Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Di dalam mobil yang melaju stabil meninggalkan kawasan perusahaan Mario. Dia duduk di kursi belakang dengan jas yang sudah sedikit dilonggarkan. Kepalanya menunduk menatap layar ponselnya.
David yang duduk di bangku kemudi sesekali melirik ke cermin spion. Ia menghela napas panjang, wajahnya penuh kebingungan.
“Anda yakin, Tuan?” tanya David akhirnya, suaranya hati-hati. “Perusahaan kita dan perusahaan tempat dia bekerja itu berbeda. Bukan anak perusahaan, bukan mitra dekat. Kalau Anda ingin mendekatinya atau membantu dalam kapasitas profesional, itu tidak mudah. Batasannya jelas.”
Mario tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, masih menatap jalan di depan.
“Aku sangat yakin, Vid,” katanya akhirnya, nada suaranya tenang tapi penuh ketegasan. “Terserah bagaimana caranya.”
David mengernyit. “Tuan…”
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan,” potong Mario pelan. “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan, atau membuat skandal. Tapi aku juga tidak suka hanya duduk diam saja menunggu takdir. Aku menyukainya dan aku harus mengejarnya.
David terdiam sejenak. Ia sudah bertahun-tahun bekerja di samping Mario. Ia tahu bosnya jarang berbicara dengan nada seperti. Biasanya Mario cepat bosan, cepat pindah fokus. Tapi kali ini terasa berbeda.
“Jadi, Anda ingin saya cari tahu lebih banyak tentang dia?” tanya David pelan.
Mario menoleh, senyum tipis masih tersisa di bibirnya. “Tidak perlu, cukup buka akses agar aku mudah bertemu dengannya"
David menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Ia membuka tabletnya, mengetik sesuatu dengan cepat. “Baik, Tuan. Saya akan melakukannya" patuh David.
Mario kembali menatap jendela. Bayangan Dera acuh membuatnya semakin penarasan. Ia tahu mendekati seseorang dalam kondisi seperti itu bukan perkara sederhana. Tapi untuk pertama kalinya, Mario merasa ada alasan yang cukup kuat untuk mencoba.
Di depan, David masih terlihat ragu. Tapi ia sudah terlalu lama mengenal Mario untuk tahu satu hal, kalau bosnya sudah yakin maka biasanya tidak ada yang bisa menghentikannya.
Mobil terus melaju di antara lalu lintas Jakarta siang itu. Di kursi belakang, Mario tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berjalan begitu cepat. Dera tiba di kosan saat langit Jakarta sudah mulai gelap. Ia membuka pintu dengan gerakan lelah, melempar tas kerjanya ke sudut kamar, lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sepatu masih terpasang, blus kerja masih rapi, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin berbaring sejenak.
Ponsel di genggamannya menyala. Ia membuka media sosial tanpa tujuan, menggeser layar dengan jemari yang lelah, mencoba mengisi keheningan kamar yang terlalu sunyi. Rere belum pulang. Suara televisi dari kamar sebelah terdengar samar. Dera menghela napas, memejamkan mata sebentar.
Tak lama, ponselnya bergetar.
Drrtt.....
Drrtt....
Satu pesan masuk dari Vivian.
Dera menatap nama itu lama. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ia ragu, tapi akhirnya membuka pesan itu.
“Kau memang lebih cantik dariku, Dera. Tapi lihatlah, Galih lebih memilih aku daripada kamu. Kamu itu maling, tidak pantas dicintai siapapun.”
Tubuh Dera bergetar hebat. Napasnya tertahan. Ia membaca kalimat itu berkali-kali, seolah tidak percaya kata-kata sekeji itu bisa keluar dari kakak kandungnya sendiri. Tangannya gemetar hingga ponselnya hampir jatuh.
Kata itu menusuk lebih dalam dari semua cacian sebelumnya. Dera mengepalkan tangan, kuku-kukunya menekan telapak hingga terasa perih.
“Aku bukan maling…” bisiknya pelan, suara serak. “Aku korban.”
Air mata langsung mengalir deras. Ia memeluk lutut, meringkuk di atas kasur seperti seseorang yang sedang berusaha melindungi diri dari pukulan. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit tulang rusuknya. Setiap tarikan napas terasa berat. Air mata membasahi bantal, tapi ia tidak bisa berhenti.
Bayangan masa lalu menyerbu tanpa ampun. Penghianatan yang dilakukan oleh Galih dan kakaknya kembali memenuhi pikirannya. Galih yang berdiri di samping kakaknya dengan senyum yang dulu pernah ia percaya. Orang tua yang memilih membela pengkhianatan. Dan sekarang, tuduhan bahwa dirinyalah yang mencuri kebahagiaan mereka.
Dera menangis tanpa suara. Bahunya naik-turun hebat. Ia menekan dada dengan kedua tangan, berusaha meredakan rasa sesak yang semakin kuat.
“Aku tidak mencuri apa pun…” isaknya pelan. “Aku hanya ingin dicintai… seperti mereka mencintai Vivian.”
Kamar kosan terasa semakin sempit. Cahaya lampu yang redup membuat bayangannya di dinding terlihat kecil dan rapuh. Dera terus meringkuk, memeluk dirinya sendiri, membiarkan air mata mengalir tanpa ditahan. Malam itu, rasa sakit yang sempat sedikit mereda setelah kembali datang dengan lebih kejam.
Tiba-tiba kepala Dera pusing, asam lambungnya naik membuat dadanya panas seperti terbakar. Nafasnya sesak.
Rasa panas di dadanya semakin menjalar hingga ke tenggorokan. Dera berusaha bangkit untuk mengambil air minum di atas meja, tetapi tubuhnya terasa lemas. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Ia mencengkeram seprai, mencoba mengatur napas yang semakin tidak teratur.
"Ya Tuhan ... kenapa harus seperti ini?" bisiknya lirih.
Ia ingin menelepon Rere, tetapi sahabatnya itu belum juga pulang. Dera meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mencari nama Rere di daftar kontak. Namun, sebelum sempat menekan tombol panggil, air matanya kembali mengaburkan pandangan.
"Aku capek, Re," gumamnya seolah sedang berbicara kepada sahabatnya. "Aku benar-benar capek."
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka.
"Dera!"
Rere yang baru pulang langsung bergegas menghampiri sahabatnya yang sedang meringkuk di atas kasur dengan wajah pucat dan tubuh berkeringat.
"Ya ampun, Der! Kamu kenapa?"
Rere meletakkan tasnya sembarangan, kemudian duduk di sisi kasur. Ia menyentuh bahu Dera dengan hati-hati. "Dera, lihat aku. Kamu sakit?"
Dera mencoba menjawab, tetapi yang keluar hanya isakan tertahan.
Rere yang baru pulang langsung bergegas menghampiri sahabatnya yang meringkuk di atas kasur dengan wajah pucat dan tubuh berkeringat.
"Ya ampun, Der! Kamu kenapa?"
Rere meletakkan tasnya sembarangan, kemudian duduk di sisi kasur. Ia menyentuh bahu Dera dengan hati-hati.
"Dera, lihat aku. Kamu sakit?"
Dera mencoba menjawab, tetapi yang keluar hanya isakan tertahan.
Rere semakin panik ketika melihat tangan Dera menekan bagian dadanya.
"Dada kamu sakit? Sesak napas?"
Dera mengangguk lemah. "Perutku juga panas, Re. Aku pusing."
Rere segera membantu Dera duduk bersandar. Ia mengambil air minum, tetapi tidak memaksa Dera menelannya ketika sahabatnya masih kesulitan mengatur napas.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu"
Dera masih menggenggam ponselnya erat-erat.
Rere melirik layar yang menyala. Sebuah pesan dari Vivian masih terbuka di sana. Ia membaca beberapa kalimat di layar itu, lalu wajahnya berubah muram.
"Dia yang mengirim pesan ini?"
Dera mengangguk pelan. Air matanya kembali mengalir."Kenapa, Re?" bisiknya. "Kenapa Kakakku sendiri tega mengatakan aku maling? Apa aku benar-benar seburuk itu?"
Rere langsung menggenggam tangan Dera.
"Tidak, Der. Kamu tidak seburuk yang dia katakan."
"Tapi Galih memilih dia. Orang tuaku juga memilih dia. Sekarang Kak Vivian bahkan menyalahkanku."
Suara tangis Dera pecah.
"Kalau semua orang menganggap aku salah, aku harus percaya siapa lagi?" lanjutnya bertanya.
Rere merasakan matanya ikut panas. Ia ingin memarahi Vivian, ingin membalas semua perkataan kejam itu, tetapi melihat kondisi Dera membuatnya mengurungkan niat.
"Dengarkan aku, Dera." Rere mengusap rambut sahabatnya. "Pengkhianatan mereka bukan kesalahanmu. Kamu tidak merebut siapa pun. Kamu yang dikhianati, tetapi justru kamu yang diperlakukan seolah-olah bersalah."
Dera menutup wajahnya."Aku cuma ingin hidup tenang, Re. Aku pergi jauh-jauh ke Jakarta supaya bisa melupakan semuanya. Kenapa mereka masih menggangguku?"
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa