Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Hal yang paling membuat Arka waswas adalah: tidak ada harga yang tertera di menu tersebut.
"Mencoba makanan mahal sekali-sekali tidak apa-apa kan?" kata Arka dalam hati. Toh, saldo rekeningnya sekarang sudah jauh dari kata mengenaskan.
Arka mendongak, menatap pelayan yang masih berdiri dengan sabar. "Mas, menu yang paling enak dan bikin kenyang di sini apa ya? Saya kurang paham bahasa menunya," tanya Arka jujur tanpa gengsi.
Pelayan itu tersenyum sopan, sama sekali tidak meremehkan. "Untuk hidangan utama, Signature Wagyu A5 kami sangat digemari, Tuan. Dagingnya dipanggang perlahan dan disajikan dengan saus wine merah tanpa alkohol. Sangat cocok dipadukan dengan Lobster Bisque sebagai hidangan pembuka."
"Hmm... Wagyu ya. Boleh deh, itu satu. Tingkat kematangannya medium well saja. Terus, minumnya apa ya?"
"Kami memiliki koleksi sparkling water dari pegunungan Alpen dan mocktail yang sangat menyegarkan. Atau Anda lebih suka..."
"Es teh manis ada?" potong Arka polos.
Pelayan itu terdiam sekitar dua detik, sebelum dengan cepat menutupi keterkejutannya. "Maaf, Tuan, kami tidak menyajikan es teh manis biasa. Namun, kami bisa membuatkan Artisan Earl Grey Iced Tea dengan tambahan sirup agave organik sebagai pemanis alami."
Arka tertawa kecil hingga bahunya bergetar. "Ya, ya, saya paham. Intinya es teh manis versi orang kaya, kan? Boleh, tolong bawakan itu satu."
"Baik, Tuan. Lobster Bisque, Wagyu A5, dan Artisan Earl Grey Iced Tea. Apakah ada tambahan lain?"
"Itu dulu saja, Mas. Terima kasih."
Sambil menunggu makanannya datang, Arka menyandarkan tubuh di kursi empuk itu.
Namun, pandangannya tak sengaja beradu dengan seorang pria di meja seberang. Pria itu adalah Rendi, mantan teman sekolahnya dulu yang paling hobi memamerkan kekayaan orang tuanya dan sering meremehkan Arka. Rendi tampak sedang makan malam bersama seorang wanita.
Melihat Arka, Rendi mengerutkan dahi, lalu berdiri dan sengaja menghampiri meja Arka dengan senyum sinis.
"Arka? Wah, beneran elo? Gue kira salah lihat tadi," sapa Rendi, matanya menelisik penampilan kasual Arka dari atas ke bawah. "Ngapain lo di sini? Lagi cari kerjaan? Perasaan di sini nggak buka lowongan cleaning service deh."
Arka mendesah pelan. "Drama apa lagi ini," batinnya.
"Lagi nunggu makanan, Ren. Perut gue lapar banget nih," jawab Arka santai sambil melipat tangan di dada.
"Makan di sini?" Rendi tertawa meremehkan. "Lo tahu kan ini restoran bintang lima? Hati-hati lho, Ka. Harga air putih di sini aja bisa seharga biaya kosan lo sebulan. Nanti pas mau bayar lo malah disuruh cuci piring."
Belum sempat Arka membalas, pelayan tadi datang membawa sebuah nampan dengan sikap yang luar biasa hormat.
Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas, yang tampaknya adalah manajer restoran.
"Permisi, Tuan Arka," sapa sang manajer restoran. "Ini Artisan Earl Grey Iced Tea Anda. Dan sebagai ucapan selamat datang dari kepala Chef kami, ini Truffle Caviar Amuse-Bouche spesial, komplementer khusus untuk Anda."
Mata Rendi nyaris melompat keluar melihat hidangan eksklusif bertabur emas yang diletakkan di depan Arka. "Loh? Tunggu, kok dia dapat menu komplementer caviar? Tadi saya pesan makan banyak nggak dikasih apa-apa!" protes Rendi tidak terima.
Sang manajer menoleh pada Rendi dengan senyum elegan. "Maaf, Tuan. Tapi petugas valet kami mengenali Supercar edisi terbatas milik Tuan Arka yang baru saja diparkirkan di depan. Sebagai bagian dari protokol kami untuk menyambut tamu VVIP, kami memberikan hidangan pembuka spesial ini."
Skakmat. Wajah Rendi langsung pucat pasi. Ia menatap Arka dengan pandangan tak percaya. "M-mobil sport? Lo... lo bawa mobil sport ke sini?"
Arka mengaduk 'es teh manis' mewahnya dengan santai, lalu menyesapnya perlahan.
"Yah, begitulah, Ren. Roda berputar, kan?" ucap Arka sambil tersenyum ramah. "Gimana? Kamu mau gabung di meja gue? Gue bisa pesenin lo caviar lagi kalau Kamu mau nyicip. Tenang, biar aku yang traktir."
"E-eh... nggak usah. A-aku balik ke meja ku dulu. Pacarku nunggu," pamit Rendi terbata-bata, lalu membalikkan badannya dengan sangat canggung dan berjalan cepat kembali ke mejanya.
Arka tersenyum puas, lalu mengambil garpu kecilnya.
"Nah," gumam Arka ceria pada dirinya sendiri. "Sekarang mari kita lihat, seenak apa sih makanan orang-orang berduit ini."