NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah

Arka mengulurkan ibu jarinya, bergerak secara refleks mengusap noda tanah hitam yang menempel di pipi mulus Naya. Sentuhan kulit yang mendadak itu terasa hangat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat keduanya seketika membeku di tempat.

Mata mereka beradu dari jarak yang sangat dekat. Udara sore di taman seolah berhenti berputar. Naya bisa melihat pantulan dirinya di dalam manik mata elang Arka yang kini memancarkan rasa butuh dan kekaguman yang sangat dalam, sementara Arka bisa merasakan betapa halusnya kulit wanita yang selama ini ia anggap sebagai pekerja kontrak.

Naya menjadi yang pertama menguasai diri. Ia mundur satu langkah dengan anggun, memutus sentuhan tangan Arka dengan keanggunan yang mutlak.

"Terima kasih. Saya bisa membersihkannya sendiri di kamar," ucap Naya, suaranya tetap stabil dan tenang, meskipun ada sedikit rona merah samar yang kini terbit di kedua pipinya.

Naya berbalik dan berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah dengan punggung yang tegak lurus, meninggalkan Arka yang masih berdiri terpaku di taman sambil menatap ibu jarinya sendiri dengan debaran jantung yang makin tidak karuan.

Di sore yang hangat itu, di antara pot bunga matahari yang baru ditanam, Arka menyadari satu kenyataan pahit: dinding pembatas di hatinya tidak lagi sekadar retak, melainkan sudah mulai runtuh berkeping-keping oleh kekuatan sunyi seorang Nayara.

***

Malam pun tiba...

Suara hantaman dokumen di atas meja kerja mahoni bergema keras, merobek kesunyian malam di ruang kerja Arkananta. Pria itu berdiri dengan napas yang memburu kasar, kedua tangannya bertumpu di pinggiran meja dengan urat-urat yang menonjol di pergelangan tangannya.

"Bagaimana bisa konsorsium Maheswari menarik diri dari proyek tender di Jakarta Pusat secara mendadak?!" geram Arka, suaranya bariton merendah, menahan amarah yang siap meledak.

Di layar laptop yang masih menyala, wajah sekretaris pribadinya tampak tegang melalui sambungan panggilan video. "Mohon maaf, Tuan Arka. Ibu Clarissa secara pribadi yang memimpin rapat direksi Maheswari sore tadi. Mereka menggunakan klausul pembatalan sepihak dengan alasan kestabilan internal Dewangga Group yang mereka anggap sedang tidak menentu pascapernikahan mendadak Anda."

"Alasan konyol! Ini murni sabotase pribadi!" Arka mematikan sambungan video itu dengan satu hentakan kasar pada tombol laptopnya.

Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, menyugar rambutnya dengan frustrasi. Clarissa benar-benar menepati ancamannya. Wanita itu menggunakan kekuasaan bisnis keluarganya untuk menjepit posisi Arka di bursa saham, mencoba memancingnya agar membuat kesalahan atau membongkar rahasia pernikahannya dengan Naya. Tekanan pekerjaan yang bertubi-tubi sejak pagi membuat kepala Arka terasa seperti mau pecah.

Dengan emosi yang masih membara di dada, Arka membuka pintu ruang kerjanya dan melangkah turun ke lantai bawah, bermaksud mengambil air es di dapur bersih untuk mendinginkan kepalanya. Namun, begitu kakinya menginjak undakan tangga terakhir, sebuah suara cempreng yang riang menyambutnya.

"Papa! Lihat, Kenzie bikin robot dari kardus bekas sama Mama!"

Kenzie berlari dari arah ruang tengah, membawa sebuah bentukan kardus yang tidak rapi dengan wajah penuh binar kebahagiaan. Bocah itu tanpa tahu situasi langsung memeluk kaki Arka dengan erat.

"Papa, ayo main sama Kenzie! Robotnya bisa jalan kalau dipegang Papa!" rengek Kenzie, menarik-narik ujung celana kain Arka.

Arka yang saat itu sedang berada di puncak kejenuhannya akibat tekanan Clarissa, seketika kehilangan kendali atas emosinya sendiri. Ia menarik kakinya dengan sentakan yang agak kasar, membuat Kenzie terdorong mundur satu langkah.

"Kenzie, stop! Papa sedang lelah! Jangan mengganggu Papa dengan mainan konyol seperti itu!" bentak Arka, suaranya meninggi, menggelegar di ruang tengah yang sepi.

Suasana seketika membeku.

Kenzie tertegun. Mata bulat bocah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berkaca-kaca. Mainan kardus di tangannya terlepas, jatuh begitu saja di atas lantai marmer. Detik berikutnya, tangis Kenzie pecah. Bocah itu menangis histeris, ketakutan setengah mati melihat wajah papanya yang tampak sangat menyeramkan malam ini. Trauma masa lalunya saat melihat pertengkaran kedua orang tuanya dulu seolah memercik kembali.

Naya, yang sejak tadi membereskan sisa kardus di ruang tengah, langsung melangkah cepat. Wajah tenangnya tidak berubah panik, namun sepasang mata bulatnya menatap Arka dengan pandangan yang sangat tajam dan sedingin es—sebuah tatapan penuh teguran yang membuat Arka seketika tersadar dari amarahnya.

Naya berlutut, langsung menarik Kenzie ke dalam dekapan hangatnya. Ia mengusap punggung bocah itu dengan gerakan teratur, menempelkan pipinya ke kepala Kenzie.

"Ssst ... Kenzie anak kuat, tidak apa-apa. Papa tidak bermaksud memarahi Kenzie. Papa hanya sedang lelah karena bekerja," bisik Naya lembut, suaranya yang stabil menjadi penawar instan bagi tangis histeris Kenzie. "Ikut Mama ke kamar yuk? Kita lanjut ceritanya di atas."

Kenzie mengangguk di sela tangisnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naya. Naya berdiri, menggendong Kenzie dengan mantap tanpa memandang Arka sedikit pun, lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar tidur anak.

Arka berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap mainan kardus yang tergeletak di lantai. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika menghantam dadanya, meruntuhkan sisa-sisa amarahnya tentang pekerjaan. Ia baru saja menyakiti anak yang paling ingin ia lindungi.

***

Tiga puluh menit berlalu. Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Kenzie sudah tertidur lelap setelah ditenangkan oleh dongeng lembut dari Naya.

Arka duduk di sofa ruang tengah, menumpukan kedua tangannya di wajah dengan frustrasi. Langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar mendekat dari arah tangga. Arka mendongak, mendapati Naya berjalan ke arahnya. Jubah tidur pastelnya terpasang rapi, dan wajah tenangnya memancarkan kekuatan sunyi yang sangat mengintimidasi.

Naya tidak duduk. Ia berdiri di depan Arka, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan ketegasan yang mutlak.

"Jika Anda membawa masalah kantor ke dalam rumah ini lagi, Tuan Arka, saya tidak akan ragu untuk membawa Kenzie keluar dari rumah ini, bahkan jika saya harus melanggar kontrak," ucap Naya, suaranya mengalun sangat tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki bobot ancaman yang nyata.

Arka menghela napas berat, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Clarissa menutup beberapa proyek besarku, Naya. Saham Dewangga terganggu. Aku sedang tidak bisa berpikir jernih tadi."

"Saya tidak peduli seberapa hancur saham perusahaan Anda di luar sana, Tuan Arka," potong Naya dingin, bicaranya terstruktur rapi tanpa emosi yang meluap-luap. "Tugas Anda di kantor adalah menjadi pemimpin, tapi tugas Anda di rumah ini adalah menjadi seorang ayah. Kenzie tidak tahu apa-apa tentang proyek Anda atau tentang Clarissa. Dia hanya tahu papanya sudah pulang dan dia ingin menunjukkan dunianya kepada Anda."

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!