Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMA BARU
Weekend yang direncanakan Kala untuk hibernasi, gagal karena kedatangan mama, papa, adik, dan juga Tania. Sahabat kecil sekaligus sepupu Kala itu baru sampai dari Ausie, dan sengaja langsung turun di bandara di kota Kala tinggal.
Tante Lily menyambut sang adik penuh suka cita, beliau juga tak kalah antusias menyambut Tania. Kenal sekali, dulu sebelum pindah ke Ausie, orang tua Tania sibuk kerja menjadi dokter, sehingga saat pulang sekolah sampai orang tuanya selesai dinas, Tania dititipkan ke mama Kala. Sampai sekarang keluarga besar menganggap Tania seperti ponakan sendiri.
"Apa kabar Kala?" ucap Tania begitu Kala dan Pevita turun, gadis itu langsung menghamburkan pelukan rindu pada Kala. Ekspresi Pevita langsug berubah, ingin menarik gadis itu agar menjauhi sang suami, tapi hanya deheman yang ia keluarkan. Kala tak membalas pelukan, ia melirik pada Pevita. Tahu kalau Pevita tak suka, lebih baik Kala juga yang melepas pelukan itu.
"Hai, Mbak Pev!" sapa Tania, untung saja ia bisa bersikap ramah pada Pevita, setidaknya wajah sinis Pevita bisa memudar.
"Hai!" balas Pevita dengan memaksakan senyum. Mama mertua dan Tante Lily menyiapkan berbagai camilan dan minuman segar, tak lupa Tania membuka tas dan membuka camilan yang ia bawa dari Ausie.
"Ayo dimakan, tenang saja aku beli yang ada logo halalnya kok!" ujar Tania sembari mengeluarkan berbagai snack, cracker, cokelat, dan camilan lain made in Ausie. Sebenarnya semua yang dibawa Tania termasuk kesukaan Pevita, tapi ia jaga image, tak mau terlihat dekat dan welcome pada sahabat kecil sang suami. Bagi Pevita, dia tidak akan pernah welcome dengan perempuan luar, apapun itu statusnya bagi Kala.
Pevita lebih memilih camilan dan minuman yang dibuat ibu tiri dan mama mertuanya, "Sumpah enak banget, Ma!" puji Pevita, tak berniat cari muka, hanya saja es buah yang dibuat oleh ibu mertuanya memang enak, ya maklum pemilik catering ternama di kotanya, wajar olahan yang beliau masak enak.
"Aku anak boga tapi belum bisa mengolah bahan seenak ini," jawab Pevita lebih memilih lama di dapur ketimbang berada di ruang tengah bersama Tania yang sedang melepas rindu bersama Kala. Mama Kala hanya tersenyum mendengar pujian sang menantu, beliau kalau belum suka maka responnya hanya senyum. Pevita sedikit tersinggung, untung saja dia tidak tinggal bersama mertuanya sehingga tak perlu makan hati tiap hari.
"Latihan terus, nanti juga enak kok!" saran Tante Lily membesarkan hati Pevita, beliau tahu mama Kala belum bisa menerima Pevita sepenuhnya. Sehingga sebagai keluarga yang lebih tua, Tante Lily bertugas untuk menjembatani Pevita dan juga mama Kala di setiap kondisi.
Saat makan siang, Pevita dibuat jengkel oleh Tania. Berani-beraninya dia mengambilkan makanan untuk Kala. "Ini kesukaan kamu banget, Kal. Sini piring kamu, mau cumi pasti!" ujar Tania layaknya si punya rumah.
"Ada Pevita, Tan. Gak usah repot-repot," ujar Kala melirik sang istri yang sebenarnya juga tak pernah melayani Kala saat makan. Pevita sedikit lega karena Kala bisa tegas pada sikap Tania barusan.
"Tania lupa kalau kamu udah nikah, Kala!" ujarnya dengan meringis, dan meminta maaf pada Pevita.
Lupa? Bullshit, lo sengaja. Badan gue di depan lo, ya kali lo lupa kalau gue istrinya Kala. Alasan klasik. Hati Pevita dibuat panas selama Tania ada di rumahnya. Apalagi sang mama mertua tak tegas pada Tania, boleh gak sih, Pevita mengomel meski dia sahabat kecil Kala, harus paham batasan. Sudah dewasa dan Kala juga sudah menikah. Gak usah sok manja.
Pertama kali melayani makan sang suami, Pevita terlihat kaku, tak pakai tanya Kala mau apa, ia langsung memilihkan saja. Beruntung Kala tak protes, dan makan sesuai yang diambilkan Pevita.
Urusan di meja makan selesai, Tania bikin ulah lagi. Selepas maghrib dia mengajak jalan ke mall. "Males ah," jawab Pevita. Jelas dia tidak akan menikmati jalan ke mall kalau ada Tania.
"Lagian kok gak sore aja sih, lebih lama jalan-jalannya, kalau sekarang terbatas waktu!" sambar Salsa, adik Kala yang masih SMP. Pevita pun memberikan jempol pada adik iparnya itu.
"Ya udah sih kalau gak mau, biar aku sama Kala saja!" ujar Tania tak tahu malu. Pevita menatap Kala sembari membatin sampai lo menuruti permintaan Tania, gue bakal diemin lo.
"Udah berangkat saja, mumpung di sini. Mall tutup jam 10 malam juga, masih ada waktu," lanjut mama Kala, Tania pun girang seolah mendapat dukungan penuh dari mama Kala. Kalau sudah begini, Kala pun tak bisa menolak, apalagi dengan alasan mumpung Tania di sini, kasihan loh kalau gak kamu ajak jalan-jalan.
"Yakin Mbak gak ikut?" tanya Kala sekali lagi pada Pevita. Gadis itu hanya menggeleng. "Nanti marah kalau gak diajak?" ledek Kala.
Pevita kembali menggeleng, dan mengacungkan jempol saja, pertanda kalau dia kasih izin. Padahal hatinya panas membara. "Mau nitip sesuatu?" tanya Kala, lagi-lagi Pevita menggeleng. Mode silent sudah dimulai.
"Pevita gak ikut, Kal?" tanya mama. Ternyata Kala gak jalan berdua, sang adik dan mama ikutan jalan juga.
"Gak, Ma. Lagi mengerjakan tugas," jawab Kala sekenanya.
"Paksa dong, Mas. Nanti dia cemburu sama Tania!" ujar Salsa. Entah mengapa kali ini, Salsa tak sreg dengan sikap Tania yang terlalu dekat pada Kala, padahal di depan Pevita. Seperti tak menghargai status Pevita. Meskipun, Salsa juga dekat dengan Tania, tapi Salsa bukan pendukung laki-laki beristri friendly pada perempuan lain.
"Dia gak bakal cemburu," jawab Kala, ya sesuai pikirannya, Pevita tidak punya rasa pada Kala, jadi tidak akan mungkin cemburu pada Tania.
"Aku salah ya, kalau terlalu dekat sama kamu, Kal?" tanya Tania, cari perhatian dengan wajah sok polos.
"Tuh tahu," sewot Salsa.
Mama pun melerai Salsa, mereka tetap berangkat tanpa Pevita. Selama di mall, Salsa memotret dari belakang sikap Tania yang menempel terus pada Kala.
Mbak Pev, marahin Mas Kala nanti. Ada perempuan gatal kok masih saja ditanggapi. Salsa mengirim foto (saat Tania menggamit lengan Kala) itu pada Pevita.
Waow. Serasi banget. Santai aja sih, Sal.
Gak bisa, Mbak. Aku yang gak terima. Mas Kala tuh terlalu memanjakan Tania, bahkan aku saja sering banget diabaikan kalau sudah ada Tania.
Suruh nikah sama Tania saja kalau gitu, cocok banget. Balas Pevita cukup menohok.
"Baca, Mas!" saat Tania ke toilet, Salsa sengaja menunjukkan room chatnya dengan Pevita.
"Ya kamu ngapain chat kayak gitu, Dek!"
"Karena aku gak suka aja sama Tania, kalau.gak bisa menghargai Mbak Pevita. Dia harusnya tahu batasan, gak nempel mulu kayak Mas itu single aja. Mas harusnya tegas juga dong, masa' kalah sama aku yang masih SMP. Tahu mana sebatas teman, mana yang perhatian sama pacar!" terpaksa Salsa mengingatkan sang kakak, daripada Tania lebih nekad lagi.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh