kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
...****************...
Deru mesin jet pribadi milik Arseno Andreas perlahan melemah saat pesawat mulai menurunkan ketinggian.
Dari balik jendela, hamparan gedung pencakar langit Singapura tampak berdiri megah di bawah langit biru. Laut membentang di kejauhan, sementara kapal-kapal kargo memenuhi pelabuhan internasional yang menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia.
Evelyn Hills menatap pemandangan itu sambil tersenyum tipis.
"Selalu rapi," gumamnya.
Arseno yang duduk di seberangnya menoleh.
"Apa?"
"Singapura."
Arseno ikut melihat ke luar jendela.
"Kota ini memang terkenal disiplin."
"Makanya aku suka."
"Kukira kau hanya suka tempat yang banyak makanan."
Evelyn langsung melirik tajam.
"Jangan mulai."
Arseno terkekeh pelan.
"Kau sendiri yang pernah menghabiskan tiga porsi pasta."
"Itu karena aku lapar."
"Dan dua potong tiramisu."
"Itu pencuci mulut."
"Serta sebotol wine."
"Itu penutup."
Arseno menggeleng kecil.
"Alasanmu selalu kreatif."
Naomi yang duduk di belakang menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Sedangkan Kosta hanya berbisik pelan.
"Pak Arseno sekarang sering sekali bercanda."
Naomi mengangguk pelan.
"Saya juga baru melihat sisi beliau seperti ini."
Tak lama kemudian terdengar suara pramugari.
"Selamat datang di Singapura. Mohon tetap duduk hingga pesawat berhenti dengan sempurna."
Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus.
Bandara VIP Singapura sudah menunggu rombongan mereka.
Seluruh proses imigrasi berlangsung cepat karena semua dokumen telah dipersiapkan sebelumnya.
Begitu keluar dari terminal, sebuah mobil mewah sudah menunggu.
Seorang pria berkacamata mengenakan jas abu-abu segera membungkukkan badan.
"Selamat datang, Tuan Andreas. Selamat datang, Nona Hills."
Arseno mengangguk.
"Anda dari pihak Aurora Capital?"
"Benar, Tuan. Nama saya Daniel Lim."
Daniel kemudian menoleh kepada Evelyn.
"Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan CEO termuda Hills Corporation."
Evelyn menjabat tangannya.
"Terima kasih atas sambutannya."
"Mobil sudah siap mengantar Anda ke hotel."
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Rombongan tiba di sebuah hotel bintang tujuh yang menghadap kawasan Marina Bay.
Lobby hotel tampak megah dengan langit-langit tinggi, lampu kristal, dan aroma bunga segar yang memenuhi ruangan.
"Selamat datang."
Seorang manajer hotel langsung menyambut mereka.
"Kamar Anda sudah kami siapkan."
Naomi berbisik pelan kepada Evelyn.
"Nona... hotel ini bahkan lebih mewah dari yang saya bayangkan."
Evelyn tersenyum kecil.
"Kalau investor memilih tempat seperti ini, berarti mereka ingin menunjukkan keseriusan."
Arseno menambahkan,
"Dan mereka ingin melihat apakah kita terbiasa berada di lingkungan seperti ini."
Naomi mengangguk paham.
Satu jam kemudian...
Keempatnya sudah berkumpul kembali di lobby hotel.
Arseno mengenakan jas biru tua.
Evelyn tampil elegan dengan setelan putih sederhana yang membuatnya tampak anggun sekaligus profesional.
Begitu melihat Evelyn keluar dari lift...
Arseno sempat terdiam.
"Hm."
Evelyn mengangkat alis.
"Apa?"
"Tidak ada."
"Kau baru saja menilaiku."
"Tidak."
"Kau jelas menilaiku."
"Aku hanya memastikan kau berpakaian formal."
Evelyn menyipitkan mata.
"Padahal tadi kau melamun."
"Aku tidak melamun."
"Kosta."
"Ya, Pak?"
"Tolong ingatkan aku supaya tidak melayani tuduhan tidak berdasar."
Kosta tersenyum kecil.
"Baik, Pak."
Naomi langsung tertawa.
"Pak Arseno mulai kewalahan menghadapi Nona."
"Aku sudah lama kewalahan," gumam Arseno pelan.
"Apa?"
"Tidak ada."
Mobil kemudian membawa mereka menuju gedung Aurora Capital.
Ruang rapat utama sudah dipenuhi para eksekutif dari berbagai negara.
Daniel berdiri di depan.
"Perkenalkan, Tuan Arseno Andreas dan Nona Evelyn Hills."
Semua orang berdiri menyambut.
Setelah saling berjabat tangan, presentasi pun dimulai.
Arseno membuka pemaparan dengan tenang.
"Kami percaya kerja sama lintas negara bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga membangun pertumbuhan jangka panjang."
Setelah itu Evelyn mengambil alih.
Dengan percaya diri ia menjelaskan strategi ekspansi perusahaan.
Para investor tampak serius memperhatikan.
Beberapa kali mereka mengangguk.
Sesi tanya jawab berlangsung hampir satu jam.
Seorang investor asal Jepang bertanya,
"Bagaimana Anda berdua mengatasi perbedaan gaya kepemimpinan?"
Evelyn melirik Arseno.
"Ladies first?"
Arseno mengangguk.
Evelyn tersenyum.
"Kami memang memiliki pendekatan yang berbeda."
"Contohnya?"
"Saya lebih fleksibel."
Arseno langsung menyela.
"Dan saya lebih terstruktur."
Ruangan dipenuhi senyum kecil.
Evelyn melanjutkan,
"Perbedaan itu justru membuat keputusan kami lebih seimbang."
Arseno mengangguk.
"Kami saling mengoreksi, bukan saling menjatuhkan."
Investor lain tersenyum puas.
"Itu jawaban yang bagus."
Pertemuan berlangsung hampir tiga jam.
Saat semua selesai, Daniel kembali menghampiri mereka.
"Saya harus mengakui, kerja sama kalian jauh lebih solid daripada yang saya bayangkan."
Evelyn tersenyum sopan.
"Terima kasih."
Daniel tertawa kecil.
"Awalnya kami mendengar kalian sering berdebat."
Arseno dan Evelyn saling berpandangan.
"Kami memang sering berbeda pendapat," kata Arseno.
Evelyn menambahkan,
"Tapi tujuan kami sama."
Daniel mengangguk puas.
"Itulah yang membuat investor percaya."
Saat mereka berjalan keluar gedung, Evelyn mengembuskan napas lega.
"Akhirnya selesai juga."
Arseno meliriknya.
"Lelah?"
"Sedikit."
"Kau tetap menjawab semua pertanyaan dengan baik."
Evelyn tersenyum tipis.
"Itu pujian?"
"Jangan besar kepala."
"Hah, ternyata memang pujian."
Arseno hanya menggeleng sambil berjalan menuju mobil.
Naomi dan Kosta kembali saling pandang.
"Bos kita..." bisik Naomi.
"...semakin akrab," sambung Kosta.
Tak seorang pun menyadari bahwa dari lantai atas gedung itu, seseorang sedang memperhatikan mereka melalui dinding kaca.
Seorang pria menutup map laporan di tangannya.
"Jadi mereka benar-benar bekerja sama..."
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Kalau begitu..."
"Kita harus memastikan kerja sama itu tidak bertahan lama."
...****************...