Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Kehamilan Luna
Setelah kejadian di lobi lantai 50 tadi pagi, suasana kantor Aditya Group terasa berbeda. Bisik-bisik mulai menyebar. "Siapa sih asisten baru Pak Revan?", "Kok mantan istri Pak Bara Mahendra bisa kerja di sini?", "Gila, berani banget dia lawan Luna di depan umum".
Aku mencoba untuk tidak peduli. Aku duduk di meja kerjaku, mencoba fokus mengetik laporan yang Revan berikan, tapi tanganku masih gemetar dan pikiranku melayang pada ancaman Bara: "Kamu akan menyesal."
Di ruang sebelah, Revan sedang meeting online, tapi aku tahu dia sesekali melirik ke arahku melalui pintu kaca yang menghubungkan ruangan kami.
Jam 3 sore, Bi Ijah meneleponku, tapi yang berbicara adalah Revan.
"Arini, ke ruanganku sekarang. Ada sesuatu yang harus kamu lihat," suaranya serius.
Aku masuk ke ruangannya. Di atas meja kerja Revan yang besar, sudah ada sebuah laptop yang menampilkan sebuah foto. Foto seorang pria muda dengan seragam supir, sedang merangkul mesra Luna di sebuah cafe yang agak remang-remang.
Jantungku berhenti berdetak.
"Itu... itu..."
"Itu Doni," potong Revan dengan nada dingin. "Supir pribadi Bara Mahendra selama 5 tahun. Orang kepercayaan Bara. Dan... ayah biologis dari anak yang dikandung Luna."
Aku menutup mulutku dengan tangan, tidak percaya. Luna... hamil anak supir suamiku sendiri, dan memaksa Bara untuk mengakuinya?
"Bagaimana... bagaimana kamu tahu?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Tim investigasiku mengikutinya sejak dua minggu lalu, sejak aku curiga Luna berbohong," jelas Revan. Dia memutar video di laptopnya. Video itu menampilkan Luna dan Doni sedang bertengkar di dalam mobil di parkiran basement Mahendra Corp. Luna terlihat menangis dan memukul-mukul dada Doni.
Di video itu terdengar suara Luna yang samar, tapi cukup jelas: _"Kamu harus tanggung jawab, Don! Aku nggak mau anak ini lahir tanpa bapak! Bara sudah mau nikahin aku, dia pikir ini anaknya!"_
Doni menjawab dengan panik: _"Gila kamu! Kalau Pak Bara tahu aku yang hamilin kamu, aku bisa dibunuh! Kamu yang godain aku duluan!"_
Video berhenti. Aku merasa mual. Betapa busuknya permainan ini.
"Jadi selama ini..." bisikku. "Bara ditipu? Dia pikir dia akan punya anak, padahal anak itu bukan anaknya, dan dia sendiri juga..."
"Ya," Revan mengangguk. "Bara mandul, Luna hamil anak supirnya, tapi Bara yang disuruh tanggung jawab. Ironis, bukan? Dia membuang istri yang sehat dan subur sepertimu demi perempuan yang membawa benih orang lain."
Revan menutup laptopnya dan menatapku serius.
"Arini, aku bisa memberikan video ini padamu. Kamu bisa memberikannya pada Bara sekarang juga dan menghancurkan pernikahan mereka dalam satu detik. Tapi aku tidak akan menyuruhmu melakukannya."
"Kenapa?" Aku menatapnya bingung.
"Karena balas dendam yang terlalu cepat itu tidak nikmat," jawab Revan dengan senyum dingin yang membuatku merinding. "Biarkan mereka menikah. Biarkan Bara mengadakan pesta pernikahan mewah, mengumumkan ke seluruh dunia bahwa dia akhirnya akan punya anak. Biarkan dia bahagia di atas kebohongan itu. Dan saat pesta itu mencapai puncaknya... kita bongkar semuanya."
Aku merinding mendengar rencana Revan. Begitu licik, begitu kejam, tapi... begitu adil untukku.
"Apa... apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.
Revan berdiri dan berjalan ke arahku. Dia berdiri sangat dekat, hingga aku bisa mencium wangi parfum kayunya yang khas.
"Untuk sekarang, tetaplah menjadi Arini yang profesional dan elegan. Tunjukkan pada Bara bahwa kamu baik-baik saja tanpa dia. Bahwa kamu bahkan jauh lebih baik. Buat dia menyesal setiap hari karena telah membuang berlian demi batu kerikil. Itu sudah cukup menyiksanya."
Dia mengangkat tangannya, ragu-ragu, lalu dengan lembut menyentuh pundakku, mengusapnya pelan untuk menenangkanku.
"Kamu kuat, Arini. Lebih kuat dari yang kamu kira."
Sentuhan itu... sentuhan itu berbeda. Tidak seperti sentuhan Bara yang selalu terasa menuntut dan kasar. Sentuhan Revan terasa melindungi dan tulus.
Saat itu juga, tanpa kami sadari, pintu ruang kerja Revan yang tidak tertutup rapat, sedikit terbuka. Dan dari celah itu, seorang staf wanita yang baru saja lewat, diam-diam merekam momen dimana Revan menyentuh pundakku dengan tatapan lembut.
Beberapa jam kemudian, foto itu sudah tersebar di grup gosip kantor dengan caption: "Tuan Revan dan asisten baru, ada apa ya? 😍"
Sementara itu, di rumah mewah Bara, pertengkaran hebat terjadi.
"JAWAB AKU, LUNA! ANAK SIAPA YANG KAMU KANDUNG?!" Suara Bara menggelegar, melempar vas bunga mahal hingga pecah berantakan.
Luna menangis ketakutan di sudut ruangan, memeluk perutnya. "Anakmu, Bara! Tentu saja anakmu! Jangan dengarkan fitnah perempuan mandul itu dan kakakku yang jahat itu!"
Tapi di mata Bara, untuk pertama kalinya, ada keraguan. Keraguan yang akan tumbuh menjadi bom waktu yang akan menghancurkan pernikahannya bahkan sebelum dimulai.