Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Gila
Tak .... Tak .... Tak ....
Chloe berbalik. Berjalan pelan ke arah Dokter Gio. Setiap langkahnya menggema di dalam ruangan yang sepi itu.
Dokter Gio mundur sampai punggungnya mentok di dinding. "J-jangan mendekat! Kau ini wanita gila!"
"Gila?" Chloe memiringkan kepala. Cat merah di kuasnya menetes ke lantai. Membentuk pola seperti bunga. "Aku?"
Ia tertawa kecil. "Yang gila itu kalian. Yang menyuntikkan obat gila ke tubuh lemah ini. Yang mengurungnya dalam ruangan gelap seperti ini. Yang mengatakan aku berhalusinasi saat aku bilang ibuku meninggal karena dibunuh."
Chloe berhenti tepat satu langkah di depan Dokter Gio. Terlalu dekat.
"Dengar baik-baik ya, Dokter," ucap Chloe pelan. "Aku tidak gila. Yang gila itu kamu."
Suster yang satunya masih berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya pucat.
"Keluar," kata Chloe tanpa menoleh. Suaranya tetap lembut. "Sebelum aku lupa kalau aku juga pembunuh."
Suster itu langsung lari tunggang-langgang. Sekarang tinggal mereka berdua.
Dokter Gio mencoba meraih laci meja. "Aku peringatkan kau—"
BUK!
Tangan Chloe lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan Dokter Gio dan membantingnya ke meja. Kuas di tangan satunya menempel di leher pria itu.
Dingin dan tajam.
"Aku tidak suka diancam," bisik Chloe. Napasnya mengenai telinga Dokter Gio. "Aku hanya ingin memberimu dua pilihan."
Ia menekan kuasnya sedikit. Setetes darah muncul di leher Dokter Gio.
"K-katakan," ucap Dokter Gio dengan suara bergetar.
Chloe tersenyum tipis. "Bantu aku keluar dari tempat terkutuk ini. Kalau tidak, aku akan memotong lehermu sekarang juga."
Dokter Gio memejamkan matanya. "K-kau gila... Kau tidak bisa keluar dari tempat ini."
SRET!
Garis merah muncul di lengan baju Dokter Gio. Tidak dalam. Hanya goresan. Tapi cukup untuk membuatnya menjerit.
"Aku tidak gila," kata Chloe. Ia menjilat darah di ujung kuasnya. "Kalau kau tidak membantu, siap-siap kepalamu ini terlepas dari lehermu."
Ia mendekatkan wajahnya. Mata merahnya menatap lurus ke mata Dokter Gio.
"Sepuluh detik," bisiknya. "Sebelum aku membuat lukisan baru. Dan kau yang akan jadi kuasnya."
Dari luar terdengar langkah kaki satpam. Alarm. Kekacauan. Tapi Chloe hanya tersenyum.
"Jadi? Bantu aku... atau kau mau jadi karya seni pertamaku?"
Dokter Gio gemetar hebat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"A-a-aku... aku bisa," akhirnya ia tergagap. "Aku punya kunci cadangan pintu belakang. Tapi... tapi ada satpam yang jaga."
Chloe menyipitkan matanya. "Bagus. Kalau begitu kau yang akan mengalihkan mereka."
Ia menarik kerah baju Dokter Gio. Menyeretnya ke depan pintu.
"Kau akan bilang ada pasien yang mengamuk di ruang rawat inap. Paham?"
DUG! DUG!
Suara gedoran dari luar semakin kencang. "BUKA PINTUNYA! INI SATPAM!"
Chloe melirik ke jendela. Bulan purnama menggantung tinggi. Jalan untuk kabur.
Ia berbisik di telinga Dokter Gio. "Dengar baik-baik ya, Dokter. Ini kesempatan terakhirmu untuk hidup. Jangan coba-coba berkhianat. Karena aku bisa mencium bau takutmu dari sini."
KRAK!
Pintu mulai retak karena didobrak dari luar.
Chloe mengambil botol infus dari meja, lalu memecahkannya ke lantai.
Prak!
Hal itu membuat Dokter Gio semakin tegang dan gemetaran. Saat ini ia melihat Chloe yang sangat berbeda. Tidak seperti Chloe yang ia kurung di ruangan ini selama lima tahun, atas perintah ibu tiri wanita itu.
Lalu Chloe menunduk dan mengambil pecahan botol infus. Ia menyelipkannya ke dalam genggaman Dokter Gio.
"Buka pintunya," perintahnya dingin. "Tersenyum. Dan bilang kau yang terluka, bukan aku."
Dokter Gio dengan tangan gemetar memutar gagang pintu.
Pintu terbuka.
Tiga orang satpam langsung masuk dengan pentungan terangkat. Tapi mereka berhenti saat melihat Dokter Gio dengan leher berlumuran darah dan pecahan kaca di tangannya sendiri.
"Dokter?" salah satu satpam berteriak.
"Dia... Dia gila!" teriak Dokter Gio sesuai skenario. Suaranya pecah. "Tolong! Dia menyerangku!"
Saat perhatian satpam teralihkan ke Dokter Gio...
Chloe sudah tidak ada di sana.
Yang tersisa hanya jejak cat merah di lantai. Menuju ke arah jendela yang sudah terbuka lebar.
Angin malam masuk. Membawa bisikan terakhirnya.
"Permainan baru saja dimulai, Ibu Tiri. Sampai jumpa di kediaman keluarga Weiss."
---
Atap rumah sakit basah oleh hujan gerimis.
Duk. Duk.
Chloe mendarat di atas kanopi lantai dua. Gaun rumah sakitnya robek, tapi ia tidak peduli. Darah di tangannya sudah mengering, bercampur cat merah.
Ia berdiri di tepi. Menatap pagar tinggi rumah sakit jiwa itu dari atas.
"Lima tahun," gumamnya. "Lima tahun kalian mengurung pemilik tubuh ini di kandang terkutuk seperti ini."
Matanya yang merah menatap tajam ke arah gerbang depan. Di sana lampu sorot mulai menyala. Alarm masih meraung.
"Tapi kandang tidak akan pernah bisa menahan seekor singa sepertiku."
Tanpa ragu, Chloe melompat.
BUK!
Tubuhnya berguling di tanah, lalu ia langsung berlari. Membelah kegelapan. Menghilang di antara semak-semak.
Tiga puluh menit kemudian.
Sebuah taksi tua berhenti di pinggir jalan gelap.
"Turun di sini, Nona," kata sopir taksi curiga melihat penumpang dengan gaun rumah sakit jiwa berlumur cat.
Chloe mengangguk. Ia merogoh saku gaunnya. Kosong.
Ia tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Pak."
Sebelum sopir taksi bereaksi, Chloe sudah membuka pintu dan berlari ke dalam gang sempit.
Hujan semakin deras.
Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil yang terlihat kosong. Tubuhnya sudah basah kuyup terkena air hujan.
Chloe menghela napas kasar. Ia menatap sekeliling. Hanya ada rumah kecil dengan cat mengelupas, jendela pecah, dan pintu yang berderit ditiup angin.
KREK
Ia mendorong pintu kayu itu. Tidak terkunci. Di dalamnya gelap, berbau apek dan jamur. Tapi hangat. Tidak sedingin rumah sakit jiwa.
Di sudut ruangan ada kasur busa tipis yang sudah robek, ditutupi kardus. Di atasnya ada satu bantal dan guling.
"Tempat ini cukup untuk melindungiku malam ini. Sebelum besok aku memulai semuanya," gumam Chloe sambil tersenyum tipis.
Petir menyambar. Menerangi satu sudut ruangan.
Ia melangkah ke arah lemari tua. Lemarinya berderit saat dibuka. Di dalamnya ada beberapa pakaian usang dan lusuh, tapi masih pantas dipakai.
Chloe meraih sepasang pakaian dari dalam lemari lalu segera mengganti gaun rumah sakit jiwanya yang sudah basah kuyup.
Celana jeans sobek dan kaus hitam kebesaran. Baunya apek. Tapi setidaknya ia tidak terlihat seperti pasien buronan lagi.
Setelah selesai, ia duduk di atas kasur busa itu. "Sepertinya aku butuh bantuan untuk masuk ke kediaman keluarga Weiss," gumam Chloe sambil berpikir.
"Minta bantuan Elsa...?" Ia mengusap wajahnya yang masih basah. "Apakah dia akan percaya kalau aku kembali hidup... tapi di tubuh yang berbeda?" Chloe kembali bergumam.
Hening.
Hanya ada suara hujan yang menimpa atap seng.
Elsa. Teman Daisy di kehidupan sebelumnya. Wanita itu anak dari asisten kepercayaan ayahnya.
Elsa dan Daisy adalah dua sosok yang sangat ditakuti di dunia bawah tanah. Dijuluki Si Kembar Iblis.
Daisy, si ahli strategi. Dingin, kalkulatif, tidak pernah gagal dalam satu misi pun.
Elsa, si algojo. Tangan kanannya. Setia sampai mati. Kejam, tapi hanya untuk musuh.
Mereka bertempur bersama. Membunuh bersama. Minum bersama di atas tumpukan mayat musuh.
Hingga suatu malam mereka terpaksa berpisah. Karena sebuah misi untuk menyerang markas musuh terbesar ayahnya.
Misi itu jebakan.
Dan Daisy yang menjadi korban. Karena dikhianati oleh salah satu anak buah ayahnya. Keberadaannya diketahui musuh. Ia tertangkap dan dibunuh. Mayatnya dimutilasi dan dibagi ke beberapa bagian. Kepalanya dikirim ke markas ayahnya.
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 😊 🥰 🥰.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,