Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Baru Kita?
Pagi di kediaman Madhava dimulai dengan rutinitas yang sedikit berbeda bagi Aluna.
Jika biasanya ia harus bergelut dengan alarm pukul empat pagi untuk menyiapkan bahan tutor atau berangkat ke kafe, kini ia terbangun di atas kasur king size dengan keheningan yang mahal.
Namun kemandirian yang sudah mendarah daging membuatnya tidak bisa berlama-lama memejamkan mata.
Aluna baru saja selesai merapikan penampilannya yaitu kemeja putih bersih yang dimasukkan ke dalam celana bahan berwarna krem, saat Kayvan masuk ke kamar setelah rutinitas olahraganya.
Pria itu tampak segar dengan sedikit peluh di dahi, mengenakan kaos hitam pas badan yang memperlihatkan bahu tegapnya.
"Sudah siap?" tanya Kayvan singkat sembari mengambil handuk.
"Sudah Mas, hari ini aku ada kelas pagi jadi mungkin berangkat lebih awal sedikit." jawab Aluna lembut.
Kayvan mengangguk paham.
"Tunggu sepuluh menit, aku mandi lalu kita berangkat." seru Kayvan.
Aluna terdiam sejenak.
"Mas, sebenarnya... aku bisa naik taksi atau bareng Raline. Mas pasti sibuk dengan rapat pagi di kantor." ucap Aluna tidak enak.
Kayvan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi, berbalik menatap Aluna dengan tatapan datarnya yang khas.
"Efisien adalah ketika aku mengantarmu karena kampusmu searah dengan rute kantorku dan aku tidak menerima penolakan Aluna." seru Kayvan dengan tegas.
Aluna hanya bisa menghela napas pasrah, sifat diktator Kayvan yang dibungkus dengan alasan logis adalah sesuatu yang sulit dibantah.
Di meja makan Raline sudah heboh dengan sereal dan ponselnya, begitu melihat Aluna dan Kayvan turun bersama ia langsung menyeringai jahil.
"Ciee, yang sekarang sopirnya ganti jadi CEO Madhava Group." goda Raline.
"Luna hati-hati ya, kalau sopir yang ini biasanya tarifnya mahal, bayarnya pakai perasaan." goda Raline lagi.
"Raline makan sarapanmu." tegur Kayvan sembari menarik kursi untuk Aluna.
Tuan Baskara Madhava yang baru muncul dari arah taman tertawa renyah.
"Biarkan saja Kayvan, Raline itu hanya iri karena dia harus menyetir sendiri sedangkan sahabatnya sekarang punya pengawal pribadi." ucap Tuan Baskara.
Tuan Baskara duduk di kursi utama, menatap Aluna dengan binar kebapakan.
"Aluna, kalau anak kaku ini mengemudi terlalu kencang bilang pada Opa, biar Opa sita kunci mobilnya." seru Tuan Baskara.
"Mas Kayvan mengemudi dengan sangat hati-hati kok, Opa." ucap Aluna dengan tawa kecil.
Kehangatan di meja makan itu selalu berhasil membuat Aluna merasa pulang.
Meskipun awalnya ia merasa seperti orang asing di tengah kemewahan ini, cara Tuan Baskara Madhava dan Raline memperlakukannya tanpa memandang status sosialnya yang dulu perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanannya.
Perjalanan menuju kampus pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Kayvan fokus pada kemudi, sementara Aluna sibuk mengecek kembali makalah yang akan dikumpulkan hari ini.
Namun ketenangan itu terusik saat mobil mewah berwarna hitam legam itu mulai memasuki gerbang utama universitas.
Meskipun ini bukan pertama kalinya, kehadiran mobil seharga miliaran rupiah di koridor fakultas ekonomi tetap saja mencolok.
Beberapa mahasiswa yang sedang berjalan kaki berhenti, menoleh, dan mulai berbisik.
"Mas berhenti di sini saja." bisik Aluna saat mobil masih beberapa puluh meter dari lobi gedung.
"Lobi masih jauh Aluna, matahari mulai terik." sahut Kayvan tenang, tanpa mengurangi kecepatan.
"Tapi Mas... orang-orang melihat." seru Aluna.
Kayvan akhirnya menghentikan mobil tepat di depan lobi, ia mematikan mesin sesuatu yang tidak Aluna duga.
Aluna hendak membuka pintu dengan cepat, namun Kayvan justru menahan tangannya.
"Aluna." panggil Kayvan.
Aluna menoleh dan jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, Kayvan tidak melepaskan genggamannya.
Pria itu menatapnya lekat lalu tangannya yang bebas terulur untuk merapikan helai rambut Aluna yang keluar dari selipan telinganya.
"Jangan menunduk saat keluar dari mobil ini, kamu istriku dan tidak ada yang salah dengan itu. Jika ada yang bicara macam-macam abaikan atau katakan padaku." ucap Kayvan dengan nada protektif yang tidak bisa diganggu gugat.
Aluna menelan ludah, sedikit terpaku oleh intensitas tatapan Kayvan.
"Iya, Mas."
"Aku akan menjemputmu jam tiga, tunggu di lobi dan jangan keluar ke gerbang depan." tambah Kayvan lagi.
Aluna mengangguk lalu keluar dari mobil, begitu pintu tertutup ia bisa merasakan puluhan pasang mata menghujamnya dan ia mencoba mengingat kata-kata Kayvan yaitu jangan menunduk.
Sepanjang koridor hingga ke ruang kelas, bisik-bisik itu tidak kunjung reda.
Aluna mencoba menutup telinga, namun beberapa potongan kalimat tetap sampai ke pendengarannya.
"Itu kan Aluna yang dulu kerja di cafe dekat perempatan?"
"Gila, itu mobilnya Kayvan Madhava, kan? Kok bisa dia?"
"Pasti cuma simpanan. Mana mungkin CEO sekelas Madhava mau serius sama anak yatim piatu."
Langkah Aluna sempat terhenti sejenak mendengar kata simpanan.
Harga dirinya terusik, ia ingin berbalik dan menjelaskan bahwa mereka sudah menikah secara sah, namun ia teringat pesan Kayvan untuk mengabaikan mereka.
Di dalam kelas, Raline sudah menunggunya dengan wajah cemas dan ia rupanya juga mendengar bisik-bisik itu.
"Luna, kamu oke?" tanya Raline setengah berbisik saat Aluna duduk di sampingnya.
"Aku oke Raline, hanya sedikit kaget saja." jawab Aluna pelan sembari mengeluarkan bukunya.
"Nanti kalau ada yang berani melabrakmu biar aku yang maju, berani-beraninya mereka bicara begitu tentang tanteku sendiri!" Raline mengepalkan tangannya dan mencoba menghibur meski istilah tante masih terdengar lucu di telinga mereka berdua.
Namun kejutan sebenarnya baru terjadi saat jam istirahat, ketika Aluna dan Raline berjalan menuju kantin, mereka dihadang oleh sekelompok mahasiswi tingkat atas yang dipimpin oleh seorang gadis bernama Clarissa, yang selama ini dikenal sebagai primadona kampus yang terobsesi dengan kalangan high society.
"Oh, jadi ini dia bintang baru kita?" Clarissa melipat tangan di dada, menatap Aluna dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Aku penasaran, ramuan apa yang kamu pakai sampai bisa naik mobil Pak Kayvan?" sendirinya.
Aluna menatap Clarissa dengan tenang, kemandirian bertahun-tahun telah melatihnya untuk tidak mudah goyah oleh intimidasi.
"Maaf aku tidak mengerti maksudmu."
"Jangan pura-pura polos, kita semua tahu siapa Kayvan Madhava. Pria seperti dia tidak mungkin punya selera sepertimu kalau bukan karena... yah, sesuatu yang bersifat sementara." cibir Clarissa.
Raline hendak meledak namun Aluna menahan lengan sahabatnya itu, Aluna maju satu langkah dan menatap Clarissa tepat di mata.
"Apapun hubungan yang aku miliki dengan Mas Kayvan itu bukan urusanmu dan aku tidak perlu menjelaskan apapun pada orang yang hanya bisa menilai orang lain dari apa yang mereka lihat di permukaan, permisi." ucap Aluna tegas dan sopan, lalu menarik Raline melewati kerumunan itu.
"Wah Luna! Kamu keren banget!" seru Raline begitu mereka sudah cukup jauh.
"Wajah Clarissa tadi merah banget kayak kepiting rebus." lanjutnya.
Aluna hanya tersenyum tipis meski di dalam hati ia merasa lelah, ia tidak pernah menginginkan perhatian seperti ini.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
endingnya semoga aja gk mbulet ceritanya semangat terus kk author