NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Wajah Yang Tidak Asing.

Sera sesekali melirik ke arah kursi depan, dimana Wira sedang fokus dengan kemudinya.

Mobil bertipe sedan itu melaju dengan kecepatan sedang. Berjarak cukup aman dengan kendaraan lain di luar sana.

Wira benar membuktikan kalau dirinya bisa menyetir dengan baik. Pria itu juga sudah mengetahui dimana alamat kantor Sera berada.

“Jika ada yang ingin nona tanyakan, tanya saja. Saya pasti akan menjawabnya.” Ucap Wira saat Sera kembali melirik ke arah depan, dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu pada kaca sepion.

Sera membuang pandangannya ke arah luar jendela. Merasa malu, karena telah ketahuan melirik Wira secara diam - diam.

“Dimana mama saya kecopetan waktu itu?” Tanya Sera asal.

Ia tidak memiliki topik untuk di bahas. Namun sudah terlanjur ketahuan melirik Wira.

“Di depan rumah sakit Sehat Medika, nona. Siang hari, tepatnya seminggu yang lalu.” Wira berucap dengan tenang.

Namun kening Sera seketika berkerut halus. “Sehat Medika.” Gumam gadis itu.

Ia seakan tidak asing dengan nama rumah sakit itu.

“Ya. Katanya nyonya menjenguk teman arisannya yang sedang sakit.” Imbuh Wira.

Mata Sera membulat sempurna. Bukan karena mendengar ucapan Wira, namun karena ia teringat sesuatu.

Nama rumah sakit yang Wira sebutkan, sama dengan nama rumah sakit yang tertera pada nota pembayaran yang Sera temukan di saku jas Ravin.

Apa ini suatu kebetulan?

Siapa yang di jenguk sang mama? Dan apa yang Ravin lakukan di rumah sakit pada saat itu? Padahal ia mengaku sedang berada di Bogor?

Wira melirik Sera dari kaca sepion. Ia tersenyum tipis, saat melihat raut penuh tanya gadis itu.

“Nona. Kita sudah sampai.” Ucapnya kemudian.

Sera tersentak pelan. Ia pun melepaskan sabuk pengamannya.

“Sebentar, non.” Wira mencegah saat gadis itu hendak keluar.

“Kita belum bertukar nomor ponsel.” Wira menyodorkan ponsel miliknya pada gadis itu.

Sera tidak langsung menerima. Hanya melihat datar pada benda pipih pintar itu.

“Bukannya saya lancang. Hanya untuk berjaga - jaga. Jika nona membutuhkan saya dalam waktu segera.” Ucap Wira lagi.

Sera menghela nafas pelan. Ia kemudian mengambil ponsel milik Wira. Lalu mengetik nomor ponselnya.

“Sudah, mas.” Sera mengembalikannya lagi.

Wira kemudian mengirim sebuah pesan melalui aplikasi WhatsApp.

“Itu nomor ponsel saya. Hubungi saya kapan pun. Saya akan berjaga di sekitar sini.” Ucap Wira.

“Kalau mas Wira mau pulang ke rumah, tidak apa - apa. Bisa kembali nanti sore untuk menjemput saya.” Ucap Sera.

“Tidak, nona. Selain menjadi sopir. Saya juga bertugas menjaga keamanan nona.” Ucap Wira. Pria itu kemudian keluar dan membukakan pintu untuk Sera.

“Terima kasih, mas.” Ucap Sera sebelum meninggalkan mobilnya.

Wira tersenyum sembari mengangguk pelan. Ia pun memperhatikan setiap langkah Sera saat masuk ke dalam gedung.

“Kamu berhak bahagia, Sera. Dan itu, bukan dengan Ravin.”

.

.

.

Wira datang satu jam lebih awal dari jam pulang kantor. Ia menunggu Sera di lobby gedung, sembari bermain ponselnya.

Setengah jam kemudian, Sera pun keluar dari pintu lift. Gadis itu mengamati Wira yang tak menyadari kedatangannya.

Di mata Sera, Wira tidak terlihat seperti orang dengan ekonomi menengah ke bawah.

Pria itu memiliki postur tubuh yang ideal. Wajah yang bisa di katakan cukup tampan, meski kulitnya tidak seputih Ravin.

Tetapi, Sera merasa jika wajah Wira tidak begitu asing. Dari samping, sekilas mirip dengan Ravin.

Apa hanya kebetulan?

“Apa sih, Ra?” Sera menggelengkan kepalanya ketika ia tanpa sengaja membandingkan pria lain dengan sang suami.

Ia pun melangkah mendekat ke arah tempat duduk Wira.

“Mas Wira.” Panggil gadis itu pelan.

Wira seketika mendongak. Saat melihat Sera, ia pun dengan cepat bangkit dari tempat duduknya. Sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana.

“Sudah selesai, non?” Tanyanya dengan sopan.

Sera menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, silahkan, non.” Wira mempersilahkan Sera untuk melangkah lebih dulu.

“Sera. Pulang dengan siapa kamu?” Suara papa Bayu terdengar di belakang mereka.

Sera dan Wira menoleh dengan kompak.

“Pa. Ini mas Wira. Sopir baru aku.” Sera memperkenalkan Wira pada sang papa.

“Mas Wira. Ini papa Bayu. Papa saya.” Ucap Sera pada Wira.

Pria itu mengangguk paham.

“Selamat sore, pak.” Sapa Wira pada papa Bayu dengan bersikap sopan.

Pria paruh baya itu memperhatikan Wira dengan lekat.

“Darimana kamu mendapatkan sopir semuda ini? Apa Ravin tau?” Tanya papa Bayu pada sang putri.

“Dari mama, pa. Dan sudah atas persetujuan kak Ravin.” Ucap Sera.

Papa Bayu memicingkan matanya. “Darimana mama kamu kenal pria muda seperti dia?”

Sera menghela nafas pelan. “Apa papa tidak mengetahui, kalau mama sempat kena musibah kecopetan?”

Mata papa Bayu membola sempurna. “Mama kamu kecopetan? Dimana? Kapan kejadiannya? Kenapa dia tidak mengatakan apapun sama papa?”

“Seminggu yang lalu di depan rumah sakit Sehat Medika. Dan mas Wira ini yang menolong mama. Karena itu, mama memberikan pekerjaan sebagai sopir aku. Sebagai rasa terima kasih karena sudah menolong mama.” Ucap Sera kemudian.

Kini giliran papa Bayu yang menghela nafas kasar. “Ya. Seminggu yang lalu mama kamu memang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu teman arisannya. Tetapi, dia tidak mengatakan kalau terkena musibah.”

“Mungkin mama tidak mau membuat papa merasa khawatir. Mama juga tidak apa - apa. Berkat pertolongan mas Wira, tidak ada barang mama yang hilang.” Imbuh Sera.

Papa Bayu kembali menatap ke arah Wira dengan lekat. Rasanya, ia tidak asing dengan wajah pemuda itu.

“Berapa usia kamu anak muda?” Tanya pria paruh baya itu.

“30 tahun, pak.” Wira menunduk sopan.

“Masih muda. Kenapa tidak mencoba melamar pekerjaan di perkantoran saja?” Tanya papa Bayu.

Kepala Wira menggeleng pelan. “Saya hanya lulusan sekolah menengah pertama, pak. Menjadi petugas kebersihan pun, rasanya tidak ada yang mau menerima.”

“Lalu apa kamu bisa menjamin keselamatan putri saya, saat dia pergi bersama kamu?” Tanya pria paruh baya itu.

“Saya memiliki ketiga surat ijin mengemudi, dan juga bisa bela diri.”

Papa Bayu tersentak mendengar jawaban Wira itu.

“Dan untuk keselamatan nona Sera, saya akan selalu berusaha berhati - hati saat mengemudikan mobilnya.” Ucap Wira dengan tenang.

Papa Bayu mengangkat sebelah alisnya.

‘Sepertinya, pemuda ini bukan anak sembarangan. Siapa dia? Kenapa wajahnya terlihat tidak asing?’

“Pa. Aku pamit dulu. Sebentar lagi kak Ravin pulang. Aku harus membantu bibi menyiapkan makan malam.” Sera meraih tangan sang papa untuk di kecupnya.

“Hmm. Hati - hati, sayang.” Papa Bayu mengusap kepala gadis itu.

Sera mengangguk pelan.

“Ayo kita pulang, mas Wira.” Ajak gadis itu pada sang sopir.

“Hati - hati kamu membawa mobilnya.” Pesan papa Bayu pada Wira.

“Baik, pak.” Ucap Wira pelan.

Sera pun melangkah lebih dulu. Dan Wira mengikuti dari belakang.

“Apa aku pernah bertemu dengan pemuda itu? Wajahnya sungguh tidak asing. Mirip siapa ya?” Monolog papa Bayu sembari memperhatikan langkah Sera dan Wira yang kini sudah berada di luar gedung.

“Aku harus tanya mama. Kenapa begitu saja mempercayai orang, hanya karena di tolong sekali saja.”

1
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
dyah EkaPratiwi
sera please jangan bodoh😭
dyah EkaPratiwi
jahat banget ravin
Agus Tina
Apakah Wira itu Raditya?
Author Amatir🍒: Nanti akan ada jawaban lengkapnya kak..
total 1 replies
Naufal Affiq
suami kurang otak,selalu aja berbohong sama istri,
falea sezi
cpet kebongkar dan cerai
Naufal Affiq
bagus wira,buat sera bertemu dengan rania,biar si ravin itu ingat kalau dia sudah punya istri,dan satu lagi buat kamu rania,kau itu pelakor kau itu sadar diri,sampai kapan pun kau gak diterima di keluarga ravin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!