SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: KURSI YANG SUDAH DITENTUKAN
Penjahit datang sebelum matahari cukup tinggi untuk menghangatkan serambi, membawa dua buntalan kain dan seorang murid yang kesulitan menyembunyikan kantuknya.
Ruyin berdiri di tengah ruang jahit dengan kedua lengan terentang, membiarkan pita ukur melingkari bahunya. Bunyi gunting penjahit memotong benang terdengar pendek dan bersih, dan dari jendela yang terbuka separuh, bau kayu basah dan asap dapur masuk bersama cahaya musim gugur yang pucat. Pelayan-pelayan keluar masuk membawa nampan, menggeser peti, melipat dan membentangkan kain seolah rumah ini sedang bersiap menyambut pernikahan, padahal hanya sebuah jamuan sastra.
"Angkat sedikit tangan kirimu, Nona," kata si penjahit. "Ya, begitu. Bahu Nona lebih tegak daripada kebanyakan gadis."
"Itu kebiasaan buruk," jawab Ruyin. "Bibi Qin sudah sering menegurku."
Bibi Qin, yang sedang melipat sapu tangan di sudut ruangan, tidak mengangkat kepala. "Bahu tegak tidak pernah jadi kebiasaan buruk, Nona."
Ruyin tersenyum dan membiarkan pita ukur turun ke pinggangnya.
———
Nyonya Lin masuk tak lama kemudian dan langsung menuju tumpukan kain. Ia tidak bertanya kepada siapa pun. Tangannya menyentuh satu gulungan demi satu, mengangkatnya ke arah cahaya, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang sangat cepat. Merah delima, ditolak. Ungu muda, ditolak. Hijau zaitun, ditahan sebentar, lalu ditolak.
"Yang ini," katanya akhirnya, menarik sehelai sutra berwarna abu kehijauan dengan tepi sulaman benang perak yang sangat tipis. "Warna ini tidak mencolok dan tidak akan disangka sedang mencari perhatian."
"Aku kira Ibu lebih suka warna cerah untuk anak perempuan."
"Di rumah sendiri, ya. Di Kediaman Pangeran Ning, tidak." Nyonya Lin membentangkan kain itu di depan dada Ruyin. "Rumah itu menghargai kesederhanaan yang terlihat disengaja. Terlalu terang berarti kau ingin dilihat, terlalu gelap berarti kau ingin bersembunyi. Keduanya akan dicatat."
"Dicatat lagi," ujar Ruyin pelan.
Tangan Nyonya Lin berhenti sesaat di tepi kain. "Itu hanya cara bicara."
"Ibu tahu banyak tentang rumah itu."
"Aku sudah dua puluh tahun hidup di Chang'an, Nak. Siapa pun akan belajar." Ia menarik kain itu menjauh dan menyerahkannya kepada si penjahit. "Lengannya jangan terlalu lebar. Sulaman perak hanya di tepi, jangan di bahu. Dan rambutnya cukup dengan satu tusuk konde giok putih."
Ruyin memperhatikan bahwa daftar itu sudah tersusun lengkap di kepala ibunya, seperti pelajaran yang dihafal jauh sebelum ujian tiba.
———
Menjelang tengah hari, Ruyin menemukan Yucheng di serambi, sedang memeriksa sepatu upacara yang dibawa pelayan dari gudang. Ia mengangkat satu sepatu ke cahaya, mengerutkan dahi pada jahitan yang longgar, lalu meletakkannya kembali.
"Kakak," kata Ruyin sambil duduk di anak tangga, "bagaimana rumah Pangeran Ning itu sebenarnya?"
"Kecil. Dindingnya putih, halamannya sempit, dan pohon pinus tuanya lebih terkenal daripada penghuninya." Yucheng duduk di sebelahnya, menyandarkan siku di lutut. "Pangeran Ning sendiri jarang keluar. Usianya sudah lanjut, dan ia lebih suka duduk di paviliun daripada mengurus perjamuan. Nyonya Wen yang menjalankan segalanya."
"Orangnya seperti apa?"
"Teliti. Ia suka kaligrafi, suka teh yang diseduh dengan suhu tepat, dan tidak suka orang yang datang terlambat." Yucheng menyeringai. "Ayah pernah terlambat setengah batang dupa dan ditegur dengan sangat sopan. Sampai sekarang ia masih menyebut itu sebagai teguran paling menyakitkan dalam hidupnya."
Ruyin tertawa. "Siapa lagi yang akan hadir?"
"Biasanya keluarga pejabat yang gemar sastra. Keluarga Ji dari Akademi Hanlin hampir selalu datang, putri sulung mereka, Ji Mingxuan, terkenal pandai menyusun sajak, dan tidak ada yang berani berbincang dengannya tanpa persiapan." Ia mengangkat bahu. "Aku pernah satu kali duduk di sebelahnya. Aku pulang dengan perasaan baru saja diperiksa guru."
"Jadi aku harus berhati-hati dengan sajak."
"Kau cukup menulis dengan jujur. Tulisanmu tidak pernah buruk."
Ruyin menimbang kalimat terakhir itu sebentar, lalu memilih tidak menanyakan bagaimana kakaknya tahu.
———
Sore hari, ketika pelayan mengganti lilin di aula samping dan Nyonya Lin sedang memeriksa daftar hadiah untuk tuan rumah, Ruyin bertanya dengan nada yang sama seperti ia bertanya tentang cuaca.
"Kenapa keluarga kita diundang, Ibu? Rumah Shen tidak terlalu dekat dengan lingkungan pangeran."
"Karena ayahmu pernah beberapa kali bekerja satu urusan dengan pegawai rumah itu." Jawaban itu datang tenang. "Dan Nyonya Wen suka memperluas lingkaran tamunya. Itu saja."
"Itu saja," ulang Ruyin.
Yucheng, yang sedang membaca gulungan di dekat jendela, tidak mengangkat wajah. Ia membalik halaman, padahal Ruyin tahu gulungan itu belum selesai dibaca. Nyonya Lin menatap sekilas ke arahnya, sangat singkat, lalu kembali pada daftar hadiah.
"Tulis sepasang kuas dan sebatang tinta yang baik," katanya kepada pengurus rumah. "Jangan terlalu mahal."
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi. Tetapi Ruyin, yang sejak Bab pertamanya di rumah ini belajar membaca tangan lebih dulu daripada wajah, melihat dua hal sekaligus: jari Yucheng yang berhenti membalik halaman, dan ibu jari ibunya yang menekan tepi daftar hadiah sampai kertasnya melengkung.
———
Malam itu pengurus rumah datang ke aula samping membawa selembar daftar yang baru dikirim dari kediaman Pangeran Ning, hanya sebagai pemberitahuan tata letak jamuan. Nyonya Lin membacanya sekilas dan menyerahkannya kepada Yucheng, dan Yucheng membacanya lebih lama.
"Kursi sudah ditentukan?" tanya Ruyin dari ambang pintu.
"Hanya urutan biasa," jawab pengurus rumah. "Keluarga Shen di barisan kedua, di sisi timur paviliun, dekat tirai tengah."
"Barisan kedua. Bukankah ayah hanya pejabat tingkat menengah?"
"Menurut daftar ini, ya, Nona. Keluarga Ji dan Cheng duduk di barisan ketiga."
Ruyin memandang daftar itu di tangan kakaknya. Kertasnya masih baru, tintanya bahkan belum sepenuhnya kering di bagian bawah. Namun ia sempat melihat tanggal yang tertera di sudut: tanggal yang jatuh tiga hari sebelum surat Nyonya Wen tiba di rumah ini.
Keluarga lain, kata pengurus rumah, sudah menerima undangan mereka pagi itu. Keluarga Shen menerimanya sore hari, dari seorang utusan yang menolak menyebut nama.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, mengucapkan selamat malam, dan berjalan kembali ke kamarnya dengan satu pikiran yang menetap di dasar kepalanya seperti kerikil di dasar sepatu: bahwa sebelum ia memilih kain, sebelum Nyonya Lin menolak warna merah, sebelum surat itu dibuka, seseorang telah menentukan di mana keluarga Shen akan duduk.