Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Melawan
Pagi itu masih sunyi, tapi ketenangan hari Minggu di apartemen Amanda sudah pecah sejak beberapa menit yang lalu.
Di depan unit apartemennya, suasana kacau. Beberapa penghuni sudah berkumpul sejak kejadian Kamil memukuli Aldo. Tidak ada yang sekadar mengintip—mereka benar-benar membantu.
"Astaga, ambilkan air! Cepat!”
"Saya sudah telepon ambulans.”
"Pak, tolong geser sedikit, kasih ruang!”
Suara-suara panik bercampur jadi satu.
Amanda berlutut di lantai, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya berlumuran darah saat menopang kepala Aldo yang tergeletak lemah di depan pintu unitnya.
"Aldo… kamu denger aku, kan?” suaranya pecah.
Wajah Aldo babak belur—bibirnya sobek, pelipisnya membiru, dan darah masih mengalir dari dahinya. Seorang ibu-ibu penghuni apartemen menyodorkan kain bersih, mencoba membantu menekan luka di kepala Aldo.
"Ditekan pelan ya, Mbak… biar darahnya nggak banyak keluar,” ucapnya lembut, meski wajahnya juga tegang.
Seorang pria lain membantu mengangkat sedikit tubuh Aldo agar lebih nyaman, sementara yang lain berusaha menenangkan Amanda.
"Tenang, Mbak… ambulans sudah di jalan,” katanya. Amanda hanya bisa mengangguk, air matanya jatuh tanpa henti.
Tak lama kemudian, suara sirene ambulans terdengar mendekat. Beberapa penghuni langsung sigap membuka jalan di koridor.
"Kasih jalan, kasih jalan!”
Petugas medis datang dengan cepat, langsung mengambil alih. Mereka memeriksa kondisi Aldo, lalu mengangkatnya ke atas tandu.
Amanda berdiri terburu-buru, hampir kehilangan keseimbangan.
"Saya ikut… saya ikut…” katanya panik.
Di dalam ambulans, suasana kembali mencekam. Amanda duduk di samping Aldo, menggenggam tangannya erat, seolah takut kehilangan.
"Aman… da…” suara Aldo sangat lemah.
"Iya, aku di sini… kamu tenang ya…” Amanda menunduk, suaranya bergetar.
Aldo berusaha membuka mata, napasnya berat. "Kamil… tadi…?”
Amanda terdiam sesaat. Kilasan kejadian beberapa menit lalu kembali terlintas di kepalanya—amarah, teriakan, dan pukulan itu.
Dia menarik napas dalam.
"Kamil… bukan siapa-siapa, Do…” ucapnya pelan. “Dia cuma orang yang lagi berusaha deketin aku.”
Tatapan Aldo masih tertuju padanya, meski samar.
"Dia udah beberapa kali nyatain perasaan… dari yang awalnya kayak bercanda… sampai yang serius,” lanjut Amanda.
Ambulans melaju meninggalkan apartemen, meninggalkan kerumunan orang-orang yang tadi membantu dengan penuh kepedulian.
"Tapi aku nggak pernah nganggep dia lebih dari itu…” suara Amanda kembali bergetar. “Yang penting kamu… kamu harus kuat!”
Jemari Aldo bergerak pelan, membalas genggamannya. Amanda menunduk, air matanya jatuh semakin deras.
Ambulans berhenti mendadak di depan pintu IGD. Pintu belakang terbuka cepat, dan para petugas langsung mendorong tandu Aldo turun.
"Pasien trauma, luka di kepala dan wajah!” salah satu petugas memberi laporan singkat.
Amanda turun dengan langkah tergesa, hampir tersandung, tapi tetap mengikuti di samping tandu. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya masih kacau. Pintu IGD terbuka lebar.
"Masuk, cepat!”
Aldo langsung dipindahkan ke ranjang pemeriksaan. Beberapa tenaga medis mengerubunginya—memeriksa tekanan darah, membersihkan luka, dan memasang alat.
"Nama pasien?”
"A… Aliando Kelana Jaya… jawabnya terbata."
"Usia?”
"23 tahun"
"Hubungannya dengan pasien?”
"Saya… saya pacarnya…”
"Kejadiannya bagaimana?”Amanda terdiam sepersekian detik.
Amanda berdiri di samping, masih gemetar.
"Mbak, ini kejadiannya bagaimana? Kecelakaan atau…?”
Amanda menelan ludah.
"Bukan… dia… dipukul…”
Sementara itu, seorang perawat lain mulai membersihkan luka di wajah Aldo. Aldo meringis pelan, setengah sadar.
"Mas, bisa dengar saya? Ini sakit ya, tapi harus dibersihkan,” ujar perawat itu.
Beberapa orang yang tadi ikut mengantar dari apartemen masih berada di sekitar IGD. Salah satu dari mereka, seorang bapak paruh baya, menggeleng pelan.
"Wah, kalau gitu laporin aja, Mbak. Jangan dibiarin. Itu udah keterlaluan,” katanya tegas.
"Iya, benar. Dilaporin aja ke polisi,” sahut yang lain.
Kata-kata itu seperti menyadarkan Amanda.
Ia terdiam sejenak… lalu matanya membesar.
"Ya Allah…” gumamnya pelan.
Dia baru sadar—dia keluar rumah tanpa membawa apa-apa. Tas, dompet, semuanya tertinggal.
Dengan panik, tangannya meraba saku celana jeansnya.
Dan…
syukurlah.
HP-nya masih ada.
Amanda langsung menghela napas lega, meski tangannya masih gemetar. Ia menjauh sedikit dari kerumunan, mencari tempat yang lebih tenang di sudut IGD, lalu segera menekan nomor.
Telepon tersambung.
"Halo, Pak… saya Amanda, penghuni unit—” suaranya masih bergetar. “Yang tadi pagi… kejadian di depan unit saya…”
"Oh iya, Mbak Amanda…” suara petugas security di seberang terdengar sigap.
"Pak, tolong… Kamil masih di sana?” tanya Amanda cepat.
"Masih, Mbak. Kami tahan di pos security.”
Amanda menutup mata sejenak, menarik napas dalam.
"Tolong jangan dilepas dulu, Pak,” katanya tegas, meski suaranya masih bergetar. “Saya… saya akan laporkan ini ke polisi.”
"Siap, Mbak. Tenang saja, kami amankan.”
Telepon ditutup.
Amanda menatap layar ponselnya beberapa detik, seolah mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.
Di belakangnya, suara alat medis masih terdengar. Aldo masih dalam penanganan.
Amanda menggenggam ponselnya erat. Pagi itu… semuanya berubah. Dan kali ini, dia tahu—ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Amanda masih berdiri di sudut IGD, jemarinya menggenggam ponsel erat. Napasnya belum sepenuhnya stabil, tapi pikirannya mulai bekerja lebih jernih. Ia langsung mencari satu nama di kontaknya—Amel.
Telepon tersambung cukup lama, hingga akhirnya terdengar suara di seberang.
"Halo, Mand?”
"Mel…” suara Amanda langsung bergetar. “Lo lagi di mana?”
"Di rumah. Kenapa? Suara lo—”
"Aldo di rumah sakit Mutiara Bunda.” potong Amanda, nyaris menangis. “Dia dipukul… sama Kamil…”
Hening sejenak di seberang, lalu suara Amel berubah panik. "HAH?! Lo sekarang di mana?”
"Di IGD… gue nggak bawa apa-apa, Mel… tas gue ketinggalan di apartemen…”
"Oke, denger ya,” suara Amel langsung tegas, berusaha menenangkan. “Lo stay di situ. Gue ke apartemen lo sekarang, ambil tas lo, terus langsung ke rumah sakit.”
Amanda mengangguk, meski Amel tak bisa melihatnya. "Iya… tolong ya, Mel!”
"Tenang. Gue OTW sekarang.”
Telepon terputus. Amanda menghela napas panjang. Setidaknya sekarang dia tidak sendirian.
Waktu terasa berjalan lambat di IGD. Amanda bolak-balik menatap ke arah Aldo yang masih ditangani dokter. Sesekali perawat keluar masuk, membawa alat atau memberikan instruksi.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang berlari tergesa masuk ke area IGD.
"Amanda!”Amanda langsung menoleh.
"Mel…”
Amel menghampiri dengan napas sedikit terengah, masih memakai sandal rumah dan wajah penuh kekhawatiran. Di tangannya, tas Amanda.
"Ini tas lo,” katanya cepat. “Gimana Aldo?”
Amanda menerima tas itu, matanya kembali berkaca-kaca.
"Masih diperiksa… kepalanya luka… mukanya juga…”
Amel langsung merangkul Amanda singkat.
"Udah, gue di sini.”
Amanda mengangguk pelan. Kehadiran Amel sedikit menguatkannya. Beberapa detik hening, lalu Amanda menarik napas dalam, seolah mengambil keputusan.
"Mel…”
"Iya?”
"Gue harus ke kantor polisi.”Amel menatapnya, sedikit kaget, tapi langsung mengerti.
"Karena Kamil?”
Amanda mengangguk.
"Gue tadi udah minta security buat nahan dia. Gue nggak mau ini dibiarin.”
Amel menghela napas, lalu mengangguk mantap.
"Oke. Lo pergi aja.”
Amanda ragu sejenak, matanya melirik ke arah Aldo.
"Tapi Aldo…”
"Gue yang jagain,” potong Amel tegas. “Tenang aja. Gue di sini sampai lo balik.”
Amanda menatap sahabatnya itu, ada rasa lega sekaligus haru.
"Bener ya?”
"Iya, Amanda. Udah sana. Urusin yang harus lo urus.”
Amanda menggenggam tangan Amel sebentar.
"Makasih, Mel…”
Amel tersenyum tipis.
"Udah, cepet. Hati-hati.”
Amanda mengangguk, lalu segera berbalik. Dengan tas di tangan dan langkah yang masih sedikit gemetar, ia berjalan keluar dari IGD.
Pagi itu, bukan hanya tentang menyelamatkan Aldo. Tapi juga tentang keberanian Amanda… untuk akhirnya melawan.
mantappp