NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:154.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Ketika Dunia Kerja Mengusik Rumah

Arka mengulurkan ibu jarinya, bergerak secara refleks mengusap noda tanah hitam yang menempel di pipi mulus Naya. Sentuhan kulit yang mendadak itu terasa hangat, mengirimkan sengatan listrik yang membuat keduanya seketika membeku di tempat.

Mata mereka beradu dari jarak yang sangat dekat. Udara sore di taman seolah berhenti berputar. Naya bisa melihat pantulan dirinya di dalam manik mata elang Arka yang kini memancarkan rasa butuh dan kekaguman yang sangat dalam, sementara Arka bisa merasakan betapa halusnya kulit wanita yang selama ini ia anggap sebagai pekerja kontrak.

Naya menjadi yang pertama menguasai diri. Ia mundur satu langkah dengan anggun, memutus sentuhan tangan Arka dengan keanggunan yang mutlak.

"Terima kasih. Saya bisa membersihkannya sendiri di kamar," ucap Naya, suaranya tetap stabil dan tenang, meskipun ada sedikit rona merah samar yang kini terbit di kedua pipinya.

Naya berbalik dan berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah dengan punggung yang tegak lurus, meninggalkan Arka yang masih berdiri terpaku di taman sambil menatap ibu jarinya sendiri dengan debaran jantung yang makin tidak karuan.

Di sore yang hangat itu, di antara pot bunga matahari yang baru ditanam, Arka menyadari satu kenyataan pahit: dinding pembatas di hatinya tidak lagi sekadar retak, melainkan sudah mulai runtuh berkeping-keping oleh kekuatan sunyi seorang Nayara.

***

Malam pun tiba...

Suara hantaman dokumen di atas meja kerja mahoni bergema keras, merobek kesunyian malam di ruang kerja Arkananta. Pria itu berdiri dengan napas yang memburu kasar, kedua tangannya bertumpu di pinggiran meja dengan urat-urat yang menonjol di pergelangan tangannya.

"Bagaimana bisa konsorsium Maheswari menarik diri dari proyek tender di Jakarta Pusat secara mendadak?!" geram Arka, suaranya bariton merendah, menahan amarah yang siap meledak.

Di layar laptop yang masih menyala, wajah sekretaris pribadinya tampak tegang melalui sambungan panggilan video. "Mohon maaf, Tuan Arka. Ibu Clarissa secara pribadi yang memimpin rapat direksi Maheswari sore tadi. Mereka menggunakan klausul pembatalan sepihak dengan alasan kestabilan internal Dewangga Group yang mereka anggap sedang tidak menentu pascapernikahan mendadak Anda."

"Alasan konyol! Ini murni sabotase pribadi!" Arka mematikan sambungan video itu dengan satu hentakan kasar pada tombol laptopnya.

Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, menyugar rambutnya dengan frustrasi. Clarissa benar-benar menepati ancamannya. Wanita itu menggunakan kekuasaan bisnis keluarganya untuk menjepit posisi Arka di bursa saham, mencoba memancingnya agar membuat kesalahan atau membongkar rahasia pernikahannya dengan Naya. Tekanan pekerjaan yang bertubi-tubi sejak pagi membuat kepala Arka terasa seperti mau pecah.

Dengan emosi yang masih membara di dada, Arka membuka pintu ruang kerjanya dan melangkah turun ke lantai bawah, bermaksud mengambil air es di dapur bersih untuk mendinginkan kepalanya. Namun, begitu kakinya menginjak undakan tangga terakhir, sebuah suara cempreng yang riang menyambutnya.

"Papa! Lihat, Kenzie bikin robot dari kardus bekas sama Mama!"

Kenzie berlari dari arah ruang tengah, membawa sebuah bentukan kardus yang tidak rapi dengan wajah penuh binar kebahagiaan. Bocah itu tanpa tahu situasi langsung memeluk kaki Arka dengan erat.

"Papa, ayo main sama Kenzie! Robotnya bisa jalan kalau dipegang Papa!" rengek Kenzie, menarik-narik ujung celana kain Arka.

Arka yang saat itu sedang berada di puncak kejenuhannya akibat tekanan Clarissa, seketika kehilangan kendali atas emosinya sendiri. Ia menarik kakinya dengan sentakan yang agak kasar, membuat Kenzie terdorong mundur satu langkah.

"Kenzie, stop! Papa sedang lelah! Jangan mengganggu Papa dengan mainan konyol seperti itu!" bentak Arka, suaranya meninggi, menggelegar di ruang tengah yang sepi.

Suasana seketika membeku.

Kenzie tertegun. Mata bulat bocah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berkaca-kaca. Mainan kardus di tangannya terlepas, jatuh begitu saja di atas lantai marmer. Detik berikutnya, tangis Kenzie pecah. Bocah itu menangis histeris, ketakutan setengah mati melihat wajah papanya yang tampak sangat menyeramkan malam ini. Trauma masa lalunya saat melihat pertengkaran kedua orang tuanya dulu seolah memercik kembali.

Naya, yang sejak tadi membereskan sisa kardus di ruang tengah, langsung melangkah cepat. Wajah tenangnya tidak berubah panik, namun sepasang mata bulatnya menatap Arka dengan pandangan yang sangat tajam dan sedingin es—sebuah tatapan penuh teguran yang membuat Arka seketika tersadar dari amarahnya.

Naya berlutut, langsung menarik Kenzie ke dalam dekapan hangatnya. Ia mengusap punggung bocah itu dengan gerakan teratur, menempelkan pipinya ke kepala Kenzie.

"Ssst ... Kenzie anak kuat, tidak apa-apa. Papa tidak bermaksud memarahi Kenzie. Papa hanya sedang lelah karena bekerja," bisik Naya lembut, suaranya yang stabil menjadi penawar instan bagi tangis histeris Kenzie. "Ikut Mama ke kamar yuk? Kita lanjut ceritanya di atas."

Kenzie mengangguk di sela tangisnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naya. Naya berdiri, menggendong Kenzie dengan mantap tanpa memandang Arka sedikit pun, lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar tidur anak.

Arka berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap mainan kardus yang tergeletak di lantai. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika menghantam dadanya, meruntuhkan sisa-sisa amarahnya tentang pekerjaan. Ia baru saja menyakiti anak yang paling ingin ia lindungi.

***

Tiga puluh menit berlalu. Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Kenzie sudah tertidur lelap setelah ditenangkan oleh dongeng lembut dari Naya.

Arka duduk di sofa ruang tengah, menumpukan kedua tangannya di wajah dengan frustrasi. Langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar mendekat dari arah tangga. Arka mendongak, mendapati Naya berjalan ke arahnya. Jubah tidur pastelnya terpasang rapi, dan wajah tenangnya memancarkan kekuatan sunyi yang sangat mengintimidasi.

Naya tidak duduk. Ia berdiri di depan Arka, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan ketegasan yang mutlak.

"Jika Anda membawa masalah kantor ke dalam rumah ini lagi, Tuan Arka, saya tidak akan ragu untuk membawa Kenzie keluar dari rumah ini, bahkan jika saya harus melanggar kontrak," ucap Naya, suaranya mengalun sangat tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki bobot ancaman yang nyata.

Arka menghela napas berat, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Clarissa menutup beberapa proyek besarku, Naya. Saham Dewangga terganggu. Aku sedang tidak bisa berpikir jernih tadi."

"Saya tidak peduli seberapa hancur saham perusahaan Anda di luar sana, Tuan Arka," potong Naya dingin, bicaranya terstruktur rapi tanpa emosi yang meluap-luap. "Tugas Anda di kantor adalah menjadi pemimpin, tapi tugas Anda di rumah ini adalah menjadi seorang ayah. Kenzie tidak tahu apa-apa tentang proyek Anda atau tentang Clarissa. Dia hanya tahu papanya sudah pulang dan dia ingin menunjukkan dunianya kepada Anda."

Bersambung...

1
Fa Yun
tuh keluar aslinya wanita rubah gak tau maluu,Uda lihat arka sifat wanita yg kamu tolong 😕
Fa Yun
terlambat sudah penyesalanmu Arka, paling kasian sama Kenzie kalo Naya pergi 😕
Yayang Coedil
minta d ulek tuh wanita jadijadian🤭
Mulaini
Arka sifat asli Gisella sudah kelihatan dan kamu mau membelanya dan memilih dia atau memilih mempertahankan Naya yang sudah berkali² membela mu.
Mulaini
Arka kamu sudah tahu tapi tetap kamu lakukan jadi ya memang kamunya gak bisa mempertahankan Naya.
Lia Rahmawati
greget banget sama ceritanya,hayo lah Thor bikin si Naya pergi jauh sejauh mungkin sama ibunya,biar si arka menyesal 😡
Wiek Soen
arka buka matamu klo yg kamu tolong itu ulaaaarrrr😡😡😡
Wiek Soen
Giselle perempuan sampah berhati tamak serakah, menjijikan sekali
Rarik Srihastuty
dasar wanita ular, gimana arka orang yg katanya cuma minta perlindungan nekat secara terang2an mau jd pelakor rumah tanggamu. apa tindakan tegasmu arka? para pembaca sedang menunggu
Wiek Soen
makanya arka jangan bodoh ,nolong boleh tp lihat dulu yg di tolong,yg di tolong gigit kok ko GK rasa ,dasar dongoook,kok esmosi aq...sama arka
Ummee
dasar Gisella... kita lihat apa Arka terbuai tipu daya Gisella
Bagong
demi Alloh segala,,,,,,tahu g kambing bertelur aja lebih masuk akal
Zalmah Adiwi
perempuan 'GILA'..sampe segitux dia pny otak..🤦‍♀️🤣🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
mmng wajar klo naya terluka..
Eni Istiarsi
ayolah Arkaaa... mikiiiir!.. pake logikamu, jangan cuma kedepankan perasaan bersalah dan kasihan pada Giselle yang nyatanya cuma memanfaatkan mu
Kar Genjreng
ihhh wanita menjijikan dan laki laki bodohhhhh padahall sudah di nasehatin orang tua nya dan di kasih tau siapa gisel ahh tapi memang CEO ceroboh nanti kalau sudah di kuasai barulah menyesal sampai ujung dunia,,,lihat harusnya dari kelicikan nya jadi apa bedanya siska satu sama kan bedanya siska bisa memberikan Kenzie walaupun saat ini sedang di perebutkan,,,, kalau Ak jadi Arka berusaha mati Matian buat mempertahankan Nayara Kenapa sudah terlihat wanita itu tidak ambisius tidak tamak tidak jahat terhadap putranya dan bisa membela dan m memberikan ide agar tidak kehilangan proyek trilyunan tidak membuang uang untuk shopping,,,tapi terserah biar tersesat kembali apabila tidak bisa mengusir Gisele,,salam waras gemes mommy sama arka jadi laki laki ko lihat mana wibawanya sebagai pemimpin kalah sama wanita abal abal,,👍🤭🤭
Rahmawati
jijik bgt sm gisel😡
Mamah Nisa
tuuh arka....buka matamu...buka otak dan pikiranmu....sdh tau blm liciknya mantanmu itu...pantesan bu ambar ga suka sm mantanmu itu...karena ibumu sdh tau yg sebenarnya siapa gisela ...wanita rubah....
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
Kar Genjreng
perasaan dan hati Naya sudah kadung terluka terlalu dalam,,,luka pisau mungkin bisa di obati tetapi luka dalam siapa yang
tau seberapa dalam dan sakitnya Naya,,,,Ku pikir akan bahagia ketika main layangan di luar dan ketawa bersama itu
ternyata kesempatan Arka yang di berikan Naya tetapi di sia siakan ,,, ketika kesekolahan bersama bergandengan tangan,,,kini tinggal kenangan tak mungkin terulang kembali,,,arka lupa jalan pulang atau memang ceroboh ahirnya lewat jalur yang salah,,,karena harusnya jalan kerumah Naya dan Kenzie,,,ini ketempat gisele Yo uwis piye maneh,,,biar pelajaran buat arka yang mengabaikan perasaan Naya seolah tidak penting,,,dan sekarang barulah menyesali sudah tertutup rapat hati Naya,,, ahirnya Kenzie lah yang jadi korban nya lagi,trim mommy sudah update,,,besok kalau mommy sibuk balap karung update nya malam ga apa apa 🤩🤭hua hua
Deasy Suryandari
ini kalau matanya Arka masih belom melek tentang Gisela wah wah wah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!