NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:761.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

Di dalam kamar tamu lantai satu, kepanikan Arumi sudah mencapai puncaknya. Ia tidak bisa lagi duduk tenang di atas kasur yang semalam ia agung-agungkan.

"Kenapa kamu mondar-mandir begitu, Sayang? Ibu pusing melihatnya," tanya Rina yang sedang asyik berkaca sembari mematut-matut anting emas barunya.

Arumi tidak menjawab. Ia terus melangkah bolak-balik sembari menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Otaknya berputar cepat, membayangkan tuntutan sepuluh miliar rupiah dari PT Adiwangsa yang baru saja meledak seperti bom waktu.

Arumi mendadak berhenti, lalu berbalik menatap ibunya dengan pandangan mendesak.

"Ibu... Ibu masih ingat kan uang ratusan juta yang sering aku kasih ke Ibu dulu? Uang itu... masih ada tidak sekarang? Tolong bilang masih ada, Bu!"

Rina langsung menoleh, wajah paruh bayanya mendadak panik.

"Lho? Ya uangnya sudah Ibu pakai buat belanja baju-baju bermerek dan foya-foya sama teman-teman arisan Ibu dong, Rum! Mana ada sisa!"

"Astaga, Ibu!" jerit Arumi frustrasi, meremas rambutnya sendiri dengan gemas. "Kenapa Ibu cuma mikirin belanja dan foya-foya terus sih?! Ibu tahu tidak sih, aku itu susah payah mendapatkan uang itu dengan cara memotong anggaran bahan baku proyek! Dan sekarang aku butuh uang itu kembali secepatnya!"

Rina mendengus, kembali menghadap cermin dengan acuh tak acuh. "Halah, kamu tinggal minta lagi saja sama Hendra. Gitu aja kok repot. Bukankah Hendra itu kaya raya? Perusahaan propertinya besar. Porotin saja hartanya sampai habis, dia kan sudah bucin setengah mati sama kamu."

"Semua tidak semudah itu sekarang, Ibu!" gumam Arumi dengan suara gemetar, air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Perusahaan mas Hendra sedang kolaps total pagi ini gara-gara sahamnya dicabut mendadak. Dan uang di tabunganku sendiri tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan uang perusahaan yang sudah terlanjur aku ambil!"

Rina sendiri bersikap masa bodoh. Karakter aslinya yang egois keluar begitu saja. Toh, sejak awal yang ada di kepala Rina hanyalah bagaimana caranya hidup enak, makan di restoran mewah, dan pamer kekayaan tanpa harus memeras keringat untuk bekerja. Jika Arumi bisa diandalkan untuk menghasilkan uang, maka ia akan menempel erat pada putrinya itu. Namun, jika Arumi sedang kesusahan, ia tidak peduli dengan perasaan atau nasib putrinya sama sekali.

"Arumi! Arumi! Di mana kamu?!"

Tiba-tiba, suara teriaka Hendra menggelegar dari arah luar, memecah ketegangan di dalam kamar tamu.

"Itu Hendra sudah memanggilmu dari tadi! Cepat sana temui dia, jangan bikin dia makin mengamuk!" usir Rina ketakutan, ia langsung mendorong bahu putrinya agar keluar dari kamar.

"Ish, iya, Ibu! Sabar!" sahut Arumi kesal.

Dengan langkah terburu-buru dan sisa kepanikan yang disembunyikan, Arumi melangkah menuju ruang makan. Di sana, ia melihat Hendra sudah duduk di kursi meja makan dengan jas yang kusut dan rambut yang acak-acakan. Wajah pria itu merah padam menahan amarah yang tumpah ruah.

"Ada apa, Mas? Kenapa berteriak-teriak begitu?" tanya Arumi, mencoba memasang wajah manis dan lembut yang biasa ia gunakan untuk melunakkan hati Hendra.

"Kenapa katamu?!" bentak Hendra, tangannya menggebrak meja makan yang kosong melompong. "Mana sarapan paginya?! Aku ini harus buru-buru ke kantor untuk mengurus masalah polisi dan kekacauan saham, tapi di atas meja ini tidak ada makanan sepotong pun!"

Arumi tersentak, ia meneguk ludah dengan susah payah. Jangankan memasak sarapan, menyalakan kompor gas modern di rumah mewah ini saja ia tidak tahu caranya. Seumur hidupnya, ia hanya tahu cara memesan makanan di restoran mahal atau menyuruh pelayan kantor.

"M–mas... maaf, aku... kepalaku mendadak pusing sekali pagi ini gara-gara kepedasan masakan mbak Ningsih semalam. Perutku juga melilit dari subuh tadi. Jadi aku tidak kuat kalau harus berdiri lama di dapur untuk memasak," ucap Arumi, buru-buru memegangi keningnya dan memasang wajah ringkih berpura-pura sakit.

"Alasan saja terus!" potong Hendra tajam, matanya menatap Arumi dengan pandangan mengintimidasi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Ningsih biasanya dalam kondisi sakit pun selalu menyiapkan sarapan di atas meja ini sebelum aku bangun! Sekarang dia pergi, dan kamu yang katanya mau menggantikan posisinya sebagai istri, jangankan membuat menu mewah, menyajikan nasi goreng saja kamu tidak bisa?!"

"Mas, kok kamu jadi membanding-bandingkan aku dengan wanita kampung itu, sih?! Aku ini wanita karier, Mas! Tanganku ini gunanya untuk memegang pulpen dan dokumen di kantor, bukan untuk memegang sodet dan terkena percikan minyak panas di dapur!" pekik Arumi tidak terima, harga dirinya terusik.

"Karier apa yang kamu banggakan kalau ujung-ujungnya membuat perusahaanku dituntut sepuluh milar, hah?! Kalau kamu tidak bisa memasak, minimal kamu belikan aku makanan lewat aplikasi! Otakmu ditaruh di mana, Arumi!" teriak Hendra, berdiri dari kursinya dan menunjuk tepat ke wajah Arumi.

Arumi bungkam seribu bahasa, tubuhnya bergetar hebat menghadapi kemarahan besar Hendra.

"Jahat kamu, Mas! Kenapa kamu tega membentak aku seperti ini sih?!" jerit Arumi, air mata buatannya mulai mengalir deras membasahi pipi. Ia memukul dada Hendra dengan dramatis. "Apa ini yang namanya cinta? Apa ini janji kamu yang katanya mau membahagiakan aku? Kamu pembohong, Mas!"

Arumi membalikkan badan, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak hebat. Ia sengaja berakting sekujur tubuhnya gemetar, berpura-pura sangat hancur agar Hendra merasa bersalah.

Melihat calon istri keduanya menangis histeris, kemarahan Hendra yang menggebu-gebu tadi seketika surut. Rasa tidak tega dan ego lelakinya langsung terusik. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat dan merengkuh tubuh Arumi dari belakang.

"Arumi, maafkan aku," bisik Hendra lembut, mengecup pucuk kepala Arumi dengan penuh penyesalan. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya terlalu stres memikirkan polisi dan tuntutan sepuluh miliar itu. Jangan menangis lagi, ya?"

Arumi menyunggingkan senyum licik yang tersembunyi di balik telapak tangannya. Menyadari Hendra sudah kembali masuk ke dalam perangkapnya, ia membalikkan badan lalu bersandar manja di dada bidang pria itu.

"Aku kan begini juga karena memikirkan kamu, Mas. Perutku masih sakit karena masakan mbak Ningsih semalam, tapi kamu malah memarahiku hanya karena masalah sarapan."

"Iya, iya, aku yang salah." Hendra mengusap air mata di pipi Arumi dengan ibu jarinya, benar-benar luluh dan melupakan fakta bahwa perusahaannya berada di ambang kehancuran.

"Masalah dapur dan sarapan, nanti kita bisa sewa pembantu baru. Sekarang, yang penting kamu temani aku ke kantor untuk berhadapan dengan polisi, ya?"

"Tentu saja, Mas. Aku akan selalu ada di sampingmu," sahut Arumi dengan suara manis yang dibuat-buat, memeluk Hendra dengan erat dan menghapus air mata palsunya.

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!