NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Ujian Darah di Lembah Batas

Tangga batu melingkar di balik altar membawa Ma Huang dan rombongannya meluncur ratusan tombak menembus kedalaman perut bumi. Bau asap belerang perlahan memudar. Sengatan hawa dingin dan bau tanah basah perbatasan menggantikannya secara perlahan.

Celah tebing basal menyingkapkan jalan keluar di balik rimbunnya semak duri Lembah Batas. Hujan gerimis membilas debu batu dari jubah biru Ma Huang yang terkoyak. Di hadapan mereka, membentang lembah berlumpur yang dihimpit dua tebing tebal.

Ratusan kemah kulit berwarna kelabu berdiri rapat di sepanjang lembah. Panji-panji kain hitam berukirkan kepala serigala menggigit pedang silang berkibar kencang ditiup angin perbatasan. Tiga ribu prajurit tentara bayaran Pasukan Serigala Hitam menguasai kawasan tersebut.

Empat penunggang kuda bersirat zirah kulit melompat keluar dari balik semak-semak. Tombak-tombak perunggu di tangan mereka teracung lurus mengincar dada Ma Huang.

"Siapa yang berani menerobos masuk ke markas Serigala Hitam?" bentak penunggang kuda terdepan dengan suara nyaring.

Lu Gang melangkah maju tiga depa. Ia merogoh lencana tembaga tua dari balik pinggangnya. Lencana itu dilemparnya lurus ke arah penunggang kuda tersebut.

Penunggang kuda itu menangkap lencana tembaga dengan satu tangan. Matanya membelalak lebar saat mendapati ukiran lambang pimpinan tua Keluarga Ma di atas permukaan tembaga. "Lencana Pengawal Utama..." bisiknya kaget.

"Bawa kami bertemu tiga panglima sekarang!" perintah Lu Gang tegas.

Penunggang kuda itu tidak membantah. Ia menarik kekang kudanya kencang-kencang, memutar arah dan membimbing rombongan Ma Huang melintasi barikade kayu berujung pasak besi di pintu masuk benteng.

Suasana markas terasa sangat pekat oleh aroma minyak senjata, daging panggang, dan kotoran kuda. Para prajurit berwajah keras menghentikan aktivitas mengasah pedang. Pandangan mata mereka mengunci rapat sosok Ma Huang yang melangkah kaku di tengah lapangan tanah.

Di depan kemah utama yang terbuat dari kulit beruang raksasa, tiga sosok berdiri menanti.

Di sisi kiri, Han Zang berdiri tegap memegang Tombak Perunggu Tujuh Bintang. Wajah tuanya berkerut dalam saat mendapati keberadaan Master Han dan Lu Gang. Di atas panggung kayu pengintai, Feng Ni berdiri diam dengan busur baja pendek di punggungnya. Matanya menyipit tajam meneliti setiap jengkal tubuh Ma Huang.

Sosok ketiga melangkah keluar dari dalam kemah utama dengan hentakan kaki yang menggetarkan lumpur tanah. Tie Shan berdiri bertolak pinggang. Tubuh raksasanya dipenuhi bekas luka tebasan. Kedua tangannya menggenggam kencang Kampak Kembar Baja Hitam berbobot delapan puluh kati.

"Lu Gang! Master Han!" suara Tie Shan menggelegar memecah keheningan lapangan. "Kalian masih hidup? Dan siapa bocah ingusan berkulit pucat ini?"

Master Han melangkah maju dua langkah. Tangannya menunjuk lurus ke arah Ma Huang. "Tie Shan! Jaga mulutmu! Ini adalah Ma Huang, putra tunggal Almarhum Tuan Ma Ren!"

Tie Shan tertawa keras. Tawa parau yang dingin dan penuh nada hinaan bergema di udara malam. "Putra Ma Ren? Setelah lima belas tahun menghilang, kalian membawa seorang bocah ringkih untuk memerintah tiga ribu prajurit di tempat ini?"

Ma Huang tidak membalas tawa tersebut. Tangannya merogoh bagian dalam jubah dadanya. Ia menarik keluar Segel Besi Hitam, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

Cahaya rembulan menimpa permukaan baja meteorit kehitaman segel tersebut. Ukiran kepala serigala menggigit pedang memancarkan pendar dingin yang sangat pekat. Butiran air hujan di sekitarnya membeku seketika.

Han Zang seketika berlutut di atas lumpur basah. "Segel Komando..." gumamnya dengan suara gemetar penuh hormat.

Feng Ni melompat turun dari panggung kayu tanpa suara. Ia menundukkan kepalanya tipis di balik jubah kulit ular.

Namun Tie Shan justru menancapkan kedua kampak kembarnya kencang-kencang ke atas tanah. Lumpur menyembur basah membasahi celananya.

"Sepotong besi tua tidak bisa memimpin pasukan!" bentak Tie Shan murka. "Di lembah ini, kami hanya tunduk pada pimpinan yang sanggup meremukkan tulang musuh di lapangan pembantaian!"

Tie Shan menyambar kembali gagang kampak kembarnya. Ia melangkah tiga depa mendekati Ma Huang. "Jika kau ingin tiga ribu prajurit ini bertaruh nyawa untukmu, buktikan kekuatanmu di hadapanku!"

Ma Huang menyimpan kembali Segel Besi Hitam ke dalam jubahnya. Tangan kirinya memegang erat gagang Pedang Tulang Hitam yang masih terbungkus kain kelabu.

"Bagaimana kau menginginkan ujian ini?" tanya Ma Huang datar.

"Tumbangkan aku sebelum sepuluh hembusan napas!" raung Tie Shan.

Tie Shan menjejakkan kaki kirinya kencang. Tanah berlumpur retak ambles. Tubuh raksasanya meluncur deras menyerang Ma Huang. Kampak kanan diayunkannya mendatar dari samping untuk memotong pinggang Ma Huang.

Tebasan kampak baja hitam itu membawa gelombang angin keras yang membelah butiran air hujan.

Ma Huang tidak melompat mundur. Ia justru memajukan langkah kakinya satu jengkal. Tubuhnya merendah sangat tipis, membiarkan mata kampak raksasa melintas dua senti di atas rambutnya.

Srettt!

Angin tebasan kampak merobek ikatan jubah Ma Huang. Sebelum Tie Shan sempat mengayunkan kampak kirinya, Ma Huang menyuntikkan sirkulasi Inti Bencana Hitam-Keemasan lurus ke lengan kirinya.

Pedang Tulang Hitam yang masih berada di dalam sarung kain dihantamkannya kencang-kencang ke persendian siku kanan Tie Shan.

Brak!

Hantaman keras sarung pedang meremukkan sendi siku Tie Shan. Bunyi krek tulang patah terdengar nyaring di tengah lapangan yang sunyi. Kampak kanan berbobot empat puluh kati terlepas dari genggaman Tie Shan, jatuh menghantam lumpur.

Tie Shan meraung kesakitan. Mata kirinya memerah liar. Ia tidak memedulikan lengannya yang lumpuh. Kampak kirinya dihantamkan secara brutal turun dari atas kepala Ma Huang.

Ma Huang menggeser tumpuan badannya sembilan puluh derajat. Tangan kanannya meluncur lurus berbentuk cakar. Jemarinya menyambar pergelangan tangan kiri Tie Shan sebelum kampak itu sempat mencapai puncak ayunan.

Hawa dingin beracun dari racun Ular Hijau meledak keluar dari telapak tangan Ma Huang. Lapisan racun kehitaman membekukan pembuluh darah di lengan kiri Tie Shan dalam sekedip mata.

Ma Huang memutar pergelangan tangan Tie Shan ke belakang kencang-kencang. Lutut kirinya dihantamkan ke dada panglima raksasa itu.

Bummm!

Zirah besi di dada Tie Shan retak melingkar. Pria raksasa berbobot dua ratus kati itu terlempar lima langkah ke belakang. Tubuhnya menghantam tiang kemah utama hingga patah berkeping-keping sebelum roboh telentang di atas lumpur.

Tie Shan memuntahkan gumpalan darah kental. Tangan kirinya gemetar kaku terkena dampak racun dingin, sementara siku kanannya terkulai patah tak berdaya.

Seluruh lapangan benteng mendadak menjadi sangat senyap. Tiga ribu prajurit Serigala Hitam menatap kaku ke arah tubuh panglima terkuat mereka yang ditumbangkan hanya dalam tiga hembusan napas.

Ma Huang melangkah perlahan mendekati Tie Shan yang terbaring di lumpur. Ujung Pedang Tulang Hitam yang masih terbungkus kain ditunjukkannya tepat di depan leher Tie Shan.

"Apakah sepuluh hembusan napas sudah cukup?" tanya Ma Huang dingin.

Tie Shan menelan ludah bercampur darah kentalnya dengan susah payah. Rasa sakit membakar di dadanya tidak sebanding dengan rasa takut yang memancar dari sepasang mata merah Ma Huang.

"Aku... aku tunduk..." desis Tie Shan parau. Kepalanya yang berdarah ditundukkannya ke atas tanah basah.

Han Zang melangkah cepat ke tengah lapangan, diikuti oleh Feng Ni. Kedua panglima itu berlutut dengan satu kaki di hadapan Ma Huang, menangkupkan tangan mereka tinggi-tinggi.

"Kami Pasukan Serigala Hitam siap menerima komando Tuan Muda Ma Huang!" teriak Han Zang dengan suara lantang.

Suara gemuruh teriakan tiga ribu prajurit pecah seketika di seluruh lembah. Mereka menyambut kedatangan pimpinan baru dengan dentangan senjata besi yang dihantamkan ke perisai.

Namun, sebelum Ma Huang sempat menyuruh pasukannya berdiri, suara derap langkah kuda beruntun membahana dari arah tebing utara.

Seorang prajurit pengintai melompat turun dari atas kuda yang lelah bersimbah darah. Tubuhnya dipenuhi bekas sabetan pedang.

"Lapor Panglima!" teriak pengintai itu parau sebelum ambruk di atas tanah. "Pasukan gabungan Sekte Pedang Suci dan lima ratus prajurit zirah berat Kota Yunjiang telah menyeberangi Sungai Belerang! Mereka mengepung pintu luar Lembah Batas!"

Ma Huang memutar badannya menatap ke arah tebing utara yang dipenuhi kilatan obor musuh. Genggaman tangannya pada Pedang Tulang Hitam semakin mengetat kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!