NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 Cemburu Dalam Diam

SMA Bintang.

Sudah menjadi aktivitas di pagi hari, Pak satpam sejak tadi berdiri di depan gerbang, mengatur kendaraan yang memasuki gerbang sekolah mewah itu, beberapa dari mereka menggunakan mobil pribadi, sepeda motor, dan sementara untuk murid-murid yang diantarkan oleh orang tua mereka tampak berhenti di depan gerbang.

Celia juga sudah memasukkan motornya ke area parkiran, Celia membuka helmnya dan tidak lupa mengecek penampilannya dari kaca spion.

"Huhhhh, Celia kamu harus semangat belajar, kamu pasti bisa menjadi juara dan mengalahkan mereka, minyak tujuan kamu adalah memasuki universitas kedokteran," ucap Celia meyakinkan diri sendiri.

Diego, Kania, Yogi dan Alfian memasuki area lobby dengan mereka yang selalu saja terlihat menjadi pusat perhatian.

"Valery!" Kania memanggil Valery yang berjalan melewati mereka dan kemudian Valery dengan penampilan yang sedikit berbeda karena memakai kacamata hitam.

"Hey Valery, apa sekolah kita ini begitu silau sampai kacamata itu harus melekat?" tanya Yogi dengan ejekan.

"Nggak lucu," sahut Valery begitu kesal dengan kedua tangannya dilipat di dadanya.

"Kenapa pipi lo?" tanya Kania menyadari ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

"Tidak apa-apa," jawabnya mencoba untuk menghindari dengan menutup menggunakan rambutnya.

"Mungkin nyamuk hinggap nyamuk di pipi mulus Valery, eh kena tabok, kelihatan bekas 5 jari," tebak Yogi.

"Tamparan lo keren juga Valery," sambung Diego.

"Sudahlah nggak usah bahas tentang gue," sahut Valery semakin kesal jika teman-temannya sejak tadi membicarakan apa yang terjadi padanya dan sementara Alfian masih terlihat begitu santai dengan ekspresi datar.

"Shuttt!" tiba-tiba Yogi memberi arahan pada teman-temannya membuat mata mereka tertuju pada Celia yang memasuki area sekolah bersama dengan Rafa dan tampak keduanya berjalan sembari berbicara dengan tertawa-tawa.

"Rafa kok bisa lepas kayak gitu ya sama cewek kampungan itu," ucap Kania terlihat begitu kesal dan ternyata Alfian juga terlihat tidak suka.

"Mereka pacaran kali, kita juga bisa lihat pertama kali cewek alay itu masuk sekolah kita dan orang yang pertama deketin dia adalah Rafa, nggak tau juga apa yang dilihat Rafa dari cewek kayak gitu," sahut Yogi.

"Nggak pintar-pintar amat juga yang adanya malah peringkat terakhir," sambung Yogi.

Alfian tidak memiliki ketertarikan untuk membahas Celia yang membuatnya langsung pergi.

"Alfian tunggu!" Valery buru-buru menyusul Alfian.

"Alfian kenapa sih belakangan ini kayak orang bete terus, kayak cewek sensitif mulu bawaannya," celetuk Kania.

Yogi dan Diego tidak berpendapat apapun dengan keduanya mengangkat bahu bersama.

****

Perpustakaan sekolah terasa begitu sunyi.

Deretan rak buku berdiri rapi, aroma kertas memenuhi ruangan, sementara cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar.

Terlihat Rafa dan Celia baru saja memasuki perpustakaan dan tidak lupa menuliskan nama mereka terlebih dahulu, keduanya berjalan berdampingan melewati rak-rak perpustakaan dengan buku yang tersusun rapi.

"Ini yang terpenting harus kamu pelajari!" beberapa merekomendasikan buku untuk Celia.

"Ini juga!" kedua tangan Celia tampak berpangku yang siap menerima beberapa buku yang sudah ditumpuk Rafa.

"Ini dibaca langsung?" tanyanya melihat di sekitarnya.

Banyak siswa di perpustakaan itu dengan duduk tampak serius membaca buku, tetapi bukan hanya satu buku saja yang ada di atas meja mereka, ada beberapa buku seolah-olah harus selesai dibaca.

"Jika membaca buku tidak melihat berapa jumlahnya yang terpenting bisa memahami isi buku itu," jawab Rafa.

"Iya-iya," sahut Celia mengangguk-ngangguk dengan tersenyum getir.

"Ayo kita duduk di sana!" ajak Rafa.

Celia menganggukkan kepala dengan keduanya mengambil tempat duduk.

Beberapa buku sejarah dan matematika terbuka di hadapan mereka. Memang ulangan harian kemarin adalah ulangan matematika yang memuat Celia mendapat peringkat terakhir.

Celia mengingat perkataan temannya bahwa Rafa pernah memenangkan olimpiade tingkat provinsi. Jadi Celia meminta tolong kepada Rafa untuk diajari hal-hal dengan rumus-rumus yang tersulit baginya.

Rafa menjelaskan sebuah soal sambil menuliskan langkah penyelesaian di selembar kertas. Celia memperhatikan dengan saksama, lalu tersenyum kecil ketika akhirnya memahami penjelasan itu.

"Celia dalam mengerjakan soal, tidak perlu buru-buru dan yang terpenting kita tahu. fokus mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu," ucap berapa menjelaskan singkat.

"Kamu benar juga," sahut Celia dengan mengangguk-anggukkan kepala.

Ternyata tidak jauh dari sana, berdiri di balik rak buku. Entah sejak kapan Rafa berada di sana.

Alfian mengambil salah satu buku yang tak lain adalah sebuah novel, entahlah apakah seorang Alfian menyukai cerita novel atau sembarangan buku itu telah diambil.

Hanya sekedar membuka novel itu tanpa dia baca sama sekali dengan tatapan Alfian tertuju pada Celia yang duduk bersama dengan Rafa.

Melihat keduanya begitu akrab membuat dadanya terasa semakin berat. Ia ingin mendekat.

Ingin duduk di kursi itu.

Wajah Alfian benar-benar kesal, seolah-olah seseorang telah melakukan kesalahan besar kepadanya, Alfian tampak sudah tidak semangat, seperti muak dan dongkol membuatnya meletakkan buku tersebut sembarang tempat dan kemudian meninggalkan perpustakaan.

Mood Alfian benar-benar berantakan, susah ditebak dan tidak mengerti apa sebenarnya yang dia inginkan.

*******

Bel istirahat baru saja berbunyi, halaman sekolah telah dipenuhi hiruk-pikuk para siswa yang baru datang.

Tawa bercampur obrolan ringan memenuhi udara, sementara sinar matahari menembus sela-sela pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan menuju gedung kelas.

Di antara keramaian itu, Alfian berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku seragamnya. Tatapannya yang biasanya datar mendadak berhenti pada satu pemandangan.

Celia

Gadis berhijab itu sedang berdiri bersama Rafa. Keduanya tampak tertawa kecil membahas sesuatu sambil melihat buku catatan yang sama.

Sesekali Celia menunjuk sebuah halaman, lalu Rafa mengangguk sambil memberikan pendapatnya. Entah mengapa, dada Alfian terasa sesak.

Ia mengalihkan pandangan sejenak, berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu bukan urusannya. Namun, ketika kembali menoleh, mereka masih berdiri berdampingan.

Tanpa sadar, rahang Alfian mengeras, wajahnya begitu cepat memerah. Semua bercampur menjadi satu membuat Alfian berjalan melewati mereka dengan langkah tenang, seolah tak peduli.

Rafa dan Celia cukup sedikit kaget ketika mereka berdua dipisahkan dengan Alfian yang berjalan di tengah-tengah mereka sampai buku yang di pegang Celia jatuh

"Apaan sih....." kesal Celia.

Alfian benar-benar cuek dan tidak peduli tetap melanjutkan langkahnya. Rafa membantu Celia untuk mengambil buku tersebut.

"Kenapa sih dia, sudah kayak cewek aja, tidak bisa melihat dua orang sebesar ini, seenaknya lewat-lewat apa tidak bisa lewat dari sana sini," Celia terus mengoceh dengan sikap Alfian

"Sudahlah Celia, mungkin Alfian tidak sengaja, ayo kita ke sana cari tempat duduk, saya akan kembali menjelaskan kepada kamu," ucap Rafa tidak ingin memperbesar masalah apapun yang membuat Celia menganggukkan kepala.

Mood Alfian benar-benar berantakan, padahal suasana hatinya begitu membaik di pagi hari, tetapi entah kenapa matanya harus menangkap sosok Celia bersama dengan Rafa membuatnya kesal.

Di anak tangga darurat yang tampak sepi Alfian menyandarkan tubuhnya di pembatas tangga tersebut, tangannya mengeluarkan Vape dari saku celananya, mengisapnya, ingin melakukan kedua kali tetapi vave itu sudah ditarik oleh Rafa yang membuat Alfian menghembuskan asapnya tepat di wajah Rafa.

"Kamu akan mendapatkan masalah jika guru melihat," ucap Rafa mengingatkan.

"Apa urusannya sama lo?" sahut Alfian dengan dahi mengkerut.

"Kasihan om dan tante harus berurusan dengan sekolah," jawab Rafa.

"Mereka nyokap nyokap gue dan gak ada urusannya sama lo," sahut Alfian.

Rafa menghela nafas kemudian langsung pergi.

Alfian memang paling kesal jika harus diceramahi, apalagi orang yang melakukan itu adalah orang yang membuatnya bete seharian.

Bersambung.....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!