Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Mbeledos!
"Emang pake skin care itu, biar apa sih, Nty?" Tanya Aka pada Shima. Mereka sedang berada di station kosmetik untuk mencari skin care Shima.
"Biar tambah cantik." Jawab Shima.
"Ah, aku gak mau pake skin care, nanti jadi cantik." Kata Aka yang membuat Meshwa dan Saira tertawa.
"Ya gak gitu konsepnya, Mas." Sahut Meshwa.
"Maksudnya Nty itu, biar kulitnya bersih, cerah, terawat." Imbuh Meshwa yang mencerahkan.
"Bisa bikin kulit putih gak, Mbun?" Tanya Bima.
"Bisa aja, tapi ya gak bisa cepet, butuh proses." Jawab Meshwa.
"Kalo yang cepet, gak ada, Mbun?" Tanya Meshwa lagi.
"Ada, di campur sama cet warna putih." Jawab Aka yang kembali membuat mereka tertawa.
"Ah! Mamas ini. Kan aku tanya sama Mbun beneran, biar kita tetep putih walaupun seharian main di luar." Kata Bima.
"Katanya mau item - item kereta api?" Celetuk Arjuna.
"Ah, gak mau lah. Nanti kalau mati lampu, gak kelihatan. Cuma kelihatan giginya tok." Jawab Bima.
"Bima mau kulitnya puih kayak Romo sama Mbun." Kata Bima.
"Makanya jangan mai terus." Sahut Saira.
"Nanti Mbun naik darah, kalau aku sama Mamas di rumah terus." Jawab Bima.
"Ya Mbun gak naik darah kalau gak denger kalian berdua berantem." Jawab Meshwa.
"Sampe heran Mbun tuh sama kalian berdua. Kalau di luar tuh bisa akur banget, kalau di rumah bisa bentar - bentar ribut. Mamasnya jahil, adeknya cerewet. Kesenggol dikit, teriak - teriak." Kata Meshwa.
"Tuh kan, Mbun langsung naik darah." Celetuk Aka yang membuat mereka kembali menyemburkan tawa.
"Makanya, Mbun, kalau Mamas sama Adek main di luar itu, biarin aja. Biar Mbun gak naik darah." Kata Bima.
"Halaah! Bisa ae, anak satu ini." Sahut Saira sambil mencubit pipi cucunya.
"Mamas sama Adek mau beli skin care buat anak - anak juga, gak?" Tawar Saira.
"Enggak ah, Oma, Mamas takut." Kata Aka.
"Takut kenapa?" Tanya Saira.
"Kan skin care pakenya di muka, nanti kalau muka sama badan Mamas belang gimana? Kan kalau Nty Ncim sama Mbak Ara pake kerudung, jadi gak kelihatan. Kalau aku sama Bima, gak pake kerudung, nanti kelihatan kalau belang. Masak mukanya putih, badannya coklat." Cerocos Aka yang membuat mereka kembali tertawa.
"Kayak sapinya Mbah To ya, Mas. Kepalanya putih, badannya coklat." Timpal Bima yang membuat tawa mereka semakin meledak karena membayangkan sapi milik tetangga mereka yang di maksud oleh Bima.
"Kok kamu kepikiran sampe ke sana sih, Nang, Le? Oma gak kepikiran loh." Kata Saira di sela - sela tawanya.
"Namanya juga anak ajaib, Na..." Sahut Arjuna.
Setelah berbelanja skin care, mereka kemudian beralih menuju ke Restoran untuk makan siang terlebih dulu. Mereka memilih makan di Restoran steak, menuruti keinginan Bima yang katanya ingin makan steak.
"Suasana di sana cukup ramai karena memasuki jam makan siang. Mereka pun menunggu hampir dua puluh menit hingga akhirnya pesanan mereka sampai.
"Awas ini piringnya panas." Kata Arjuna yang baru mengingatkan.
"Aduh!" Seru Bima saat tak sengaja menyenggol hot plate di hadapannya.
"Nah kan. Agi tas mingkem lho, Romo. (Baru saja berhenti bicara loh, Romo)> kok ya kena beneran." Gerutu Arjuna.
"Sini, biar Mamas aja yang potongin." Kata Aka yang kemudian mengambil alih hot plate Bima.
Aka dengan santai memotong - motong steak yang di sajikan di atas hot plate itu. Berkali - kali tangannya terlihat mengenai hot plate, namun ia tampak biasa saja seolah tak terjadi apa - apa.
"Mas, yang bener to motongnya. Sini Romo aja." Kata Arjuna karena melihat tanga Aka yang beberapa kali menyentuh hot plate.
"Gak usah, Mo, tenang aja, gak panas kok." Jawab Aka.
"Emang Mas Juna lupa, kalo badannya Aka tuh kayak mati rasa. Gak kerasa sakit kena - apa - apa juga." kata Shima yang membuat mereka kembali terkikik.
"Mbun, emangnya kenyang, makan gak pake nasi? Gak bisa pesen nasi ya, Mbun?" Tanya Bima.
"Kan udah ada kentangnya, ada sayuran juga tuh. Masak gak kenyang sih, Nak? Lagian itu daging steaknya besar kok." Ujar Meshwa.
"Nanti kenyang sebentar, terus laper lagi. Aku kan orang Indonesia, kalau belum makan nasi, berarti belum makan namanya." Jawab Bima yang membuat mereka kembali terkikik geli.
"Pancene putune Arsha karo Aksa. Wes sarapan bolu sak loyang karo kopi sak termos, nak urung mangan sego, leh muni yo urung sarapan. (Emang dasar cucunya Arsha sama Aksa. Sudah sarapan bolu satu loyang sama kopi satu termos, kalau belum makan nasi, bilangnya ya belum sarapan)." Kata Arjuna.
"Emang iya itu. Kok bisa nurun Aksa sama Dipta gitu lho, kelakuannya. Mbok ya nurun Mifta, gitu." Komentar Saira.
"Kalo Bima kan semua di turun, Na. Bopo, Dipta, Mas Juna sama Mas Mifta bersatu jadi Bima." Timpal Shima.
"Lho, Mas Juna ini kalem lho. Kok bisa - bisanya di golongkan dengan golongan yang begituan." Kata Arjuna.
"PREEETTT!" Sahut Meshwa.
"Kelakuanmu itu lho lebih mirip sama Bopomu, Mas. Gak ada miripnya sama kelakuan Ayahmu, apa lagi Ibumu." Kata Saira.
"Ibaratnya kalo Bopo yang bikin perguruan Lambe Lamis. Bopo jadi guru besar, kamu yang jadi Kakak Perguruan paling sepuh." Imbuh Saira yang membuat mereka semua kembali tertawa.
"Ya Allah, perguruan Lambe Lamis." Kata Meshwa yang sampai memegangi perutnya yang kaku, karena terus tertawa.
"Jangan ngomongin Opa terus. Kasihan Opa nanti batuk gak berhenti - berhenti karena di ghibahin." Komentar Aka.
"Ya Allah, ini lagi." Kekeh Meshwa.
"Dapet bahasa ghibah dari mana sih kamu, Nang?" Tanya Saira.
"Dari Uti lah. Kata Uti, gak boleh ghibahin orang nanti dosa." Jawab Aka.
"Hm! Kena siraman rohani sama cucunya Uti." Kekeh Shima.
Mereka pun kembali melanjutkan aktifitas makan siang. Setelah selesai, Mereka melaksanakan sholat zuhur terlebih dahulu, baru kemudian membawa anak - anak bermain di Play ground.
Saat anak - anak bermain di Play ground, Meshwa dan Saira memutuskan untuk kembali berkeliling Mall, sementara Arjuna yang akan mengawasi Shima, Aka dan Bima bermain.
"Romo kok gak ikut Mbun sama Oma keliling - keliling?" Tanya Aka.
"Halah! Romo mu mana mau ngikutin para perempuan belanja. Romo mu dari dulu tuh cuma bagian nganterin aja, terus milih nunggu di Play ground atau nunggu di Caffe aja." Sahut Shima.
"Emang enapa, Mo? Emang Romo gak bosen, duduk di Caffe aja?" Tanya Aka.
"Mending nunggu di Caffe dari pada ikut keliling." Jawab Arjuna.
"Emang kelilingnya jauh ya, Mo?" Tanya Bima.
"Mbun sama Oma itu mau napak tilas Mall. Setiap sudut Mall dari lantai satu sampe lantai paling atas, mau di susurin." Jawab Arjuna.
"Sambil ngitung ada berapa langkah kalo keliling Mall ini." Imbuh Arjuna yang membuat Shima tertawa.
"Waduh! Nanti kalau betis Mbun sama Oma mbeledos (meledak) gimana?" Tanya Bima.
"Gampang, nanti kita tambal di tukang tambal ban." Sahut Aka yang membuat Arjuna dan Shima terbahak - bahak.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣