Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa diatas Luka
Wafa masih enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Laki-laki itu bungkam, menunduk seraya mengusap jemarinya yang bernoda darah.
Sementara itu, raut wajah Rafa sudah berubah total. Ekspresi khawatirnya kini bercampur aduk dengan kepanikan dan amarah yang menuntut kejujuran. “Jujur sama Abang, Waf! Kamu sakit apa sampai batuk berdarah begini?!”
“Gue enggak apa-apa, Bang... Cuma tadi tuh gue...” Wafa terbata-bata, otaknya berputar keras mencoba mencari alasan yang masuk akal.
“Udah lah, Waf... Jujur aja. Lagian Bang Rafa juga udah lihat semuanya,” potong Sean seraya menahan isak tangis yang mendesak di dadanya.
“Iya, Waf. Kamu tuh paling enggak tahu kalo lagi dikhawatir!” tegas Malik, matanya memerah menahan penderitaan sahabatnya itu.
Rafa memandang mereka bertiga satu per satu, menuntut jawaban yang pasti. “Ayo ngomong!”
Wafa menghela napas panjang. Wajahnya berubah amat serius sama sekali tak terlihat sosok Wafa yang selama ini dikenal suka bercanda dan jahil. “Iya, iya... Gue cerita. Tapi Abang harus janji, jangan kasih tahu siapa-siapa dulu. Terutama Papi dan yang lain.”
“Iya! Cepat bilang ke Abang, Dek!” sahut Rafa cepat. Ia menyanggupi syarat itu hanya agar Wafa segera angkat bicara, bukan karena benar-benar setuju untuk merahasiakannya.
“Gue sebenarnya... sakit bronkitis, Bang,” ucap Wafa dengan suara lirih.
“Kalau gitu ayo kita berobat sekarang!” potong Rafa panik, dadanya seketika berdegup kencang bak dihantam godam.
“Waf... ceritain semuanya ke Bang Rafa,” bisik Malik pelan.
Sean memberanikan diri menatap Rafa. “Bang...” panggil Sean parau. “Sebenarnya Wafa sakitnya udah lama. Selama ini kalau berobat atau kontrol, cuma kita berdua yang nemenin dia...”
Satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Sean. Ia berhenti sejenak untuk menarik napas dalam-dalam yang terasa sesak.
“Kata dokter... penyakit Wafa udah di stadium akhir, Bang,” bisik Sean seraya menundukkan kepalanya erat-erat.
Deg...
Seketika itu juga Rafa tertawa. Sebuah tawa kencang yang terdengar sangat dipaksakan dan hampa. “Kalian... lagi pada bohongin gue, kan? Ini candaan jenis baru, kan? Enggak lucu, sumpah!” tanya Rafa meminta kepastian, berharap semua ini hanyalah lelucon konyol.
Namun, Sean dan Malik hanya bisa menggeleng lemah dengan raut wajah berduka.
“Kenapa Lo sembunyiin hal sebesar ini dari kitasemua, Wafa?!” Rafa mencengkeram kedua pundak Wafa dengan kuat, gemetaran. Air matanya yang sedari tadi ditahan akhirnya menetes deras.
“Semua orang di rumah ini harus tahu soal ini!”
Napas Rafa memburu hebat. Tanpa buang waktu, ia memutar badan hendak menerobos keluar dari kamar mandi...
“Jangan, Bang!” Wafa refleks menyambar pergelangan tangan abangnya, menahannya sekuat tenaga. “Gue mohon... Gue enggak mau mereka ikut kepikiran,” jelas Wafa dengan raut wajah yang anehnya terlihat sangat tenang.
Di sisi lain, dari arah pintu depan, seorang anak laki-laki menerobos masuk ke dalam rumah dengan napas terengah-engah dan wajah panik luar biasa.
Owen yang sedang berada di area tangga mengerutkan dahi. “Kamu ngapain ke sini, Dek?” tanya Owen heran.
“Maaf, Kak... Maaf kalau aku lancang main menerobos masuk,” ujar cowok itu - Julian. “Dari tadi saku chat dan telepon Lily tapi enggak diangkat-angkat. Aku khawatir sama dia!”
Jaya yang baru saja menyelesaikan makan siangnya melangkah mendekat seraya melipat tangan di dada. “Lily baik-baik aja, enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Mendingan Lo pergi deh dari sini!” celetuk Ell dari arah sofa dengan nada sangat ketus.
Julian mengabaikan tatapan dingin di sekelilingnya. Ia menatap Jaya penuh permohonan. “Om... tolong izinin saya ketemu sama Lily sebentar aja. Saya janji cuma sebentar, Om!”
“Om Jaya kan udah bilang kalau Kak Lily enggak kenapa-kenapa!” Kino ikut-ikutan sewot, memasang raut muka tidak suka.
“Pulang aja sana!” usir Ell lagi.
Kembali ke dalam kamar mandi yang temaram, Wafa masih mencengkeram erat tangan Rafa, menolak melepasnya.
“Bang, please lah... Gue enggak mau bikin mereka nangis, terutama Lily. Lily kan sekarang juga lagi sakit,” pangkas Wafa memohon.
“Justru karena itu! Kalau kondisi Lo makin parah... mereka bakal jauh lebih hancur dan khawatir, Waf!” bentak Rafa, emosinya naik pitam hingga ke ubun-ubun.
“Maka dari itu... gue pengin sembunyiin ini dari mereka. Sampai...” Wafa menjeda kalimatnya. Ia sendiri tidak tahu berapa lama lagi sisa waktu yang dimilikinya di dunia ini. “...seterusnya.”
Rafa memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya sudah sangat kalut dan tak lagi jernih.
“Bang... Kalau Abang ada waktu, besok jadwal Wafa kontrol ke rumah sakit,” ujar Sean mencoba menenangkan aura panas di antara mereka.
“Iya, Bang. Di Rumah Sakit Melati, jam lima sore,” lanjut Malik pelan.
Rafa mengangguk cepat, seolah menangkap satu-satunya secercah harapan. “Iya! Gue bakal ikut. Gue bakal tanya langsung ke dokternya sampai tuntas!” tegas Rafa.
“Tapi gue mohon... jangan kasih tahu yang lain dulu ya, Bang?” bisik Wafa menatap Rafa penuh kepasrahan.
Sementara itu di ruang tengah, kebisingan di lantai bawah memancing langkah seseorang.
“Ada apa ini... kok ribut-ribut?” tanya sebuah suara lembut. Lily tampak berjalan pelan menuruni anak tangga, jemarinya memegang erat railing tangga karena tubuhnya masih terasa sedikit lemas.
“Lily!”
Melihat sosok gadis itu, Julian tanpa ragu langsung berlari menghampiri tangga dan membawa tubuh Lily ke dalam dekapan hangatnya - memeluknya sangat erat.
Lily membeku di tempat, tak merespon pelukan itu karena bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Owen melangkah menghampiri mereka berdua. “Dia khawatir banget sama kamu, Dek. Dari tadi kamu enggak bisa dihubungi,” terang Owen lembut pada adiknya.
Julian melepaskan pelukannya perlahan, memegang kedua bahu Lily lalu memeriksa setiap senti tubuh gadis itu dengan raut cemas. “Kamu baik-baik aja, kan? Ada yang sakit?”
“Ly... kamu kok bangun enggak kasih tahu Kakak sih?” tegur sebuah suara serak dari arah atas tangga. Javin baru saja turun.
Setelah Jaya pergi tadi, ia memang diminta menjaga Lily, hingga akhirnya ia ketiduran di atas sofa kamar.
“Iya, maaf ya, Kak... Tadi Kakak kelihatan nyenyak banget tidurnya. Lagian Lily juga baru bangun kok,” sahut Lily menoleh ke arah Javin dengan senyum tipis.
Julian memandangJaya dengan raut memohon. “Om, boleh saya ngobrol berdua sebentar dengan Lily?”
“Iya, boleh. Ngobrol di sofa ruang tamu aja ya,” izinkan Jaya. Alasan Jaya menyuruh mereka ke ruang tamu sebenarnya cukup jelas: agar ia tetap bisa memantau dua sejoli itu dari balik meja dapur.
“Kamu mau ngomongin apa, Lian?” tanya Lily penasaran seraya mengikuti langkah laki-laki itu.
Tanpa membuang waktu, Julian menarik pelan pergelangan tangan Lily menuju area ruang tamu. “Ikut aku dulu sebentar.”
Begitu tiba di ruang tamu, Julian berbalik dengan wajah mengeras. “Aku tahu apa yang terjadi semalam,” ujar Julian ketus.
Lily mengerutkan dahi keheranan. “Tahu... kejadian semalam? Maksud kamu apa?”
“Aku tahu semalam kamu sama Javin ngapain aja,” lanjut Julian, menatap lurus ke dalam bola mata Lily.
Lily diam sejenak, memutar otak. Ia tak ingin membuat suasana makin keruh atau menambah kemarahan Julian. “Kamu... cemburu ya?” tebak Lily dengan ekspresi jahil mencoba mencairkan suasana.
Julian menghela napas berat, raut wajahnya sama sekali tak terpengaruh candaan itu. “Aku tahu semalam kamu digendong sama Javin, nyuuapin, tidur berdua... dan aku tahu tadi pagi kamu dihukum sama Om Jaya,” cerocos Julian beruntun.
Tawa kecil di bibir Lily seketika luntur. Ia menatap wajah Julian dengan raut serius. “Kamu tahu dari mana semua itu?”
“Enggak penting aku tahu dari mana! Yang jelas, aku cuma minta kamu jauhin Javin!” ujar Julian penuh penekanan. Tanpa menunggu respons Lily, ia langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang tamu.
Sebenarnya, alasan mengapa Julian bisa mengetahui runtutan kejadian semalam cukup sederhana. Ia baru teringat kalau jam tangannya tertinggal di kamar mandi Owen. Tadi malam, Julian sempat datang kembali ke rumah ini. Tepat saat ia sampai di luar, ia menyaksikan dari balik jendela kaca besar tanpa tirai bagaimana Javin menggendong Lily yang lemas. Melihat pemandangan yang membakar dadanya itu, Julian akhirnya memutuskan untuk langsung pulang tanpa jadi mengambil jam tangannya.
“Julian!” teriak Lily panik, bergegas menuruni undakan ruang tamu untuk mengejar laki-laki itu.
“Saya pamit pulang dulu, Om,” pamit Julian tergesa-gesa pada Jaya di area tengah, intonasinya tak sesopan dan seramah biasanya.
“Eh... iya, hati-hati di jalan ya,” balas Jaya dengan kebingungan tercetak jelas di wajahnya.
Owen yang melihat ketegangan itu menghampiri adiknya. “Dia kenapa, Dek? Marah sama kamu?”
“Dasar budak cinta! Budak cinta!” celetuk sebuah suara dari arah tangga. Wafa berjalan menuruni anak tangga dengan santai.
“Diem lo, Waf!” semprot Lily kesal.
Gadis itu memutuskan untuk tutup mulut, berjalan menuju meja dapur lalu mendudukkan tubuhnya dengan bibir cemberut dan wajah ditekuk.
Wafa yang baru saja mengambil segelas air putih di depan Lily menyeringai ledek. “Ada masalah apa sih, tiba-tiba pada diam-diaman gini? Padahal biasanya kan kalian berdua udah kayak perangko nempel terus.”
“Wafa, jangan godain kakak kamu terus!” tegur Jaya memperingatkan.
Di sudut ruangan, Rafa berdiri membisu. Matanya menatap Wafa dengan tatapan iba yang amat dalam. 'Waf... gue bener-bener enggak habis pikir sama Lo. Dalam kondisi kritis kayak gini, Lo masih bisa bersikap seolah enggak terjadi apa-apa... bahkan masih bisa bercanda?' batin Rafa dengan dada sesak.
“Ya emang love language mereka begitu kok, Pih,” Owen ikut-ikutan meledek, mencoba mencairkan suasana rumah yang mendadak tegang sejak tadi.
“Love language apaan!” sahut Lily tak terima.
“Alah! Bilang aja Lo gengsi kan mau mengakui rasa cinta Lo ke gue?” ledek Wafa makin jadi.
“Lo kali yang kecintaan sama gue!” balas Lily berang.
“Udah, udah... Lily, nanti jadi kan pergi?” potong Jaya mengalihkan pembicaraan.
Seketika raut wajah Lily berubah cerah. “Jadi dong, Pih!” serunya penuh semangat. Tadi di kamar, Lily dan Jaya memang sempat membuat janji untuk pergi jalan-jalan berdua saja.
“Mau kemana?” tanya Ell penasaran dari atas sofa.
“Kok enggak ngajak-ngajak sih?” protes Owen tak terima.
“Kita semua ikut!” seru Rafa mendadak bersemangat.
Lily berdecak gemas seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Kalian semua enggak boleh ikut! Karena hari ini adalah jadwal kencan aku khusus sama Papi!” jelas Lily membuat keempat saudara laki-lakinya langsung cemberut massal.
“Emm... kalau gitu gue titip makanan apa gitu ya yang enak,” ujar Wafa, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan momen.
“Ganggu aja kamu, Waf!” sungut Jaya.
“Adek juga mau titip Dubai chewy cookie dua buat Ell sama Kino! Terus juga Lego, gara-gara Papi sama Kak Lily enggak ngajak Ell pergi!” omel bocah itu dengan bibir bersungut-sungut.
“Gue juga titip deh... satu knalpot racing!” celoteh Rafa tiba-tiba.
Owen yang berdiri di samping Rafa refleks menabok pantat adiknya itu. “Yang bener aja Lo, Raf! Mana ada titip knalpot!”
“Apa salahnya sih, Bang? Orang yang lain aja pada nitip!” protes Rafa tak terima seraya mengelus bokongnya.
Jaya terkekeh pelan. “Iya, iya, nanti Papi beliin...”
Rafa langsung tersenyum lebar mendengar jawaban sang papi. Namun, kalimat Jaya belum selesai. “...tapi khusus buat Bang Rafa, enggak ya.”
Seketika itu juga ekspresi kegirangan di wajah Rafa berganti menjadi muram, memancing tawa kecil dari yang lain.
“Kalian nanti malam masih pada nginep di sini, kan?” tanya Jaya menatap anak-anak bujang yang berkumpul.
Kino melangkah maju. “Kino mau izin pulang duluan, Om. Soalnya udah mau mulai siap-siap buat pindahan rumah,” jelas Kino yang disambut anggukan paham dari Jaya.
“Kalau gitu, Om titip salam buat Papa dan Mama kamu ya, Kin.” Kino mengangguk setuju.
“Sean sama Malik juga izin pulang ya, Om. Makasih banyak udah diajak party sama nginep di sini,” ujar Sean sopan.
Jaya tersenyum hangat seraya menepuk-nepuk bahu mereka.
“Kak Lily, Malik pamit ya! Kalau kangen langsung call aja, jangan malu-malu!” seru Malik penuh percaya diri seraya mengedipkan sebelah mata.
“Enggak bakal kangen juga,” gumam Lily pelan seraya memutar bola matanya.
Saat suasana mulai mereda, Rafa berjalan mendekati Wafa lalu merangkul bahunya lekat. “Waf, ayo kita jalan-jalan berdua. Udah lama kan kita enggak pergi berdua?”
Wafa tersentak pelan, namun mengangguk bersemangat. “Boleh tuh, Bang!”
Owen menyipitkan matanya tajam, menatap curiga ke arah kedua adik laki-lakinya itu. “Tumben banget kalian berdua... Ada apa nih?”
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat