NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Maira sudah bersiap sejak pagi. Semalam, Nadia menghubunginya dan mengatakan ingin mengajaknya memeriksakan kondisi kesehatannya. Nadia ingin memastikan apakah rahim Maira dalam keadaan baik, begitu juga kondisi tubuhnya secara keseluruhan. Maira sempat terkejut dengan ajakan itu, tetapi akhirnya ia mengangguk setuju. Entah kenapa, ia juga ingin tahu bagaimana keadaan tubuhnya sendiri.

Tak lama kemudian, Nadia datang ke apartemen Maira. Begitu pintu dibuka, Maira sempat mempersilakan Nadia untuk duduk terlebih dahulu. Namun Nadia langsung menggeleng pelan.

“Enggak usah lama-lama. Kita langsung jalan aja. Siang nanti aku masih ada urusan kantor,” katanya singkat.

Maira pun segera mengambil tas kecilnya dan mengikuti langkah Nadia. Mereka lalu berangkat menuju sebuah klinik kandungan yang cukup ternama di kota itu. Suasananya bersih dan tenang, membuat Maira sedikit gugup sekaligus canggung. Nadia terlihat tenang, seolah semua ini sudah ia rencanakan sejak lama.

Rangkaian pemeriksaan pun dilakukan. Maira menjalani beberapa tes kesehatan, termasuk pemeriksaan sel telur dan kondisi rahim melalui USG. Selama proses itu, Maira hanya bisa memandangi layar dan langit-langit ruangan, menahan napas setiap kali dokter mengamati hasilnya.

Tak lama kemudian, dokter tersenyum dan menjelaskan hasil pemeriksaan. Kondisi Maira dinyatakan baik. Rahimnya sehat, sel telurnya juga dalam kondisi normal. Bahkan, dokter mengatakan peluang Maira untuk hamil cukup besar.

Maira menghembuskan napas lega. Ada perasaan campur aduk di dadanya, antara lega, heran, dan sedikit bingung dengan masa depan yang menantinya.

Setelah selesai, Nadia kembali mengantarkan Maira pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Tidak ada obrolan berarti, hanya suara mesin dan lalu lintas yang sesekali terdengar. Hingga akhirnya, Maira memberanikan diri membuka suara.

“Dari mana mbak tahu tentang identitas papa saya?” tanya Maira, menoleh ke arah Nadia dengan tatapan penasaran.

Nadia terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

“Maaf. Bukan maksud aku mengancam kamu waktu itu. Cuma aku memang enggak punya pilihan lain.”

Maira memilih diam, membiarkan Nadia melanjutkan.

“Sebelum pilihan aku jatuh ke kamu untuk jadi madunya Hazel, sudah banyak perempuan yang aku mintai hal yang sama. Tapi aku enggak menyukai mereka,” ucap Nadia jujur.

Ia melirik ke depan, fokus pada jalan.

“Waktu itu aku ke rumah sakit karena memang ada urusan yang harus aku selesaikan di sana. Di situ aku melihat kamu, lagi bersama papa kamu. Kamu kelihatan berbeda. Pesona kamu kuat, tapi bukan yang dibuat-buat. Cara kamu merawat papa kamu, kelembutan kamu, itu bikin aku tersentuh.”

Nadia kembali menarik napas.

“Sejak saat itu aku jadi penasaran. Aku cari tahu tentang kamu, pekerjaan kamu, latar belakang kamu. Dari situ aku tahu kalau papa kamu adalah Gunawan. Pengusaha yang sempat terseret kasus kecelakaan kerja di pabriknya.”

Maira menelan ludah. Tangannya mengepal di pangkuan.

“Seandainya aku tetap menolak, apa kamu benar-benar akan membocorkan rahasia papa aku?” tanyanya pelan.

Nadia langsung menggeleng.

“Enggak. Aku enggak sekejam itu. Aku juga sebenarnya enggak suka ikut campur urusan orang lain. Aku cuma menggertak kamu. Maaf,” ucapnya lirih.

Maira terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Oh begitu. Tapi kamu tahu alasan aku menerima tawaran ini?”

Nadia menoleh, menatap Maira cukup lama.

“Maksudnya?”

“Aku menerima tawaran ini bukan karena ancaman kamu, mbak. Tapi karena suami kamu, Pak Hazel,” kata Maira dengan nada serius.

Nadia tampak sedikit terkejut.

“Dia pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi anggap saja ini balasan atas utang budi aku ke dia,” lanjut Maira tanpa ragu.

Nadia tersenyum kecil.

“Hmm, enggak masalah apa pun alasan kamu. Yang penting sekarang kamu sudah setuju.”

Mobil akhirnya berhenti di depan gedung apartemen tempat Maira tinggal. Maira membuka pintu dan turun dari mobil.

“Siapkan diri kamu. Ingat, besok lusa hari pernikahan kamu dengan Hazel,” ucap Nadia dari dalam mobil.

Maira mengangguk. “Tentu.”

Ia lalu melangkah masuk ke dalam gedung apartemen, membawa pikirannya sendiri tentang hari-hari yang akan datang.

***

Pagi ini, beberapa MUA pilihan Nadia sudah datang ke apartemen Maira. Mereka sibuk mendandani wajah dan rambutnya, memastikan setiap detail terlihat sempurna. Hari ini adalah hari di mana Hazel akan menikahi Maira, sebuah kenyataan yang bahkan hingga detik ini masih terasa asing baginya.

Sejujurnya, Maira sendiri belum siap dengan semua ini. Sejak dulu, mimpinya sederhana, menikah dengan pria yang ia cintai dan yang mencintainya dengan tulus. Namun kini, semua harapan itu terasa menguap begitu saja. Ini adalah pilihan yang sudah ia ambil, dan suka atau tidak, ia harus menjalaninya sampai akhir.

Kebaya yang dipilihkan Nadia tempo hari kini melekat indah di tubuhnya. Potongannya pas, warnanya lembut, menonjolkan keanggunan Maira. Riasan wajah yang dipoles dengan hati-hati semakin menambah kecantikannya. Tak heran jika dulu, saat ia masih bergelut dengan dunia malam, banyak pria hidung belang tergila-gila padanya. Pesonanya memang sulit diabaikan.

Tak lama kemudian, supir yang menjemput Maira sudah menunggu di depan gedung apartemen. Maira melangkah keluar, ditemani para MUA hingga ke mobil. Setelah Maira duduk di dalam, para MUA berpamitan dan pergi, meninggalkan Maira sendirian dengan pikirannya sendiri.

Mobil melaju dan akhirnya berhenti di halaman rumah mewah milik Nadia dan Hazel. Suasananya sepi. Tak ada dekorasi megah, tak ada tamu yang berdatangan. Ini benar-benar pernikahan dadakan. Tak seorang pun dari pihak Maira yang menemaninya di momen sakral ini.

Maira turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah seorang diri. Di dalam, ia melihat kedua orang tua Hazel, orang tua Nadia, bapak penghulu, para saksi, serta Hazel yang sudah duduk rapi sebagai pengantin pria. Namun, Maira tidak melihat sosok Nadia di sana.

Rasa canggung langsung menyergapnya. Untung saja Naina, ibunya Hazel, peka dengan keadaan Maira. Ia segera menghampiri dan menggenggam tangan Maira dengan hangat.

“Ayo, Maira,” ucap Naina lembut, membimbingnya.

“Iya, Tante,” jawab Maira sambil mengangguk pelan.

“Mbak Nadia di mana, Tante?” tanya Maira dengan suara pelan,namun masih bisa di dengar.

Naina terdiam sesaat, lalu menghela napas berat.

“Tentu dia tidak akan hadir. Jangan konyol kamu. Mana ada seorang istri menghadiri pernikahan suaminya sendiri!” potong Tamara, mamanya Nadia, dengan wajah kesal.

“Tamara!” tegur papanya Nadia dengan nada dingin, membuat Tamara akhirnya diam.

“Maira.”

Maira menoleh. Suara itu berasal dari belakangnya. Ternyata Nadia berdiri tak jauh dari sana.

“Jangan dengarkan ucapan mama aku. Aku baik-baik saja,” ucap Nadia sambil tersenyum tipis, meski sorot matanya jelas tak sekuat itu.

“Ayo, kita mulai pernikahannya.”

Nadia ikut membantu Naina membimbing Maira untuk duduk bersanding dengan Hazel di depan bapak penghulu.

Sepanjang proses itu, Hazel terus menatap Nadia. Tatapannya dalam dan penuh tekanan, sementara Nadia tetap berusaha tersenyum, seolah semua ini tidak menyakitkan.

“Ayo, Pak Penghulu, dimulai akadnya,” pinta Nadia.

Pak penghulu mengangguk dan mulai bersiap.

Namun sejak tadi, Maira menangkap ekspresi Hazel yang terlihat murung dan menahan amarah. Tangan pria itu terus mengepal, rahangnya mengeras. Sesekali Maira melirik Nadia yang tampak menunduk, wajahnya pucat dan suram.

"Benar-benar pasangan edan. Kalau sama-sama berat, kenapa kalian tetap melakukan ini," gumam Maira dalam hati, kesal sekaligus lelah dengan semuanya ini. Dia merasa dirinya menjadi kejam diantara mereka berdua.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!