Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Rahasia yang Terkubur
Kaisar Chu menatap kalung di atas meja itu cukup lama sebelum akhirnya mulai bercerita, suaranya lebih pelan dan lebih rapuh dari yang pernah Chu Feng dengar sepanjang hidupnya.
"Dua puluh tahun lalu, aku melakukan perjalanan diam-diam ke wilayah barat kerajaan—sesuatu yang jarang dilakukan seorang putra mahkota, tapi aku selalu penasaran dengan cerita-cerita tentang reruntuhan kuno di Lembah Kabut." Ia berhenti sejenak, matanya menerawang jauh, seolah kembali ke masa itu. "Di perjalanan itulah aku pertama kali bertemu ibumu."
"Di Desa Kabut Hening?" tanya Chu Feng.
Kaisar Chu mengangguk. "Desa kecil yang hampir tidak tercatat di peta kerajaan mana pun. Penduduknya hidup terpencil, jauh dari campur tangan dunia luar, dan mereka memiliki satu tradisi yang aneh—setiap generasi, satu keluarga di desa itu bertugas sebagai 'penjaga'."
"Penjaga apa?"
"Itulah yang tidak sepenuhnya kupahami saat itu," Kaisar Chu menggeleng pelan. "Ibumu, Yun Xiang namanya, adalah salah satu dari keluarga penjaga tersebut. Keluarganya telah menjaga sesuatu di reruntuhan Lembah Kabut selama generasi yang tidak terhitung jumlahnya—sebuah tugas yang diwariskan turun-temurun, meski tidak seorang pun di desa itu benar-benar tahu apa yang sebenarnya mereka jaga, hanya bahwa itu sangat penting, dan sangat berbahaya kalau jatuh ke tangan yang salah."
Chu Feng merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. "Pecahan tubuh Dewa."
"Aku baru mengetahui istilah itu belakangan ini, dari catatan-catatan yang ibumu tinggalkan," Kaisar Chu mengangguk pelan. "Tapi ya—itulah yang mereka jaga. Bukan hanya satu pecahan, Nak. Reruntuhan itu dulunya menyimpan beberapa pecahan sekaligus, tersegel dalam formasi kuno yang dijaga keluarga ibumu selama berabad-abad."
"Dulunya?" Chu Feng mengulangi, menangkap sesuatu yang janggal dalam kalimat itu.
Wajah Kaisar Chu mengeras, kesedihan lama yang jelas masih membekas dalam. "Sepuluh tahun sebelum kau lahir, sebuah kelompok misterius menyerang Desa Kabut Hening. Mereka mengetahui tentang formasi penjaga itu—entah bagaimana caranya—dan datang dengan kekuatan yang jauh melampaui kemampuan para penjaga desa untuk melawan."
"Apa yang terjadi?"
"Sebagian besar pecahan yang tersimpan di reruntuhan itu berhasil dicuri malam itu," Kaisar Chu menatap Chu Feng lurus-lurus. "Ibumu, sebagai salah satu penjaga termuda saat itu, berhasil menyelamatkan sisanya dengan cara menyembunyikan mereka lebih dalam ke reruntuhan menggunakan formasi darurat—formasi yang menyerap sebagian besar qi dan kekuatannya sendiri, sesuatu yang menurut para tetua desa akan memperpendek usianya secara drastis."
Chu Feng terdiam, potongan-potongan informasi mulai tersusun dengan mengerikan di kepalanya. "Itu sebabnya beliau sakit dan meninggal muda?"
Kaisar Chu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha keras menahannya. "Ibumu tidak pernah menyesali keputusannya, meski itu berarti ia hanya punya waktu beberapa tahun lagi setelah kejadian itu. Ia sering berkata bahwa melindungi apa yang tersisa jauh lebih penting daripada usianya sendiri."
"Kelompok yang menyerang desa itu," Chu Feng bertanya, suaranya tegang, "siapa mereka?"
"Ibumu tidak pernah tahu pasti. Mereka semua mengenakan jubah hitam tanpa lambang, wajah tertutup topeng. Tapi ia yakin mereka bukan sekadar perampok biasa—terlalu terorganisir, terlalu tahu persis apa yang mereka cari." Kaisar Chu menghela napas panjang. "Ibumu percaya mereka akan kembali suatu hari, mencari sisa pecahan yang berhasil ia sembunyikan. Itu sebabnya ia begitu bersikeras agar aku menjaga rahasia ini darimu sampai kau cukup dewasa—dan cukup kuat—untuk menghadapinya."
Chu Feng menatap kalung di atas meja, kini memahami beratnya warisan yang tergantung di baliknya. "Kenapa sekarang, Ayahanda? Kenapa Ayahanda memutuskan untuk menceritakan ini sekarang?"
"Karena kekuatan yang kau tunjukkan di festival ini," Kaisar Chu menatapnya lurus, "bukanlah kultivasi biasa. Aku mengenali pola energi itu—ibumu pernah menunjukkannya sekali, ketika ia menggunakan sisa kekuatannya untuk menyembunyikan pecahan-pecahan itu malam itu. Kau membawa salah satunya di dalam dirimu sekarang, bukan?"
Chu Feng terdiam lama, mempertimbangkan seberapa jauh ia harus jujur. Namun melihat kesungguhan di mata ayahnya—kesedihan bertahun-tahun yang akhirnya menemukan tempat untuk diungkapkan—ia memutuskan bahwa inilah saatnya.
"Ya," akunya akhirnya. "Aku menemukan salah satu pecahan itu di Lembah Kabut beberapa minggu lalu. Ia bersatu dengan tulang belakangku."
Kaisar Chu memejamkan mata sejenak, seolah menahan gelombang emosi yang sudah lama terpendam. "Jadi benar. Ibumu selalu berkata bahwa suatu hari, warisannya akan menemukan jalan kembali kepada keturunannya sendiri. Aku tidak pernah sepenuhnya percaya, sampai sekarang."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Akhirnya Chu Feng memecah keheningan itu dengan pertanyaan yang sudah lama membebani pikirannya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Ayahanda? Kalau kelompok itu benar-benar mencari sisa pecahan yang masih tersembunyi, dan aku membawa salah satunya di dalam diriku..."
"Kau dalam bahaya," Kaisar Chu menyelesaikan kalimat itu dengan jujur, tanpa berusaha menghaluskan kenyataan. "Bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan takhta kerajaan kecil ini. Dan sejujurnya, Nak—aku tidak yakin Kerajaan Chu memiliki kekuatan untuk melindungimu kalau kelompok itu benar-benar datang mencarimu."
Chu Feng mengangguk pelan, sudah menduga jawaban seperti itu. "Lalu apa yang Ayahanda sarankan?"
Kaisar Chu terdiam sejenak, mempertimbangkan sesuatu dengan hati-hati sebelum akhirnya menjawab. "Ibumu meninggalkan beberapa catatan lain, selain tentang kejadian di desa itu. Salah satunya menyebutkan sebuah sekte kecil di wilayah yang lebih jauh dari sini—Sekte Awan Langit, namanya. Sekte itu memiliki hubungan lama dengan keluarga penjaga di Desa Kabut Hening, meski aku tidak sepenuhnya memahami bagaimana caranya."
"Sekte Awan Langit," Chu Feng mengulang nama itu, menyimpannya dalam ingatan.
"Ibumu menulis bahwa kalau suatu hari warisannya bangkit kembali dalam dirimu, sekte itu mungkin bisa membantumu—melatihmu jauh dari perhatian dunia luar, memberimu waktu untuk berkembang sebelum kau cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang lebih besar." Kaisar Chu menatap putranya dengan campuran kebanggaan dan kesedihan yang sulit disembunyikan. "Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah, Nak. Tapi aku pikir, setelah Festival Penentuan selesai, mungkin sudah waktunya kau meninggalkan Kerajaan Chu untuk sementara."
Chu Feng menatap ayahnya, sebuah gejolak emosi yang tidak sepenuhnya bisa ia definisikan bergemuruh di dadanya—kesedihan karena harus meninggalkan satu-satunya rumah yang ia kenal, namun juga kelegaan karena akhirnya memiliki arah yang jelas di tengah semua misteri yang selama ini membingungkannya.
"Aku akan mempertimbangkannya, Ayahanda," katanya akhirnya. "Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan dulu."
"Katakan."
"Kenapa Ayahanda tidak pernah menceritakan semua ini sebelumnya? Bukankah lebih aman kalau aku tahu sejak awal, daripada terus meraba-raba dalam kegelapan selama tujuh belas tahun?"
Kaisar Chu terdiam lama, matanya kembali menatap lukisan ibunya di dinding dengan ekspresi yang penuh penyesalan.
"Karena aku takut," akunya akhirnya, suara seorang kaisar yang biasanya begitu tegas kini terdengar rapuh seperti seorang ayah biasa. "Aku takut kalau kau tahu terlalu dini, kau akan mencari warisan itu sebelum cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri—dan aku akan kehilangan orang terakhir yang mengingatkanku pada ibumu, sama seperti aku kehilangan dirinya."
Chu Feng menatap ayahnya, untuk pertama kalinya melihat sosok itu bukan sebagai simbol otoritas kerajaan yang jauh dan dingin, melainkan sebagai seorang pria yang telah memikul kesedihan dan ketakutan tersembunyi selama tujuh belas tahun, demi melindungi satu-satunya kenangan yang tersisa dari wanita yang pernah ia cintai.
"Aku mengerti, Ayahanda," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakannya—bukan sekadar kata-kata sopan santun formal, melainkan pemahaman yang tulus.
Kaisar Chu mengangguk, mendorong kalung di atas meja itu ke arah putranya. "Bawalah ini. Ini milikmu sekarang, bukan milikku."
Chu Feng menerima kalung itu dengan hati-hati, merasakan sensasi hangat yang samar ketika jarinya menyentuh liontin batu kecil di dalamnya—seolah sesuatu di dalam kalung itu mengenali dirinya sebagai keturunan sang pemilik asli.
Di luar jendela ruang pribadi itu, malam semakin larut, namun untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya, Chu Feng merasakan bahwa kegelapan yang selama ini menyelimuti masa lalunya mulai tersibak sedikit demi sedikit—menunjukkan jalan yang, meski penuh bahaya, akhirnya memiliki arah yang jelas untuk ia tempuh.