JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badut di Depan Sang Algojo
Kekecewaan dan rasa keputusasaan yang meremukkan dadaku semalam masih menyisakan sesak yang begitu menghimpit. Mutiara Laut Dalam, tiket kebebasan dan harapan tunggal untuk menyembuhkan Ayah serta merubah nasib keluargaku, kini tergeletak begitu saja di atas meja kristal Pangeran Nataniel, tak tersentuh bagaikan pajangan murah yang tak bernilai.
Setiap kali mataku tak sengaja melirik kilatan kebiruan dari mutiara itu, rasanya ada sembilu yang mengiris-iris ulu hatiku. Namun, di tempat gila yang dikuasai iblis bawah laut ini, tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Kehilangan Mutiara Laut Dalam memang menghancurkan jiwaku, tapi kehilangan kepala di atas leher akan mengakhiri segalanya secara permanen.
Pagi berlalu menjadi siang, dan siang berganti menjadi malam di Teluk Bayangan tanpa pernah ada pendaran sinar matahari yang hangat.
Di dalam kamar utama yang megah dan membeku itu, Pangeran Nataniel duduk bersandar tegap di atas tahta koral hitamnya. Jubah bertabur benang emasnya terurai anggun, sementara jemari esnya yang panjang mengetuk-ngetuk sandaran tangan secara teratur.
*Tak... Tak... Tak...*
Suara ketukan jemarinya bergema lambat di seluruh penjuru ruangan, menciptakan irama monoton yang justru menyebarkan tekanan aura intimidasi yang teramat membunuh. Iris mata keemasannya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong yang menyiratkan kejenuhan tingkat tinggi.
"Babu," panggil Nataniel tiba-tiba. Suara berat dan dingin nya memecah keheningan kamar yang mencekam.
Aku yang sedang berdiri kaku di sudut ruangan, masih dalam balutan bikini perak mini dan rumbai kain pinggul yang irit bahan, seketika tersentak kaget. Aku buru-buru melangkah maju beberapa tindak, membungkukkan badan serendah-rendahnya di hadapan sang penguasa samudra.
"H-Hamba, Paduka yang Maha Agung..." sahutku dengan nada suara yang diusahakan sepatuh mungkin, walau jantungku di dalam dada sudah berdegup kencang bagai tabuh perang.
Nataniel menghentikan ketukan jemarinya. Ia perlahan memiringkan kepala, menatapku dari ujung rambut cokelatku yang bergelombang hingga ke telapak kakiku yang tak beralas. Tatapan matanya begitu tajam, menelisik setiap inci tubuhku seolah sedang menguliti jiwa dan kesadaranku secara perlahan.
"Lagu pujian buatanmu semalam sudah basi," cetus Nataniel datar, tanpa ada setitik pun kehangatan dalam nada bicaranya. "Cerita-cerita manusia yang kau bualkan di hari-hari pertama pun mulai terasa hambar di telingaku. Malam ini, aku merasa teramat bosan."
("Bosan?! Oalah pangeran duyung gila hormat!") jerit batinku histeris seraya memutar bola mata secara mental. ("Setiap hari gawenya cuma berburu manusia, menyiksa orang, sama duduk tegap di atas kursi koral, ya jelas aja bosan! Kau pikir aku ini saluran televisi kabel yang bisa ganti-ganti acara sesuai selera mukamu yang super ganteng tapi minus nurani itu?!")
Meski batin penuh dengan makian berdarah-darah, wajahku tetap menampilkan senyuman manis nan polos yang paling ikhlas. "Apabila Paduka merasa bosan, apakah Paduka ingin hamba merajutkan kisah dongeng baru tentang kerajaan di atas awan, atau mungkin..."
"Tidak," potong Nataniel cepat. Ia memajukan sedikit tubuh tegapnya, menopang dagunya dengan sebelah tangan seraya menyunggingkan senyuman miring yang teramat berbahaya. "Aku tidak ingin mendengar dongeng mendayu-dayu lagi. Malam ini, aku ingin melihat pertunjukan komedi."
*Deg!*
Langkah kakiku mendadak goyah. Mataku membelalak sempurna menatap wajah tampannya yang penuh dengan keangkuhan mutlak.
"K-Komedi, Paduka?" ulangku memastikan, takut kalau-kalau indra pendengaranku yang terpapar air laut ini salah menangkap kata-kata sang pangeran.
"Kau tidak tuli, Babu," desis Nataniel dingin. Iris mata keemasannya berkilat membunuh, memancarkan aura kegelapan pekat yang seketika membuat suhu di dalam kamar turun drastis hingga membekukan udara. "Buat aku tertawa. Pertunjukkan komedi konyol dari bangsamu. Jika dalam sepuluh menit pertunjukanmu sama sekali tidak lucu dan tidak sanggup memancing tawa dari bibirku... aku akan memotong kedua kaki manusiamu ini dan melempar sisa tubuhmu ke kandang monster Hiu Purba di dasar tebing."
Ancaman kematian yang terlontar dari bibir indahnya begitu santai, seolah-olah ia hanya sedang membahas cuaca malam ini. Namun, aura membunuh yang meledak dari tubuh Nataniel tidak main-main. Pria itu benar-benar berniat mengeksekusiku jika aku gagal menghiburnya!
("Gila! Ini pangeran bener-bener gila!") jeritku histeris dalam hati, peluh dingin langsung membasahi pelipis dan punggungku yang terbuka. ("Lucu dari mananya coba?! Orang lagi tertekan setengah mati disuruh ngelawak di depan algojo pencabut nyawa! Kalau di daratan, komika aja butuh waktu berbulan-bulan buat bikin materi stand-up comedy, lah ini aku disuruh ngelawak mendadak dengan taruhan nyawa! Ya Tuhan, panggil semua jiwa komedi kiravers! Kalau aku mati di sini cuma gara-gara gagal ngelawak, arwahku nggak bakal tenang!")
Aku memeras otakku setengah mati. Waktu terus berjalan, dan tatapan Nataniel makin menusuk tajam, menunggu gerakan pertamaku bagaikan seekor singa yang siap menerkam mangsanya yang terpojok.
Aku menarik napas panjang, merapikan rambut cokelatku, lalu menarik napas dalam-dalam. Tidak ada pilihan lain. Aku harus membuang seluruh harga diri dan martabatku ke dasar samudra terbawah demi mempertahankan leherku!
Aku mengambil satu langkah ke depan, lalu tiba-tiba melompat kecil seraya mengibaskan kedua tanganku di udara bagaikan seekor burung kepak yang kehilangan keseimbangan.
"Ehem! Baik, Paduka yang Maha Tinggi!" seruku dengan intonasi suara yang sengaja dibuat melengking konyol dan heboh. "Malam ini, hamba akan mempersembahkan sebuah tarian dan drama komedi tunggal berjudul... *'Tragedi Manusia Kota Saat Kejatuhan Dompet'*"
Aku mulai melangkah berlari-lari kecil melingkari area tengah kamar yang megah itu. Tubuh mungilku yang hanya berbalut bikini perak mini bergerak secara hiperaktif dan tidak wajar. Aku memperagakan gaya seorang pria kaya di daratan yang sedang berjalan dengan sombong, menepuk-nepuk dada dengan dagu terangkat tinggi.
"Lihatlah aku! Aku adalah manusia paling kaya di daratan!" seruku seraya mengubah intonasi suaraku menjadi berat dan dibuat-buat, memperagakan ekspresi wajah penuh keangkuhan yang sangat konyol. "Uangku banyak! Emasku melimpah! Aku sanggup membeli seluruh jepit rambut di pasar!"
Lalu, secara mendadak, aku berpura-pura meraba kantung celanaku. Wajahku berubah drastis dari sombong menjadi melotot panik secara berlebihan. Kedua mataku kubuat juling, dan mulutku terbuka lebar hingga membentuk huruf 'O' yang sangat lebar.
"T-Tunggu dulu! Mana dompetku?!" jeritku dengan nada melengking panik, menyelimuti tubuhku sendiri dengan gerakan menepuk-nepuk paha dan pinggul secara brutal dan kacau. "Dompet kulit sapiku hilang! Uang kertas gambar pahlawanku raib! Waduh! Bagaimana aku bisa membayar mie rebus di kedai rose malam ini?!"
Aku menjatuhkan tubuhku secara sengaja ke atas lantai koral yang basah dengan posisi bertumpu pada kedua lutut, lalu berpura-pura menangis histeris seraya mengacak-acak rambut cokelatku sendiri hingga berantakan bagaikan sarang burung.
"Aplikasi dompet digitalku terblokir! Uang cash tinggal dua ribu perak! Ya Tuhan... haruskah aku menggadaikan celana dalam bergambar kartun ini demi semangkuk bakso?!" ratapku dengan gaya teatrikal yang sangat berlebihan, berguling-guling konyol di atas lantai koral seraya menendang-nendangkan kedua kakiku ke udara bagaikan anak kecil yang mengamuk tidak dibelikan mainan.
Aku terus bergerak konyol, memperagakan berbagai mimik wajah jelek yang dibuat-buat, menirukan suara ayam tercekik, suara kucing masuk angin, hingga menirukan gaya pejabat daratan yang kaget saat terkena razia. Seluruh tubuhku bergerak tanpa henti, membuang jauh-jauh rasa malu yang tersisa dalam diriku.
Namun... di tengah aksiku yang begitu heboh dan gila-gilaan, mataku melirik ke arah tahta koral hitam. Seketika itu pula, tubuhku terasa membeku di tempat.
Pangeran Nataniel sama sekali tidak tertawa.
Tidak ada senyuman miring, tidak ada kekehan langka, apalagi tawa terbahak-bahak dari bibirnya. Sang Pangeran Siren justru duduk menyandarkan tubuhnya dengan sangat dingin. Kedua iris mata keemasannya menyala redup dalam kegelapan, menatap seluruh aksi konyolku dengan kilat mata membunuh yang teramat pekat dan mengerikan.
Raut wajahnya datar bagaikan batu nisan, seolah-olah ia baru saja menyaksikan seekor serangga bodoh yang sedang menggeliat memalukan di atas tanah sebelum diinjak sampai hancur.
Aura permusuhan dan ancaman kematian melayang pekat di sekeliling tubuhnya. Pandangan matanya seolah menyampaikan pesan tersirat: *'Apakah bualan konyol ini yang kau sebut komedi, Serangga?'*
Gumpalan saliva terasa amat menyumbat di tenggorokanku. Keringat dingin mengucur makin deras membasahi dahi dan leherku. Aksi guling-guling konyolku perlahan terhenti. Aku terduduk kaku di atas lantai koral dengan rambut berantakan dan pakaian minim yang berantakan, menatap Nataniel dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat.
("M-Mati aku...") bisik batin ketakutanku yang teramat sangat, napasku memburu cepat bagai diburu setan. ("Dia nggak tertawa sama sekali! Bahkan nggak tersenyum sedikit pun! Muka iblisnya malah makin kelihatan kayak mau mencincang dagingku jadi umpan piranha! Ya Tuhan... waktu sepuluh menitnya hampir habis!")
Di tengah kepanikan yang membakar seluruh saraf jiwaku, aku melihat Nataniel perlahan-lahan menegakkan posisi duduknya. Tangannya yang panjang meraih tombak perak bermata tiga yang bersandar di samping tahtanya. Pendaran energi sihir hijau pembunuh mulai merebak dari ujung mata tombak tersebut, memantulkan bayangan wajah tampannya yang dingin tanpa ampun.
"Penampilan yang sangat menjijikkan dan membuang-buang waktuku, Babu," ujar Nataniel dengan suara berat yang teramat datar, namun sanggup meremukkan keberanian siapa pun yang mendengarnya. "Sama sekali tidak ada hal yang lucu dari aksi cacing kepanasanmu itu."
Nataniel mengarahkan mata tombak peraknya tepat ke arah dadaku dari kejauhan.
"Persiapkan leher dan kaki mu," desis Nataniel dingin. "Hukuman Hiu Purba menunggumu di luar."
⭐⭐⭐⭐⭐
Waduh, berabe banget nih Kiravers!! Maksud hati Alessia mau ngelawak biar lehernya selamat, eh Pangeran Nataniel malah makin murka karena menganggap aksinya menjijikkan! 😱 persiapan dihukum mati nih!
Gimana cara Alessia menyelamatkan kakinya dari mata tombak Nataniel? Yuk, jangan lupa tinggalkan jejak dengan klik LIKE, KOMENTAR heboh kalian, dan VOTE cerita ini ya! Siap lanjut ke Bab 10? 🔥