NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16_Awal dari mimpi buruk

Buku-buku berderet. Rak-rak menjulang di setiap sisi ruangan, tinggi sampai langit-langit.

Aku duduk di kursi, menumpuk beberapa buku di atas mejaku. Wajahku kusut lelah.

_Awalnya aku ragu untuk datang ke tempat ini. Karena tempat ini sangat berbahaya. Karena peraturan tempat ini yang tidak memperbolehkan membaca buku selain yang kau butuhkan. Dan sekarang... aku sedang membaca buku tentang apa itu mana._

Jari-jariku membalik halaman, alis bertaut. Aku menggaruk kepalaku frustasi, wajah manyun.

_Tapi... sebanyak apa pun buku yang kubaca, informasi yang kudapat tetap sama. Tentang Dewa Kehancuran. Tentang dia yang menjadi inti dari mana di dunia ini._

Aku memiringkan kepala, menepuk-nepuk kakiku di bawah meja, gelisah.

_Sekarang hampir seluruh dunia bekerja dengan mana. Satu-satunya yang tidak terpengaruh mana hanyalah waktu. Itu artinya... dia bisa saja menghancurkan dunia ini kapan saja._

Aku menunduk, membalik halaman selanjutnya dengan pelan, mata sayu.

_Tapi... saat kami bertemu waktu itu, dia sama sekali tidak punya niat untuk bertarung. Seolah dia sudah muak dengan semua pertarungan. Dia bilang pernah dikhianati oleh para dewa lain. Entah kenapa dia tidak punya niat membalas dendam sedikit pun. Yang kurasakan dari hatinya justru kesepian yang terlalu besar. Wajahnya kesepian._

*Tep*

Sebuah tangan menepuk pundakku yang sedari tadi menegang, hangat.

"Kau tidak apa-apa, Kai??"

Belial. Suaranya cemas saat menatap wajahku, alisnya bertaut.

Aku menurunkan bahu. Menggeleng pelan, wajahku dipaksakan senyum.

"Tidak apa-apa kok. Tenang saja, Belial."

Wajahnya tetap khawatir, matanya menyipit cemas.

"Kalau kau ada masalah, kau harus segera memberitahu kami ya." Dia melepas tangannya dari bahuku pelan.

Aku mengangguk pelan, mata menghindar.

"Hmm... tenang saja."

Lalu aku menatapnya dan tersenyum tipis, agak jail.

"Oh iya Belial... bukannya dulu kau sangat tidak setuju kalau ada yang memanggil namaku? Kau bahkan marah saat Kak Zafira memelukku." Alisku naik.

Dia langsung memalingkan wajah dan melipat tangannya, pipinya sedikit merah.

"I-itu hanya... Aku ingin lebih dekat denganmu. Kau tahu, karena aku sudah menjadi bagian dari kekuatanmu." Matanya melirik kesal.

Aku tertawa kecil. Mengulurkan kepalan tangan ke arahnya, mata berbinar.

"Baik-baik, aku tahu. Jadi kau tidak perlu malu lagi."

"Mohon bantuannya... rekan."

Dia menoleh, wajahnya masih cemberut tapi sudut bibir naik. Lalu men-tos-kan kepalannya ke kepalanku.

*Duk.*

"Tentu saja. Serahkan padaku." Senyumnya lebar, mata berbinar.

Belial lalu melirik salah satu buku di meja dan mengambilnya, alis terangkat penasaran.

"Ngomong-ngomong Kai, buku apa ini??"

Dia menunjukkannya padaku.

Aku langsung mengambil buku itu dari tangannya, wajahku agak panik.

"Buku ini membantu ku tahu seberapa besar aku bisa memproses pemadatan manaku. Walaupun aku belum mengerti sepenuhnya... karena awalnya Kak Zafira yang memberikan buku ini padaku."

Belial menatap buku itu, lalu menatapku, wajahnya serius.

"Jadi... sudah seberapa besar kau menguasai proses pemadatanmu??"

Aku memalingkan wajah dan menunduk. Mengepalkan tanganku erat, wajahku memerah malu.

"...Sekarang hanya 5% sampai 10%." Suaraku kecil.

Belial langsung menarik lenganku dan membawaku keluar dari ruang arsip, wajahnya bersemangat.

"Kau sudah terlalu lama belajar dan berlatih dengan kami."

Dia menoleh padaku dan tersenyum lebar.

"Sesekali kau harus bersantai."

Pintu terbuka. Cahaya luar menyorot mataku, silau.

*Byar...*

Saat aku membuka mata, aku tersentak. Kagum. Mulut menganga, mata membelalak.

"...apa yang terjadi di sini??"

Aku berbalik badan dan melangkah mundur, wajahku panik kaget.

"Kenapa?? Reruntuhannya berubah menjadi istana!?" Suaraku pecah, mata melotot.

Aku menoleh ke Belial, alis bertaut.

"Hei.. Belial, apa yang sedang terjadi di sini??" Aku mengerutkan dahi, menunjuk-nunjuk istana itu.

"Apa yang terjadi?? Kenapa aku keluar dari istana?? Apa yang terjadi dengan reruntuhannya??" Wajahku bingung.

Dia menghela napas. Menundukkan kepalanya sedikit, wajahnya pasrah.

"Maaf, Kai... sebenarnya ini ulah... Zafira." Dia mengangkat wajahnya dan menutupinya dengan telapak tangan, malu.

[KILAS BALIK]

Mereka bertujuh berkumpul di sebuah ruangan. Di tengahnya ada meja bundar besar dengan 8 kursi. Suasana tegang, wajah semua serius.

Zafira berdiri dan menggebrak meja dengan keras, wajahnya merah semangat.

*Bug!*

"Dengarkan aku semuanya!! Sudah 1 minggu sejak Kai datang ke sini, dan aku baru mengingat satu hal penting!" Matanya berbinar.

"Kita belum memberikan bantuan apa pun kepada Kai untuk mewujudkan impiannya!!"

Mereka semua tersentak. Wajah mereka langsung pucat, mata membelalak.

Agrees langsung menaruh tangannya di meja dan berdiri gemetar, wajahnya panik bersalah.

"Nona Zafira benar! Kita sudah berjanji kepada Tuan Kai. Kita harus memberikan sesuatu yang bisa membantunya!"

Astra menghampiri Agrees dan menggenggam bahunya, wajahnya datar menenangkan.

"Tenanglah Agrees. Aku tahu kau setia pada Tuan Kai. Tapi untuk sekarang, duduklah dan pikirkan baik-baik."

Gigan mengangkat tangan, wajahnya polos serius.

"Aku punya ide. Bagaimana kalau sebuah senjata??"

Selena langsung melambaikan tangan, wajahnya cemberut.

"Lupakan senjata. Kau lupa Tuan kita bisa membuat banyak hal dengan kekuatannya."

Gigan mengangguk pelan, wajahnya bengong.

"Hmm... kau ada benarnya juga."

Selena tersenyum tipis, mata berbinar.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buatkan laboratorium untuk mengembangkan kekuatannya?"

Zafira dan Belial langsung menatap sinis, mata menyipit tajam.

"Ouh... jadi maksudmu, kami masih terlalu lemah baginya?" desis Zafira, alis bertaut.

Belial meremukkan tangannya, wajahnya kesal.

"Sepertinya kau masih meragukan kekuatan kami."

Selena tersentak. Dia berdiri dan menunduk berulang kali, wajahnya pucat ketakutan.

"Mohon maaf... mohon maaf... mohon maafkan saya..." Tubuhnya gemetar, mata berkaca.

Sophie mengangkat tangan pelan, wajahnya merah malu.

"P-permisi... aku punya ide. Bagaimana kalau kita carikan Tuan Kai seorang wanita yang layak untuk dijadikan istrinya?" Matanya menghindar.

*BRAK!*

Zafira menggebrak meja sampai retak. Matanya tajam melotot, wajahnya merah padam cemburu.

"Aku tolak! Tidak akan kubiarkan adik kesayanganku dimiliki wanita lain!"

Sophie langsung bersembunyi di balik kursi sambil gemetar, wajahnya mau nangis.

"B-baiklah... a-aku mohon maaf, Nona Zafira."

Ruangan makin ricuh, wajah semua tegang. Astra akhirnya berdiri, wajahnya datar muak.

"Aku akan pergi."

Dia keluar, meninggalkan semuanya.

*Tap... tap...*

Agrees menoleh ke Belial, wajahnya serius harap.

"Maaf Tuan Belial, menurutmu apa yang harus kita lakukan supaya bisa membantu Tuan Kai?"

Belial menyender, memegangi dagunya, wajahnya asal berpikir.

"...Kenapa tidak membuat reruntuhan ini menjadi sebuah istana saja?"

Hening.

Lalu semua orang menunjuk ke arah Belial dan berteriak, mata berbinar.

"Itu dia!!"

Zafira langsung merangkul pundak Belial, wajahnya ceria banget.

"Kau benar-benar hebat, Belial! Ide sebagus itu kenapa tidak dari awal?"

Belial melepaskan diri, wajahnya risih.

"Kalian tidak bertanya padaku." Lalu dia serius, alis bertaut.

"Tapi apa Kai sudah bisa membuat benda yang cukup keras untuk fondasi istana?"

Zafira terdiam, memainkan ujung jarinya, wajahnya gugup.

"I-itu... sepertinya masih bisa diusahakan." Matanya melirik.

Belial menepuk wajahnya sendiri, wajahnya frustrasi.

"Dengar kalian semua!! Saat ini Kai bisa bertarung hanya karena ada amukan mana yang membuat pemadatan mananya meningkat. Itu artinya dia belum bisa membuat sesuatu sebesar topeng yang biasa kita pakai. Jadi apa kalian yakin ingin membebani tubuhnya dengan terus memaksakan amukan mana?"

Dia menunjuk Zafira, matanya tajam.

"Apakah itu yang kau mau, Zafira!!"

Zafira tersentak dan berlutut, air matanya jatuh, wajahnya bersalah.

"Aku... aku tidak pernah memikirkan hal itu..." Bibir bergetar.

Belial berdiri dan menunjuk para komandan, wajahnya tegas kesal.

"Dan kalian, tolong mengerti. Kami berbeda dengan kalian. Kami adalah perwujudan dari kekuatan Kai itu sendiri. Jika Kai belum bisa menggunakan kekuatannya dengan baik, maka mustahil bagi kami untuk menyatu dan membantunya sepenuhnya."

Agrees berdiri dan menggebrak kursinya, wajahnya tercerahkan.

"Jadi begitu... sekarang aku mengerti."

Belial menunjuk Agrees dengan kesal, wajahnya merah.

"Ada apa dengan orang-orang di sini!! Kalian semua suka sekali menghancurkan sesuatu!"

Agrees malah menggenggam tangan Belial erat, wajahnya terharu kagum.

"Anda benar-benar luar biasa, Tuan Belial. Selain memikirkan untuk membuat istana bagi Tuan Kai... Anda juga berpikir untuk meningkatkan kekuatan Kai secara bersamaan."

_Belial langsung panik dan berkeringat dingin. Wajahnya pucat._

_Gawat... aku malah membuat semuanya jadi buruk. Padahal aku hanya asal sebut saja._

Zafira menghentakkan kaki dan mengangkat tangan, wajahnya bersemangat membara.

"Kalau begitu... kita akan melatih Kai dengan cara yang lebih keras lagi! Agar dia bisa menjadi lebih kuat!" Matanya berapi.

Semua orang mengangkat tangan dan berteriak, wajah berbinar.

"Tentu!!"

[AKHIR KILAS BALIK]

Belial mundur, masih berkeringat, wajahnya pasrah.

"Maafkan aku... aku sudah mencoba menghentikan mereka, tapi mereka tidak mendengarkanku."

Aku malah tersenyum tipis, mata berbinar haru.

"Kenapa kau harus minta maaf? Aku sama sekali tidak keberatan. Malah aku harus berterima kasih padamu. Berkat idemu, aku bisa terus berkembang menjadi lebih kuat."

Aku berjalan ke arahnya dan menggenggam pundaknya, senyum lebar tulus.

"Karena itu... terima kasih, Belial."

Belial menatap wajahku. Lalu tersenyum tipis, mata melembut.

_Terkadang aku heran padanya. Padahal dia sudah melewati banyak cobaan berat. Padahal dia terus merasakan disiksa oleh takdirnya. Tapi tidak ada luka yang membekas di hatinya. Aku jadi penasaran, apakah dia punya sisi yang berlawanan dengan sisinya yang baik ini??_ Wajahnya penasaran.

Aku mengangkat wajahku ke langit, mata berkaca bahagia.

Melihat mereka semua bekerja keras seperti ini hanya untukku benar-benar membuatku bahagia.

Belial menepuk pundakku pelan. Suaranya diturunkan, wajahnya cemas.

"...Maaf, Kai. Aku ada janji dengan Zafira sekarang, jadi aku harus pergi. Kau baik-baik saja kan?" Matanya menyipit khawatir.

Aku menggelengkan kepalaku, senyum dipaksakan.

"aku baik-baik saja kok" Wajahku pucat sedikit.

Dia berhenti sebentar, lalu menoleh lagi padaku, mata lembut.

"...Aku akan kembali secepatnya, aku berjanji"

Baru setelah itu dia berlari pergi.

*Tap... tap...*

Tanganku refleks terangkat, ingin meraihnya, wajahku panik.

_Kenapa?? Kenapa aku tidak bisa cerita tentang mimpi itu?? Kenapa tubuhku tidak bergerak sesuai dengan keinginanku??_

Tanganku mengepal erat, mata berkaca frustrasi. Lalu turun kembali.

---

Kerajaan Eiden

Tahun Suci 1558

Ibu Kota Vain

Ruang takhta riuh. Raja dan Paus terlihat sangat gelisah, wajah tegang berkeringat.

Tia masuk dan berjalan ke arah Raja, wajahnya cemas.

"Ayahanda... apa yang sedang terjadi di sini??"

Raja dan Paus langsung menghela napas lega saat melihat Tia, wajah mereka cerah.

Raja berdiri dan berteriak ke semua orang, wajahnya bersemangat palsu.

"Tenang saja semuanya! Masalah ini pasti selesai. Karena putraku tidak akan kembali dari pembasmian iblis di tanah terkutuk, aku yakin putriku bisa menyelesaikan masalah ini!"

Semua orang tersenyum pada Tia, mata berbinar lega.

"Benar juga. Selama ada Calon Sage, monster itu pasti bisa dikalahkan."

Tia tersentak, matanya membelalak. _Monster??_

"Ayahanda, bisakah anda memberitahuku apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Wajahnya serius tegang.

Raja duduk kembali dan menunduk, wajahnya gelap.

"Sebenarnya kami dan Kerajaan Salfaria sedang menyelidiki monster yang dilihat para petualang di Lembah Kehampaan."

*BRAK!*

Dia menggebrak singgasananya, wajahnya merah marah.

"Kami sudah mengirim 50 pendekar, 15 penyihir, dan 10 penyembuh." Tangannya mencengkeram ujung takhta, gemetar.

"Tapi... kami mendapat laporan bahwa... hanya satu pendekar yang selamat. Yang lainnya... gugur dalam satu malam." Suaranya berat, mata meredup.

Tia merinding ketakutan, wajahnya pucat, bahu bergetar.

"Lalu bagaimana dengan pasukan Kerajaan Salfaria??" Matanya berkaca takut.

Raja memalingkan wajah, mengerutkan dahi, wajahnya sinis.

"Mereka lari. Menjadikan mayat pasukan kita sebagai pelindung. Tapi menurut laporan... tidak ada satu pun dari mereka yang keluar dari lembah itu."

Mata Tia membelalak, bibir bergetar. Dia menunduk, wajahnya tegang curiga.

_Ayah pasti berbohong. Pasti ada sesuatu di balik ini._

Dia mengangkat wajah, mata tajam tegas.

"Kalau begitu Ayahanda, aku yang akan pergi ke sana."

Ratu masuk dengan cepat, wajahnya panik marah.

"Aku tidak akan membiarkan itu!! Jika kau ingin Tia pergi, yakinkan aku ada seseorang yang cukup hebat untuk menjaganya!!" Matanya melotot ke Raja.

Seorang prajurit wanita berambut hijau maju dan berlutut, wajahnya tegas.

"Mohon maaf, Yang Mulia Ratu. Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Emilia. Saya punya permohonan."

Dia mengangkat wajah, mata berbinar tekad.

"Bagaimana jika saya yang menjadi pengawal Putri Tia dalam misi ini? Saya memang masih baru sebagai pasukan kerajaan, tapi Raja telah mengakui ilmu pedang saya dan mengangkat saya sebagai Putri Pedang yang baru."

Ratu menatapnya tajam, mata menyipit menilai.

"Baiklah. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu pada Tia, maka nyawamulah taruhannya." Wajahnya dingin serius.

Emilia berdiri. Menaruh tangan kanan di dada, wajahnya mantap.

"Baik. Saya Emilia bersumpah untuk melindungi Putri dengan nyawa saya sendiri." Matanya tajam tulus.

Raja menoleh ke Paus, wajahnya tegang.

"Cepat, tunjukkan sketsanya."

Paus melangkah maju dan mengangkat sebuah gambar, tangannya gemetar.

"Beginilah wujud monster itu."

Tia dan Emilia melihatnya. Keduanya langsung merinding ketakutan, mata membelalak, wajah pucat.

Tia mengepalkan tangan dan berjalan mengambil sketsa itu, tangan gemetar.

Mereka saling bertatapan, mata sama-sama bergetar. Lalu menaruh tangan di dada bersamaan, wajah tegas.

"Kami pasti akan menyelesaikan misi ini!!" Suara bergetar tapi mantap.

Tia membuka sketsa itu, matanya menyipit ngeri.

_Monster ini.. dia terlihat seperti manusia yang diselimuti oleh kegelapan_ Wajahnya tegang, bibir bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!