NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Langkah kaki Tiga Bintang dan Ren Vaelen bergema berat di atas lantai granit hitam yang pecah berserakan. Udara di dalam Ruang Segel Utama terasa berlipat-lipat lebih pekat daripada di luar—begitu dingin hingga setiap embusan napas mereka berubah menjadi uap putih tipis yang langsung membeku di udara.

​Bau amis Aetheria yang membusuk bercampur dengan aroma logam panas yang menyengat. Ruangan itu berbentuk amfiteater terbalik berukuran raksasa. Di tengah-tengahnya, melayang bongkahan kristal hitam berurat emas yang berdenyut lambat—jantung terdalam dari Inti Arsitek.

​Namun, perhatian mereka seketika tertuju pada sosok yang berdiri melayang di atas kristal tersebut.

​Sosok itu dibalut jubah abu-abu kelabu yang terbuat dari jalinan benang-benang hitam bergerak, seolah-olah kain itu ditenun dari zat ruang hampa. Di sekelilingnya, delapan jarum obsidian raksasa melayang berputar, menusuk dalam-dalam ke sumbu kristal Inti untuk menyedot cairan Aetheria murni ke dalam wadah perak kecil di genggamannya.

​Caelum langsung menekan antarmuka Quantum Neural Interface di matanya. Bibirnya gemetar hebat saat membaca kalkulasi data yang muncul seketika di matanya.

​"B-bukan entitas Sol-Vane..." bisik Caelum, suaranya nyaris hilang tenggelam oleh dengung kristal. "Fluktuasi auranya... struktur massa energinya berasal dari luar sistem koordinat benua kita! Dia berasal dari Wadah luar—kasta Void Harvester dari Alam Sovereign Luar!"

​Sosok melayang itu berhenti menyedot cairan Inti. Ia memiringkan kepalanya perlahan, membalikkan badan hingga wajahnya yang tertutup topeng perak tanpa mata dan mulut menghadap ke arah pintu masuk.

​"Serangga dari kurungan tiga dimensi..." Suara sosok itu bergema bukan lewat udara, melainkan terproyeksi langsung ke dalam jaringan saraf otak mereka berempat. "Kalian terlambat. Sistem wadah tua ini sudah terlalu rapuh untuk mempertahankan daya sedotnya."

​"Kembalikan Aetheria murni itu, Penyusup!" teriak Rayker. Tanpa membuang waktu, pahlawan Sol-Vane itu memacu seluruh energi Solaris-Core di dalam dadanya. Otot-otot lengannya membengkak, dan pedang besarnya menebas udara, melepaskan gelombang tebasan api gravitasi yang membelah lantai batu menuju melayang.

​Wuuusshhh!

​Penyusup itu bahkan tidak menggerakkan tangannya. Salah satu jarum obsidian yang melayang di sekitarnya melesat turun dengan kecepatan ultrasonik. Jarum itu menghantam tepat di titik tengah tebasan api Rayker.

​BANG!

​Bukan sekadar menahan, jarum obsidian itu menyerap seluruh energi panas tebasan Rayker dalam fraksi detik, lalu membalikkan tekanan kinetiknya kembali ke arah Rayker.

​Rayker terlempar memutar sepuluh meter ke belakang, menghantam pilar batu hingga retak hebat. Darah segar menyembur dari mulut sang pahlawan berarmor emas itu.

​"Rayker!" jerit Lyra. Ia menghentakkan Aegis-Staff ke tanah, mencoba menciptakan kubah perlindungan untuk Rayker, tetapi jarum obsidian kedua meluncur cepat menghantam tanah di dekat Lyra, memancarkan gelombang getaran yang memutus arus sihir di dalam tubuhnya secara paksa. Lyra berlutut sambil memegangi dadanya, terengah-engah kesakitan.

​"Caelum, kunci posisi jarum-jarum itu!" teriak Ren Vaelen.

​Ren tidak berdiri diam menonton. Ia menyadarinya dengan sangat jernih: jika Tiga Bintang tumbang di sini, ia sendirian tidak akan selamat dari serbuan delapan jarum maut tersebut hanya dengan mengandalkan tubuh fananya.

​‘Keberadaan di dalam jiwaku tidak akan mengangkat satu jari pun kalau kepala ini putus,’ batin Ren. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Adrenalin memompa jantungnya berdetak kencang.

​Ren memfokuskan pendaran Liquid Silver Radiance di sepanjang lengannya yang terluka. Ia menarik napas dalam-dalam, menstabilkan pijakan kaki, lalu melesat maju dengan kecepatan maksimum.

​Srettt!

​Jarum obsidian ketiga meluncur menusuk dada Ren dari sudut buta. Ren memiringkan badannya sejuta milimeter—ujung tajam jarum obsidian itu menyenggol mantel sutra gadingnya dan menorehkan goresan dalam di pipi kirinya.

​Darah hangat mengalir menyusuri rahang Ren. Rasa perih menusuk yang nyata memacu fokus bertarungnya ke tingkat tertinggi.

​"Langkah Perak: Kilat Tiga Titik!"

​Ren melompat memutar di udara, memanfaatkan dorongan kinetik udara dari dorongan jarum yang meleset. Kedua tangannya yang berbalut pendaran perak cair menghantam bagian sambungan node jarum obsidian tersebut dengan kombinasi pukulan bela diri yang amat presisi.

​TRAK!

​Pukulan bertubi-tubi Ren berhasil meretakkan sendi kendali jarum obsidian tersebut, membuatnya kehilangan dorongan gaya berat dan jatuh menghantam lantai.

​Penyusup bertopeng perak itu tampak terkejut. Untuk pertama kalinya, ia mengalihkan pandangan penuhnya kepada pemuda berkemeja sutra yang pipinya meneteskan darah tersebut.

​"Teknik beladiri fana yang meminjam pendaran muatan cair?" gumam Penyusup itu dingin. "Manusia biasa... bagaimana refleks fisikmu mampu membaca garis lintasan dimensi milikku?"

​Ren mendarat dengan bertumpu pada satu kaki, napasnya memburu keras. Dada dan lengannya naik turun dipenuhi kelelahan fisik. Ia menyapu darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Penyusup di atas sana.

​"Refleksku biasa saja," sahut Ren, menyunggingkan senyum tipis di tengah rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. "Hanya saja... aku punya alasan yang sangat kuat untuk tidak boleh mati konyol di tempat seperti ini."

​"Sombong," bisik Penyusup itu. Delapan jarum obsidian di sekelilingnya kini bergetar serempak, mengarahkan ujung-ujung lancipnya tepat ke arah jantung, kepala, dan persendian Ren Vaelen secara bersamaan. "Mari kita lihat seberapa jauh wadah dagingmu sanggup bertahan."

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!