Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
Pagi itu, gedung pencakar langit Narendra Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Desas-desus mengenai kedatangan perwakilan dari V-Tech Investment, perusahaan modal ventura raksasa asal Amerika Serikat telah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Bagi Narendra Group, pertemuan hari ini adalah penentu hidup dan mati. Jika mereka gagal meyakinkan investor misterius ini, maka sejarah kejayaan keluarga Narendra akan resmi berakhir di meja pengadilan niaga.
Arka Narendra berdiri di depan cermin besar ruang kerjanya. Pria itu mencoba merapikan setelan jasnya, memastikan penampilannya sempurna. Meski kantung mata hitam akibat kurang tidur tidak bisa disembunyikan sepenuhnya, dia harus tetap terlihat sebagai CEO yang meyakinkan.
Tok! Tok!
Pintu ruangan terbuka. Sekretaris Arka masuk dengan wajah tegang namun penuh harap. "Pak Arka, perwakilan dari V-Tech Investment sudah tiba di ruang rapat utama. Direktur Eksekutif mereka sendiri yang memimpin delegasi."
"Baik. Saya akan segera ke sana," jawab Arka tegas. Dia menghela napas panjang, mengencangkan kerah kemejanya, lalu melangkah keluar dengan keyakinan penuh. Arka percaya diri, kemampuan negosiasinya selama ini jarang meleset.
---
Di dalam ruang rapat utama yang megah, beberapa jajaran direksi Narendra Group sudah duduk dengan tegang. Di seberang meja elips yang besar, tampak tim dari V-Tech Investment yang mengenakan seragam formal hitam-hitam, memancarkan aura profesionalisme tingkat tinggi.
Namun, perhatian semua orang tertuju pada sosok wanita yang duduk di kursi utama delegasi asing tersebut. Wanita itu sedang membelakangi pintu masuk, menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca besar ruangan.
Cklek
Arka melangkah masuk ke dalam ruangan. "Selamat pagi semuanya. Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucap Arka ramah seraya berjalan menuju kursinya.
Mendengar suara itu, wanita yang menghadap jendela perlahan memutar kursi kebesarannya.
Saat kursi itu berputar sempurna dan wanita itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, langkah kaki Arka mendadak terkunci di lantai marmer. Seluruh pasokan oksigen di parunya seolah tersedot habis. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.
Wajah itu. Sepasang mata itu.
"Da... Davira?" bisik Arka, suaranya bergetar hebat. Matanya membelalak kencang, tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.
Wanita di hadapannya memiliki struktur wajah yang sama dengan mantan istrinya yang dia usir tiga tahun lalu. Namun, auranya sangat berbeda. Tidak ada lagi Davira yang kusam, kurus, berpakaian daster murah, dan berwajah penuh ketakutan. Wanita di depannya ini adalah definisi dari kesempurnaan dan kekuasaan.
Vira Mahendra menatap Arka datar. Tidak ada kilat kemarahan, tidak ada dendam yang meluap-luap. Hanya ada kekosongan yang teramat dingin di matanya. Tatapan yang biasa ditujukan pada orang asing yang tidak penting.
Vira mengulas senyum profesional yang sangat tipis, lalu meletakkan kacamata hitamnya di atas meja. "Selamat pagi, Tuan Arka Narendra. Senang bertemu dengan Anda. Tapi mohon maaf, nama saya adalah Vira Mahendra, Direktur Utama V-Tech Investment. Tolong panggil saya dengan nama yang profesional di dalam forum ini."
"Nggak... nggak mungkin. Kamu Davira! Kamu istriku!" Arka kehilangan kendali dirinya. Dia melangkah maju, hendak meraih tangan Vira.
Brak!
Reno yang sejak tadi duduk di samping Vira langsung berdiri dan menggebrak meja dengan kasar. Tatapan Reno bagai ingin menguliti Arka hidup-hidup. "Jaga sopan santun Anda, Tuan Arka! Jika Anda berani menyentuh atasan saya, kami akan membatalkan investasi ini detik ini juga dan memastikan Narendra Group bangkrut sebelum matahari terbenam!"
Arka tersentak. Dia menatap pria muda di samping Davira. "Reno...? Kamu... kamu adiknya Davira yang gelandangan itu, kan?!"
"Nama saya Reno Mahendra, CFO dari V-Tech. Dan berhati-hatilah dalam berucap jika Anda masih ingin menyelamatkan perusahaan Anda yang hampir mati ini," desis Reno tajam, penuh penekanan.
Jajaran direksi Narendra Group mulai berbisik-bisik panik melihat tingkah laku CEO mereka. Salah satu direktur senior berbisik pada Arka, "Pak Arka, tolong tenang. Siapa pun beliau di masa lalu, saat ini beliau adalah satu-satunya malaikat penolong kita. Tolong kendalikan diri Anda."
Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia terpaksa mundur dan duduk di kursinya dengan tubuh yang masih bergetar. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Vira. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang divonis kanker rahim dan diusir tanpa sepeser uang pun, kini kembali sebagai penguasa finansial yang memegang leher perusahaannya?
Vira melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Arka dengan pandangan merendahkan yang teramat halus.
"Baik, bisa kita mulai presentasinya, Tuan Arka? Waktu saya sangat mahal, dan saya tidak datang ke sini untuk mendengarkan delusi masa lalu Anda," ucap Vira dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.
---
Rapat berlangsung selama dua jam. Sepanjang rapat, Arka sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya bercabang, sementara Vira dengan sangat cerdas, dingin, dan tajam membedah semua borok serta kesalahan manajemen keuangan yang dilakukan oleh Narendra Group. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Vira bagai tamparan keras yang membongkar ketidakbecusan Arka dalam memimpin perusahaan sejak kepergian ayahnya.
"Proposal Anda sangat buruk, Tuan Arka," ucap Vira sambil menutup dokumen di depannya dengan ketukan keras. "Anda berinvestasi di sektor pariwisata tanpa riset matang hanya karena menuruti keinginan... ah, siapa nama istri Anda sekarang? Sheila? Hanya karena ingin menyenangkan istri baru Anda?"
Arka terdiam, wajahnya memerah menahan malu di depan para direksinya sendiri.
"Namun," Vira menjeda kalimatnya, membuat semua orang di ruangan itu menahan napas. "Kami dari V-Tech tetap akan memberikan suntikan dana sebesar 500 miliar rupiah."
Mendengar hal itu, para direksi Narendra Group langsung menghela napas lega, beberapa bahkan tersenyum semringah. Namun, senyuman mereka segera lenyap begitu Vira melanjutkan kalimatnya.
"Dengan satu syarat mutlak. Kami meminta jaminan berupa 45% saham kepemilikan Narendra Group, dan seluruh hak kendali keuangan harus melewati persetujuan saya pribadi. Jika dalam tiga bulan Anda tidak bisa menaikkan profit sebesar 20%, maka sisa saham Anda akan jatuh ke tangan kami, dan Anda akan ditendang dari kursi CEO."
Ini bukan investasi. Ini adalah akuisisi terselubung. Ini adalah tali kekang yang dipasang Vira langsung ke leher Arka.
"Davira... kamu sengaja ingin menghancurkanku?" bisik Arka dengan mata memerah.
Vira berdiri dari kursinya, merapikan blazer merah marunnya dengan anggun. Dia menatap Arka dari atas ke bawah untuk terakhir kalinya sebelum memakai kembali kacamata hitamnya.
"Saya rasa kesepakatan ini sangat adil untuk perusahaan yang hampir mati, Tuan Arka. Keputusan ada di tangan Anda. Tanda tangani kontraknya besok, atau silakan tunggu surat kebangkrutan dari pengadilan. Permisi."
Vira berjalan keluar dari ruang rapat diikuti oleh Reno dan timnya. Langkah kakinya terdengar begitu tegas, meninggalkan Arka yang terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa neraka pribadinya baru saja resmi dimulai.