No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari cara membujuknya
Di balik pintu, Valerie mengepalkan tangannya.
Sementara di luar kamar, Damian masih berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada pintu yang kini tertutup rapat.
Ia menyentuh bibirnya tanpa sadar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Aneh...”
Ia mengernyit pelan.
“Kenapa jantungku berdebar?”
Damian mulai mempertanyakan perasaannya sendiri.
•●✿✿●•
Keesokan paginya.
Langit masih diselimuti embun ketika Valerie sudah keluar dari kamarnya. Ia mengenakan pakaian kuliah sederhana dengan ransel yang tersampir di bahunya.
Tanpa menoleh ke arah lantai dua tempat kamar Damian berada, Valerie berjalan lurus menuju pintu depan.
“Pak Boby,” panggilnya pelan.
Pria paruh baya itu segera menghampiri.
“Selamat pagi, Nona Muda.”
“Tolong antar saya ke kampus.”
Pak Boby sempat ragu.
“Nona tidak sarapan dulu?”
Valerie menggeleng pelan.
“Nanti saja, saya sedang buru-buru.”
Melihat Valerie tidak ingin membahasnya, Pak Boby hanya mengangguk.
“Baik, Nona.”
Beberapa menit kemudian, mobil perlahan meninggalkan halaman Mansion Robert.
Tak lama berselang, Damian keluar dari kamarnya.
Seperti biasanya, ia merapikan jas di depan cermin sebelum menuruni tangga menuju ruang makan. Ia bahkan masih melakukan kebiasaannya.
“Tolong siapkan dua porsi sarapan.”
“Baik, Tuan.”
Namun pelayan itu mendadak terdiam.
“Maaf, Tuan Muda... Nona Valerie sudah berangkat ke kampus sejak tadi.”
Damian mengernyit.
“Sepagi ini?”
“Benar, Tuan.”
“Beliau terlihat buru-buru, dan juga tidak sempat sarapan.”
Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat selera makan Damian langsung menghilang.
Ia menatap kursi kosong yang biasanya ditempati Valerie. Biasanya gadis itu akan lebih dulu duduk di sana sambil mengomel karena roti terlalu gosong atau meminta tambahan selai.
Tapi pagi ini kursi tersebut kosong, dan suasana ruang makan terasa jauh lebih sunyi.
Damian perlahan berdiri.
“Sudahlah.”
“Aku tidak jadi sarapan.”
Pelayan hanya saling berpandangan heran melihat Damian yang langsung berjalan pergi.
Di halaman mansion, damian melangkah cepat menuju mobilnya.
“Donny!”
Sang sopir segera membukakan pintu.
“Ke kantor, Tuan?”
“Ya.”
Mobil pun melaju meninggalkan mansion.
Sepanjang perjalanan, Damian bersandar di kursi belakang sambil memijat pelipisnya. Ia mengembuskan napas panjang, ia terus membatin.
Apa-apaan ini...?
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
Kenapa aku marah, padahal kami menikah kontrak.
Tapi mengapa aku seolah takut kehilangan perhatiannya.
Harusnya aku senang Valerie berhenti mengejarku, berhenti menggangguku.
Lalu... kenapa aku malah sedih?
Tangannya perlahan mengepal.
Kenapa rasanya rumah jadi sangat sepi?
Kenapa aku tidak suka melihatnya menghindariku?
Damian memejamkan mata beberapa detik.
Bayangan Valerie yang semalam mengusirnya dari kamar kembali terlintas di kepalanya, disusul bayangan Valerie yang menangis saat mengigau.
Dadanya kembali terasa tidak nyaman.
Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu.
Setidaknya... dia kembali mengobrol denganku, tersenyum saat melihatku, dan memasang wajah kesalnya.
Damian membuka matanya perlahan, sorot matanya berubah menjadi lebih serius.
Harus ada cara agar Valerie mau berbicara denganku lagi.
Tanpa disadarinya, seluruh pikirannya sejak pagi hanya dipenuhi oleh satu nama.
Valerie.
✿
Valerie melangkah keluar kampus dengan kedua sahabatnya, Rachel dan Ariana.
Tiba-tiba Rachel menyenggol bahu Ariana pelan.
“Ariana...”
“Apa?” tanya Ariana.
Rachel menganggukkan dagunya ke arah gerbang kampus.
“Tuan putri kita lagi dijemput pangeran.”
Valerie yang penasaran ikut menoleh.
“Ada apa sih?”
Tatapannya langsung tertuju pada seorang pria yang bersandar santai di sebuah mobil hitam.
Damian.
Dengan jas abu-abu gelap yang masih rapi sepulang bekerja, pria itu berdiri tenang sambil menunggu. Beberapa mahasiswi bahkan diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Ariana tersenyum jahil.
“Kayaknya ada yang kangen dengan sahabat kita nih...”
Rachel langsung menarik tangan Ariana.
“Ayo kita pergi. Jangan jadi obat nyamuk.”
“Heh kalian, aku ikut!”
Belum sempat Valerie mengejar mereka, suara Damian menghentikan langkahnya.
“Valerie.”
Ia mengembuskan napas pelan sebelum berbalik.
Damian mendekat.
“Ikut denganku!”
Valerie mengernyit.
“Nggak mau.”
“Aku sudah menyuruh Pak Boby pulang.”
“Lalu?”
“Jadi hari ini kamu ikut denganku.”
Valerie langsung menggeleng.
“Tidak mau.”
Damian menatapnya.
“Aku bisa pulang dengan naik taksi.”
Damian menghela napas pelan.
“Tidak boleh.”
“Jangan memaksaku.”
“Aku tetap memaksa.”
Valerie mulai berjalan menjauh.
“Aku bilang akan naik taksi.”
Baru beberapa langkah, Damian meraih pergelangan tangannya.
“Kamu!”
Valerie menatapnya kesal.
“Apa?”
“Pria yang paling menyebalkan.”
“Memang.”
Damian menarik tangan Valerie dengan lembut namun tegas menuju mobil.
“Damian...?”
Valerie sempat meronta kecil, tetapi akhirnya menyerah.
“Dasar licik.”
Damian hanya tersenyum tipis sebelum membukakan pintu mobil untuknya, dengan wajah cemberut Valerie terpaksa menurutinya.
Mobil melaju meninggalkan kampus. Beberapa puluh menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah butik mewah.
Valerie menatap papan nama butik itu dengan bingung.
“Ngapain kita kesini?"
Damian tersenyum.
“Ganti pakaian.”
“Untuk?”
“Nanti juga kamu tau.”
Valerie mendengus pelan.
“Arghh... aku bisa setres lama-lama dengan mu.”
Damian terkekeh kecil.
“Akhirnya aku bisa melihatmu kesal.”
✿
Hampir tiga puluh menit, Damian menunggu Valerie berganti pakaian.
Pintu ruang ganti terbuka.
Valerie melangkah keluar mengenakan gaun musim panas berwarna putih gading dengan potongan sederhana namun elegan. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, riasan tipis semakin mempertegas wajah cantiknya.
Damian yang sedang duduk menunggu perlahan mengangkat kepala.
Ia terpaku, matanya tak berkedip beberapa detik. Akhirnya Damian benar-benar menyadari betapa cantiknya Valerie.
“Cocok sekali, Nona,” puji pegawai butik.
Valerie justru tersenyum jahil.
“Terima kasih.”
Ia sengaja berjalan melewati Damian begitu saja.
“Donny!”
Sopir Damian yang berdiri di dekat Damian duduk, langsung mendongak.
“Iya, Nona?”
“Bagus nggak?”
Donny tersenyum canggung.
“Tentu saja, Nona Valerie sangat cantik.”
“Sungguh?”
“Iya.”
Valerie tertawa kecil.
“Ayo Donny...”
Ia sengaja terus mengobrol dengan Donny sambil berjalan ke arah mobil.
Damian yang ditinggalkan sendirian hanya bisa memandang punggung mereka, sudut bibirnya perlahan turun.
Sejak kapan mereka akrab?
Ia mempercepat langkah hingga menyusul keduanya.
Valerie melirik Damian dari samping.
Damian berdeham pelan.
“Donny jaga sikapmu.”
Donny dengan cepat menyadari maksud Damian.
Valerie yang tidak mengerti maksud Damian, ia segera membela Donny.
“Kamu kenapa sih?!”
“Aku hanya tidak ingin sopirku terlalu banyak mengobrol hari ini.”
Pak Donny langsung menundukkan kepala menahan senyum.
Valerie justru terkekeh geli.
“Oh Wow...”
“Ternyata manusia sedingin dan sekaku kamu bisa cemburu juga ya?”
Damian langsung membantah.
“Siapa yang cemburu?”
“Aku hanya tidak ingin, Donny tidak fokus bekerja.”
“Iya, anggap saja aku percaya.”
Nada bicara Valerie yang penuh godaan membuat Damian semakin salah tingkah.
✿
Mobil kembali melaju.
Sekitar satu jam kemudian, mobil berhenti di tepi sebuah jalan pesisir.
Valerie mengernyit.
“Pantai?”
Damian mengangguk pelan.
Valerie membuka pintu mobil. Begitu turun, matanya langsung membelalak. Di hadapannya terbentang hamparan pantai berpasir putih yang begitu bersih.
Air laut berwarna biru jernih memantulkan cahaya matahari sore, sementara ombak kecil bergulung lembut menyapu bibir pantai. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma asin yang menenangkan.
“Woww.”
Mata Valerie berbinar.
“Indah sekali...”
Tanpa menunggu siapa pun, ia langsung berlari menuju pasir putih.
“Hahaha!”
Tawanya lepas bersama hembusan angin, ia membentangkan kedua tangannya, membiarkan angin menerpa wajahnya.
Melihat Valerie kembali tertawa dengan begitu riang, Damian hanya berdiri beberapa langkah di belakang. Tanpa sadar, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
“Valerie?”
Valerie menoleh.