NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. ( Penyakit Hati)

Happy weekend, timin-timin. Crazy up untuk menemani minggu kalian 😘

***

(Tangisan Andrea tidak ada hubungannya dengan Ibu, lalu siapa yang membuatnya bersedih?)

"Tuan."

Veroz mendekat. Sebelum bicara, dia memperhatikan bosnya yang sedang melamun.

"Bagaimana?" tanya Lucien. "Yang ku minta sudah berhasil kau dapatkan?"

"Ada yang aneh dengan masa lalu Nona Andrea, Tuan."

"Masa lalu Andrea aneh?"

"Benar. Dia datang dari desa, tapi saat mereka menelusuri asal-usulnya, ditemukan satu pola yang agak mencurigakan. Saya khawatir ini akan bermasalah jika tetap dilanjutkan, jadi saya putuskan untuk berbicara dengan Anda terlebih dahulu," ucap Veroz kemudian menyerahkan sebuah chip memori pada bosnya. "Seluruh informasi sudah tersimpan di sini. Anda bisa memeriksanya sendiri."

Segera Lucien membuka chip tersebut dan melihat hasilnya. Dan betapa kagetnya dia begitu mengetahui kalau informasi mengenai orang tua Andrea telah dihapus. Lebih janggalnya lagi, salinan dari informasi tersebut dikunci dengan sandi yang cukup rumit. Ini menandakan ada rahasia besar yang coba disembunyikan.

"Identitas Nona Andrea tak biasa. Orang yang membuat sandi itu seperti sengaja tak membiarkannya tahu mengenai latar belakang orang tuanya." Veroz menghela nafas. Gadis desa yang galak dan berpikiran terbuka itu ternyata punya masa lalu cukup pelik. Semuanya tersembunyi dengan tali simpul yang entah siapa yang membuatnya. "Anak buah saya bisa saja meretas sandi itu, Tuan. Akan tetapi saya khawatir ini akan berdampak pada Anda dan Nona Andrea."

"Kita abaikan dulu masalah ini. Soal Andrea semalam, informasi apa yang kalian temukan? Apa seminggu belakangan ini dia didatangi atau menemui orang asing?" tanya Lucien seraya bertopang dagu. "Ibu bilang setelah menculiknya mereka belum bertemu lagi sampai tadi malam. Itu artinya Ibu bersih dari tuduhan."

"Tidak ada siapapun yang ditemui ataupun menemui Nona Andrea. Cuma ada satu rekaman yang menunjukkan kalau Nona Andrea terlihat menangis dan kebingungan setelah keluar dari rumahnya. Saya menebak mungkin itu ada hubungannya dengan Nenek Erwita," jawab Veroz.

"Orang tua itu yang membuatnya menangis?"

"Ini masih sebatas dugaan saja, Tuan. Mengingat di sekitar rumah mereka tak ada CCTV, jadi saya tak bisa mendapatkan informasi lebih jelas. Saya minta maaf."

Lucien mengangguk paham.

"Apa yang dilakukan neneknya Andrea di siang hari?"

"Beliau menjaga kedai. Rumahnya kosong."

"Oke. Minta orang untuk diam-diam memasang CCTV di sekitar rumah mereka. Perasaanku tiba-tiba jadi tidak nyaman. Aku takut ada yang mengincarnya," ucap Lucien mulai menimang kewaspadaan.

"Baik, Tuan."

Tok tok tok

"Masuk."

Ekspresi Lucien langsung berubah dingin begitu orang yang mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan. Veroz yang menyadari perubahan hati bosnya, meminta sang tamu untuk mendekat.

"Tuan Lucien, saya minta maaf. Saya ... saya tak berniat buruk kepada Anda." Shike menatap takut pada bosnya yang terlihat acuh. Tenggorokannya kering dan jantungnya berpacu kencang sekali. "Saya tahu perbuatan saya mengambil foto Anda diam-diam sudah sangat lancang. Saya sangat sadar akan hal itu. Tetapi Tuan, saya melakukannya demi menjaga nama baik Anda juga. Mohon pertimbangan kembali keputusan Anda untuk memecat saya dari GS Company."

"Atas dasar apa kau melindungi nama baik Tuan Lucien?" sindir Veroz tegas. "Di sini posisimu hanyalah sebagai karyawan, belum sampai ke ranah kau boleh mencampuri masalah pribadi atasanmu. Dan juga Nona Shike, memata-matai kesenangan bos lalu diam-diam menemui Nyonya Crystal. Apa kau berniat mengadu domba?"

"Bukan seperti itu, Tuan Veroz. Semua saya lakukan agar Nyonya mencari tahu sendiri siapa orang yang ingin mencurangi Tuan Lucien. Andrea itu cuma anak magang yang berasal dari desa, mana mungkin punya niat yang tulus? Pasti ada udang dibalik batu!" sahut Shike menyangkal tuduhan Veroz. Apapun yang terjadi dia akan berusaha keras mempertahankan pekerjaan di perusahaan ini.

"Niat yang tidak tulus?"

Lucien bereaksi. Matanya tajam menatap sosok karyawan yang berani menjelekkan Andrea di hadapannya.

"Kau pikir dirimu itu siapa? Cuma karena punya posisi penting di perusahaanku lantas kau bisa berbuat sesuka hati termasuk memprovokasi urusan pribadiku? Begitu?"

Shike menggeleng dengan cepat.

"Memotretku diam-diam lalu menghasut orang tuaku. Kau pikir kami ini sekumpulan orang bodoh yang tak bisa menilai seseorang?" kesal Lucien tak habis pikir. "Aku sungguh baru tahu di perusahaanku ada karyawan yang sangat luar biasa berani seperti dirimu. Ckck, luar biasa!"

Veroz melirik Shike yang sedang menahan tangis dengan wajah pucat pasi. Sayang sekali orang sepintar ini harus terdepak dari GS Company. Disaat seseorang mulai punya kedudukan, hal terbesar yang harus dihadapi bukanlah persaingan, melainkan penyakit hati. Dan itu terbukti karena Shike telah menghancurkan masa depannya sendiri hanya karena rasa iri. Sayang sekali.

"Atur uang pesangon yang cukup untuknya, Veroz. Mengingat jasanya terhadap perusahaan, aku akan sedikit berbaik hati untuk tidak membuatnya masuk ke dalam daftar blacklist," titah Lucien malas terlalu lama melihat wajah bawahannya yang lancang ini.

"Baik, Tuan."

Shike menggeleng saat Veroz hendak membantunya berdiri. Dia mengumpulkan keberanian yang tersisa lalu memeluk sebelah kaki bosnya sambil menangis.

"Tolong jangan pecat saya, Tuan. Saya ... saya sangat butuh pekerjaan ini untuk membiayai adik beserta orang tua saya. Tolong beri saya kesempatan. Saya janji akan melakukan apapun persyaratan yang Anda berikan asalkan masih tetap bisa bekerja di sini. Saya mohon, Tuan!" ratap Shike berharap bosnya akan berubah pikiran.

"Jangan tidak tahu diri. Cepat lepaskan kaki Tuan Lucien dan ikut pergi denganku. Kau sudah tak diterima lagi di sini!" tegur Veroz.

"Tidak mau. Tolong izinkan saya tetap bekerja di sini, Tuan Lucien. Saya mohon,"

Lucien bergeming. Sama sekali tak terketuk mendengar tangisan bawahannya. Mengira masalah telah selesai, muncul seseorang yang mana membuat Lucien langsung menelan ludah begitu mendengar ucapannya.

"Apa yang kalian lakukan padanya? Kalian menindasnya?"

Andrea yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, kaget setelah mendengar penuturan Cheril tentang Shike yang dipecat dari perusahaan. Segera saja dia mendatangi ruangan Lucien guna mengkonfirmasi berita tersebut. Dan betapa syoknya Andrea melihat Shike sedang menangis tersedu-sedu dibawah kaki Lucien. Ini penindasan.

"Meskipun kau selalu menyindirku, aku tak mungkin tutup mata melihatmu merendahkan diri seperti ini. Cepat bangun!" perintah Andrea sambil berlari menghampiri Shike. Dia lalu berkomat-kamit tanpa suara saat melihat Lucien ingin bicara. "Tutup mulutmu, bos. Aku mau menenangkan dia dulu."

Veroz mundur. Pawang singa telah tiba. Sudah saatnya dia berhenti bersuara.

"Hiksss Andrea, tolong bantu aku membujuk Tuan Lucien. Bagaimana nasib adik dan kedua orang tuaku jika aku dipecat dari kantor? Tolong bantu aku," ucap Shike dengan nafas tersengal. Hatinya pilu membayangkan jika kedua orang tuanya harus kembali memeras keringat demi mencari nafkah.

"Nah, sudah tahu kau jadi tulang punggung keluarga, masih saja cari masalah. Fokuslah pada tujuanmu saja, bukan malah sibuk menciptakan boomerang untuk diri sendiri. Dipecat kan kau jadinya!"

Diam-diam Lucien dan Veroz saling lirik melihat bagaimana Andrea membela Shike tapi sambil memarahinya. Gadis desa itu dengan penuh perhatian membantu karyawan yang sempat memusuhinya duduk lalu merapihkan penampilannya yang agak berantakan.

"Aku benar-benar minta maaf, Andrea. Aku khilaf."

"Semua orang yang melakukan kesalahan pasti akan mengatakan hal yang sama sepertimu. Mengaku khilaf, tapi tidak akan berhenti jika belum kena batunya. Sekarang mau bagaimana? Nasi bukan lagi jadi bubur, tapi sudah jadi tai!" omel Andrea.

Shike tertunduk diam. Benar kata orang kalau penyesalan selalu datang di akhir.

"Bos, sudahlah jangan marah lagi. Ya?"

"Iya," sahut Lucien langsung patuh.

Andrea mengacungkan jempol. Melihat itu dada Lucien seketika membusung.

(Hah? Semudah itu membujuk Tuan Lucien? Sementara aku sampai menangis di bawah kakinya, hatinya tetap tak terketuk. Tapi Andrea?)

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!