirik, seolah sudah punya bayangan sendiri sendiri soal apa yang akan dibahas, meski tidak ada yang berani bersuara lebih dulu. Bang Tua sendiri masih santai, dalam hati sempat berkomentar jenaka, "serius kali muka Pak Ketua ini, kayak mau ngumumin kiamat sudah dekat", belum menyadari bahwa dalam beberapa menit ke depan, senyum kecilnya itu akan segera lenyap.

Salah satu perwakilan dari bagian akademik mulai menjelaskan, dengan gaya bicara birokrat yang berputar putar, penuh istilah formal yang sebenarnya bisa disampaikan dalam satu dua kalimat saja tapi sengaja dipanjang panjangkan, seolah ingin terdengar lebih penting dari yang sebenarnya. "Jadi begini, berdasarkan hasil evaluasi progres tugas akhir semester ini, ditemukan beberapa kasus yang memerlukan perhatian khusus dari pihak jurusan, terkait kelancaran penyelesaian studi mahasiswa yang bersangkutan, yang mana hal ini tentunya berdampak pada capaian indikator kinerja program studi secara keseluruhan..."

Bang Tua dalam hati sudah mulai gemas mendengar gaya bicara berbelit itu, "ini orang kalau disuruh bilang 'ada mahasiswa bermasalah' aja butuh lima menit muter muter dulu, gimana kalau disuruh jelasin rumus integral, bisa seharian kali rapatnya". Tapi kegemasannya soal gaya bicara itu langsung sirna begitu nama nama mulai disebutkan satu per satu.

"Kasus pertama, atas nama Riko, mahasiswa Pendidikan Matematika semester akhir, yang progres bimbingannya tercatat mandek cukup lama."

Bang Tua tersentak mendengar nama itu, punggungnya yang tadi bersandar santai di kursi langsung tegak. Riko, mahasiswa bimbingannya sendiri, yang sudah dikenalnya sejak beberapa bulan lalu, yang sempat menunjukkan berita sindikat penipuan itu, yang nyaris kena serempet angkot ugal ugalan beberapa waktu lalu, kini namanya disebut di rapat sebagai "kasus".

"Kasus kedua, atas nama Dinda, juga dari Pendidikan Matematika, terkait dinamika di forum seminar proposal yang sempat menimbulkan, katakanlah, ketegangan tertentu."

"Kasus ketiga, atas nama Farel, dari jurusan yang sama, dengan catatan keterlambatan penyelesaian yang cukup signifikan dibanding rekan rekan seangkatannya."

Bang Tua duduk diam, mencoba mencerna semua informasi itu, dalam hati sudah tidak ada lagi ruang untuk lelucon, meski sebagian kecil dari dirinya tetap berusaha mencari celah humor untuk menenangkan diri, "tiga nama sekaligus, ini rapat apa lagi pembagian rapor sekolah, kok kesannya kayak lagi manggil satu satu anak nakal ke depan kelas".

Ketua jurusan melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih hati hati, memilih kata katanya dengan sangat berhati hati, seolah sedang berjalan di atas tali yang tipis. "Kami mohon kerja sama semua dosen, khususnya yang terkait langsung dengan ketiga mahasiswa ini, untuk memberikan perhatian khusus, dan tentunya, menjaga agar penanganannya tetap sesuai prosedur yang berlaku."

Kalimat terakhir itu, "sesuai prosedur yang berlaku", entah kenapa terdengar aneh di telinga Bang Tua, terlalu hati hati, terlalu diplomatis, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan secara gamblang di ruangan itu. Dia melirik ke arah Pak Ferdinand yang duduk beberapa kursi darinya, dan mendapati kolega dekatnya itu juga terlihat berpikir keras, dahinya berkerut, jelas merasakan hal yang sama.

Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis lain yang lebih membosankan, jadwal akademik, persiapan akreditasi, dan beberapa agenda rutin lainnya, tapi pikiran Bang Tua sudah tidak sepenuhnya berada di ruangan itu lagi. Dia terus memikirkan nama Riko, mencoba mengingat ingat kapan terakhir kali dia benar benar mengobrol dengan mahasiswanya itu, dan kenapa dia sendiri sampai tidak menyadari kalau ada masalah sebesar ini sedang terjadi.

Begitu rapat selesai, dia sempat berjalan bersama Pak Ferdinand menuju ruang dosen, dan tanpa bisa menahan rasa penasarannya, dia bertanya, "Pak, tadi itu, kok kesannya ada yang disembunyikan ya, soal tiga mahasiswa itu?"

Pak Ferdinand menghela napas panjang sebelum menjawab, suaranya direndahkan meski tidak ada orang lain di dekat mereka. "Kau juga ngerasa gitu, Sahat? Aku juga curiga, kayaknya ini bukan cuma soal mahasiswa telat skripsi biasa. Tapi entahlah, aku belum berani bilang macam macam, takut salah duga."

Bang Tua mengangguk pelan, dalam hati mencoba menyusun kembali keceriaannya yang sempat hilang, "yah, minimal aku tau sekarang, misteri di kampus ini bukan cuma soal siapa yang nyolong kunci gudang alat peraga tiap semester", candaan kecil untuk dirinya sendiri yang berhasil membuatnya sedikit tersenyum, meski dalam hati dia tahu betul, apa yang baru saja dia dengar di rapat itu jauh lebih serius dari sekadar kunci gudang yang hilang.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berganti kelas, sesekali membalas sapaan dari mahasiswa lain yang lewat, meski pikiran keduanya masih tertinggal jauh di ruang rapat tadi. Pak Ferdinand sempat berhenti sejenak di depan mading jurusan, menatap kosong ke arah pengumuman jadwal ujian tanpa benar benar membacanya, sebelum akhirnya berkata pelan, "Sahat, kau kenal dekat sama Riko kan? Kalau ada waktu, coba deh kau tanya tanya langsung, siapa tahu dia lebih terbuka cerita ke kau dibanding ke dosen lain."

Bang Tua mengangguk, menyimpan saran itu dalam hati, meski belum sepenuhnya yakin bagaimana cara memulainya tanpa membuat Riko merasa sedang diinterogasi. Di ruang dosen, dia duduk sebentar di mejanya, membuka laptop tapi tidak benar benar mengerjakan apa apa, pikirannya masih sibuk menyusun rencana kecil, bagaimana caranya berbicara dengan Riko secara alami, tanpa terkesan sedang menyelidiki sesuatu yang besar.

Sore itu, sebelum pulang, dia sempat mengecek jadwal kuliah Riko lewat sistem akademik, mencari tahu kapan kira kira mahasiswanya itu akan selesai kelas, sebuah langkah kecil yang terasa agak berlebihan untuk sekadar mengobrol santai, tapi dia merasa perlu melakukannya, seolah ada dorongan dari dalam dirinya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja, dorongan yang jauh berbeda dari kebiasaan lamanya yang lebih suka menunggu keadaan berjalan sendiri tanpa campur tangannya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!