Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di Atas Pasir
Lorong menuju arena terasa seperti tenggorokan monster raksasa yang siap menelannya hidup-hidup. Bau darah kering, keringat, dan karat bercampur menjadi satu, mengalahkan aroma antiseptik yang masih menempel di kulit Kaelen.
Di ujung lorong, gerbang besi berkarat berderit naik ditarik oleh rantai raksasa. Cahaya lampu sorot yang menyilaukan langsung menusuk mata, disusul oleh gemuruh ribuan penonton yang memekakkan telinga. Mereka berteriak liar, haus akan pembantaian.
Kaelen melangkah keluar ke atas pasir arena yang lengket oleh darah segar. Bertelanjang dada dengan perban putih yang melilit tulang rusuknya, ia tampak sangat rapuh di tengah arena seluas lapangan bola itu. Dari atas balkon VIP, Kaelen bisa melihat Rexor menatapnya dengan senyum meremehkan, sementara Lyra dan Dokter Silas berdiri tegang di belakang bos mafia tersebut.
Suara terompet yang terbuat dari tanduk monster ditiup panjang. Gerbang raksasa di seberang arena terbuka perlahan.
Suara gemuruh langkah kaki yang berat menggetarkan tanah. Dari dalam kegelapan gerbang, muncullah sang mimpi buruk. Seekor Chimera rawa. Ukurannya sebesar badak dewasa, dengan otot-otot tebal yang dilapisi sisik hijau berlendir. Kepalanya menyerupai singa purba yang membusuk, rahangnya meneteskan liur yang mendesis saat menyentuh pasir—sihir korosif yang mematikan. Ekornya berbentuk ular kobra raksasa yang terus mendesis liar.
Binatang buas itu menatap Kaelen dengan mata merah menyala, mengendus aroma darah dari luka-luka sang pemuda.
Chimera itu tidak membuang waktu. Dengan satu raungan yang menggetarkan tulang, ia menerjang maju. Kecepatannya tidak masuk akal untuk ukuran sebesar itu.
Kaelen tahu ia tidak bisa menerima serangan fisik. Tubuhnya yang hancur akan remuk dalam sekali hantaman. Ia memaksakan otot kakinya untuk menolak bumi, melompat ke samping di detik terakhir sebelum cakar raksasa monster itu mengoyak tempatnya berdiri.
Brak!
Pasir meledak ke udara saat Chimera menghantam tanah. Kaelen berguling menjauh, namun pergerakan tiba-tiba itu membuat tulang rusuknya menjerit. Ia terbatuk, memuntahkan segumpal darah. Jantungnya berpacu semakin liar, memompa energi biru dari sihir api yang masih terjebak di dadanya. Kaelen merasa seolah ada magma yang mengalir di pembuluh darahnya.
Waktunya menipis. Jika ia terus menghindar, jantungnya akan meledak sebelum monster itu sempat membunuhnya.
Menyadari mangsanya meleset, ekor ular Chimera itu mematuk dari titik buta. Kaelen menunduk, namun cipratan bisa dari taring ular itu mengenai bahu kirinya. Rasa panas yang luar biasa langsung membakar kulitnya, mendesiskan asap kehijauan.
Kaelen menggertakkan gigi, menahan teriakannya. Ia memutus jarak, berlari zigzag ke arah monster itu alih-alih menjauh. Keputusan yang membuat ribuan penonton menahan napas. Mereka mengira pemuda gila itu sedang bunuh diri.
Sang Chimera menghentikan serudukannya. Rahang singanya terbuka lebar, mengumpulkan pusaran energi magis berwarna hijau pekat. Monster itu bersiap melepaskan serangan pamungkasnya: semburan gas korosif yang mampu melelehkan baja.
Kaelen berhenti tepat tiga meter di depan monster itu. Ia mengambil kuda-kuda, merentangkan tangan kirinya ke depan.
Chimera itu meraung, memuntahkan pilar badai racun hijau yang melesat bagai gelombang tsunami mini ke arah Kaelen.
Sekarang! batin Kaelen.
Pusaran kabut hitam keunguan meledak dari telapak tangannya, membuka portal ketiadaan yang kelaparan. Badai racun mematikan itu menghantam pusaran Kaelen. Sekali lagi, sihir yang mematikan itu tidak menghancurkan sasarannya, melainkan tersedot dengan rakus ke dalam lubang hitam di telapak tangan Kaelen.
Namun, menelan sihir racun tingkat tinggi saat tubuhnya masih dipenuhi sihir api biru adalah sebuah kesalahan fatal.
Di dalam dada Kaelen, dua energi magis yang saling bertolak belakang itu bertabrakan. Api biru dan racun korosif bereaksi, menciptakan ledakan internal yang merobek jaringan urat nadinya. Mata Kaelen berubah merah total karena pembuluh darahnya pecah. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol hitam keunguan, memancarkan cahaya biru dan hijau yang berkedip liar dari balik kulitnya.
Rasa sakitnya melampaui neraka. Ia tidak bisa menahannya sedetik pun lebih lama. Tubuhnya akan hancur menjadi debu sekarang juga.
Keluarkan semuanya! perintah Kaelen pada insting bertahannya.
Sambil berteriak melepaskan rasa sakit yang memuncak, Kaelen menerjang menembus sisa-sisa kabut racun. Sang Chimera masih kebingungan melihat serangan pamungkasnya lenyap. Sebelum monster itu sempat merespons, Kaelen melompat, menempelkan telapak tangan kirinya tepat ke dada sang Chimera, tepat di atas letak jantungnya.
"Makan ini," bisik Kaelen dengan darah mengalir dari hidung, mata, dan telinganya.
Pusaran penelan itu memuntahkan kembali seluruh energi yang tak sanggup ditahan oleh tubuh Kaelen—kombinasi mematikan antara api biru Ignis Azura dan racun korosif rawa, yang diperkuat oleh efek kompresi di dalam inti jiwanya.
BLAAARRRR!!!
Ledakan energi ganda itu melesat seperti tembakan meriam laser dari telapak tangan Kaelen, menembus dada Chimera dengan suara daging dan tulang yang hangus seketika. Sebuah lubang besar seukuran kepala manusia tercipta menembus punggung monster itu, menyisakan pinggiran luka yang meleleh dan terbakar api biru.
Chimera itu bahkan tidak sempat menjerit. Matanya meredup, dan tubuh raksasanya ambruk ke atas pasir arena, menciptakan guncangan hebat.
Keheningan total menyelimuti The Pit. Ribuan penonton membeku, tak percaya pada apa yang baru saja mereka saksikan. Seorang pemuda yang nyaris mati baru saja menumbangkan monster mematikan hanya dengan satu serangan tangan kosong.
Kaelen berdiri terhuyung di depan bangkai raksasa itu. Tangannya hangus, napasnya terdengar seperti pecahan kaca. Ia perlahan mendongak, menatap langsung ke arah balkon VIP tempat Rexor berdiri kaku dengan mata terbelalak.
"Jangkar... Mana-ku..." Kaelen menggeram parau.
Lalu, pertahanannya runtuh. Jantung Kaelen berdetak untuk yang terakhir kalinya dalam irama yang salah. Pandangannya berputar hebat menjadi gelap gulita, dan tubuhnya tumbang menghantam pasir arena yang berlumuran darah.