Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Senyum Vanessa
Ruang Ketua Asrama Putri adalah ruangan yang sangat kontras dengan koridor akademi yang dingin dan steril. Ruangan itu hangat, dengan pencahayaan kuning keemasan yang menenangkan dan aroma bunga kering yang samar. Di tengah ruangan, Vanessa duduk dengan anggun di balik meja kayu mahoni, menyesap teh dari cangkir porselen tipis.
"Keisya, silakan duduk," sapa Vanessa dengan senyum yang tampak tulus. "Sudah lama kita tidak mengobrol santai seperti ini, bukan? Sejak kau masuk ke Kelas Alpha, kau tampak sangat sibuk."
Keisya duduk di kursi beludru di depan Vanessa, menjaga punggungnya tetap tegak. Ia tahu posisi Vanessa sebagai Ketua Asrama Putri bukan sekadar gelar; wanita itu adalah mata dan telinga sistem di asrama.
"Terima kasih, Kak Vanessa. Memang, jadwal di Kelas Alpha sangat padat," jawab Keisya datar.
"Tentu saja," Vanessa meletakkan cangkirnya dengan gerakan pelan yang anggun. "Kelas Alpha adalah kebanggaan akademi. Tapi terkadang, menjadi yang terbaik bisa sangat melelahkan, bukan? Aku mendengar sedikit rumor tentang ketegangan di antara kalian sepuluh orang. Apakah Atharva terlalu menekanmu?"
Pertanyaan itu meluncur begitu halus, hampir seperti obrolan sahabat. Namun, Keisya menangkap detak yang tidak biasa. Vanessa tidak sedang bertanya tentang kesejahteraan Keisya; ia sedang memancing retakan dalam loyalitas tim Kelas Alpha.
"Atharva hanya menjalankan perannya sebagai pengatur strategi," jawab Keisya tenang, mencoba menyembunyikan kewaspadaannya. "Kami saling percaya satu sama lain. Itu saja."
Vanessa terkekeh pelan. "Kepercayaan adalah hal yang mewah di Nexus, Keisya. Apalagi dengan sistem peringkat yang sekarang mengikat kelas kalian menjadi satu entitas. Jika satu orang jatuh, kalian semua akan terseret." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, senyumnya tidak memudar, namun tatapannya menjadi lebih tajam. "Katakan padaku, apa kau yakin mereka semua memiliki loyalitas yang sama padamu? Atau jangan-jangan, mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk mengorbankanmu demi menyelamatkan peringkat mereka sendiri?"
Keisya merasakan udara di dalam ruangan itu menjadi sedikit lebih berat. Setiap kata yang diucapkan Vanessa adalah serangan kecil yang ditujukan untuk menanamkan benih keraguan.
"Kami tidak berencana untuk saling mengorbankan," balas Keisya tegas.
"Baguslah kalau begitu," Vanessa kembali bersandar di kursinya, tatapannya kini terasa seperti sedang membedah isi kepala Keisya. "Aku hanya khawatir. Kau punya potensi besar, Keisya. Sayang sekali jika potensi itu harus terbuang hanya karena kau terjebak dalam loyalitas yang salah pada sekelompok orang yang tidak memiliki masa depan di sini."
Percakapan itu berlanjut selama tiga puluh menit, membahas topik-topik ringan tentang kehidupan, masa depan, dan kenangan masa kecil. Namun, setiap kali Keisya membuka mulut, ia merasa sedang melewati ujian. Vanessa memintanya bercerita tentang ketakutan terbesarnya, tentang ambisinya, hingga pendapatnya mengenai sistem eliminasi.
Saat Keisya akhirnya diizinkan keluar, Vanessa berdiri dan mengantarnya hingga ke ambang pintu.
"Jangan lupa, Keisya," Vanessa menyentuh bahu Keisya dengan lembut, "pintu ruanganku selalu terbuka jika kau merasa beban di kelasmu sudah terlalu berat untuk kau tanggung sendiri."
Keisya berjalan kembali menuju asrama dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Sepanjang jalan, ia terus mengulang setiap kalimat yang ia ucapkan di ruangan tadi. Ia merasa baru saja diperiksa bukan oleh seorang teman, melainkan oleh sebuah sistem yang sedang memetakan seberapa kuat ketahanannya.
Sesampainya di kamarnya, Keisya mengunci pintu dan menatap cermin di dinding. Ia melihat pantulan dirinya sendiri, namun ia merasa seolah-olah Vanessa masih berdiri di belakangnya, membaca pikirannya. Ia tidak hanya takut karena Vanessa telah menggali kelemahannya; ia takut karena ia sadar bahwa ia hampir saja terjebak oleh keramahan palsu itu.
"Dia bukan sekadar Ketua Asrama," bisik Keisya pada dirinya sendiri. "Dia adalah bagian dari saringan itu. Dia tidak mencari teman; dia sedang mencari siapa yang akan retak lebih dulu."
Keisya terduduk di tepi tempat tidur, memikirkan Atharva yang sedang dalam perjalanan menuju Sektor 9-G, dan teman-temannya yang lain yang kini berada dalam pengawasan ketat. Senyum Vanessa tadi bukanlah keramahan; itu adalah peringatan bahwa di Nexus Academy, bahkan untuk sekadar tersenyum, seseorang harus memiliki alasan strategis.
...****************...
Keisya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih terasa tidak beraturan. Ia meraba sakunya, memastikan potongan foto dari perpustakaan masih ada di sana. Jika Vanessa mampu menggali informasi sedalam itu hanya melalui percakapan santai, bagaimana jika wanita itu tahu tentang penemuan mereka di Sektor 9-G?
Ponsel pribadinya di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan muncul bukan dari jaringan sekolah, melainkan dari saluran terenkripsi yang dibuat Nareswara.
“Vanessa baru saja mengakses log privasi seluruh anggota kelas kita. Dia mencari celah, Keisya. Hati-hati.”
Pesan itu mengonfirmasi kecurigaan Keisya. Vanessa tidak sekadar ingin mengobrol. Ia sedang melakukan pemetaan sosial terhadap setiap anggota Kelas Alpha untuk menentukan siapa yang paling mungkin menjadi informan atau yang paling mudah untuk dipatahkan. Keisya menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan di ruang Ketua Asrama tadi mungkin telah direkam, dianalisis, dan dibandingkan dengan profil psikologisnya.
Keisya beranjak menuju jendela yang menghadap ke arah koridor utama. Dari sana, ia bisa melihat beberapa anggota Dewan Siswa Elite sedang melakukan patroli bukan patroli biasa, melainkan patroli pengawasan intensif yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Ia memikirkan Atharva. Jika Leonard sudah memanggilnya ke Sektor 9-G, dan Vanessa sedang mencoba memecah belah tim dari dalam asrama, maka mereka benar-benar berada dalam kepungan.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Saat Vanessa tadi memegang bahunya, ada sebuah alat pendeteksi biometrik kecil yang tidak sengaja tertempel di sana bukan alat standar sekolah, melainkan alat pelacak frekuensi rendah. Vanessa tidak hanya mencoba menguji mentalnya; ia baru saja menanamkan alat pelacak aktif pada Keisya.
Tanpa membuang waktu, Keisya segera masuk ke kamar mandi. Ia melepas seragamnya dan dengan teliti memeriksa bagian bahu pakaiannya. Benar saja, di balik jahitan kain, terdapat sebuah mikrosensor seukuran butiran pasir yang berpendar merah redup.
Ia mengambil pinset dari kotak peralatan teknis Nareswara yang sempat tertinggal di kamarnya, lalu dengan tangan gemetar namun mantap, ia mencabut benda kecil itu. Ia menatap benda itu sejenak sebelum menjatuhkannya ke dalam air wastafel yang mengalir.
Namun, ia tahu tindakannya ini tidak akan luput dari pengawasan. Vanessa akan tahu dalam hitungan detik bahwa sensor itu mati.
"Dia akan datang mencariku," bisik Keisya.
Ia segera bergegas keluar dari kamar mandi, mengemas barang-barang penting miliknya ke dalam tas kecil. Ia tidak bisa menunggu Atharva kembali. Ia harus memperingatkan yang lain. Jika Vanessa sudah bergerak, maka koordinasi tim Kelas Alpha adalah hal pertama yang harus diselamatkan.
Saat ia membuka pintu kamar untuk keluar, ia dikejutkan oleh bayangan seseorang yang berdiri diam di depan pintunya. Itu bukan Leonard. Itu adalah Nabila, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dengan tangan yang gemetar memegang sebuah yang menyala terang.
"Keisya," bisik Nabila, suaranya parau. "Sistem baru saja mengeluarkan perintah baru. Kelas kita... kelas kita akan dipisahkan besok pagi. Mereka akan menyebar kita ke kelas-kelas yang berbeda dengan alasan optimalisasi kapasitas belajar."
Keisya membeku. Itu adalah taktik klasik sistem: memecah belah untuk menaklukkan. Jika mereka dipisahkan, mereka tidak akan pernah bisa mengakses Sektor 9-G atau mengungkap rahasia angkatan lama. Senyum Vanessa tadi bukanlah awal dari sebuah ujian, melainkan awal dari proses eliminasi sistematis terhadap kesatuan mereka.
Pertempuran mereka kini bukan lagi tentang menang atau kalah dalam simulasi, melainkan tentang mempertahankan diri sebelum mereka benar-benar hilang dari catatan sejarah sekolah ini.