Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Clarisa?
Suara deru ombak di balik jendela rumah panggung malam itu terasa berbeda. Tak ada lagi gemuruh kecemasan yang biasa mengejar Vivian setiap kali kegelapan menyapu desa pesisir.
Namun, lembaran dokumen syarat warisan dari almarhum ayah Radhit yang tergeletak di atas meja kayu di antara mereka kembali membawa aroma masa lalu yang rumit.
Radhit duduk di kursi kayu berhadapan dengan Vivian. Lampu minyak yang bergoyang lembut membiaskan bayangan wajah pria itu wajah yang kini tak lagi menyimpan keangkuhan, melainkan kecemasan yang ditahan rapat-rapat.
"Klausul ini tidak harus kamu terima, Vi," buka Radhit pelan. Suaranya serak, matanya menatap dokumen itu dengan pandangan sarat penyesalan.
"Saya bisa mencari cara lain untuk mengamankan aset Bumi secara hukum tanpa harus memaksa kamu kembali ke kota besar... apalagi menetap di rumah lama itu."
Vivian menatap cangkir tehnya yang mulai dingin. Jemarinya melingkari keramik kusam itu, merasakan sisa-sisa kehangatan yang perlahan menguap.
Kembali ke kota. Kembali ke tempat di mana setiap sudut jalanan dan derit pintu pernah menjadi saksi bisu jeritan hatinya yang tak terdengar.
Rumah utama keluarga Radhit adalah tempat di mana rahimnya pernah terluka, tempat di mana ia pernah dianggap tak lebih dari bayangan yang tak diinginkan.
Namun, saat Vivian menoleh ke arah kamar dalam—tempat Bumi tertidur pulas dengan selimut rajutnya—dada Vivian bergetar hebat.
"Bumi butuh kepastian masa depan, Mas," sahut Vivian datar namun tegas. Ia mendongak, menatap mata Radhit lurus-lurus. "Aset itu adalah hak darah dagingmu.
Aku tidak akan membiarkan ketakutanku sendiri merenggut apa yang seharusnya menjadi milik anakku."
Radhit menelan ludah dengan susah payah. Ada rasa haru yang membakar dadanya melihat betapa tangguhnya wanita di hadapannya, namun di saat yang sama, rasa bersalah kembali menancap dalam.
"Tapi rumah itu... rumah itu punya terlalu banyak kenangan buruk buat kamu, Vi," bisik Radhit, jemarinya meremas lututnya sendiri di bawah meja. "Saya tidak mau kamu tersiksa setiap kali melangkah di sana."
Vivian menghela napas panjang, menghembuskannya pelan ke udara malam.
"Aku kembali bukan sebagai istrimu yang dulu, Mas," pengan tegar Vivian, menegaskan batasan yang tak boleh dilanggar. "Aku kembali semata-mata sebagai ibu dari Bumi.
Kita akan tinggal di sana sebagai co-parenting. Kamar kita terpisah, kehidupan pribadi kita terpisah. Satu-satunya alasan aku menginjakkan kaki di rumah itu adalah untuk memastikan Bumi mendapatkan haknya secara utuh."
Radhit menunduk dalam-dalam. Setiap kata yang diucapkan Vivian adalah kenyataan pahit yang harus ia telan, namun ia tahu ia tak punya hak sedikit pun untuk menawar. Ini adalah konsekuensi abadi atas kehancuran yang pernah ia ciptakan.
"Saya mengerti..." jawab Radhit parau. "Saya berjanji, Vi. Saya akan menghormati setiap batas yang kamu buat. Rumah itu... tidak akan pernah menjadi neraka buat kamu lagi."
Dua hari kemudian, mobil MPV hitam yang membawa Vivian, Bumi, dan Radhit akhirnya memasuki gerbang besi menjulang di kawasan perumahan elit ibu kota.
Gerbang yang dulu terasa seperti pintu penjara bagi Vivian kini terbuka lebar. Halaman rumput yang luas dan pepohonan rimbun menyambut kedatangan mereka. Vivian mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat saat mobil berhenti tepat di depan pilar-pilar megah rumah utama.
Bumi melongokkan kepalanya dari jendela mobil dengan mata berbinar. "Wah... Rumah Ayah besar banget!"
Radhit tersenyum tipis menatap anaknya, lalu buru-buru turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Vivian dengan penuh kehati hatian. Vivian merapikan gaun sederhananya, menarik napas dalam-dalam sebelum menginjakkan kakinya di atas marmer teras.
Saat pintu utama yang terbuat dari kayu jati ukir terbuka... Vivian seketika terpaku di ambang pintu.
Matanya meneliti seluruh sudut ruangan. Tidak ada lagi pilar-pilar kelam berkorden tebal yang dulu memberinya rasa tertekan. Seluruh dinding kini dicat dengan warna krem hangat yang lembut. Pencahayaan matahari masuk dengan leluasa melalui jendela-jendela kaca besar yang baru dipasang.
Sofa-sofa kaku bertema klasik telah diganti dengan furnitur minimalis yang nyaman, dan di sudut ruang tamu utama, terdapat area bermain anak yang dilengkapi matras warna-warni dan rak buku kecil.
Rumah yang dulu terasa dingin dan mematikan itu... kini dirombak total menjadi rumah yang terang, ramah, dan penuh dengan aura hangat.
"Mas..." bisik Vivian menahan napas, matanya berembun menatap perubahan drastis itu.
Radhit berdiri dua langkah di belakang Vivian, menunduk dengan kerendahan hati. "Saya sudah merobohkan dan merenovasi total seluruh ruangan yang pernah menyimpan kenangan buruk kamu, Vi. Kamar kamu di lantai dua... sudah saya desain ulang sesuai warna kesukaan kamu. Tidak ada lagi jejak masa lalu di rumah ini."
Vivian membalikkan badannya, menatap Radhit dengan batin yang terguncang. Pria ini benar-benar telah membuang seluruh egonya demi memberi rasa aman yang nyata baginya dan Bumi.
Malam harinya, setelah Bumi tertidur lelap di kamar barunya yang luas, Vivian melangkah pelan menuju balkon lantai dua untuk menikmati angin malam kota.
Saat ia memandang ke arah gerbang luar yang temaram, mata Vivian mendadak menangkap siluet sebuah mobil sedan merah mewah yang terparkir secara diam-diam di seberang jalan raya.
Kaca mobil itu diturunkan perlahan. Dari balik kegelapan dalam mobil, tampak seorang wanita berambut gelombang dengan riasan tebal dan kacamata hitam Clarissa.
Clarissa menatap ke arah balkon tempat Vivian berdiri dengan tatapan mata yang dipenuhi dendam kebencian dan rasa tidak terima yang mendalam. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi hingga kuku-kukunyah yang dicat merah menyala tampak bergetar.
“Jadi wanita desa itu beneran berani balik ke rumah ini setelah bikin Radhit melempar aku keluar?” bisik Clarissa dengan nada dingin yang beracun.
Clarissa merogoh ponselnya, lalu menekan sebuah nomor di papan tombol seraya mengukir senyum licik yang mematikan.
"Persiapkan rencananya sekarang. Saya tidak peduli kalau harus menggunakan cara kotor... wanita itu dan anak haramnya tidak boleh menikmati harta Radhit sedikit pun!"
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian