PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.
Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.
Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?
Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.
Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brukk
"Ghea? Kamu sedang apa di sini?" tanya Bu Novi - guru Fisika yang tiba-tiba membuka pintu ruang Pak Gery lalu masuk dengan seenaknya tanpa mengetuk lebih dulu. Dan tanpa permisi.
Sungguh, Ghea dibuat kesal oleh guru judes itu. Dan sekarang lihat lah wajahnya. Uh, sudah seperti goreng ayam yang digeprek lalu dibaluri sambal. Pedes gila.
Bu Novi melirikkan matanya pada Pak Gery dan Ghea bergantian. Ada banyak pertanyaan di benak guru judes itu.
Apa tadi Bu Novi melihat, bibir gue dan Pak Gery saling menempel? Pertanyaan itu lolos mencuat di benak Ghea. Ia kikuk. Menggaruk-garuk belakang kepalannya yang tentu saja tidak gatal. Lalu begitu saja ia berikan senyum termanisnya sampai gigi Ghea yang putih dan rapi terlihat jelas oleh Bu Novi.
"Kenapa masih di sini?" Ah, lambe Bu Novi itu biar pun tidak dikasih cabe tapi pedasnya sangat terasa menusuk pada dada Ghea.
Dahi Ghea mengkerut. Jelas lah gue masih di sini. Calon bininya kan, gue ini?
Pak Gery menoleh pada Ghea yang masih berdiri di tempatnya. "Ekhem!" deheman itu membuyarkan lamunan Ghea. Ia menatap netra Pak Gery - yang seolah netra itu memberi isyarat 'keluar dari sini' pada Ghea.
"Ibu sendiri ngapain ke sini?" Lah, berani sekali itu Ghea bertanya frontal pada Bu Novi. Tentu saja Bu Novi membulatkan matanya dan membuka rahangnya. "Eh ... maksud saya, iya, saya keluar. Permisi." pamit Ghea ketika melihat tatapan mata Pak Gery yang berubah semakin horor padanya. Ia mengangguk. Lalu melewati Pak Gery dan Bu Novi. Ghea berlalu dari ruangan tersebut.
"Eum ... Pak Gery, maaf, apa saya mengganggu anda?"
"Ganggu banget!"
Tentu itu buka suara Pak Gery yang menjawab. Tapi suara gadis selebor yang ternyata masih belum ke luar dari sana. Ghea hanya baru membuka pintunya saja dan berdiri di celah pintu.
Kontan, Pak Gery dan Bu Novi setengah memutar kepalanya. Menoleh pada Ghea yang kini menunjukan wajahnya tanpa berdosa.
Embusan nafas pun keluar begitu berat dari mulut Pak Gery. Kepalanya pening. Ia mengurut pangkal hidungnya sembari melemparkan bokongnya pada kursi yang berlapis kulit putih dengan berbahan busa yang empuk. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi singgasananya dengan kedua mata yang terpejam. Pak Gery sudah tidap dapat berkata apa-apa lagi tentang Ghea. Cewek itu susah sekali untuk dikasih tahu. Menyebalkan! decak Pak Gery dalam hati. Lalu ia menegakkan tubuhnya. Menopang dagu dengan kedua tangan yang mengepal dan kedua siku yang ia tumpuhkan pada meja yang bertumpuk buku-buku tebal di samping meja itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Kamu itu selalu saja tidak bisa sopan pada orang tua!" Bu Novi kesal. Andai Ghea dapat melihatnya jika lubang hidungnya kini sudah mengeluarkan asap yang mengepul.
"Ck! Orang tua?" decak Ghea. Tentu saja ada makna lain dari kata 'orang tua' yang dilontarkannya. "Ibu Novi memang orang tua saya - di sekolah. Tapi Pak Gery ... dia bukan orang tua saya. Dia-"
"Ehm ... maaf, Ghea. Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Baiknya kamu masuk ke kelas karena pelajaran selanjutnya akan dimulai!" Pak Gery mengusir Ghea secara halus. Ia tidak ingin murid sekaligus calon tunangannya itu keceplosan mengatakan tentang hubungannya dengan Pak Gery.
"Kalau pelajaran akan dimulai, kenapa Bapak masih di sini? Harusnya kan, Bapak juga segera ke kelas untuk memberi materi pada anak-anak!"
Pintar!
Tentu saja itu Ghea ucapkan karena Bu Novi masih ada di ruangan Pak Gery. Dan Ghea tidak mau itu. Tidak mau jika Pak Gery satu ruangan dengan cewek lain. Kan, Ghea cemburu.
"Sepuluh menit lagi Pak Gery akan mulai kelasnya. Jadi sebelum Pak Gery datang, kamu beritahu yang lain dulu untuk mengerjakan tugas materi pelajaran yang sebelumnya!" ujar Bu Novi. Sungguh, kekesalan Bu Novi sudah di ujung berung. Kemudian Bu Novi melangkah ke arah pintu di mana Ghea masih berdiri di sana dengan bersandar pada kusen pintu dan tangan tersimpan pada handlenya. Auto santuy.
"Eh ... Ibu apa-apaan, ini? Kenapa saya di-"
BRUKK
Pintu ruangan Pak Gery pun di tutup Bu Novi setelah mendorong, memaksa Ghea untuk ke luar dari sana. Menarik nafasnya dalam-dalam seraya berhadapan dengan pintu dan membelakangi Pak Gery. Bu Novi hembuskan nafas itu dengan pelan sembari mata terpejam. Ia seperti sedang menetralkan emosinya pada murid Garuda yang satu itu. Lalu Bu Novi memutar tubuhnya. Memasangkan senyum termanisnya. Ia melangkah mendekat pada meja kerja Pak Gery.
Sementara di luar ruangan. Ghea menggerutu kesal. Sampai menghentakan kakinya lalu ingin sekali Ghea menendang daun pintu yang menjulang berwarna coklat tua itu. Ghea mengepalkan kedua tangannya yang di arahkan pada pintu tertutup seperti ingin menghajar Bu Novi. Auto gemas sekali. Wajahnya merah padam dan bibirnya mengerucut sebal.
"Astag naga buaya ..."
Refleks Ghea berbalik. Ia berdecak kala mengetahui suara siapa yang menggema di sekitarnya. "Ck! Ngapain loe? Ganggu aja!" sungutnya penuh dengan emosi.
"Dih ..." Reza mengerutkan wajahnya. "Harusnya gue yang tanya gitu sama loe. Ngapain di depan ruang Pak Gery? Bel masuk udah manggil-manggil lo, noh." Telunjuk Reza tergerak untuk menoyor dahi Ghea. Tapi sebelum telunjuk itu sampai menyentuh dahinya. Gha lebih dulu menepis jati telunjuk Reza. "Apaan, sih, lo? Gaje tahu, gak? Sana lo, ah! Ganggu aja, deh." gerutu Ghea sembari membalikkan tubuh Reza. Mendorong-dorongnya hingga tubuh jangkung itu melangkah dengan terpaksa.
Ghea menepuk-nepuk tangannya setelah berhasil mengusir Reza. "Rese banget, sih, tuh anak. Nyebelin, sumpah!" Kemudian Ghea kembali menempelkan telingannya pada daun pintu. Niat ingn mencuri dengar apa yang dibicarakan Bu Novi pada Pak Gery di dalam sana. Kenapa lama banget? tanyanya dalam hati. Perasaan Ghea mulai dongkol.
Tiba-tiba ...
Dari belakang punggung Ghea, tangan seseorang menepuk bahunya. "Ck! Diem, deh, Za. Jangan ganggu gue mulu napa!" Ghea menggerakkan bahunya. Menyingkirkan tangan yang menepuk bahunya itu. Ghea menyangka itu adalah Reza yang sengaja balik lagi untuk menjahilinya.
Tak menggubris. Tangan itu kembali menepuk bahu Ghea. "Astaga, Reza!" Ghea memejamkan matanya erat. Ia mengepalkan kedua tangannya gemas. Lalu berbalik pelan masih dengan mata terpejam. "Reza!" Sampai suara gemerutuk giginya pun tergengar.
Dan-
"Hem ... ngapain kamu di depan ruang Pak Gery? Bel masuk bukannya udah bunyi dari lima menit yang lalu?"
Sial, itu bukan Reza. Melainkan Pak Ghani si guru BP killer. Ghea cengengesan. Ia tersenyum awkward. "Bapak Ghani ternyata. Saya kira itu Si Reza, gitu loh, Pak. Eh-"
"Ngapain?" tanya Pak Gani penuh penekanan. Ia membenarkan letak kacamatanya yang bertengger di hidungnya.
"Anu ... itu, loh, Pak. Saya-" Ghea tergagap. "Itu saya- Em ..." Ghea menyimpan bola matanya ke atas. Ia seperti sedang berpikir untuk mencari alasan. "Ya, saya mau nyusulin Pak Gery untuk ngajar. Anak-anak ribut mulu di kelas, Pak. Jadi saya berinisiatif susulin Pak Gery aja ke sini." Alasan yang masuk akal.
"Lah, kalau mau nyusulin, kenapa kamu gak coba masuk? Kenapa malah berdiri di depan pintu? Dan seperti sedang menguping saja, kamu ini." Pak Ghani tepat sekali. Jawab Ghea dalam hati.
"Itu, Pak. Bukan saya menguping. Tapi saya gak enak juga sampai nyusulin Pak Gery ke ruangannya," dusta Ghea.
Pak Ghani terdiam. Beliau seperti sedang berpikir.
"Eh ... Bapak mau ngapain?" Ghea bertanya kala tangan Pak Ghani terayun untuk mengetuk daun pintu ruang Pak Gery. "Mau panggil Pak Gery. Kan kasihan juga kalau Pak Gery telat buat mengajar." jawab Pak Ghani. Tangannya kembali terayun.
"Eh ..." Ghea menangkap kepalan tangan Pak Ghani yang beberapa centi lagi menyentuh daun pintu berwarna coklat itu.
Tentu saja Pak Ghani mengernyit heran. Ada apa dengan murid kesayangannya ini?
Kesayangan untu melampiaskan hukuman!
"Ada apa, Ghea? Kenapa kamu tahan tangan saya?"
"Ish ... Gak usah, Pak. Biar saya aja. Bapak mending kembali aja ke ruangan Bapak. Ya!" Kasihan juga kali kalau Pak Ghani tahu jika yang bersama Pak Gery saat ini adalah Bu Novi. Bisa gantung diri di pohon cabe, tuh, guru killer. Tambah Ghea dalam hati.
"Oh, ya, sudah kalau gitu." Dan Pak Ghani pun pergi berlalu dari sana.
Embusan nafas kasar keluar dari mulut Ghea. Ia berdecak lalu kembali menempelkan telinganya lagi pada daun pintu.
Dan-
BRUKK
Pak Gery memejamkan matanya erat sembari memijat pangkal hidungnya dengan wajah menunduk. Malu. Sedangkan Bu Novi yang ada di samping Pak Gery melebarkan matanya dengan mulut yang menganga.
"Hehehe ..."
Dan Ghea hanya cengengesan saja. Terduduk di atas lantai.
Ketika Ghea hendak menempelkan telinganya. Pintu itu keburu terbuka dari dalam. Dan tubuh Ghea pun berakhir mencium lantai keramik berwarna cream.
TBC
Awrwakd ...
Pengen gue rukiyah si neneng selebor biar gak malu-maluin babang Gery terus. ishhh ):
Sambil nunggu cerita ini di Up. Baca juga novel aku yang lain. ):
Judulnya :
-ZEASY (end)
-MY ENEMY IS MY LOVE (end)
mengecewakam
Sukses bwt karyanya