"Sttt...dia tidak akan tahu, dia kan buta..." Suara bisikan seorang wanita.
"Kamu begitu agresif..." Suara seorang pria juga turut terdengar.
Stefanie Triatmaja memang buta, tapi tidak tuli. Dirinya yang kehilangan arah saat persiapan pesta pernikahannya, mendengar dengan mata kepalanya sendiri, calon suaminya Danu berselingkuh.
Air matanya mengalir, dirinya tahu tapi pura-pura tidak tahu. Menunggu saat yang tepat, mencari cara untuk membatalkan pernikahan ini.
Hingga, saat di altar, dirinya mengucapkan kalimat yang membuat pernikahannya dapat dibatalkan dengan mudah.
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku hamil anak Derrel Virgo Chandradinata." Wanita yang mengatakan terus terang tentang perselingkuhan palsunya.
Semua mata tertuju pada Chandra."Aku tidak menghamilinya---"
Tapi Chandra, pemuda yang merupakan musuh Stefani pada masa SMU itu, entah kenapa perlahan tersenyum penuh obsesi dan kegilaan."Benar! Aku kemari untuk mencuri pengantin."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua
Bagaimana sejatinya seorang ibu mertua dalam anggapan Stefanie?
Mungkin dalam anggapan Stefanie, sosok ibu mertua adalah seperti Lisa. Seorang ibu mertua yang anggun, bagaikan penuh martabat. Ibu mertua yang menganut sistem patriarki, di mana kedudukan seorang suami lebih tinggi. Ibu mertua yang akan senang jika dirinya menurut apapun yang diinginkannya, untuk menjadi menantu sempurna.
Seorang ibu mertua yang tidak terlihat matrealistis sama sekali. Ibu mertua yang hanya diam di rumah.
Tapi.
Seorang wanita yang begitu cantik, penampilannya begitu modis. Sepatu hak tinggi digunakannya namun berjalan begitu lancar. Usianya boleh hampir menginjak 50 tahun.
Tapi dari penampilannya bagaikan seorang wanita berusia 25 tahunan. Berjalan penuh percaya diri menggunakan kacamata hitam, lipstik merah bertengger bibirnya. Cantik bahkan tanpa make up yang terlalu tebal.
Semua pelayan menoleh kepadanya, bahkan ada salah seorang pelayan yang menabrak tiang penyangga bangunan, benar-benar tidak konsentrasi melihat penampilan wanita ini.
Walaupun mengenakan pakaian wanita karir. Tapi wajahnya bagaikan selebritis, tersenyum secerah mentari.
“Halo ha…semuanya.” Wanita yang menyapa bahkan terlihat sama sekali tidak sopan. Membawa dua buah paper bag berukuran besar, serta sebuah koper yang tidak kalah besarnya.
“Maaf, anda siapa? Pemilik rumah sedang menikmati makan malamnya. Jika ingin bertamu mohon menunggu di ruang tamu.” Kalimat yang diucapkan oleh Yahya, sang kepala pelayan.
“Kamu ini hanya seorang Butler rendahan. Jadi tutup mulutmu…” wanita cantik itu mengibaskan rambutnya.
Kembali melangkah penuh percaya diri, menuju meja makan, area yang sedikit terlihat dari area ruang tamu.
Mata semua orang tertuju padanya.
“Risa, Apa itu temanmu?” Pertanyaan yang diucapkan oleh Fandi kepada saudara sepupunya.
“Aku tidak kenal…” Risa mengalihkan pandangan yang kepada Dina.”Tante siapa orang itu? Apa itu bagian dari kelompok sosialita tante?” Pertanyaannya kepada Dina, benar-benar tidak dapat berkata-kata melihat wanita yang lumayan cantik. Bahkan sangat cantik.
“Tante tidak kenal…” Dina kemudian melirik ke arah suaminya. Pria yang bahkan berhenti mengunyah, mulutnya menganga, matanya melotot melihat ke arah kecantikan yang hakiki.”Johan! Johan! Johan!” Teriak Dina emosi menyadarkan suaminya.
Pria yang menelan ludah, kemudian bertanya pada istrinya.”Dia siapa?”
“Aku yang seharusnya bertanya kepadamu! Dia membawa koper jangan-jangan Dia adalah wanita simpananmu!” Dina menatap ke arah suaminya.
“A…aku sama sekali tidak mengenalnya.” Kalimat yang diucapkan oleh Johan kembali menelan ludahnya, tidak ingin tidak sengaja meneteskan air liur.
“Ibu!” Chandra yang tengah menyuapi istrinya dengan potongan buah bangkit. Memeluk wanita itu, kemudian meraih kopernya.
“I…ibu?” Risa membulatkan matanya, wanita itu adalah ibu dari pria menyebalkan ini?
“I…ibu mertua.” Stefanie terdengar gugup, berusaha untuk bangkit. Walaupun ini adalah pernikahan kontrak, tapi orang ini adalah ibu mertua yang harus dihormati olehnya. Mungkin dalam imajinasi wanita buta ini, Ibu dari Chandra sudah pasti hanya seorang wanita tua, dengan penampilan biasa-biasa saja. Dan sifat yang sedikit keras seperti Lisa.
“Sayang…kamu sama sekali tidak perlu berdiri. Biar mama saja yang menghampirimu.” Wanita yang berlarian dengan cepat, tangannya masih membawa 2 buah paper bag yang begitu besar.
Sedangkan kopernya dibawa oleh putranya.
Melani Chandradinata, Itulah nama dari ibu kandung Derrel Virgo Chandradinata. Wanita yang tiba-tiba saja bergerak memeluk menantunya.
“Sayang, padahal kamu begitu kaya, tapi bersedia menerima putraku yang pas-pasan. Terima kasih…Mama akan selalu menyayangimu.” Itulah yang diucapkan oleh wanita ini. Wanita yang sejatinya materialistis, mungkin sifat yang menurun kepada putranya.
“Kamu berani membawa ibumu ke tempat ini!?” Suara bentakan dari Dina terdengar. Wanita ini tidak dapat dianggap enteng, terlihat dari auranya. Seperti seorang wanita karir, wajahnya begitu cantik, cara bicara dan gerak-geriknya seperti anak muda. Bahkan mulut Johan menganga, pada akhirnya tidak sengaja mengeteskan liurnya kali ini.
“Tentu saja, aku sudah membicarakan ini dengan Stefanie, selaku pemilik rumah ini. Katanya Stefanie ingin berbakti kepada Ibu mertuanya. Aku sebagai suaminya tentu saja tidak kuasa untuk menghalangi.” Pemuda ini berucap begitu ringan, bagaikan segalanya adalah hal yang mudah.
“Dia tidak boleh tinggal di tempat ini!” Suara bentakan dari Dina.
Melanie melepaskan pelukannya dari Stefanie.”Kenapa? Takut kalah dengan pesonaku? Atau Kamu takut aku merebut suamimu.” Wanita yang melepaskan kacamata hitamnya, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri melirik ke arah Johan.
Johan seketika menelan ludahnya. Jakunnya bergerak naik turun, wanita ini sungguh-sungguh membuat mendebarkan.
“Berani-beraninya! Kamu pasti memiliki suami sendiri. Bagaimana jika suamimu mendengar apa yang kamu katakan!? Aku yakin kamu akan diceraikan!” Suara bentakan dari Dina tidak terima dengan apa yang wanita ini katakan.
“Sayangnya aku tidak punya suami, andai saja aku punya.” Wanita yang mulai duduk di kursi meja makan. Kakinya menyilang, aura wanita karir yang kuat, sekaligus aura wanita penggoda yang kuat. Mengibaskan rambut panjangnya sekali lagi.
“Kamu janda?” Pertanyaan dari Johan mengangkat sebelah alisnya.
“No! No! No! Aku adalah single parent, aku memutuskan untuk membesarkan putraku sendiri. Pekerjaanku saat ini adalah asisten pribadi dari Sastra Ananta. Kamu tahu Ananta Group bukan? Perusahaan yang begitu sulit untuk dimasuki. Putraku yang super duper tampan ini, menjabat sebagai wakil CEO. Jadi aku adalah seorang wanita karir sukses, yang juga membesarkan seorang anak yang sama suksesnya.” Wanita yang berucap penuh senyuman.
Johan mulai melirik ke arah istrinya, jika dibandingkan dengan wanita ini, istrinya sama sekali tidak ada apa-apanya.
Seorang wanita karir mandiri yang sukses dengan gaji ratusan juta rupiah. Wajah begitu cantik, pandai merawat diri, ditambah dengan begitu sukses membesarkan putranya. Bahkan tanpa bantuan suami, ini baru seorang wanita…bukan seperti istrinya yang selalu mengeluh, ingin perawatan di luar negeri lah! Atau ingin suntik botox, tapi penampilannya masih biasa-biasa saja.
“Chandra…ini benar-benar ibu mertuaku?”bisik Stefanie dengan suara kecil pada suaminya.
“Tentu saja, ibuku adalah seorang wanita karir yang sukses. Bukankah kamu pernah mendengar rumor bahwa aku adalah anak di luar nikah?” Pertanyaan dari Chandra dijawab dengan anggukan kepala oleh Stefanie.
“Aku memang benar-benar anak di luar nikah. Di aktaku hanya tertulis nama ibuku, sama sekali tidak tertulis nama ayahku. Dia adalah wanita yang luar biasa, wanita yang patut dikagumi…itulah ibuku.”
Stefanie hanya terdiam, mendengarkan semua kalimat yang diucapkan oleh Chandra. Wanita ini merupakan tipikal wanita yang percaya diri. Benar-benar berbeda dengan dirinya, yang selalu menjadi wanita penurut. Yang selalu dengan mudah dapat dijebak.
“Kamu tidak diterima! Sekarang kamu pergi dari tempat ini!” Dina mengepalkan tangannya.
Mata Melani sedikit melirik ke arah Risa.”Wah! Siapa wanita yang mengenakan gaun peach ini? Benar-benar pantas untuk menjadi seorang model.”
Wajah Risa memerah, menoleh ke arah lain berusaha menolak pujian.
”Kebetulan ada temanku, yang merupakan pencari bakat salah satu agensi. Aku bisa memperkenalkannya padamu, Jangan salah paham…ini karena kamu benar-benar cantik…” wanita yang tersenyum dengan begitu ramah dan manis. Bagaikan seorang sahabat.
“Benarkah?” Risa terdengar begitu antusias. Wanita itu terjebak dengan mudah, baru beberapa menit saja sudah membuat Risa berada di pihaknya. Itulah kehebatan seorang Melani.
Sementara Stefanie mengangkat salah satu alisnya. Kemudian menelan ludahnya, ternyata Ibu mertuanya berada di level yang berbeda. Dirinya akan meniru semua hal yang dilakukan olehnya. Lebih tepatnya dirinya ingin berusaha lebih kuat lagi.
dan ga bakalan ngelepas sampe kita mati kering 😒
siap" ya
🤣🤣🤣
dg alasan apapun semoga jd ide utk derrel menendang danu dan lisa dari stefanie
😍
udah pake mobil stefanie... ehh... masih nambah black card stefanie juga
stefanie begitu kamu sudah bisa melihat,, kamu akan terpesona dg kegantengan derrel 😄😄😄