Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Bangun dengan Perasaan Berbeda
Kirana terbangun keesokan paginya dengan sinar matahari lembut menerobos jendela ruang perawatan, tubuhnya terasa jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya, meski kepalanya masih sedikit pening. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengingat kejadian semalam—hujan deras, tubuhnya yang limbung, suara panik Rangga memanggil namanya.
Ia menoleh ke samping, mendapati kursi yang ditempati Rangga semalam sudah kosong, hanya menyisakan jas kerjanya yang masih tergantung di sandaran, sudah mulai mengering. Ada secarik kertas kecil terselip di atas meja samping ranjang.
"Ada urusan mendadak di kantor, harus pergi pagi-pagi. Bu Marlina akan urus semua administrasi dan antar kamu pulang setelah dokter mengizinkan. Jangan macam-macam, langsung istirahat di kos, jangan mikirin kerjaan dulu. — R."
Kirana tersenyum kecil membaca catatan singkat itu, tulisan tangan Rangga yang rapi namun terburu-buru, seolah ditulis dengan tergesa-gesa sebelum benar-benar pergi. Ada kehangatan aneh yang menjalar di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tidak lama kemudian, Bu Marlina datang membawakan pakaian ganti dan beberapa keperluan, senyumnya penuh arti saat menatap Kirana yang masih terbaring di ranjang.
"Gimana perasaanmu sekarang, Kirana?" tanya Bu Marlina, duduk di kursi yang sama yang ditempati Rangga semalam.
"Udah lumayan mendingan, Bu. Makasih banyak udah direpotkan," jawab Kirana, sedikit malu.
"Nggak apa-apa, ini emang tugas saya," Bu Marlina tersenyum, lalu menambahkan dengan nada menggoda, "Tapi saya baru tahu loh, Pak Rangga bisa sepanik itu ngurusin karyawan yang sakit. Biasanya beliau cuma nyuruh HRD yang urus hal-hal begini."
Kirana merasakan wajahnya memanas mendengar komentar itu. "Mungkin karena kebetulan Bapak yang nemuin saya duluan, Bu."
"Mungkin," Bu Marlina mengangguk, meski senyum jahilnya tidak juga hilang, seolah tidak sepenuhnya percaya dengan alasan sederhana itu. "Tapi kamu tahu nggak, semalam beliau sampe nelpon saya jam sebelas malam, mastiin kamar rawat kamu paling nyaman, dokter yang nangani kamu paling berpengalaman. Saya kerja sama beliau udah lima tahun, baru kali ini lihat dia seheboh itu buat urusan kesehatan karyawan."
Kirana tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa tersenyum canggung sambil menundukkan pandangan, mencoba menyembunyikan kebahagiaan kecil yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.
Setelah dokter memeriksa dan menyatakan kondisinya sudah cukup stabil untuk pulang, Bu Marlina mengantar Kirana kembali ke kos dengan mobil kantor, memastikan gadis itu benar-benar sampai dengan selamat sebelum kembali ke kantor.
Namun, seperti biasa di dunia kantor yang penuh gosip, kabar tentang kejadian semalam menyebar cepat begitu Kirana kembali masuk kerja tiga hari kemudian.
"Kirana, denger-denger kamu pingsan terus Pak Rangga sendiri yang bawa kamu ke rumah sakit?" tanya salah satu rekan kerja, matanya berbinar penasaran, suaranya cukup keras hingga menarik perhatian beberapa orang lain di sekitar meja mereka.
"I-itu... iya, tapi Bapak cuma kebetulan lewat aja pas saya pingsan," Kirana mencoba menjelaskan, meski penjelasan itu terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Kebetulan? Denger-denger dia nungguin kamu semaleman di rumah sakit, sampe nggak pulang-pulang," sahut rekan kerja lainnya, membuat Kirana semakin gelagapan mencari kata-kata yang tepat.
Kabar itu menyebar semakin liar, dibumbui berbagai spekulasi yang semakin jauh dari kenyataan—ada yang bilang Rangga sampai menangis karena panik, ada yang bilang ia sengaja memindahkan Kirana ke kamar VIP termahal di rumah sakit, bahkan ada yang berspekulasi bahwa mereka sudah lama diam-diam berpacaran sejak awal Kirana bekerja.
Sandra, yang sejak insiden laporan palsu beberapa waktu lalu sudah jauh lebih berhati-hati dan menjaga jarak dari Kirana, kini kembali menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan—campuran cemburu dan kebencian yang semakin kentara setiap kali mendengar gosip terbaru tentang kedekatan Kirana dan sang CEO.
"Wah, ternyata benar ya kata orang-orang, kamu emang punya cara khusus buat deketin bos," sindir Sandra suatu siang, sengaja melewati meja Kirana dengan nada yang cukup keras untuk didengar orang sekitar.
"Kak, itu bukan kayak yang Kakak pikirin," Kirana mencoba membela diri, meski lelah harus terus-menerus menjelaskan hal yang sama berulang kali.
"Terserah deh," Sandra mendengus, berjalan pergi dengan tatapan sinis yang membuat firasat Kirana tidak enak.
Kirana menghela napas panjang, menatap layar komputernya dengan pikiran yang kacau. Ia tidak menyangka, kebaikan sederhana yang ditunjukkan Rangga—kekhawatiran tulus seorang atasan pada karyawannya yang sakit, atau mungkin lebih dari itu—kini malah berubah menjadi bahan gosip yang membuatnya semakin canggung setiap kali harus berpapasan dengan Rangga di kantor.
Sore itu, Rangga sengaja mampir ke lantai delapan, seperti kebiasaannya belakangan ini, mendapati Kirana yang tampak lebih murung dari biasanya.
"Kamu kenapa? Masih belum fit sepenuhnya?" tanya Rangga, mendekat ke meja Kirana dengan raut wajah khawatir yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan sepenuhnya.
"Nggak apa-apa, Pak, cuma capek dikit," jawab Kirana, mencoba tersenyum meski terlihat dipaksakan.
Rangga menatap Kirana lebih lama, seperti bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. "Ada yang ngomongin soal kejadian di rumah sakit, ya?"
Kirana terkejut ditebak dengan tepat, hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, Pak. Sekarang banyak yang gosip macam-macam soal kita berdua."
"Biarin aja," Rangga menjawab enteng, meski Kirana tahu itu bukan solusi mudah bagi seorang staf junior yang masih harus menjaga reputasinya di antara rekan-rekan kerja. "Kamu nggak salah apa-apa. Yang perlu kamu lakuin cuma fokus kerja, nggak usah pedulikan omongan orang."
"Gampang buat Bapak bilang gitu, Bapak kan CEO, orang-orang nggak berani ngomong macam-macam langsung ke Bapak," gerutu Kirana, sedikit kesal dengan nasihat yang terdengar terlalu sederhana untuk situasi serumit ini.
Rangga terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya berkata dengan nada yang lebih lembut. "Kalau gosip itu bikin kamu nggak nyaman, saya bisa minta HRD buat tegasin aturan soal gosip di kantor."
"Jangan, Pak, nanti malah tambah rame kalau Bapak turun tangan langsung," Kirana buru-buru menolak, membayangkan betapa lebih besar gosip yang akan muncul jika CEO sampai ikut campur soal isu semacam itu.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Rangga, menatap Kirana lekat-lekat, seolah benar-benar peduli dengan jawaban yang akan keluar.
Kirana terdiam, memikirkan jawaban yang tepat, sebelum akhirnya menjawab jujur, "Saya cuma mau semuanya balik normal aja, Pak. Nggak usah ada yang aneh-aneh, biar saya bisa kerja dengan tenang."
Ada sesuatu yang berkelebat di mata Rangga mendengar jawaban itu—sesuatu yang terlihat seperti kekecewaan kecil, meski segera ia sembunyikan di balik anggukan singkat. "Baik. Saya hormatin keputusan kamu."
Ia berbalik pergi, meninggalkan Kirana yang entah kenapa merasa ada yang salah dengan responsnya sendiri, meski ia tidak sepenuhnya yakin apa yang seharusnya ia katakan sebagai gantinya.
ini novel saya pertama🥰🥰