Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Urat Nadi Buatan dan Anjing Pemburu Pertama
Bulan pertama Balai Pengobatan Bayangan Putih beroperasi, tidak ada satu pun pasien yang berani melangkah melewati ambang pintunya.
Bukan karena mereka tidak sakit, melainkan karena teror. Kejadian di hari pertama, di mana tiga preman Lapis Keempat Pengumpulan Qi hancur tulang belakangnya hanya oleh tekanan udara, telah mengubah bangunan kayu reyot itu menjadi zona terlarang. Di Kota Salju Hitam, orang-orang lebih memilih mati membeku di gang sempit daripada menyerahkan nyawa pada tabib iblis tak berwajah.
Li Yun tidak peduli. Ia menghabiskan tiga puluh hari itu dengan tenang di balik layar bambu kliniknya, memurnikan energi Nadi Naga yang baru ia serap dan menstabilkan ranah Pembentukan Fondasinya. Kesabarannya adalah kesabaran gunung es; ia tahu, orang-orang putus asa pada akhirnya akan datang merangkak.
Dan orang itu tiba pada malam badai salju terburuk di pertengahan bulan kedua.
Brak!
Pintu kayu balai hancur berkeping-keping. Angin sedingin pisau menerobos masuk, membawa sesosok tubuh besar yang tersungkur di lantai papan. Darah segar menetes dari tubuhnya, langsung membeku menjadi es merah begitu menyentuh lantai.
Pria itu adalah Gu Jian, yang di dunia hitam lebih dikenal dengan julukan "Si Pedang Gila". Ia adalah legenda di Kota Salju Hitam, seorang kultivator liar di puncak Lapis Kesembilan Pengumpulan Qi yang terkenal karena pernah membantai satu regu penjaga dari Sekte Pedang Surgawi.
Namun malam ini, tidak ada kegilaan atau kehebatan pada diri Gu Jian. Ia tampak seperti anjing liar yang habis digilas kereta kuda. Lengan kanannya patah secara tidak wajar. Daging di dada dan perutnya hangus menghitam, memancarkan bau daging panggang dan kilatan listrik kecil berwarna ungu.
Gu Jian menggunakan tangan kirinya untuk menyeret tubuhnya yang berat mendekati layar bambu tempat Li Yun duduk membaca buku.
"T-Tabib..." napas Gu Jian berbunyi seperti puputan pandai besi yang bocor. Ia melemparkan sebuah kantong kulit yang sangat berat ke lantai. Kantong itu terbuka, memuntahkan puluhan batu roh tingkat menengah dan belasan artefak berlumuran darah. "Tolong aku... Mereka... Tetua Sekte Pedang... menghancurkan Dantianku..."
Di balik cadar sutra putihnya, mata Li Yun bahkan tidak melirik ke arah harta karun yang setara dengan kekayaan sebuah kota kecil itu. Kesadaran Spiritual Li Yun telah memindai tubuh Gu Jian sebelum pria itu menyentuh pintu.
"Luka luar akibat tebasan pedang, organ dalam hangus oleh Telapak Petir Yang dari seorang kultivator Inti Emas setengah langkah," suara Li Yun mengalun tenang dari balik layar bambu, sedingin badai di luar. "Namun yang paling fatal, seluruh jaringan meridian utamamu telah putus menjadi abu. Bahkan jika kau hidup, kau tidak akan pernah bisa menyerap sehelai Qi pun seumur hidupmu. Kau lebih cacat dari manusia fana."
Mendengar vonis absolut itu diucapkan dengan begitu akurat dari seseorang yang bahkan belum menyentuh nadinya, Gu Jian menggertakkan giginya hingga berdarah. Matanya memancarkan keputusasaan yang buas.
"Selamatkan aku!" raung Gu Jian parau. "Aku punya rahasia makam kuno! Aku punya—"
"Aku sudah mengatakan aturannya di jalanan bulan lalu, Gu Jian," potong Li Yun, perlahan bangkit dan melangkah keluar dari balik layar bambu. Jubah putihnya menyapu lantai tanpa terkena setetes darah pun. "Aku tidak menerima harta. Aku tidak menerima rahasia makam. Jika kau ingin meridianmu tersambung kembali... bayarannya adalah kebebasanmu. Hidup dan matimu akan berada di ujung jariku."
Di dunia kultivasi, kebebasan adalah nyawa kedua bagi seorang kultivator liar. Namun, bagi Gu Jian, menjadi manusia fana yang cacat dan diburu oleh musuh-musuhnya jauh lebih mengerikan daripada menjadi budak.
"Jika... jika kau bisa membuat tanganku memegang pedang lagi," Gu Jian menempelkan dahinya yang berdarah ke lantai kayu, "Aku akan menjadi anjing pemburumu."
"Sepakat," jawab Li Yun datar.
Li Yun tidak membuang waktu. Ia tidak membius Gu Jian atau memberinya ramuan penahan sakit. Ia menarik pria raksasa itu ke atas meja bedah batunya dengan satu tangan, kekuatan Tulang Kayu Besi-nya membuat tubuh seberat dua ratus pon itu terasa seperti kapas.
"Obat bius mematikan kepekaan saraf. Agar meridian baru bisa menyatu dengan jiwamu, kau harus merasakan setiap inci prosesnya dalam keadaan sadar penuh," ucap Li Yun dingin.
Ia membuka sebuah kotak kayu hitam. Di dalamnya, tidak ada jarum emas atau salep penyembuh. Yang ada adalah belasan akar berwarna hitam kelam yang berduri tajam, berdenyut pelan seolah memiliki nyawa. Itu adalah Akar Tulang Naga Parasit, tanaman iblis tingkat menengah yang ia temukan di pasar gelap Kota Salju Hitam.
"Tahan napasmu."
Tanpa peringatan, Li Yun menggunakan pisau bedahnya dan membelah dada Gu Jian dari leher hingga ke perut dalam satu gerakan presisi.
Gu Jian membelalakkan matanya lebar-lebar. Jeritan yang sangat mengerikan, suara dari penderitaan yang melampaui batas kewarasan manusia, meledak dari tenggorokannya. Namun, kekuatan fisik Li Yun menekan dadanya, membuat pria raksasa itu tidak bisa meronta sedikit pun.
Dengan kecepatan bayangan, Li Yun mengambil Akar Tulang Naga Parasit dan memasukkannya langsung ke dalam rongga dada Gu Jian yang terbuka. Akar berduri itu menggeliat saat bersentuhan dengan darah segar, secara agresif mencari sisa-sisa meridian Gu Jian yang hangus dan menancapkan duri-durinya ke sana.
Rasa sakit dari akar hidup yang memakan jaringan daging mati dan menggantikan urat nadi adalah siksaan murni. Mata Gu Jian bergulung ke belakang, busa bercampur darah keluar dari mulutnya, namun jarum perak Li Yun yang tertancap di kepalanya memaksanya untuk tetap sadar.
"Jangan pingsan, atau akar ini akan memakan jantungmu," perintah Li Yun, suaranya menembus kabut rasa sakit di otak Gu Jian.
Li Yun kemudian meletakkan telapak tangannya tepat di atas jantung Gu Jian. Ia memutar Qi cair Pembentukan Fondasinya. Energi hijau keemasan yang sangat murni mengalir dari tangannya, menyelimuti akar parasit tersebut.
Esensi Kayu Mati yang dipadukan dengan Nadi Naga Emas bertindak sebagai perekat kehidupan yang absolut. Di bawah paksaan energi Pembentukan Fondasi tersebut, akar parasit yang buas itu dijinakkan seketika. Serat-serat kayunya mencair sebagian, menyatu dengan jaringan otot, darah, dan sisa meridian Gu Jian, membentuk sebuah jaringan urat nadi buatan yang berwarna hitam dan memancarkan aura buas.
Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Darah, keringat, dan erangan tertahan memenuhi balai pengobatan.
Ketika Li Yun akhirnya menarik tangannya dan menjahit luka tersebut dengan benang sutra roh, Gu Jian terkapar layaknya mayat. Seluruh kulitnya kini dihiasi urat-urat hitam tipis yang berdenyut pelan setiap kali ia bernapas.
"Bangun dan putar Qi-mu," perintah Li Yun, mencuci tangannya di baskom tembaga.
Gu Jian yang nyaris mati itu membuka matanya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia secara refleks mengikuti perintah itu.
Seketika itu juga, udara dingin di dalam balai tersedot masuk ke dalam tubuhnya dengan rakus. Dantiannya yang retak telah ditambal oleh akar parasit, dan meridian barunya—meski terasa sangat menyakitkan dan kaku—mampu mengalirkan energi spiritual tiga kali lebih cepat dan lebih besar daripada meridian manusia aslinya.
Lapis Kesembilan Pengumpulan Qi-nya bukan hanya pulih, energi yang mengalir kini memiliki ketahanan brutal milik elemen kayu parasit!
Gu Jian bangkit duduk, menatap kedua tangannya dengan rasa tak percaya yang luar biasa. Ia meremas kepalan tangannya, dan suara letupan udara terdengar dari sela jarinya. Ia kembali. Ia tidak hanya kembali, ia menjadi lebih kuat, lebih buas.
Namun, sebelum euforia itu menguasainya, sebuah denyut rasa sakit yang sangat tajam dan mematikan mencengkeram jantungnya. Gu Jian jatuh berlutut seketika, mencengkeram dadanya sambil terengah-engah.
Li Yun berdiri di depannya, menatap pria itu dari balik cadar sutranya.
"Meridian buatanmu itu terbuat dari akar parasit," ucap Li Yun tenang. "Dan akar itu hidup karena ia menyerap energi 'Kayu Mati' dari Dantianku. Kau sekarang memiliki kekuatan yang melampaui kultivator sekelasmu, tapi jika aku menghentikan pasokan aura penjinakku, atau jika kau mencoba lari lebih dari seribu mil dariku..."
Li Yun sedikit memutar Qi di telunjuknya.
Rasa sakit di jantung Gu Jian berlipat ganda, seolah ratusan duri mekar dari dalam organ vitalnya. Ia menjerit tertahan dan bersujud sepenuhnya di bawah kaki Li Yun.
"...akar itu akan kembali menjadi parasit liar dan mencerna organ dalammu hidup-hidup dalam hitungan detik," pungkas Li Yun, menghentikan siksaan itu seketika.
Napas Gu Jian terputus-putus. Keringat dingin membanjiri tubuh besarnya. Arogansinya sebagai "Pedang Gila" hancur berkeping-keping. Ia tidak sedang berhadapan dengan tabib hebat, ia sedang berhadapan dengan iblis absolut yang mempermainkan hukum kehidupan dan kematian.
Namun, di dunia yang kejam ini, mengikuti monster yang kuat adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup dan membalas dendam.
"Gu Jian... menyapa Tuan," ucap pria raksasa itu dengan suara serak, kepalanya tetap menempel di lantai kayu. Tidak ada lagi penolakan di hatinya. Kebebasannya telah mati, digantikan oleh kesetiaan yang diikat oleh ketakutan dan kekuatan.
Li Yun tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia mengambil sebuah lencana kayu hitam berukir bunga teratai—replika dari lencana Ji Yuan yang ia buat semalam—dan melemparkannya ke depan wajah Gu Jian.
"Ambil ini. Mulai malam ini, kau bukan lagi kultivator liar pengembara. Kau adalah murid luar pertama dari Sekte Teratai Hitam," titah Li Yun. "Tugas pertamamu sangat mudah. Keluarlah dari balai ini, temui tiga geng penguasa Kota Salju Hitam. Beritahu mereka, dalam tiga hari, mereka harus menyerahkan seluruh jalur pasokan herbal dan informasi pasar gelap kepadaku."
Gu Jian mengangkat kepalanya, keraguan melintas di matanya. "Tuan, mereka masing-masing memiliki ratusan anggota dan dipimpin oleh kultivator puncak Pengumpulan Qi..."
"Jika mereka menolak," Li Yun berbalik dan berjalan perlahan ke arah ruang belakang, suaranya memudar dalam keheningan balai, "Gunakan meridian barumu untuk memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang masih bernapas saat matahari terbit di hari keempat."
Gu Jian menatap lencana teratai hitam di tangannya. Senyum buas, senyum seorang pembunuh yang baru saja diberi tali kekang baru dan pedang yang lebih tajam, perlahan terbentuk di wajahnya yang penuh bekas luka.
"Sesuai perintah Anda, Tuan."