NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Hujan deras menghantam kaca jendela ruang rapat di lantai lima puluh Gedung Adiraja Group, menciptakan distorsi pada pemandangan kelam kota Jakarta di luar sana. Namun, badai sesungguhnya sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.

Naya berdiri di ujung meja oval dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah grafik berwarna merah yang terpampang di layar proyektor raksasa. Di sekeliling meja, jajaran direksi dan manajer operasional duduk dengan wajah tegang, nyaris tidak berani bernapas terlalu keras.

"Pailit?" suara Naya memecah keheningan, mengalun dingin dan mematikan. "Bagaimana mungkin perusahaan kontraktor utama sebesar Tirta Corp menyatakan pailit dalam semalam, tepat di saat megaproyek resor Labuan Bajo kita sudah mencapai tahap konstruksi lima puluh persen?"

Seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai Direktur Keuangan berdehem dengan gugup, mengusap keringat dingin di dahinya. "Ada skandal penggelapan dana internal berskala masif, Bu Naya. Pemiliknya kabur ke luar negeri. Rekening perusahaan mereka dibekukan oleh kejaksaan pagi ini. Konstruksi terhenti total."

Naya memejamkan mata sejenak, menekan pelipisnya. Megaproyek Labuan Bajo adalah proyek ambisius pertama yang ia cetuskan sejak menjabat sebagai Direktur Utama Adiraja Hospitality. Ayah angkatnya, Tuan Adiraja, telah memberikan kepercayaan penuh sekaligus kucuran dana triliunan rupiah kepadanya. Gagal bukanlah sebuah pilihan. Jika proyek ini mangkrak, reputasi yang telah ia bangun dengan darah dan air mata selama dua tahun terakhir akan hancur lebur.

"Kita butuh investor dan mitra operasional baru. Hari ini juga," putus Naya dengan nada mutlak, membuka matanya kembali. "Saya butuh raksasa. Seseorang yang memiliki infrastruktur logistik dan kekuatan finansial tanpa batas untuk mengambil alih puing-puing yang ditinggalkan Tirta Corp dan menyelesaikannya tepat waktu."

Ruangan kembali hening. Mencari perusahaan berskala raksasa yang bersedia mengambil alih proyek bermasalah di tengah jalan adalah hal yang nyaris mustahil.

Dari sudut meja, Dimas—mantan tangan kanan Kafka yang kini setia menjadi Kepala Divisi Operasional Naya—mengangkat wajahnya.

"Hanya ada satu entitas di Asia Tenggara yang mampu menelan proyek sebesar Labuan Bajo dalam waktu dua puluh empat jam tanpa mengedipkan mata, Bu Naya," ucap Dimas dengan nada sangat hati-hati. "Tapi... mendekati pucuk pimpinannya adalah hal yang sangat sulit. Orang ini tidak butuh uang kita. Dia yang mendikte pasar."

Naya menoleh. "Siapa?"

"Eylo Lais," jawab Dimas.

Mendengar nama itu disebut, beberapa direktur di ruangan tersebut refleks menahan napas. Nama itu bukan sekadar nama seorang pengusaha; itu adalah sebuah legenda hidup di dunia korporat.

Eylo Lais adalah CEO tunggal dari Lais Holdings, kerajaan bisnis yang menguasai sektor properti kelas dunia, logistik, dan investasi lintas benua. Pria itu baru berusia awal tiga puluhan, namun kekejamannya di meja negosiasi membuat para konglomerat tua bergidik ngeri. Dia dikenal sebagai apex predator—predator puncak.

"Lais Holdings memiliki sayap konstruksi yang jauh lebih canggih dari Tirta Corp," lanjut Dimas menjelaskan. "Masalahnya, Tuan Eylo sangat tertutup. Dia reklusif. Mendapatkan jadwal pertemuannya lebih sulit daripada meminta audiensi dengan presiden. Asistennya membuang ratusan proposal bernilai triliunan rupiah setiap pagi ke mesin penghancur kertas tanpa repot-repot membacanya. Dia tidak mencari rekanan bisnis; dia hanya mengakuisisi apa yang dia suka."

"Kalau begitu, buat dia menyukai proyek Labuan Bajo kita," balas Naya tanpa keraguan.

Riri, asisten pribadi Naya, membuka tabletnya dengan cepat. "Bu Naya, mencoba mengirimkan proposal melalui jalur resmi akan sia-sia. Tapi... malam ini, Lais Holdings menggelar acara lelang seni amal tertutup di grand ballroom The Ritz. Tuan Eylo dikonfirmasi akan hadir selama satu jam. Aksesnya sangat terbatas, hanya untuk VVIP dan tamu undangan eksklusif."

Naya menundukkan pandangannya sejenak. Tangannya tanpa sadar naik ke dadanya, menyentuh siluet cincin Cartier di balik blus suteranya. Cincin peninggalan Kafka itu seolah memberikan degup kekuatan tambahan. Ia telah berjanji pada keluarga Adiraja untuk membesarkan perusahaan ini. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang kegagalan merusak mahakarya yang sedang ia bangun.

"Riri," Naya menatap asistennya dengan sorot mata setajam elang. "Kosongkan seluruh jadwal saya malam ini. Hubungi relasi Papa di jajaran penyelenggara lelang. Berapa pun harga mejanya, pastikan nama saya ada di daftar VVIP malam ini."

Tujuh jam kemudian, Naya melangkah turun dari mobil mewahnya di depan lobi The Ritz.

Naya tidak mengenakan setelan blazer kerjanya. Malam ini, ia mengenakan gaun malam halter-neck berbahan beludru warna zamrud gelap yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Belahan gaun yang tinggi memperlihatkan kaki jenjangnya setiap kali ia melangkah. Rambutnya ditata dengan gaya sanggul rendah yang elegan, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya. Riasannya tajam, memancarkan aura dominasi seorang ratu yang siap berperang.

Begitu ia memasuki grand ballroom yang dipenuhi oleh karya seni miliaran rupiah dan para sosialita papan atas, mata Naya langsung memindai seluruh penjuru ruangan.

Di tengah hiruk-pikuk denting gelas sampanye dan obrolan formal, suasana di sudut paling eksklusif dari ballroom itu terasa anehnya sunyi. Seolah ada dinding tak kasat mata yang membuat orang-orang segan untuk mendekat.

Di sanalah ia berdiri. Eylo Lais.

Pria itu sedang memegang segelas bourbon, menatap lukisan abstrak di dinding tanpa ekspresi. Eylo memiliki postur menjulang yang memancarkan karisma mematikan. Ia mengenakan setelan tuxedo hitam dengan potongan bespoke tanpa cela, dasi kupu-kupu yang sengaja dilonggarkan, memberikan kesan acuh tak acuh yang arogan. Rahangnya setajam pahatan marmer, rambut gelapnya disisir rapi ke belakang.

Namun, hal yang paling menonjol dari Eylo Lais adalah sorot matanya. Mata Eylo Lais adalah hamparan gletser kutub yang membekukan. Tidak ada emosi di sana. Hanya dingin dan kebosanan yang absolut terhadap dunia di sekelilingnya.

Beberapa CEO wanita dan sosialita cantik tampak berusaha mencari perhatian pria itu dari kejauhan, namun tidak ada satu pun yang berani melangkah melintasi batas imaginer penjagaan para pengawalnya yang tersebar di titik-titik buta.

Naya menarik napas panjang. Ia mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat, menstabilkan bahunya, dan melangkah lurus membelah kerumunan, mengabaikan tatapan heran dari para tamu lainnya.

Dua orang pengawal berbadan tegap langsung melangkah maju, menghalangi jalan Naya tepat dua meter sebelum ia bisa mendekati Eylo.

"Maaf, Nona. Area privat," ucap salah satu pengawal dengan nada datar yang mengancam.

Eylo Lais, yang mendengar teguran pengawalnya, tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada lukisan di hadapannya, menganggap insiden itu hanyalah gangguan kecil lalat yang sering terjadi di setiap acara yang ia datangi.

Alih-alih mundur atau gentar, Naya justru menghentikan langkahnya dengan postur sempurna. Matanya menatap lurus ke arah punggung tegap pria tersebut. Suara Naya mengalun jernih, tajam, dan memotong keheningan di sudut ruangan itu bagaikan pisau bedah.

"Lukisan itu bernilai tujuh ratus juta, Tuan Lais. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk karya seniman amatir yang hanya menggunakan teknik murahan untuk menutupi minimnya filosofi," ucap Naya dengan sangat tenang. "Tapi sebagai seseorang yang membuang potensi keuntungan dua triliun rupiah di proyek Labuan Bajo hanya karena asisten Anda tidak kompeten menyaring proposal, saya rasa Anda memang terbiasa melakukan investasi yang bodoh."

Ruangan di sekitar mereka seketika membeku. Beberapa tamu yang mencuri dengar tersentak kaget, wajah mereka memucat. Tidak ada seorang pun—bahkan pejabat negara sekalipun—yang berani menghina intuisi bisnis seorang Eylo Lais secara langsung di depan wajahnya.

Bahu tegap Eylo Lais perlahan bergerak. Pria itu memutar tubuhnya.

Mata gletser yang sangat dingin dan mematikan itu akhirnya menatap Naya. Sorot mata Eylo menyapu penampilan Naya dari ujung hak sepatu hingga ke kedalaman matanya. Untuk pertama kalinya, tidak ada kebosanan di wajah arogan pria tersebut. Sebaliknya, rahang Eylo sedikit mengeras, dan alisnya terangkat perlahan, mendapati seorang wanita yang bukan hanya memiliki kecantikan yang melumpuhkan, tetapi juga keberanian seekor singa yang siap menerkam.

1
Bebe Honey
mantap ceritanya Kak...terima kasih 😍
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!