Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Serupa
Pesawat akhirnya mendarat di London.
Begitu keluar dari pesawat, Ella menarik napas panjang.
Sudah beberapa waktu ia tidak kembali ke kota ini.
Namun kali ini rasanya berbeda.
Ia tidak datang sebagai seorang putri yang harus mengikuti keluarganya.
Ia datang sebagai karyawan perusahaan Williams.
Dan di sampingnya berjalan Roman.
Setelah mengambil koper dan menyelesaikan pemeriksaan yang diperlukan, mereka segera menuju area penjemputan.
Roman melihat jam tangannya.
"Ella sepertinya kita terlambat."
Ella mempercepat langkah.
"Aku tahu."
Dari kejauhan, pengemudi yang menjemput mereka sudah menunggu.
Roman tiba-tiba meraih tangan Ella.
"Roman?"
"Ayo kita sedikit berlari."
"Apa?"
"Sedikit lagi."
Roman menariknya agar berjalan lebih cepat.
Ella terpaksa mengikuti.
Langkah mereka berubah menjadi setengah berlari melewati area bandara.
Tangan Roman masih menggenggam tangannya.
Hangat.
Erat.
Dan entah kenapa...
jantung Ella langsung berdetak tidak karuan.
Bukan karena berlari.
Ia bahkan hampir lupa bagaimana cara bernapas dengan normal.
"Roman..."
"Hm?"
"Kau bisa melepaskan tanganku."
Roman menoleh sekilas.
"Kalau kulepas, kau akan tertinggal. Karena langkahmu sangat lamban."
Ella terdiam.
Jawaban sesederhana itu justru membuat wajahnya memanas.
Begitu sampai di mobil, Roman baru melepaskan tangannya.
Ella segera memasukkan tangannya sendiri ke dalam saku mantel.
Berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Roman tidak mengatakan apa-apa.
Namun sesekali ia melirik Ella dari samping.
Mungkin ia juga masih mengingat kejadian di kantin.
Hotel tempat mereka menginap tidak jauh dari bandara.
Sesampainya di sana, mereka langsung melakukan check-in.
Williams memang telah mengatur semuanya sebelum keberangkatan.
"Ini kartu kamar Tuan Roman Williams dan Nona Emma Taylor."
Petugas hotel menyerahkan dua kartu.
Roman mengambil salah satunya.
Ella mengambil kartu yang lain.
Mereka kemudian mengikuti petugas menuju lantai tempat kamar mereka berada.
Ketika berhenti di koridor, Ella melihat nomor kamar di depannya.
Kemudian matanya berpindah ke pintu di seberangnya.
Kamar Roman.
Mereka bahkan mendapat kamar yang berhadapan.
Roman mengangkat alis.
"Sepertinya kita memang tidak bisa saling menghindar."
Ella menatapnya.
"Jangan berharap aku akan mengganggumu."
"Aku tidak bilang begitu."
Roman tersenyum tipis.
"Aku hanya bilang kebetulan."
Ella mendengus.
"Bagus."
Petugas hotel kemudian menjelaskan bahwa mereka masih bebas tugas hari ini.
Rapat pertama dengan cabang London baru akan berlangsung besok pagi.
Setelah itu petugas pergi.
Ella berdiri di depan kamarnya.
Roman berada tepat di seberang.
"Kita bertemu lagi nanti."
"Iya."
Roman membuka pintunya.
Namun sebelum masuk, ia menoleh.
"Jangan lupa istirahat lah dulu."
Ella terdiam.
Kemudian menjawab pelan,
"Kau juga."
Pintu kamar Roman tertutup.
Ella masih berdiri beberapa detik.
Tangannya perlahan menyentuh dadanya.
Degup jantung itu belum juga kembali normal.
Ia menggeleng.
"Kenapa aku begini?"
Ella masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Di balik pintu yang berseberangan, Roman juga berdiri diam sejenak.
Perjalanan ini baru saja dimulai.
Namun tanpa mereka sadari...
London bukan hanya membawa mereka kembali ke tempat asal Ella.
London juga akan membawa mereka semakin dekat dengan rahasia yang selama ini disembunyikan oleh dua saudari kembar.
Pintu kamar Ella telah tertutup.
Koridor kembali sepi.
Victor masih berdiri beberapa meter dari sana.
Ia tidak langsung pergi.
Pandangannya masih tertuju pada pintu kamar yang baru saja dimasuki wanita itu.
Tadi...
Ia tidak mungkin salah lihat.
Wanita yang berjalan keluar dari lift itu adalah Ella.
Istri dari Ralph.
Victor mengusap dagunya sambil mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya.
Ia baru saja kembali dari restoran setelah sarapan ketika pintu lift terbuka.
Seorang wanita keluar bersama seorang pria.
Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.
Sampai wajah wanita itu terlihat jelas.
Victor bahkan sempat mengira dirinya salah orang.
Tetapi tidak.
Ia mengenal Ella.
Mereka pernah beberapa kali bertemu dalam acara keluarga Alexander.
Yang membuatnya bingung adalah pria di sampingnya.
Seorang pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Mereka membawa koper.
Jelas baru tiba.
Kemudian keduanya berjalan menuju kamar masing-masing.
Victor mengerutkan kening.
"Kenapa Ella ada di sini?"
Ia melirik pintu kamar Ella sekali lagi.
Hotel ini memang bukan tempat yang tidak mungkin didatangi keluarga Alexander.
Namun...
kenapa Ralph tidak pernah memberitahunya bahwa istrinya berada di hotel?
Dan siapa pria tadi?
Victor mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka kamera.
Untungnya, sebelum Ella masuk ke kamar, ia sempat mengambil beberapa gambar dari kejauhan.
Victor membuka salah satunya.
Ella terlihat jelas.
Pria asing itu juga terlihat di belakangnya.
Victor memperbesar gambar.
Wajah pria tersebut cukup jelas untuk dikenali jika diperlukan.
"Teman kerja? Tapi Ella bahkan tidak bekerja."
Ia bergumam.
Mungkin saja hanya teman.
Namun tetap saja ada sesuatu yang terasa janggal.
Victor bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan rumah tangga sepupunya.
Tetapi jika menyangkut Ralph, ia tahu pria itu tidak akan senang jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Terlebih lagi...
beberapa hari terakhir Victor memang berencana menemui Ralph setelah kembali dari Swiss.
Dan sekarang, bahkan sebelum ia sampai ke kediaman Alexander, ia justru menemukan sesuatu yang menarik.
Victor membuka percakapannya dengan Ralph.
Ia sempat ragu.
Namun akhirnya mengirim foto tersebut.
"Ralph, aku baru saja melihat Ella di hotel."
Beberapa detik kemudian, ia mengirim foto pertama.
Dia datang bersama seorang pria.
Kemudian foto kedua.
Mereka baru saja masuk ke kamar yang berbeda.
Victor berhenti sejenak sebelum menambahkan,
"Aku tidak tahu siapa pria itu. Mungkin rekan kerja, tapi kupikir kau perlu tahu."
Pesan terkirim.
Victor memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Ia masih menatap pintu kamar Ella.
Tidak ada apa-apa lagi.
Namun rasa penasarannya belum hilang.
"Semoga aku hanya salah paham."
Victor kemudian berbalik menuju lift.
Ia tetap akan menemui Ralph hari ini.
Tetapi sekarang...
ia memiliki sesuatu yang jauh lebih menarik untuk dibicarakan.
Di kediaman Alexander, Ralph masih belum mengetahui apa yang akan dibawa Victor ketika mereka bertemu.
Dan di hotel itu...
Ella baru saja meletakkan kopernya tanpa sedikit pun menyadari bahwa kedatangannya bersama Roman telah dilihat oleh seseorang dari keluarga Alexander.
Sebuah foto sederhana.
Namun bisa menjadi awal dari terbongkarnya sesuatu yang selama ini mereka jaga mati-matian.
Beberapa menit kemudian, ponsel Ralph kembali bergetar.
Ia membuka pesan dari Victor.
Foto itu muncul di layar.
Ralph terdiam.
Tatapannya terpaku pada sosok wanita yang berdiri di lorong hotel.
Ella.
Tidak mungkin salah.
Ia mengenal wajah itu.
Namun kebingungan segera muncul ketika Ralph melirik keluar dari ruang kerjanya.
Di ruang keluarga, Emma sedang duduk santai dengan sebuah novel di tangannya.
Wanita yang sama.
Istrinya.
Ralph kembali menatap layar.
Kemudian menoleh lagi ke arah ruang keluarga.
Emma masih membaca.
Tidak bergerak dari tempatnya.
Ralph memperbesar foto tersebut.
Wajah wanita di dalam foto itu begitu mirip.
Terlalu mirip.
Bahkan dari jarak sejauh itu, Ralph hampir tidak menemukan perbedaan.
"Bagaimana bisa..."
Ia kembali melihat Emma.
Lalu foto.
Emma.
Foto.
Seolah ada dua orang yang sama persis.
Ralph bersandar perlahan di kursinya.
Untuk pertama kalinya, perubahan-perubahan yang selama ini ia kumpulkan terasa jauh lebih masuk akal sekaligus semakin membingungkan.
Namun satu hal belum pernah terlintas dalam pikirannya.
Bahwa wanita di foto itu bukan orang asing.
Ia adalah seseorang yang wajahnya sama persis dengan wanita yang kini duduk di ruang keluarganya.
Ralph menatap foto itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya...
sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar muncul di kepalanya.
Siapa sebenarnya wanita yang selama ini menjadi istrinya?