Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hembusan angin malam yang membawa aroma karat dan air hujan merangsek masuk melalui pintu paviliun yang hancur. Aura mundur hingga punggungnya membentur tepian meja marmer tempat komputer ganda berada. Ponsel khusus di dalam genggamannya sengaja ia sembunyikan di balik lipatan kardigan abu-abunya, layarnya masih menyala menampilkan laporan pengiriman pesan yang sukses.
Gavin Mahendra melangkah masuk dengan santai, melipat payung hitamnya yang basah dan menyerahkannya kepada salah satu anak buahnya tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari Aura. Senyuman di wajah tampannya yang bergaris tegas memancarkan kepuasan yang dingin.
"Gisela Aura," kata Gavin, melangkah mendekati meja kerja. Ia menyentuh pinggiran monitor komputer yang masih terasa hangat dengan ujung jarinya. "Mahasiswi teladan peraih beasiswa penuh, anak tunggal yang berbakti... dan ternyata, arsitek hukum di balik kegagalan denda kargo dua juta dolar milik klan gue."
Aura mencoba menegakkan bahunya, menyembunyikan getaran ketakutan di suaranya di balik ketegasan akademis yang biasa ia gunakan saat sidang draf. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Tuan Mahendra. Jika ini soal sengketa pelabuhan, uruslah dengan Devan di pengadilan, bukan dengan menyerang paviliun ini."
Gavin terkekeh, sebuah suara renyah yang terdengar sangat manipulatif. "Pengadilan? Jangan naif, Aura. Di kota ini, hukum adalah apa yang tertulis di atas kertas kontrak yang kalian rampas dari tangan gue. Devan mengumumkan lo sebagai pacarnya kemarin pagi untuk mengalihkan fokus gue, membuat gue mengira dia punya kelemahan asmara baru. Tapi Devan lupa, gue jauh lebih mengenal dia daripada lo mengenal dia. Devanandra Bratadikara tidak pernah melindungi seorang wanita kecuali wanita itu memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk kelangsungan klannya."
Gavin condong ke depan, menatap Aura dari jarak dekat. "Dan sesuatu yang berharga itu adalah otak lo, Aura. Kemampuan lo membaca celah hukum taktis klan Mahendra."
Aura menelan ludah dengan susah payah. Logika Gavin terlalu tajam. Sandiwara diversi yang mereka susun di kampus ternyata justru menjadi petunjuk yang mengonfirmasi kecurigaan terbesar musuh mereka.
"Bawa dia," perintah Gavin berbalik memunggungi Aura, memberikan isyarat kepada dua anak buahnya yang bertopeng. "Kita bawa dia ke markas Distrik Timur. Begitu draf digital Bratadikara berada di bawah kendali kita, cewek ini akan menulis ulang seluruh kontrak pelabuhan Utara sesuai kemauan gue."
Dua pria bertubuh kekar melangkah maju, mencengkeram lengan Aura dengan kasar. Aura mencoba memberontak, namun kekuatan fisiknya tentu bukan tandingan para tentara bayaran klan Mahendra. Mereka menyeret Aura keluar dari paviliun, melintasi halaman gudang yang basah di bawah guyuran hujan yang semakin lebat.
Namun, tepat ketika kaki Gavin baru saja menginjak lantai beton halaman luar, sebuah suara raungan mesin mobil yang sangat familiar memekik membelah kesunyian malam Distrik Selatan.
VROOOOOM!
Sebuah mobil jip taktis hitam besar menerobos masuk melalui gerbang besi kompleks gudang yang sudah hancur. Mobil itu tidak melambat, melainkan melakukan manuver drift tajam di atas lantai beton yang licin, menciptakan cipratan air hujan setinggi dua meter yang langsung menghalau pandangan para penjaga klan Mahendra.
Sebelum mobil jip itu benar-benar berhenti sempurna, pintu kemudi terbuka. Devanandra Bratadikara melompat keluar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jaket kulit hitamnya berkibar diterpa angin kencang, dan sepasang mata elangnya memancarkan kemarahan murni yang sangat mengerikan—sebuah ekspresi yang belum pernah Aura lihat sebelumnya, bahkan saat konfrontasi di gudang logistik pertama.
Pft! Pft! Pft!
Tiga tembakan dari pistol peredam suara Devan menyalak berturut-turut dengan akurasi yang mematikan. Tiga penjaga klan Mahendra yang berada di dekat gerbang langsung tumbang dalam hitungan detik. Bram menyusul keluar dari kursi penumpang dengan senapan serbu laras pendek, langsung mengambil posisi berlindung di balik kap mobil dan menembakkan rentetan peluru untuk menekan sisa anak buah Gavin.
"Devan!" teriak Gavin, senyumannya seketika hilang, digantikan oleh gertakan rahang yang mengeras. Ia buru-buru menarik tubuh Aura ke belakang punggungnya, menggunakan mahasiswi itu sebagai perisai hidup sementara tangannya sendiri mencabut pistol dari balik jas biru tuanya.
Devan menghentikan langkahnya sepuluh meter di depan mereka, berdiri tegak di bawah guyuran hujan tanpa memedulikan air yang membasahi wajahnya. Pistolnya terarah lurus, tepat ke arah dahi Gavin yang tersembunyi di balik pundak Aura.
"Lepaskan Aura, Gavin," suara Devan terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan, namun sarat akan ancaman pembunuhan yang mutlak. "Gue sudah bilang kemarin di kampus, siapa pun yang berani menyentuh dia, berarti berurusan langsung sama kematian mereka sendiri."
Gavin tertawa sinis, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya di balik tubuh kecil Aura yang gemetar. "Lo telat, Devan! Pasukan lo di rumah sakit privat sedang sibuk mengejar ambulans kosong yang gue kirim sebagai umpan. Lo datang ke sini cuma berdua dengan Bram. Satu perintah dari gue, anak buah gue di atas atap akan melubangi kepala cewek ini."
"Gak ada anak buah lo yang tersisa di atas atap, Gavin," sebuah suara datar menyahut dari arah interkom mobil jip. Itu adalah suara Kenzo, yang memantau situasi dari ruang kendali cadangan. "Sistem perimeter udara gudang ini sudah diambil alih oleh klan Bratadikara satu menit lalu. Penembak runduk lo di atap sudah dilumpuhkan."
Mendengar laporan Kenzo, ekspresi Gavin seketika berubah panik. Ia melirik sekilas ke arah atap gudang dan menyadari siluet anak buahnya memang sudah tidak ada lagi di sana.
Melihat celah kepanikan Gavin yang hanya berlangsung sepersekian detik, Aura tidak menyia-nyiakan kemampuan analisis taktisnya. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia menghentakkan tumit sepatunya keras-keras ke atas punggung kaki Gavin, lalu menyikut rusuk pria itu dengan sikutnya.
"Argh!" Gavin memekik tertahan, cengkeramannya pada lengan Aura melonggar akibat rasa sakit yang mendadak.
Aura langsung merunduk, menjatuhkan dirinya ke atas lantai beton yang basah untuk membersihkan jalur tembak.
Pft!
Satu peluru dari Devan melesat secepat kilat, menghantam tepat pada pergelangan tangan kanan Gavin yang sedang memegang pistol. Senjata api milik pewaris Mahendra itu terlempar ke udara, dibarengi dengan teriakan kesakitan Gavin yang memegangi tangannya yang bersimbah darah.
Bram dengan cepat menerjang maju, melumpuhkan dua anak buah Gavin yang tersisa dengan tendangan dan pukulan taktis yang efisien, memastikan area halaman tengah gudang benar-benar steril dari ancaman musuh.
Devan tidak memedulikan Gavin yang kini berlutut di atas beton menahan sakit. Ia menjatuhkan pistolnya ke dalam sarung, lalu berlari mendekati Aura yang masih terduduk di atas lantai yang basah. Devan berlutut di depan Aura, dengan kedua tangannya yang gemetar—sebuah tanda kecemasan yang jarang diperlihatkan oleh seorang Bratadikara—ia memeriksa wajah dan tubuh Aura.
"Lo gak apa-apa, Ra? Ada yang terluka? Bajingan itu menyentuh lo di mana?" tanya Devan bertubi-tubi, suaranya dipenuhi oleh rasa khawatir yang teramat sangat, meruntuhkan seluruh dinding keangkuhan mafianya.
Aura menatap mata elang Devan yang kini dipenuhi oleh binar kelegaan yang murni. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes, berbaur dengan air hujan yang membasahi pipinya. Tanpa bisa ditahan oleh logika hukum atau batasan sandiwara lagi, Aura memajukan tubuhnya dan memeluk leher Devan dengan erat.
"Aku takut, Devan... Aku pikir kamu tidak akan datang," bisik Aura di dalam dekapan cowok itu, tubuhnya bergetar hebat karena sisa adrenalin petualangan maut ini.
Devan tertegun sejenak menerima pelukan erat Aura, sebelum akhirnya kedua lengan kekarnya melingkar kokoh di pinggang gadis itu, menariknya masuk ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan aman. Devan membenamkan wajahnya di rambut Aura yang basah, menghirup aroma cendana dan air hujan yang kini terasa seperti aroma kehidupan baginya.
"Gue selalu datang buat lo, Aura," bisik Devan rendah, memberikan kepastian yang mutlak di tengah badai malam Distrik Selatan. "Sandiwara kita di kampus mungkin dimulai sebagai taktik hukum, tapi mulai malam ini... gue gak akan pernah membiarkan siapa pun di kota ini mengusik wanita milik Bratadikara."
Di bawah langit kelabu yang terus menumpahkan hujan, konfrontasi di garis belakang itu telah berakhir dengan kemenangan taktis yang mutlak. Namun bagi Devan dan Aura, mereka tahu bahwa babak baru yang jauh lebih rumit dari sekadar draf hukum dan perang klan telah resmi dimulai di dalam hati mereka masing-masing.