Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
Pagi itu, udara di dalam ruang kerja CEO Narendra Group terasa begitu mencekik. Arka Narendra duduk diam dengan kedua tangan yang saling bertautan erat di atas meja, menatap layar komputer yang menampilkan grafik kehancuran baru. Tiga vendor terbesar yang selama ini menyuplai material tekstil dan bahan baku utama untuk lini produksi mereka resmi memutuskan kerja sama per jam delapan pagi ini.
Alasannya sangat klise, "Restrukturisasi internal vendor." Namun, Arka tidak bodoh. Di bagian bawah surat pembatalan tersebut tertera tembusan hukum yang berafiliasi langsung dengan firma hukum milik Atmadja Group.
Brak
Pintu ruang kerja Arka terbuka tanpa peringatan. Siska masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya yang penuh kerutan tampak panik luar biasa. "Arka, apa yang terjadi di pabrik?, Manajer operasional baru saja menelepon Ibu, mereka bilang truk-truk pengangkut bahan baku dilarang masuk oleh pihak vendor. Jika bahan baku tidak datang dalam waktu dua puluh empat jam, seluruh mesin produksi kita akan berhenti total."
Arka mengangkat kepalanya dengan pandangan kosong. "Kita sudah selesai, Ma. Kita baru saja menyentuh singa yang salah."
"Apa maksudmu?." tanya Siska tidak sabar.
"Pria yang menjaga Davira di Singapura... atau siapa pun yang mengendalikannya dari belakang, ternyata adalah Adrian Atmadja," bisik Arka, suaranya terdengar serak dan hancur. "Kemarin malam aku menyuruh orang untuk menyewa peretas untuk merusak nama baik Davira. Dan pagi ini, Atmadja Group langsung memotong jalur urat nadi bisnis kita sebagai balasannya."
Siska tertegun di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu. Nama Adrian Atmadja adalah nama yang tabu untuk dilawan di jagat bisnis tanah air. Melawan V-Tech Investment saja mereka sudah harus menyerahkan 55% saham, apalagi jika harus berhadapan dengan kaisar bisnis yang memegang kendali atas rantai pasok ekonomi nasional.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah panggilan darurat dari lantai Komisaris Utama masuk ke ponsel Arka. Vira Mahendra menuntut kehadiran seluruh dewan direksi dan CEO di ruang rapat utama dalam waktu lima menit.
Ketika Arka melangkah masuk ke dalam ruang rapat, suasananya jauh lebih menegangkan daripada hari Senin lalu. Vira duduk di kursi kebesarannya dengan setelan blazer berwarna biru navy yang sangat tajam, kontras dengan wajah Arka yang tampak kusut dan layu.
"Tuan Arka Narendra," Vira membuka suara bahkan sebelum Arka sempat menarik kursinya untuk duduk. "Bisa Anda jelaskan pada saya, mengapa tiga vendor utama kita membatalkan kontrak sepihak pagi ini?. Kehilangan tiga vendor ini berarti kita akan mengalami kerugian operasional sebesar lima puluh miliar rupiah per hari akibat penundaan produksi."
Arka menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Ini... ini adalah masalah teknis dari pihak vendor, Ibu Vira. Kami sedang mencoba melakukan negosiasi ulang dengan mereka."
"Negosiasi?" Reno yang duduk di sebelah Vira mendengus jijik, melemparkan sebuah berkas laporan siber ke tengah meja. "Jangan berbohong di hadapan kami, Tuan CEO. Kami tahu persis mengapa Atmadja Group menekan vendor-vendor tersebut. Itu karena kebodohan Anda dan keluarga Anda yang mencoba menyewa peretas pasar gelap untuk menyerang privasi Komisaris Utama kami!"
Mendengar hal itu, seluruh dewan direksi yang hadir langsung menoleh ke arah Arka dengan tatapan penuh kemarahan dan ketidakpercayaan. Salah satu direktur senior langsung berdiri dengan emosi.
"Pak Arka. Apa-apaan ini?. Perusahaan baru saja diselamatkan oleh dana V-Tech, dan sekarang Anda malah membawa dendam pribadi Anda untuk memancing kemarahan Atmadja Group?. Anda mau menghancurkan kami semua?."
"Saya tidak bermaksud begitu, ini hanya kesalahpahaman..." Arka mencoba membela diri, namun suaranya tenggelam di bawah riuh makian para direksi lainnya.
Vira mengetukkan pulpennya ke atas meja satu kali, dan seketika itu juga seluruh ruangan kembali hening. Aura dominan yang dipancarkannya membuat semua orang patuh tanpa syarat.
Vira menatap Arka dengan senyuman tipis yang sangat dingin. "Tuan Arka, karena ketidakbecusan Anda dalam menjaga stabilitas relasi bisnis dan tindakan pribadi Anda yang merugikan korporasi, saya selaku pemilik saham mayoritas memiliki hak penuh untuk menjatuhkan sanksi."
Vira mengambil selembar dokumen baru yang sudah disiapkan oleh tim hukumnya.
"Mulai detik ini, jabatan Anda sebagai CEO resmi ditangguhkan selama tiga bulan ke depan untuk masa evaluasi. Seluruh keputusan operasional dan keuangan akan diambil alih oleh Reno Mahendra sebagai pelaksana tugas CEO. Dan untuk menebus kerugian lima puluh miliar per hari akibat ulah Anda... saya menyita sisa 5% saham pribadi milik Anda dan keluarga Anda sebagai jaminan ganti rugi."
"Vira! Kamu tidak bisa mengambil sisa saham kami! Itu adalah satu-satunya harta yang tersisa atas nama keluarga Narendra!" teriak Arka, berdiri dari kursinya dengan mata yang memerah sempurna, menatap Vira dengan kombinasi rasa frustrasi yang luar biasa.
Vira ikut berdiri, merapikan blazer-nya dengan anggun. Dia menatap Arka dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang begitu asing dan tak kenal ampun.
"Saya bisa, Tuan Arka. Karena Anda sendiri yang menandatangani klausul ganti rugi akibat kelalaian personal di kontrak hari Jumat lalu," ucap Vira lirih namun mematikan. "Tiga tahun lalu, Anda dan keluarga Anda mengambil seluruh hak saya sebagai seorang istri, merampas kesehatan saya, dan mengusir saya seperti sampah. Hari ini... saya hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik dunia dari tangan seorang pria yang tidak tahu cara menghargainya. Silakan kemasi barang-barang pribadi Anda dari ruangan CEO sebelum jam makan siang."
Vira melangkah pergi dari ruang rapat diikuti oleh Reno, meninggalkan Arka yang jatuh terduduk di lantai ruang rapat dengan tubuh yang gemetar hebat, menyadari bahwa dia kini telah benar-benar kehilangan segalanya di perusahaan miliknya sendiri.
Sore harinya, di dalam ruang istirahat kantor V-Tech, Vira sedang berdiri menatap hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Ponselnya kembali bergetar, menampilkan pesan singkat dari Adrian Atmadja:
“Tiga vendor tersebut sudah kukembalikan hak suplai mereka setelah mendengar kabar bahwa kamu telah mengambil alih kendali penuh siang ini. Selamat atas kemenangan pertamamu, Ratu-ku. Elvano menunggumu di rumah untuk makan malam bersama. Mobil jemputan sudah di bawah.”
Vira menatap pesan itu lama, seulas senyuman tulus yang sangat manis akhirnya terukir di bibirnya. Kali ini, dia tidak lagi ragu untuk melangkah menuju kebahagiaan barunya.