NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 23.

Gerimis tipis baru saja membasahi lapangan semen SMA Pancasila.

Di pinggir lapangan, Stella berdiri sambil mendekap sebuah kotak bekal warna merah muda menyala. Kontras sekali dengan jaket jins kebesaran dan rok abu-abunya yang sengaja dilipat satu lipatan di pinggang.

Matanya tidak lepas dari cowok bernomor punggung sepuluh yang baru saja meneguk air mineral dari botolnya sampai tandas.

Gibran. Kapten tim futsal, cowok yang kalau senyum tipis bisa bikin separuh siswi adik kelas histeris, dan target operasi tunggal Stella selama dua tahun terakhir.

"Gibran!" suara Stella melengking, membelah suara riuh sepatu karet yang bergesekan dengan lantai semen.

Beberapa anak futsal langsung menoleh, lalu kompak bersiul menggoda. "Yaaah, pawangnya dateng lagi Bran! Lu aman?!" celetuk Devan, sambil menyenggol bahu Gibran.

Gibran cuma menghela napas panjang. Dia mengusap peluh di dahinya dengan ujung jersi, sengaja memperlihatkan garis rahangnya yang tegas—tindakan refleks yang sebenarnya didorong oleh rasa gengsi karena posisinya sebagai kapten yang harus selalu terlihat cool. Dia berbalik, menatap Stella dengan ekspresi sedatar papan gilasan.

"Mau ngapain lagi, Stel?" tanya Gibran, nadanya sengaja dibuat dingin, menjaga jarak aman dua meter di antara mereka.

"Nih, buat lo. Gue masak lagi hari ini. Tenang, gak gue racunin kok. Paling cuma gue isi pelet dikit biar lo nempel terus," kata Stella blak-blakan, menyodorkan kotak bekal itu tanpa rasa malu.

Anak-anak futsal di belakang Gibran langsung heboh. "Sikat aja, Bran! Jarang-jarang ada cewek ugal-ugalan spek bidadari begini!"

Gibran melirik kotak bekal itu, lalu menatap Stella datar. Di dalam hatinya, kini ada sedikit rasa kasihan dan hangat yang menggelitik. Jujur, Stella itu manis. Sangat manis malah, dengan rambut dikuncir kuda acak-acakan dan mata yang selalu berbinar keras kepala.

Tapi...

halo? Dia ini Gibran. Kapten futsal yang punya reputasi dingin, tegas, dan tidak gampang takluk. Kalau dia langsung menerima bekal ini di depan anak-buahnya, runtuh sudah harga dirinya yang setinggi langit itu.

"Gak usah, Stel. Gue bawa minum sendiri. Lagian bentar lagi gue mau briefing sama pelatih," tolak Gibran ketus. Dia berbalik, berniat jalan ke bangku cadangan.

Stella justru maju tiga langkah, memotong jalan Gibran, dan langsung menjejalkan kotak bekal itu ke dada Gibran sampai cowok itu terpaksa menangkapnya agar tidak jatuh.

"Gak ada penolakan lagi, Kapten. Kalau gak habis, besok gue bawain porsi dua kali lipat. Pilih mana?" ancam Stella, matanya menyipit jenaka tapi ada keseriusan yang mutlak di sana.

Gibran membeku. Jarak mereka sekarang dekat sekali. Dia bisa mencium wangi shampoo stroberi dari rambut Stella yang mengalahkan bau keringat di lapangan. Dadanya berdegup sedikit lebih cepat, sebuah reaksi logis yang langsung dia sangkal habis-habisan dalam hati. Enggak, ini cuma karena cape sehabis latihan, pikirnya defensif.

"Lo bisa gak sih, punya urat malu dikit?" bisik Gibran, suaranya rendah, matanya menatap Stella tajam, mencoba mengintimidasi. "Semua orang ngeliatin, Stel. Jangan bikin drama."

Bukannya takut, Stella malah tersenyum lebar. Senyum yang membuat matanya membentuk bulan sabit. "Urat malu gue udah putus sejak hari pertama gue sadar kalau gue suka sama lo, Bran. Lagian, ngapain gengsi? Kita kan sama-sama tahu, lo sebenernya gak se-enggak peduli itu sama gue."

Skakmat.

Gibran menelan ludah. Kata-kata Stella tepat sasaran, dan itu mengusik egonya. Gibran benci fakta bahwa Stella bisa membaca sedikit celah di dinding pertahanan yang dia bangun susah payah.

"Terserah lo," ketus Gibran akhirnya. Dia berbalik dengan langkah cepat, membawa kotak bekal pink itu masuk ke dalam ruang ganti, mengabaikan sorakan "Ciyeee!" dari teman-temannya yang menggema di koridor.

Stella memandangi punggung Gibran yang menjauh dengan kepuasan tersendiri. Begitu punggung itu hilang di balik pintu, barulah bahunya sedikit merosot. Dia menghela napas panjang, melepaskan topeng "cewek petakilan yang ngejar cinta ugal-ugalan tanpa beban" yang sejak tadi dia pasang.

Tangannya yang tadi memegang bekal sebenarnya agak gemetar. Menjadi cewek yang mengejar secara agresif itu tidak mudah. Ada kalanya Stella merasa lelah dan ingin menyerah saja setiap kali melihat tatapan dingin Gibran.

"Gila ya lo, Stel. Masih aja ngejar Gibran?. Bucin lo udah masuk level kronis," sebuah suara familier membuat Stella menoleh. Rara berjalan mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala, memegang dua botol teh botol dingin. "Gue yang nonton dari jauh aja panik kalau lu ditolak lagi. Tadi Gibran mukanya udah kayak mau nelan lo hidup-hidup."

Stella menerima satu botol teh, lalu menempelkannya ke pipinya yang terasa panas. "Tapi dia bawa bekalnya kan? Gak dibalikin, gak dibuang. Hahaha"

"Iya, sih. Tapi lo gak capek apa dikit-dikit digasik gengsi tingkat dewa sama dia?" tanya Rara, nadanya berubah serius. Sebagai sahabat, Rara tahu betul seberapa besar usaha Stella, dan dia tidak mau melihat Stella berakhir patah hati parah.

Stella terdiam sesaat. Dia menatap lapangan futsal yang kini kosong. Di dalam ruang ganti yang jendelanya sedikit terbuka, dia bisa melihat Gibran sedang duduk di sudut, membuka kotak pink itu dan mulai memakan isinya secara sembunyi-sembunyi dari pandangan anak-anak lain.

Senyum Stella kembali terbit, kali ini lebih tipis dan tulus.

"Capek sih, Ra. Tapi tebak-tebakan kapan benteng gengsinya roboh itu jauh lebih seru. Dan gue yakin, bentengnya udah mulai retak."

Sementara itu, di dalam ruang ganti, Gibran mengunyah nasi goreng buatan Stella dengan khidmat. Rasanya agak keasinan, khas masakan pemula. Tapi anehnya, dia tidak bisa berhenti mengunyah.

"Enak, Bran?" goda Devan yang tiba-tiba muncul di sebelahnya.

Gibran langsung menutup kotak bekal itu dengan cepat, memasang kembali wajah datarnya. "Biasa aja. Daripada mubazir."

Devan tertawa renyah, menepuk bahu sang kapten. "Mubazir apa doyan? Ati-ati, Bran. Gengsi lo itu tinggi banget, entar kalau Stella capek terus balik kanan, baru tahu rasa lo."

Kata-kata Devan berlalu begitu saja, tapi entah kenapa meninggalkan gaung yang tidak nyaman di kepala Gibran.

Dia melirik ke luar jendela, mendapati Stella dan Rara sudah berjalan menjauh meninggalkan area lapangan. Ada secercah rasa kehilangan yang aneh saat sosok berjaket jins itu hilang di belokan koridor. Gibran menghela napas, menatap kotak pink di tangannya, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Cewek aneh."

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!