Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Vonis Nikah Massal Sang Komandan
"Mama... kenapa Sella ikut pulang mendadak ke Jakarta? Terus kenapa Pak Adit bisa diseret kasar kayak maling jemuran begitu? Dia itu kan bos besar Sindy di kantor, Ma!"
Aulia hanya melirik Sindy dengan tatapan mata yang sangat dingin tanpa ekspresi. "Nanti kamu juga akan tahu dengan jelas kenapa bos besarmu yang terhormat itu bisa berakhir berlutut pasrah di depan Papa kamu gara-gara kelakuan adik kandungmu sendiri."
Sella yang berada di lantai marmer semakin sesenggukan menahan tangis. Kedua tangan mungilnya tidak berhenti meremas ujung jaket hoodie cokelatnya yang sudah lecek, tidak berani mendongakkan wajahnya sama sekali di depan keluarga besar. Bayangan mengerikan saat ia terbangun subuh tadi dan melihat bercak merah misterius di atas seprai putih bersih kamar hotel Paris kembali datang menghantui pikirannya.
"Malam ini juga, masalah aib ini harus selesai sampai ke akarnya!" Kaizen menggebrak permukaan meja kristal dengan sangat keras, lalu mengarahkan jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Adit. "Saya sama sekali tidak peduli kamu punya jabatan mentereng atau kekayaan apa di luar sana, Raditama Abraham. Di dalam rumah ini, kamu hanyalah seorang pria biasa yang harus membayar sangat mahal karena sudah berani menyentuh putri mahasiswi saya!"
Adit hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah, sementara Sella menangis semakin kencang. Rahasia skandal besar yang baru saja terjadi di Paris kini telah terpampang nyata tanpa sensor di depan mata seluruh keluarga besar Saputra.
Sementara itu di sudut sofa lain, Aulia menatap tajam ke arah Rika. Sejenak, kilat kemarahan di wajah Aulia berganti dengan sebuah rasa kecanggungan yang luar biasa besar. Ia sama sekali tidak menyangka jika anak laki-laki dari sahabat dekatnya sendiri, yaitu Reno, yang justru menjadi pelaku utama di dalam rekaman kamera tersembunyi di kamar tidur ibunya di Jakarta.
"Aduh, Mbak Rika... kenapa semua urusan ini bisa terjadi secara kebetulan yang rumit begini, ya? Sepertinya anak-anak kita ini memang... berjodoh lewat jalur musibah nasional," ucap Aulia sambil menghela napas panjang tanda pasrah pada takdir.
Nenek Anna yang mendengar hal itu langsung melotot sempurna sampai kacamata minusnya hampir merosot jatuh ke bawah hidung. "Berjodoh?! Kamu tega anak sulung kamu dinikahkan secara resmi sama pria pengangguran yang keahliannya cuma lompat kodok masuk rumah orang kayak dia?! Apa kata dunia persilatan sosialita Jakarta nanti kalau mendengar kabar aneh ini?!"
"SUDAH CUKUP! DIAM SEMUA!" teriak Kaizen sambil kembali menggebrak meja kristal tebal itu hingga suaranya memantul keras di ruangan setinggi lima meter tersebut.
Akibat gebrakkan dahsyat itu, Adit dan Reno secara serempak langsung terjungkal ke arah belakang. Punggung mereka menghantam sandaran sofa dengan bunyi bugh yang terdengar sangat kompak.
"Sindy, jelaskan semua kejadian di Jakarta ini sekarang juga sebelum Papa mengirim dua kurcaci mesum di depan saya ini ke dalam sel isolasi pangkalan militer!" perintah Kaizen kaku. "Dan kalian berdua, jangan pernah bermimpi bisa melarikan diri malam ini. Seluruh pintu keluar rumah sudah resmi saya gembok rapat pakai rantai besi kapal!"
Adit memejamkan kedua matanya pasrah, jemarinya naik memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat nyut-nyutan. Sebagai seorang CEO muda yang biasanya sangat berwibawa mengatur jalannya ribuan karyawan di perusahaan raksasa, ia merasa malam ini harga dirinya sudah merosot tajam, bahkan jauh lebih rendah daripada selembar keset selamat datang di depan pintu utama.
Sementara Sindy mulai membuka mulut bercerita dengan gugup tentang insiden terjatuh ke dalam selokan air dan aksi gusur-menggusur heroik sekaligus tragis yang dilakukan oleh Reno semalam, fokus pikiran Adit justru kembali melayang jauh pada memori kejadian aneh di Paris.
"Papa sebenarnya sudah tahu semua detail kejadiannya, Sindy," potong Kaizen dengan nada suara yang mendadak tenang, namun ketenangan suaranya itu justru terasa jauh lebih mematikan daripada suara teriakannya. Ia mencondongkan tubuh tegap militernya ke depan, menatap tajam ke arah Sindy dan Reno secara bergantian dengan pandangan mata layaknya seekor predator yang siap menerkam mangsa.
"Papa sudah melihat semuanya dengan jelas lewat rekaman kamera CCTV rahasia. Termasuk adegan pergulatan intim di atas ranjang itu. Kelihatannya kalian berdua sangat... menikmati momen tersebut, bukan?"
DEG!
Wajah Sindy yang tadinya merah padam karena malu, kini mendadak berubah warna menjadi ungu matang mirip buah manggis akibat syok rahasianya dibongkar habis oleh sang ayah. Di sampingnya, Adit mendadak menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Reno dengan sepasang mata elang yang melotot sempurna.
Reno... lo berani main gila sama sekretaris pribadi gue sendiri di Jakarta?! batin Adit syok berat, sempat melupakan sejenak nasib masa depannya sendiri yang saat itu juga sedang berada di ujung tanduk kematian.
Namun, di tengah hiruk-pikuk pembahasan skandal Reno dan Sindy, sepasang mata Reno tanpa sengaja beradu pandang dengan Sella yang sedang duduk meringkuk ketakutan di samping kaki Aulia. Detik itu juga, kerja otak Reno mendadak mengalami kilasan memori masa lalu.
Tunggu dulu... sebentar, ini kan mahasiswi sableng gila di dekat bandara kemarin yang nekat nipu gue pakai selembar struk belanjaan lecek?! batin Reno yang emosinya mendadak langsung pindah jalur seratus delapan puluh derajat.
Ia teringat kembali betapa dongkol dan sakit hatinya ia kemarin sore saat melihat tulisan struk belanjaan minyak goreng lecek menggantikan uang tunai 500 ribu rupiah yang dijanjikan gadis itu. Reno langsung memberikan pelototan mata yang sangat tajam dan penuh dendam, sementara Sella yang menyadari hal itu semakin menciutkan tubuhnya ketakutan di balik selimut.
Mampus gue dobel! Ternyata Abang ojek sport merah kemarin itu temannya Om kaku ini! Mana gue belum bayar ongkos ojeknya lagi! ratap Sella dalam hati, merasa dunia ini terlalu sempit untuk melarikan diri dari dosa-dosa cerobohnya.
"Oke, drama pertunjukan di Jakarta kita anggap selesai!" Kaizen memotong atmosfer ketegangan. Kini sepasang mata tajamnya beralih fokus menatap ke arah Sella dan Adit yang berada di lantai. "Sekarang, saatnya kita masuk ke dalam menu hidangan utama malam ini. Jelaskan semuanya sekarang juga, Sella! Kenapa bisa ada seorang CEO perusahaan raksasa tersesat tanpa baju di balkon kamar hotel kamu di Paris?!"
Suasana ruangan mendadak hening tanpa suara. Sella tersentak hebat, kedua bahu mungilnya berguncang. Bayangan mimpi masa depannya untuk kuliah desain mode di Paris kini telah menguap terbang, digantikan oleh wajah garang Papanya.
"Maafkan Sella, Papa... Mama... Sella juga benar-benar gak tahu kenapa semua urusan ini bisa jadi kacau berantakan begini!" tangis Sella akhirnya pecah dengan sangat dramatis. Gadis 19 tahun itu langsung meluncur turun dari atas lantai, bersimpuh erat di kaki Kaizen, meremas ujung celana panjang kain ayahnya dengan jemari tangan yang gemetar hebat.
"Sella semalam cuma mau tidur dengan tenang karena capek, tapi tiba-tiba pas subuh bangun ada Om-om kaku ini gak pakai baju tidur di atas kasur Sella... hiks!"
Tidak mau kalah atau terlihat sebagai pengecut tunggal, Adit ikut menurunkan tubuh tegapnya dari atas sofa. Sang CEO muda yang biasanya selalu tampil angkuh dan dipenuhi wibawa itu kini terpaksa ikut berlutut pasrah di atas permukaan lantai marmer yang dingin, tepat berada di samping posisi bersimpuh Sella. Namun, posisi berlututnya bahkan masih terlihat sangat kaku, tegap, dan formal, benar-benar mencerminkan ciri khas seorang Raditama Abraham yang perfeksionis.
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Om Kaizen. Saya... saya berani bersumpah bahwa saya benar-benar berada di luar kendali kesadaran penuh saya saat tindakan salah kamar itu terjadi dengan Sella di hotel Paris semalam," ucap Adit dengan nada suara parau yang mendalam. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut hitamnya yang berantakan menutupi sebagian dahinya.
"Saya menyatakan siap untuk menerima konsekuensi hukum atau bentuk pertanggungjawaban apa pun demi menjaga nilai integritas dan nama baik keluarga besar Om, meskipun saya pribadi merasa ada konspirasi yang tidak beres yang menimpa saya malam itu."
Sella menolehkan kepalanya sedikit ke samping, menatap wajah Adit dengan sepasang mata yang sembab berair. Hati kecilnya dilanda perasaan campur aduk: di satu sisi ia merasa benci karena mengira kesucian dirinya sudah hilang (padahal murni kesalahpahaman noda merah), namun di sisi lain ia juga merasa bersalah yang amat sangat karena telah melayangkan satu tendangan refleks mematikan ke area vital pria itu hingga pingsan semalam.
Kaizen berdiri tegak lurus, bayangan tubuh tegap militernya tampak memanjang menutupi posisi Adit dan Sella yang masih bersimpuh pasrah di atas lantai marmer layaknya sepasang terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman mati. Ia memperbaiki letak kerah jas hitamnya dengan kaku, lalu menarik napas panjang yang sangat mengintimidasi mental siapa pun yang mendengarnya.
"Jadi, sekarang kalian berdua sudah mengakui prestasi memalukan masing-masing di luar negeri dan di dalam negeri, kan?" suara Kaizen terdengar berat, dalam, dan bergetar hebat karena menahan luapan amarah yang dipendam di dada. "Oke kalau begitu. Saya tidak mau ada drama panjang atau negosiasi bisnis lagi di rumah ini. Besok pagi-pagi buta, kalian berempat akan saya antar langsung di bawah pengawalan ketat menuju ke kantor KUA untuk dinikahkan secara massal!"