Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Istri
Rakanza memberi kode halus lewat tatapan matanya ke Nyonya Sienna. Mengerti isyarat sang cucu, Sienna menepuk pelan punggung gadis itu dan mulai bertanya dengan nada paling lembut.
"Nak... apa kamu ingat siapa namamu? Kehidupanmu sebelum dibawa ke tempat mengerikan itu... atau mungkin keluargamu?"
Gadis asing itu terdiam sejenak. Namun, bukannya menjawab, ia justru menggelengkan kepala perlahan. Air mata masih menetes di pipinya yang meradang.
"Aku... aku tidak ingat," bisiknya parau dan bergetar.
"Aku tidak tahu siapa namaku... Siapa keluargaku... Semuanya gelap."
Gadis itu meremas selimut dengan jemarinya yang luka-luka. "Aku hanya ingat... ada orang jahat yang membawaku pergi. Dia menyiksaku... menjadikan tubuhku bahan percobaan. Hanya itu yang aku ingat."
Gavin melangkah mendekat. "Siapa orang jahat yang membawamu itu? Bisakah kamu mengingat wajahnya atau menyebutkan ciri-cirinya?"
Gadis itu memegangi kepalanya, tampak merintih kesakitan karena berusaha mengingat. "Aku... aku tidak ingat wajahnya. Wajahnya kabur. Tapi aku tahu... dia sangat jahat."
Melihat kepanikan yang kian melingkupi si gadis, Sienna segera memeluknya kembali dan membelai lembut rambutnya yang tertutup kain. "Sudah, Nak... Tidak apa-apa. Jangan dipaksa. Kamu sudah aman di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi."
Gavin kemudian berdehem pelan, memajukan langkahnya. "Dari data laboratorium yang saya temukan, nama lengkapmu adalah Annabella. Orang tuamu sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu setelah keluargamu dinyatakan bangkrut."
Mendengar fakta bahwa dirinya kini sebatang kara dan orang tuanya telah tiada, tangis gadis itu pecah makin keras. Isakannya terdengar begitu memilukan.
Sienna menoleh menatap Rakanza dan Gavin dengan raut tidak tega. "Raka, Gavin... kalian keluarlah dulu. Biarkan dia tenang bersama Nenek."
Rakanza mengangguk singkat. Bersama Gavin, ia keluar dari kamar tamu tersebut.
Saat menyusuri koridor, Rakanza dan asisten Gavin berpapasan dengan Tuan Kalendra yang baru saja naik ke lantai dua.
"Raka? Di mana Nenekmu?" tanya Kalendra.
"Nenek di dalam, Kek. Menemani gadis itu," jawab Rakanza.
Kalendra mengangguk paham, lalu menatap cucunya dengan raut penasaran. "Lalu... apa yang akan kamu lakukan pada gadis itu selanjutnya? Kita tidak bisa terus menyimpannya di sini tanpa kepastian."
Rakanza terdiam. Untuk pertama kalinya, sang ketua Teratai Hitam tidak punya jawaban pasti. "Raka belum tahu, Kek."
Sebelum Kalendra sempat berucap lagi, pintu kamar tamu terbuka. Sienna keluar sambil menutup pintu perlahan.
"Ella akan tinggal di sini sementara waktu," potong Sienna mantap, menjawab pertanyaan suaminya. "Sampai ingatan dan kondisinya benar-benar pulih dan dia merasa tenang."
Kalendra serta-merta mengerutkan kening, tidak setuju. "Sienna, kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak! Kita tidak tahu asal-usul pastinya. Bagaimana kalau dia sebenarnya mata-mata yang dikirim musuh untuk menyusup?"
Sienna bersedakap dada, menatap suaminya pantang mundur. "Aku bisa melihat ketulusan dari matanya, Kalendra! Dia bukan mata-mata, dia hanyalah korban yang butuh perlindungan. Lagipula, kasihan dia sebatang kara!"
Kalendra mendesis jengkel, hendak memprotes lebih jauh. Namun, melihat tatapan tajam sang istri, mantan Bos Mafia itu akhirnya mendengus pasrah.
Beberapa hari pun berlalu.
Gadis yang kini dipanggil Ella itu mulai beradaptasi dengan lingkungan di Meksiko. Meski wajahnya masih ditutupi cadar karena lukanya, keterbatasan itu tidak memadamkan kebaikan hatinya. Ia sering terlihat rajin membantu para pelayan membersihkan rumah atau merawat tanaman.
Sore itu, pendar emas matahari menyiram taman kaca (greenhouse) di area belakang kediaman.
Dari balkon di lantai dua, Rakanza berdiri mengamati sosok Ella yang menyiram bunga-bunga kesayangan Neneknya. Ujung kerudungnya yang tergerai lambai tertiup angin sore tampak begitu indah.
Rakanza membatin. Di balik musibah tragis yang menimpanya, gadis bernama Annabella itu ternyata menyimpan kepribadian yang ceria dan optimis. Namun, bayangan wajah rusak bercak merah di balik cadar yang sempat dilihatnya tempo hari tetap saja membuat naluri mysophobia Rakanza merasa agak tidak nyaman.
Namun, dalam detik berikutnya, raut santai Rakanza berubah total menjadi kepanikan.
KREAK!
Suara retakan tajam bergema dari atap panel kaca tepat di atas kepala Sienna yang sedang membungkuk merawat bunga. Sebuah panel kaca tebal lepas dan meluncur deras ke bawah!
"Nenek!" teriakan Rakanza tertahan di tenggorokan.
Sebelum kaca itu sempat menghantam tubuh Sienna, Ella yang berada beberapa meter di sampingnya pun bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dengan refleks secepat kilat, gerakan yang seolah terlatih sempurna, Ella merangkul dan mendorong tubuh Sienna hingga keduanya berguling jatuh ke area yang aman.
PRANGGG!
Panel kaca tebal itu hancur berkeping-keping tepat di atas pot-pot bunga tempat Sienna berdiri sejuta detik lalu. Serpihan kaca tersebar ke segala arah.
Sienna bersandar pada dada Ella dengan tubuh gemetar hebat karena syok. Begitu menyadari dirinya selamat, Sienna langsung memeluk gadis itu erat-erat.
"Ya Allah... Terima kasih, Ella! Terima kasih, Nak!" tangis Sienna haru. "Kamu sudah menyelamatkan nyawa Nenek!"
Ella membalas pelukan itu dengan lembut. "Tidak apa-apa, Nyonya... Nyonya sudah aman."
Di lantai atas, Rakanza terpaku di dekat jendela. Tangannya mencengkeram kusen kayu dengan erat. Aksi heroik yang baru saja disaksikannya membuat kepalanya dipenuhi tanda tanya besar.
“Refleks itu... bukan refleks orang biasa,” Rakanza membatin curiga. Apakah dampak eksperimen di tempat itu yang membuat refleks tubuhnya menjadi secepat dan setajam itu? Atau ada hal lain yang dia sembunyikan?
Malam harinya, hening di kamar Rakanza terpecah oleh getaran dan dering ponsel. Nama sang ayah, Rayden Elson, tertera di layar.
Rakanza mengangkat telepon itu dan menempelkannya di telinga.
"Raka! Kapan kamu pulang ke Indonesia?!" suara tegas Ayahnya terdengar tanpa basa-basi. "Papa tidak mau tahu. Papa sudah menyiapkan calon istri yang sangat cocok untukmu dari keluarga terpandang. Minggu depan kalian harus bertemu!"
Rakanza menarik napas panjang, keningnya berkerut tajam. "Aku tidak mau, Pah. Sudah kubilang aku tidak tertarik."
"Jangan membantah! Ini demi masa depanmu dan keluarga!"
Rakanza menatap ke luar jendela, lalu menjawab dengan nada dingin. "Tidak perlu repot-repot, Pah. Karena aku... sudah punya kandidat calon istriku sendiri."
Tanpa menunggu balasan atau amukan Ayahnya di ujung telepon, Raka sontak mematikan sambungan secara sepihak.
Ia membuang napas berat dan berbalik badan. Namun, langkah Rakanza terhenti seketika.
Tepat di ambang pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Ella berdiri di sana. Gadis itu membeku, seolah ia tak sengaja mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rakanza barusan.
Mereka berdua saling tatap dalam keheningan malam.
Meskipun sebagian besar wajah Ella tertutup cadar dan Rakanza tahu betul ada kulit rusak di baliknya... entah mengapa, cahaya purnama yang menembus jendela kaca menerangi pasang mata gadis itu. Sorot matanya yang jernih, tajam, namun teduh itu tampak begitu familiar, menembus langsung ke dalam benak Rakanza dan membuatnya kehilangan kata-kata untuk beberapa saat.
“Tuan Raka, ada apa?” tanya Ella menatapnya polos lalu cepat-cepat menundukkan pandangannya karena khawatir dan takut akan diusir malam ini.
A-Apa dia mulai tidak suka aku di sini?
...____...
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻