Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Jam Menuju Jawaban
Raze menjemputnya jam lima pagi. Langit masih gelap kebiruan dan jalanan kota masih sepi dari kemacetan biasa. Begitu Alya masuk ke mobil, dia menemukan sebuah termos kecil sudah menunggu di dashboard, mengepulkan aroma kopi hitam yang begitu dia kenali. Di kursi belakang, tergeletak rapi sebuah tas kecil berisi baju ganti dan beberapa camilan, persiapan yang begitu detail hingga Alya tidak sanggup menahan senyum meski hatinya masih dipenuhi kegugupan.
"Kamu nyiapin ini semua semalaman?" Alya bertanya, mengangkat tas kecil itu.
"Aku tidak bisa tidur, jadi kupikir lebih baik memastikan kamu tidak kekurangan apa pun hari ini," Raze menjawab, sedikit malu-malu. Ekspresi yang begitu jarang muncul di wajahnya hingga terasa seperti melihat sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi rapat.
"Sama sekali nggak tidur, atau cuma dikit?" Alya bertanya, memperhatikan lingkar hitam samar di bawah matanya yang biasanya begitu terkendali.
"Sedikit," Raze mengakui, menyalakan mesin mobil. "Aku menghabiskan semalaman memastikan setiap detail perjalanan ini aman. Aku tidak mau ada kejutan yang tidak bisa kukendalikan hari ini."
"Kejutan kayak apa yang kamu khawatirin?" Alya bertanya, sedikit gelisah mendengar nada waspada di suaranya.
"Bukan apa-apa yang perlu kamu pikirkan sekarang," Raze menjawab, tangannya terulur menggenggam tangannya sebentar sebelum kembali ke setir. "Fokus saja pada apa yang akan kita temukan di ujung perjalanan ini."
Mobil melaju meninggalkan kota yang masih terlelap, lampu-lampu jalan berkelebat di kaca jendela, dan Alya menyandarkan kepalanya ke jok, menatap langit yang perlahan berubah warna dari biru gelap menjadi jingga muda, pertanda hari baru yang mungkin akan mengubah segalanya bagi dirinya.
Perjalanan tiga jam itu dilalui dengan obrolan yang mengalir naik turun — kadang ringan, tentang kenangan masa kecil Alya yang penuh tawa dengan enam saudaranya, kadang berat, tentang bagaimana rasanya tumbuh sebagai anak yatim piatu sejak usia sepuluh tahun, seperti yang diceritakan Raze sendiri untuk pertama kalinya.
"Orang tuaku meninggal dalam kebakaran," katanya, matanya tetap ke jalan, suaranya datar seperti orang yang sudah lama membuat jarak dengan kesedihan itu sendiri. "Aku dibesarkan oleh paman yang lebih tertarik pada warisan daripada pada diriku. Itu salah satu alasan aku begitu terobsesi membangun kekuasaan sendiri sejak muda. Supaya tidak ada lagi orang yang bisa mengendalikan hidupku selain diriku sendiri."
"Itu menjelaskan banyak hal," Alya berkata, pelan, menggenggam tangannya lebih erat di atas persneling. "Tapi itu juga bikin aku ngerti, kenapa kamu begitu takut kehilangan kendali soal aku."
"Kamu satu-satunya hal yang tidak pernah benar-benar bisa kukendalikan sepenuhnya," Raze berkata, sudut bibirnya terangkat tipis. "Dan anehnya, itu salah satu hal yang paling aku syukuri sekarang."
"Pamanmu masih hidup?" Alya bertanya, penasaran.
"Meninggal lima tahun lalu," Raze menjawab, tanpa emosi berlebihan. "Aku menghadiri pemakamannya, membayar semua biayanya, lalu pulang tanpa merasa apa pun. Mungkin itu bagian dari diriku yang paling menakutkan bagimu. Kalau kau pikirkan baik-baik, betapa mudahnya aku memutus perasaan terhadap seseorang begitu mereka berhenti relevan bagiku."
"Kamu pernah nyesel nggak, dibesarin sama orang yang nggak sayang kamu?" Alya bertanya, hati-hati, mencoba memahami lebih dalam luka yang membentuknya.
"Dulu, sering," Raze mengakui, jarang sekali sejujur ini. "Sekarang, aku lebih sering bertanya-tanya, jadi orang seperti apa aku kalau dibesarkan dengan cara yang berbeda. Tapi pertanyaan itu tidak pernah ada jawabannya, jadi aku berhenti bertanya."
"Tapi kamu nggak gitu ke aku," Alya berkata, pelan, mencoba mencari kepastian.
"Tidak," Raze menjawab, cepat dan tegas, melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus ke jalan. "Kau justru satu-satunya orang yang membuatku takut menjadi versi diriku yang bisa memutus perasaan semudah itu."
Alya bersandar ke jendela, membiarkan kalimat itu menghangatkan dadanya. Sesekali mencuri pandang ke arah profil wajahnya yang tegas namun terlihat lebih lembut di bawah cahaya matahari pagi yang mulai menyembul di ufuk timur.
Mereka berhenti sebentar di rumah makan pinggir jalan untuk sarapan. Kedai sederhana dengan meja kayu panjang dan aroma soto ayam yang menguar hangat. Di sela menyantap nasi uduk hangat, Raze menerima telepon yang membuat wajahnya sedikit menegang.
"Ada apa?" Alya bertanya begitu dia menutup telepon itu.
"Damar bilang, seseorang dari luar organisasiku juga sempat mencari informasi soal Rani, dua minggu lalu," Raze menjawab, suaranya hati-hati. "Aku belum tahu siapa. Tapi itu berarti aku bukan satu-satunya yang tertarik pada wanita itu."
"Siapa yang mungkin nyari dia selain kamu?" Alya bertanya, gelisah, sendok di tangannya berhenti bergerak.
"Aku tidak tahu pasti," Raze berkata, jujur. "Tapi dunia yang aku jalani Alya, punya banyak pihak yang mengawasi pergerakan satu sama lain. Kalau seseorang tahu aku mencari sesuatu, mereka akan penasaran kenapa, dan orang-orang di duniaku tidak pernah penasaran tanpa alasan."
"Ini ada hubungannya sama bisnis-bisnis gelapmu?" Alya bertanya, lebih tajam dari yang dia inginkan. Meski dia sudah lama berhenti berpura-pura tidak tahu soal sisi itu.
"Kemungkinan besar," Raze mengakui, tidak mengelak. "Aku sudah membuat banyak musuh sepanjang jalan membangun semua ini, Alya. Sebagian dari mereka akan senang sekali menemukan celah untuk menyerangku. Dan hubunganku dengan Alia, kalau benar dia masih hidup, bisa jadi salah satu celah itu."
"Itu bahaya buat Rani?" Alya bertanya, suaranya semakin cemas.
"Mungkin," Raze mengakui, tidak ingin berbohong meski itu berarti menambah beban di pundak Alya. "Itu sebabnya aku ingin kita sampai di sana secepat mungkin, sebelum pihak lain itu bergerak lebih jauh."
Kekhawatiran baru itu menambah lapisan tegang di dada Alya, membuat sisa perjalanan terasa lebih berat, meski Raze berusaha menenangkannya dengan menggenggam tangannya lebih sering dari biasanya, sesekali mengecup punggung tangannya di lampu merah, seolah mencoba meyakinkannya lewat sentuhan, bukan hanya kata-kata.
Sekitar setengah jam sebelum memasuki kota pelabuhan, Raze menepikan mobil di sebuah area peristirahatan yang menghadap laut lepas. Ombak yang berkejaran tenang di kejauhan, dan dia mematikan mesin tanpa penjelasan, hanya menatap Alya yang masih terlihat tegang di kursi sebelahnya.
"Kita punya waktu sepuluh menit," katanya, lembut. "Aku pikir kamu butuh napas sebelum kita sampai."
Mereka turun, berdiri di pembatas beton menghadap laut. Angin asin menerpa wajah mereka, dan Raze berdiri di belakangnya, lengannya melingkari pinggangnya, dagunya bertumpu di puncak kepalanya, membiarkan keduanya menikmati keheningan yang jarang sekali bisa mereka rasakan bersama tanpa beban dunia luar yang menekan.
"Apa pun yang terjadi nanti," Raze berbisik di telinganya, "aku bangga sama keberanian kamu buat sampai sejauh ini."
Alya berbalik dalam pelukannya, menatap wajahnya lama sebelum mencondongkan diri, mengecup bibirnya lembut, ciuman yang lebih terasa seperti ucapan terima kasih daripada gairah. "Makasih udah selalu ada, Raze," bisiknya, dahi mereka bersentuhan.
"Aku akan selalu berdiri disamping kamu apapun yang terjadi, kalau kamu izinkan," Raze menjawab. Tangannya mengusap punggungnya lembut. Untuk beberapa menit, mereka berdiri seperti itu. Dua siluet berpelukan menghadap laut lepas, mengumpulkan keberanian bersama sebelum melangkah ke bab berikutnya yang menunggu di ujung perjalanan mereka.
Kota pelabuhan itu berbeda jauh dari kota tempat mereka tinggal.Udara asin bercampur bau ikan segar dari pasar dekat dermaga, kapal-kapal nelayan berjejer dengan cat warna-warni yang mulai pudar dimakan usia, dan penduduknya berjalan dengan ritme yang jauh lebih santai. Seolah waktu di sana mengalir lebih lambat dibanding hiruk-pikuk kota besar yang mereka tinggalkan. Suara camar bersahutan di atas kepala. Dari kejauhan, deru mesin kapal nelayan yang baru merapat mengisi udara pagi dengan ritme kerja yang sudah berlangsung ratusan tahun di kota itu.
"Toko jahitnya di sekitar sini," Raze berkata, memarkir mobil di pinggir jalan kecil berbatu. Memeriksa alamat di ponselnya sekali lagi sebelum turun.
Alya berjalan di sampingnya, jantungnya berdegup semakin kencang setiap langkah mereka semakin dekat, matanya menjelajahi deretan toko kecil. Warung kopi, toko kelontong, bengkel sepeda, seorang nenek yang menjajakan kerupuk di depan rumahnya sambil menyapa ramah setiap orang yang lewat, sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan nama sederhana bertuliskan "Jahit Rani", jendela kacanya menampilkan beberapa gaun dan kebaya yang dipajang rapi di manekin usang.
"Aku takut, Raze," Alya berbisik,m. Tangannya gemetar menggenggam lengannya. "Gimana kalau ini bukan dia? Atau gimana kalau ini dia, tapi dia nggak mau kenal aku?"
"Kalaupun dia butuh waktu buat nerima semua ini," Raze berkata, suaranya menenangkan, "itu wajar, Alya. Bayangin posisi dia tiba-tiba ada orang asing yang ngaku punya wajah sama, ngebawa cerita yang bisa aja ngebalikin seluruh identitas yang udah dia bangun seumur hidup. Kasih dia waktu, kalau itu yang terjadi."
Raze berhenti, menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menatapnya dalam-dalam. "Apa pun yang terjadi di dalam sana," katanya, lembut tapi tegas, "aku akan berdiri di sampingmu. Kamu tidak akan menghadapi ini sendirian, apa pun hasilnya."
"Janji?" Alya berbisik, seperti anak kecil yang butuh kepastian.
"Janji," Raze menjawab, tanpa ragu sedikit pun. Akhirnya pagi itu, Alya merasakan sedikit ketenangan menyelinap di antara kegugupannya.
Dia mengecup dahinya, lama, membiarkan kehangatan itu meresap sebelum akhirnya melangkah mundur, memberi Alya ruang untuk mengumpulkan keberanian terakhirnya.
Melalui jendela kaca yang sedikit berdebu, Alya bisa melihat siluet seorang wanita duduk membungkuk di depan mesin jahit tua, rambutnya diikat sederhana, tangannya bergerak lincah mengarahkan kain di bawah jarum yang berputar cepat. Wanita itu belum menyadari kehadiran mereka di luar. Terlalu fokus dengan pekerjaannya, dan untuk beberapa detik, Alya hanya berdiri mematung, mencoba mencari kemiripan dari jarak sejauh itu, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perjalanan tiga jam ini tidak akan berakhir sia-sia.
Di sudut ruangan, sebuah radio tua memutar lagu dangdut lawas, dan wanita itu sesekali bersenandung kecil mengikuti iramanya. Gerakan kepalanya yang santai mengingatkan Alya pada caranya sendiri bersenandung setiap kali mengerjakan sesuatu yang menenangkan. Kemiripan kecil yang membuat dadanya semakin sesak oleh harapan yang hampir tidak berani dia biarkan tumbuh terlalu besar.
Raze menggenggam tangannya sekali lagi, memberi kekuatan tanpa kata-kata, dan bersama-sama, mereka melangkah menuju pintu kaca yang berbunyi lonceng kecil begitu didorong terbuka.
Wanita di dalam mendongak mendengar bunyi lonceng itu. Tangannya berhenti dari mesin jahit. Dan begitu matanya bertemu dengan mata Alya untuk pertama kalinya, waktu seolah berhenti sepenuhnya di ruangan kecil yang penuh potongan kain dan benang warna-warni itu. Karena wajah yang menatap balik ke arah Alya adalah wajah yang begitu identik dengan wajahnya sendiri, seperti menatap cermin yang hidup, bernapas, dan sama terkejutnya dengan dirinya.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik yang terasa seperti 1 tahun. Hanya suara radio tua yang terus mengalun pelan di latar belakang, dan mesin jahit yang perlahan berhenti berputar sepenuhnya. Seolah ruangan kecil itu sendiri ikut menahan napas menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.
Wanita itu berdiri perlahan.Tangannya masih memegang kain yang belum selesai dijahit. Matanya berpindah dari wajah Alya ke wajah Raze di belakangnya, lalu kembali lagi ke Alya, seolah mencoba memahami sesuatu yang otaknya belum sanggup terima sepenuhnya.
"Siapa..." suaranya pecah di tengah kalimat, tangannya gemetar meletakkan kain itu ke meja kerjanya. "Kenapa wajah kamu... kenapa kita..."
Alya melangkah satu langkah lebih dekat. Tenggorokannya tercekat oleh terlalu banyak kata yang ingin keluar sekaligus, tapi yang berhasil dia ucapkan hanyalah satu kalimat sederhana. Suaranya bergetar menahan tangis yang sudah lama dia tahan sepanjang perjalanan tiga jam itu.
"Aku rasa... kita kembar."
Di lantai dua puluh dua, malam sebelumnya, buku bersampul kulit hitam itu terbuka untuk terakhir kalinya sebelum perjalanan itu dimulai, tulisannya penuh kegelisahan yang jarang sekali dia izinkan terlihat.
Besok, aku akan membawa Alya menghadapi kemungkinan terbesar dalam hidupnya. Aku sudah menunggu momen ini bertahun-tahun, merencanakan setiap detailnya dengan hati-hati, dan sekarang setelah momennya tiba, aku menyadari tidak ada perencanaan yang cukup untuk mempersiapkan seseorang menghadapi kemungkinan bertemu kembali dengan orang yang selama ini dikira sudah tiada.
Seseorang lain mencari Rani juga. Aku tidak suka ini. Dunia yang kubangun untuk melindungi Alya kini justru berisiko menariknya lebih dekat ke bahaya yang seharusnya tidak pernah dia kenal. Aku sudah menempatkan dua orangku untuk mengawasi dari kejauhan besok, tanpa sepengetahuan Alya. Dia sudah cukup cemas tanpa perlu tahu detail itu.
Aku menceritakan tentang orang tuaku malam kemarin, dan pagi ini, di dalam mobil. Aku tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun sejak aku dewasa. Entah kenapa, dengan Alya, kejujuran terasa seperti beban yang lebih ringan untuk dipikul, bukan senjata yang bisa digunakan melawanku.
Apa pun yang terjadi besok, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan berdiri di sampingnya, bukan sebagai orang yang mengendalikan jalan ceritanya, melainkan sebagai orang yang menemaninya menjalani apa pun yang harus dia jalani.
❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜
Ada pertemuan yang ditunggu bertahun-tahun.Dan ketika akhirnya tiba, waktu terasa berhenti bukan karena jawabannya sudah jelas, melainkan karena pertanyaan yang selama ini menghantui akhirnya berdiri tepat di hadapan kita, bernafas, hidup, menunggu untuk dijawab bersama.