NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Rantang ke Peternakan

Dua hari kemudian, aku memasukkan nasi, tumis daging, sayur asem, dan sambal ke dalam rantang susun.

Raka dan Bayu sudah berangkat sekolah. Sasa kutitipkan satu jam kepada Bu Sumi di warung seberang, bukan kepada Bik Inah. Setelah bukti gudang terbuka, aku tidak ingin meninggalkan balita itu berdua dengannya.

Bik Inah berdiri di dapur sambil mengawasiku mengunci rantang.

“Pak Arya biasa makan di peternakan,” katanya.

“Makanya saya bawa ke sana.”

“Banyak orang yang sudah mengurus makanannya.”

“Bagus. Berarti kalau dia tidak mau masakan saya, tidak akan kelaparan.”

Wajahnya mengeras. “Jangan terlalu percaya diri hanya karena diberi uang rumah.”

Aku mengangkat rantang. “Saya hanya mengantar makan siang, Bik. Kenapa Bik Inah terlihat lebih gugup daripada saya?”

Dia tidak menjawab.

Peternakan Sapi Rejo Makmur berada di ujung jalan yang membelah sawah. Aku berjalan sekitar lima belas menit melewati rumpun bambu dan saluran irigasi. Bahkan sebelum melihat gerbangnya, bau rumput fermentasi dan suara sapi sudah terbawa angin.

Tempat itu jauh lebih besar daripada dugaanku.

Beberapa kandang beratap tinggi berdiri berjajar. Truk bak tertutup keluar masuk melalui jalur beton. Pekerja dengan sepatu bot memindahkan karung pakan, sementara di bangunan depan ada papan kantor, timbangan kendaraan, dan ruang pendingin.

Ini bukan peternakan kecil milik seorang duda kampung.

Bang Gino melihatku lebih dulu. “Mbak Laras! Cari Pak Arya?”

“Iya. Saya bawa makan siang.”

Senyumnya melebar. “Wah, Bos pasti langsung lupa sama kami.”

“Kenapa?”

“Biasanya makan bareng pekerja. Kalau sekarang dapat rantang khusus, kami cuma kebagian lihat.”

Beberapa pekerja tertawa. Aku ikut tersenyum, tetapi langkahku melambat ketika melihat perempuan muda berdiri di depan pintu kantor.

Dia mengenakan blus merah muda dan celana kain, terlalu rapi untuk lingkungan kandang. Di tangannya ada keranjang makanan tertutup kain bermotif bunga.

“Tuti sudah datang duluan,” bisik salah seorang pekerja.

“Anaknya Bik Inah?”

“Iya. Sejak menjanda, sering antar makan Pak Arya.”

Tuti menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada rantangku.

“Oh, jadi ini Laras.” Dia tersenyum tanpa kehangatan. “Kata Ibu, kamu suka mengambil alih urusan orang.”

“Saya tidak tahu mengantar makan siang termasuk mengambil urusan orang.”

“Aku sudah bawa makanan untuk Pak Arya. Kamu tidak perlu repot.”

“Biar beliau yang memilih.”

Beberapa pekerja berhenti bergerak. Dua perempuan yang sedang membeli susu segar di sisi kantor ikut mendekat. Lingkaran penonton terbentuk begitu alami, seolah orang desa memang selalu tahu kapan percakapan akan menjadi tontonan.

Tuti memandang pakaianku dari atas ke bawah. “Kamu memang suka bersaing, ya? Sudah bukan anak kandung keluarga perwira, masih nekat datang menggantikan Tiara. Sekarang mau langsung jadi istri juragan.”

“Saya tidak bersaing dengan siapa pun.”

“Semua orang tahu yang dilamar itu Tiara Kusumawardhani. Kamu cuma anak tertukar yang dibuang keluarga Santoso.”

Bisik-bisik terdengar.

“Benar juga, yang datang memang bukan calon awal.”

“Tapi Pak Arya sudah terima dia di rumah.”

“Belum akad, kan?”

Jari-jariku mengencang pada pegangan rantang. Bukan karena aku tidak pernah mendengar hinaan itu. Justru karena aku sudah terlalu sering mendengarnya dari orang yang mengira tes DNA memberi mereka hak menilai seluruh hidupku.

“Saya memang anak yang tertukar,” kataku. “Itu kesalahan orang dewasa saat saya bayi, bukan kejahatan yang saya lakukan. Soal siapa yang akan menikah dengan Pak Arya, biarkan beliau yang bicara.”

“Pak Arya butuh perempuan yang paham desa dan bisa mengurus anak,” balas Tuti. “Bukan nona Jakarta yang terbiasa dilayani.”

“Kalau begitu, kenapa Sasa penuh kutu dan gudang makanan dikunci saat orang yang paham desa mengurus rumah itu?”

Senyum Tuti membeku.

Pintu kantor terbuka.

Arya keluar dengan kemeja kerja lengan panjang dan sebuah berkas di tangan. Tatapannya menyapu kerumunan, lalu berhenti padaku.

“Ada apa?”

Tuti cepat mendekat. “Tidak ada apa-apa, Pak. Saya bawa ayam ungkep kesukaan Pak Arya. Ibu yang masak khusus.”

Dia mengangkat keranjangnya.

Arya tidak mengambilnya. Dia berjalan melewati Tuti dan berhenti di depanku.

“Untukku?” tanyanya sambil menunjuk rantang.

“Iya. Tapi kalau Mas Arya sudah punya makan siang, saya bisa bawa pulang.”

Tangannya langsung mengambil pegangan rantang dari tanganku. “Aku makan ini.”

“Mas Arya belum makan sama sekali?”

“Belum.”

“Sudah lewat tengah hari.”

“Ada sapi sakit sejak pagi.”

Baru kusadari keringat telah mengering di kerah kemejanya. Ada noda obat antiseptik pada salah satu lengan, dan sepatu botnya masih terkena lumpur. Lelaki ini bukan hanya duduk di kantor sambil memerintah pekerja.

“Sasa di mana?” tanyanya.

“Saya titip sebentar kepada Bu Sumi. Saya tidak mau meninggalkan dia sendiri dengan Bik Inah.”

Arya mengangguk tanpa mempertanyakan keputusanku. “Setelah makan, aku antar pulang.”

“Tidak perlu. Saya bisa jalan.”

“Matahari terlalu panas.”

“Tadi saya juga jalan kemari.”

“Karena aku tidak tahu.”

Jawaban itu sederhana. Namun cara dia mengatakannya membuat para pekerja di dekat kami saling bertukar pandang. Bang Gino bahkan menahan senyum sambil pura-pura memeriksa karung pakan.

“Baik,” kataku akhirnya.

Arya mengangkat rantang sedikit. “Lain kali, telepon. Aku yang ambil.”

Untuk sesaat, aku tidak tahu apakah kami sedang membicarakan makan siang atau caranya menerima keberadaanku dalam hidupnya.

Tuti kehilangan senyum. “Pak Arya belum lihat masakan saya.”

“Bawa pulang. Makan bersama ibumu.”

“Tapi saya datang jauh-jauh.”

“Aku tidak pernah memintamu datang.”

Kalimat itu pendek dan bersih. Tidak meninggalkan celah untuk salah paham.

Wajah Tuti memerah sampai telinga. “Pak Arya membela dia padahal dia menipu soal perjodohan?”

Arya meletakkan rantangku di atas meja dekat pintu. Lalu dia berbalik menghadap semua pekerja dan warga yang menonton.

“Laras tidak menipu siapa pun,” katanya. “Keluarga Pak Bimo mengirim dia karena Tiara menolak. Dia yang dikorbankan untuk menjaga nama keluarga itu.”

Kerumunan sunyi.

“Saya tidak butuh dibela karena kasihan,” kataku pelan.

Arya menoleh kepadaku. “Bukan karena kasihan.”

Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat napasku tertahan.

Dia kembali menghadap orang-orang.

“Mulai sekarang, jangan sebut Laras penipu atau pengganti seolah dia datang tanpa kehendakku. Dia adalah perempuan yang akan kunikahi.”

Bang Gino tersenyum lebar. Seseorang di belakang bersiul sebelum disikut temannya.

Tuti menggenggam keranjang sampai kain penutupnya kusut.

Arya tetap berdiri di sampingku. Suaranya tidak keras, tetapi seluruh halaman peternakan mendengarnya.

“Akad dan resepsi akan kami adakan dengan benar. Tidak diam-diam, tidak seadanya. Laras akan masuk ke rumahku dengan kehormatan yang pantas dia terima.”

Suara orang-orang pecah dalam keterkejutan.

Tuti membeku di tempat.

Sementara aku berdiri dengan tangan kosong di samping rantang yang sudah diambil Arya, dan untuk sesaat, aku lupa bagaimana caranya bernapas.

1
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!