NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI MENGHINDAR DIMULAI

Ruang makan utama di mansion keluarga besar itu berukuran cukup luas untuk mendaratkan helikopter pribadi, lengkap dengan meja makan kayu mahoni yang panjangnya bisa digunakan untuk lintasan bowling. Di tengah ruangan, sebuah lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang justru membuat suasana terasa semakin pengap dan mencekam.

Ini adalah arena pertempuran sesungguhnya. Bukan di ruang rapat direksi atau di jalanan berdebu, tapi di sini, di atas piring porselen dan di balik senyum tipis yang menyimpan racun.

Vania telah menyusun strategi. Ia menamainya: Operasi Tembok Beton.

Aturannya sederhana. Menjadi seboring mungkin. Jangan bicara kecuali ditanya. Jangan bernapas terlalu keras agar dada tidak naik-turun secara mencolok. Jangan melakukan kontak mata yang terlalu lama dengan siapa pun, terutama dengan pria berjas hitam yang duduk di ujung seberang meja. Fokus pada makanan di piring. Kunyah perlahan. Telan. Ulangi. Jika dia berhasil menjadi latar belakang yang tidak menarik, plot sinetron ini akan melewatkannya begitu saja. Dia akan selamat.

Di ujung meja, Pak Darmawan duduk dengan angkuh di kursi rodanya, tangannya memegang tongkat kayu berukir yang sebenarnya tidak ia butuhkan untuk berjalan. Di sebelah kanannya, Raka menatap piringnya dengan ekspresi pria yang sedang menghitung berapa detik lagi ia bisa kabur dari ruangan ini. Di sebelah kirinya, Tante Ratna duduk dengan postur tegak, matanya yang sipit memindai seluruh meja seperti radar pendeteksi kelemahan.

Dan di ujung seberang, sendirian, duduk Kevin.

Dia tidak menatap siapa pun. Dia memotong steak di piringnya dengan presisi bedah, setiap gerakan tangannya efisien dan dingin. Vania menatap piringnya sendiri, berusaha keras untuk tidak melirik ke arah sana. Fokus, Van. Kamu adalah tembok. Tembok tidak punya mata. Tembok tidak punya telinga.

Tiba-tiba, suara denting garpu perak yang dibanting ke piring porselen memecah keheningan.

Ding.

Vania menahan napas. Itu adalah sinyal. Dalam bahasa sinetron 90-an, denting garpu seperti itu adalah pembuka untuk adegan konfrontasi pasif-agresif.

"Duh, Vania sayang..." suara Tante Ratna terdengar lembut, manis, dan penuh kepalsuan yang bisa membuat gigi berlubang. "Kok kamu kurus sekali sih hari-hari ini? Tulang pipimu sampai menonjol begitu."

Vania tetap menatap piringnya. Dia mengunyah sepotong kecil wortel rebus. Abaikan. Kamu adalah tembok.

Tante Ratna tidak menyerah. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Pak Darmawan, memastikan suaranya terdengar jelas oleh sang patriark. "Apa jangan-jangan... Kevin tidak memberimu makan? Atau kau memang sudah tidak punya harga diri, sampai-sampai harus merayap dan mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu, hingga kau lupa mengurus diri sendiri?"

Serangan itu mendarat dengan sempurna. Itu adalah taktik klasik: menghina Vania dengan kedok kepedulian, sambil secara halus menjatuhkan nama Kevin di depan Pak Darmawan. Tujuannya jelas: membuat Vania terlihat seperti wanita putus asa yang tidak laku, sekaligus menyindir Kevin bahwa dia tidak mampu "mengendalikan" wanita yang konon pernah mengejarnya.

Raka menghela napas pelan, jelas tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Pak Darmawan hanya mengangguk pelan, wajahnya datar, membiarkan racun itu bekerja.

Vania meletakkan garpunya. Perlahan.

Dia mengangkat kepala. Tatapannya tidak lagi kosong. Di balik mata yang tajam itu, otak Vania yang terbiasa dengan logika abad ke-21 sedang memproses data dengan kecepatan tinggi. Dia tidak akan menangis. Dia tidak akan berteriak. Dia akan menghancurkan Tante Ratna dengan senjata yang tidak dimiliki wanita tahun 90-an: fakta ilmiah.

"Tante Ratna," ucap Vania, suaranya datar namun memotong udara ruangan dengan tajam. "Izinkan saya meluruskan kesalahpahaman Tante terkait anatomi dan gizi."

Tante Ratna berkedip, mulutnya sedikit terbuka. "A-Apa?"

"Penurunan berat badan saya sebesar dua kilogram dalam sebulan ini bukanlah akibat dari patah hati atau kelaparan emosional," lanjut Vania, nada bicaranya berubah menjadi seperti presentasi seminar medis. "Ini adalah hasil dari defisit kalori yang terkontrol. Indeks Massa Tubuh (BMI) saya saat ini berada di angka 19,5, yang masuk dalam kategori berat badan normal dan sehat menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia."

Vania mengambil gelas air mineralnya, menatap Tante Ratna yang kini mulai terlihat bingung.

"Selain itu, asupan makronutrien saya terjaga. Saya mengonsumsi protein tanpa lemak, karbohidrat kompleks, dan lemak sehat dalam rasio yang seimbang untuk mempertahankan Basal Metabolic Rate. Jadi, mengaitkan kondisi fisik saya yang optimal dengan 'kurangnya harga diri' atau 'tidak diberi makan' adalah kesimpulan yang tidak hanya salah secara medis, tetapi juga menunjukkan ketidaktahuan Tante terhadap prinsip dasar nutrisi manusia."

Hening.

Ruang makan yang tadinya tegang kini berubah menjadi hening yang absurd. Om Reza yang sedang mengangkat sendok ke mulutnya berhenti di tengah jalan. Bibi Marni yang sedari tadi bersiap untuk ikut nimbrung mendadak lupa cara bernapas. Tante Ratna menatap Vania dengan mata terbelalak, otaknya jelas sedang mengalami short-circuit mencoba mencerna istilah-istilah seperti "makronutrien" dan "Basal Metabolic Rate".

Dan tepat di detik itu, terdengar suara yang sangat jelas di telinga Vania.

KRAAAAK!

Suara pecahan kaca yang keras dan nyaring, persis seperti efek suara dramatis yang selalu diputar di sinetron setiap kali ada karakter yang terjatuh mental atau dihancurkan oleh argumen lawan.

Vania langsung menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sumber suara. "Lho? Siapa yang ngejatuhin gelas? Hati-hati dong, lantainya marmer, licin, nanti ada yang keseleo!"

Tidak ada gelas yang pecah. Tidak ada serpihan kaca di lantai. Hanya ada wajah-wajah keluarga besar yang menatapnya seperti baru saja melihat alien mendarat di ruang makan mereka.

"Kau..." Tante Ratna akhirnya menemukan suaranya, wajahnya memerah padam campuran antara malu dan marah. "Kau bicara apa, hah? Sok pintar!"

Vania hanya tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Saya hanya berbagi fakta, Tante. Agar kita semua tidak terjebak dalam asumsi yang tidak berdasar."

Dia merasa menang. Strategi Tembok Beton mungkin gagal, tapi Strategi Serangan Balik dengan Data berhasil dengan gemilang. Vania mengambil kembali garpunya, siap untuk melanjutkan makan malam yang membosankan ini dengan damai.

Namun, tepat saat dia akan menusuk sepotong daging di piringnya, ia merasakan sesuatu.

Di bawah meja makan yang tertutup taplak meja panjang, ada pergeseran.

Sesuatu yang hangat dan keras menyentuh pergelangan kaki kirinya yang terbuka di balik gaun malamnya.

Vania membeku. Garpu di tangannya berhenti di udara.

Itu adalah sepatu kulit mahal. Dan sepatu itu dengan sengaja, atau mungkin dengan kebetulan yang sangat tidak masuk akal, menekan dan menggesek perlahan di kulit pergelangan kakinya. Sentuhannya tegas, posesif, dan membuat bulu kuduk di seluruh tubuh Vania langsung berdiri tegak.

Jantung Vania berdegup kencang, ritmenya kacau balau. System error. System error.

Dengan gerakan leher yang kaku, Vania perlahan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah ujung seberang meja.

Kevin masih duduk di sana. Posturnya tetap tegak, tangannya masih dengan tenang memotong steak di piringnya. Dia tidak menoleh ke arah Vania. Matanya tetap tertuju pada makanannya.

Tapi di sudut bibirnya, terdapat sebuah senyuman.

Senyuman tipis, samar, namun sangat nyata. Senyuman seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsanya tidak selemah yang ia kira, dan justru itu membuatnya semakin tertarik untuk bermain.

Kaki Kevin di bawah meja tidak bergerak menjauh. Ia tetap di sana, menjangkar pergelangan kaki Vania, mengirimkan pesan diam-diam yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun: Aku tahu kau sedang bermain, dan aku akan ikut bermain.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!