NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

POV Dante Herrera

Cinta punya cara yang kejam untuk menetap.

Ia datang tanpa permisi, tanpa peringatan, tanpa menghormati aturan, janji, atau sumpah apa pun.

Dan begitu kau menyadarinya...

Semuanya sudah terlambat.

Aku menemukan kebenaran itu di minggu itu.

Sejak Minggu ketika aku mencium Mary untuk kedua kalinya dan memintanya menikah denganku, seluruh hidupku seakan berputar di sekelilingnya.

Tak peduli berapa banyak rapat yang harus kuhadiri.

Tak peduli berapa banyak masalah yang muncul di proyek pembangunan rumah sakit.

Tak peduli berapa banyak orang di organisasi yang menuntut perhatianku.

Pikiranku selalu kembali padanya.

Mary Mendez.

Novis yang telah merampas ketenanganku.

Setiap sore, tepat pukul empat, mobil ibuku berhenti di depan mansion.

Keempat perempuan muda itu turun bersama.

Selalu lelah.

Selalu tersenyum.

Sepanjang hari mereka mengunjungi tempat sementara tempat anak-anak ditampung sementara pembangunan rumah sakit dirampungkan.

Melihat Mary bekerja bersama anak-anak itu adalah sesuatu yang mustahil kulupakan.

Ia seolah diciptakan untuk itu.

Anak-anak kecil berlari ke arahnya.

Memeluk kakinya.

Menarik-narik jubah biaranya.

Meminta dongeng.

Meminta didoakan.

Minta digendong.

Dan ia memberikan semuanya.

Kasih sayang.

Perhatian.

Cinta.

Kadang aku mengamatinya dari kejauhan.

Tanpa ia sadari.

Dan setiap kali aku melakukannya, hatiku semakin tersesat.

Sepanjang minggu itu kami berbagi momen-momen kecil.

Tatapan saat makan malam.

Senyum diam-diam.

Percakapan singkat di lorong.

Sentuhan tak sengaja yang membuat seluruh tubuhku bergetar.

Itu sedikit.

Sangat sedikit.

Tapi bagi seseorang yang jatuh cinta, sedetik pun berharga seperti keabadian.

Mary masih tampak ketakutan.

Aku bisa melihatnya.

Ia mencintaiku.

Aku yakin akan hal itu.

Tapi ia juga mencintai imannya.

Dan setiap hari ia bergulat melawan perasaannya.

Karena itu aku tak memaksanya.

Aku akan menunggu.

Selama apa pun yang diperlukan.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak ingin sekadar menaklukkan seorang perempuan.

Aku ingin pantas mendapatkannya.

Malam itu ibuku tampak luar biasa puas.

Duduk di ruang tamu, ia menyeruput tehnya sambil mengamati seisi rumah.

Senyum penuh rahasia bermain di bibirnya.

Senyum yang sama seperti ketika ia sedang merencanakan sesuatu.

"Ada apa lagi?" tanyaku.

Ia hanya mengangkat bahu.

"Tidak ada."

Itu berarti segalanya.

Tapi kuputuskan untuk tak mendesaknya.

Aku tak tahu bahwa pada saat yang sama, di kamar para gadis, sebuah percakapan akan mengubah segalanya.

Mary duduk di tepi ranjang.

Tangannya menggenggam erat rosario.

Ia tampak gugup.

Tiga yang lain sudah ada di sana.

Natália berbaring di atas tumpukan bantal.

Graziela membaca buku.

Lalu pintu terbuka.

Bárbara masuk.

Dengan wajah geram.

Tapi membawa nampan besar berisi donat berlapis cokelat.

"Kalau Suster Mary sampai menggelar malam khusus para gadis, itu tandanya ada drama besar mau meledak," seru Bárbara.

Natália tergelak.

"Dan kau membawa amunisi."

"Donat lebih penting daripada amunisi."

Ketegangan langsung mereda.

Mustahil tidak tertawa bersama Bárbara.

Mary menarik napas dalam-dalam.

Ia memandangi mereka satu per satu.

Lalu berbicara.

"Kurasa aku menyesal sudah menerima ajakan pindah ke mansion ini."

Hening seketika.

Natália mengernyitkan dahi.

"Kenapa?"

Mary menunduk.

Jantungnya berdebar begitu keras sampai hampir terdengar.

"Karena aku jatuh cinta pada Dante Herrera."

Ketiganya membeku.

"Dan dia menciumku..."

Jeda lagi.

"Dan dia melamarku."

Natália melonjak.

"AKU SUDAH TAHU!"

Mary nyaris terjengkang ke belakang.

"Natália!"

"Aku sudah tahu! Pantas saja kalian berdua menghilang sore itu waktu nonton film!"

Kamar itu tenggelam dalam keheningan.

Tak ada yang tahu harus berkata apa.

Sampai Bárbara mengambil sebuah donat.

Menggigitnya.

Mengunyah dengan tenang.

Lalu berkata, "Mungkin kau benar."

Semua menoleh padanya.

"Giovanni juga menciumku."

"Apa?!" seru mereka serempak.

Bárbara mengembuskan napas dengan gaya dramatis.

"Katanya, itu cara terbaik untuk mencicipi lapisan gula donatku."

Sesaat suasana hening.

Lalu semuanya mulai tertawa.

Termasuk Mary.

Tawanya begitu kencang sampai air mata menggenang di matanya.

"Itu persis hal yang akan diucapkan Giovanni," ujar Natália di sela tawanya.

"Sayangnya begitu," sahut Bárbara.

Ketika keriuhan mereda, Graziela menutup bukunya.

Wajahnya merona.

Merah sekali.

"Kurasa aku juga perlu mengaku sesuatu."

Ketiganya menatapnya.

"Kevin jatuh menimpaku."

Natália mengangkat sebelah alis.

"Jatuh?"

"Aku tidak memegangi tangganya dengan benar."

"Lanjutkan."

"Dia mau mengambil buku."

"Lanjutkan."

"Dia kehilangan keseimbangan."

"Lanjutkan."

"Dan dia menciumku."

Natália bertepuk tangan.

"Kita punya pola di sini."

Graziela menyembunyikan wajahnya.

"Itu tidak sengaja."

"Tentu saja tidak sengaja," sahut Bárbara.

Tak ada yang percaya.

Bahkan Graziela sendiri pun tidak.

Lalu semua pandangan beralih ke Natália.

Ia diam dengan cara yang tak biasa.

Sambil memakan sepotong donat.

Termenung.

"Dan kau?" tanya Mary.

Natália menghela napas.

Tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya ia tampak rapuh.

"Aku mencium Pietro."

Hening.

"Aku menang dari dia di permainan kartu Sueca."

"Lalu...?" tanya Bárbara.

"Lalu aku menagih hadiahku."

Para gadis kembali terpingkal.

Tapi Natália melanjutkan.

Kali ini dengan lebih serius.

"Rasanya menyenangkan."

Dua kata itu mengubah suasana percakapan.

"Sangat menyenangkan."

Ia menunduk.

Senyum penuh cinta muncul di wajahnya.

"Dan aku tidak menyesal."

Mary merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Karena ia mengenali tatapan itu.

Tatapan yang sama seperti yang ia lihat di cermin.

Natália melanjutkan, "Aku ingin melepas jubah biara."

Yang lain terpaku.

"Aku ingin menjalani cinta ini. Aku ingin menjadi Nyonya Herrera, bukan karena uang atau nama keluarganya. Tapi karena sosok Pietro sendiri. Karena caranya menatapku. Karena caranya menghormatiku. Karena caranya membuatku merasa istimewa."

Ia tersenyum.

"Dan juga karena dia luar biasa tampan."

Bárbara nyaris tersedak.

"Akhirnya ada yang mengakuinya."

Natália tak mengindahkannya.

"Dia terlalu serius. Itu menyebalkan. Tapi parfum yang dia pakai itu... Ya Tuhan. Tidak ada doa yang cukup untuk menyelamatkanku dari parfum itu."

Para gadis kembali tergelak.

Tapi tak lama kemudian tawa itu lenyap.

Karena kebenaran ada di sana.

Di tengah-tengah mereka.

Terlalu besar untuk diabaikan.

Mary memandang setiap sahabatnya.

Bárbara.

Graziela.

Natália.

Dan akhirnya dirinya sendiri.

Mungkin masalahnya bukan mansion itu.

Mungkin masalahnya adalah mereka semua telah menemukan sesuatu yang tak pernah mereka duga akan mereka temukan.

Cinta.

Dan di kamar yang hanya diterangi cahaya lembut lampu tidur itu, sambil berbagi donat cokelat dan rahasia-rahasia berbahaya, tak satu pun dari mereka berani mengakuinya dengan lantang.

Tapi mereka semua tahu.

Hati mereka telah membuat pilihan.

Dan lewat ironi takdir...

Sementara mereka mencoba memahami perasaan mereka...

Consuelo Herrera, di sisi lain rumah itu, terus merancang segalanya dalam diam.

Dengan kesabaran seorang ibu.

Dan ketegasan seorang perempuan yang telah memutuskan siapa saja calon menantunya kelak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!